
"Berarti giliran saya ya, Dar?" tanya Nathan dengan polos sambil menunjuk dirinya.
Astaga, bagaimana mungkin laki-laki itu tidak menyadari jika para satpam tersebut sudah tepar. Itu semua karena dia terlalu asik melamun, mana ngelamun yang tidak-tidak lagi. 'Ini semua gara-gara belah duren sih!' gerutu Nathan dalam hati.
Dara tidak menjawab, dia terus memberikan tatapan tajam pada Nathan, sehingga membuat Nathan meneguk salivanya dengan susah payah. Kenapa wajah menggemaskan itu begitu mengerikan saat menatap dirinya seperti itu?
"HUA ... DARA! JANGAN MARAH YA. NANTI MAS KASIH CILOK SE PANCI, DEH!" Tanpa basa-basi Nathan segera memeluk istrinya, berharap dengan cara itu bisa menenangkan istrinya yang napasnya sedang memburu.
Sekalian bisa peluk, kan! Pikir Nathan tersenyum senang tanpa sepengetahuan siapa pun. Laki-laki ini memang tidak pernah kapok, selalu suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Nyawa? Tidak usah dipikirkan! Dia manusia yang paling istimewa, dan tentu saja memiliki cadangan nyawa. Jadi, jika mati, hanya perlu bangkit saja!
'Ya Allah, mana gunungnya berasa banget lagi! Pengen banget gue ngeremesnya, tapi masih sayang nyawa! Mana tadi bini gue mesan kain kafan lagi! Yang ada kalau gue berani, bisa dibungkus hidup-hidup, kan nggak lucu, dikira nasi uduk apa!' Nathan berusaha menahan dirinya, lebih tepatnya tangannya, agar tidak menyentuh gunung berharga milik istrinya.
Sean dan Lisa segera mendekati Dara.
"Habisi aja, Dar! Suami kayak Pak Nathan itu pantasnya dibejek-bejek!" Lisa mempraktekkan gaya mengulek di hadapan Nathan, sehingga membuat laki-laki itu melotot, dikira sambal apa!
"Cih ... yang jomblo nggak usah banyak ngomong! Tau apa sih tentang cinta." Nathan memandang sinis Lisa, membuat wanita itu mendengus kesal.
"Dara, jangan marah-marah, ya! Entar saya beli duren, deh! Kamu tenang aja, saya yang bakal ngebelah durennya," bisik Nathan tepat di telingga Dara.
Dara mengepalkan tangannya. Kenapa selalu membahas tentang duren, duren, dan duren? Apa tidak ada buah yang bagusan dikin apa?
"Nathan, lo kenapa suka banget bikin gue emosi?" tanya Dara dengan suara lirih. Dara tidak menolak pelukan Nathan, dia membiarkannya begitu saja. Tunggu saja sebentar lagi!
"Karena saya nggak bisa bikin kamu mendes*h, jadi saya bikin kamu emosi aja. Saya nggak bermaksud apa-apa, Dar! Saya cuman pengen membuktikan kalau manusia itu emang bisa ngeluarin tanduk. Siapa tahu bisa viral, kan lumayan duitnya," bisik Nathan apa adanya, bahkan saking apa adanya membuat Dara rasanya ingin mencabik-cabik suaminya tersebut!
Bughh
Dara memberi bogeman mentah di perut Nathan, sehingga pelukan itu terlepas begitu saja.
Nathan melotot mendapatkan pukulan mendadak seperti itu. "Kamu pukul saya?" tanya Nathan polos, tetapi hanya dibalas senyuman manis dari Dara.
"Hua ... kok enak? Eh, kok sakit?" Nathan berteriak, lalu meringis sambil mengusap-usap perutnya. Apakah dia usus buntu akibat pukulan istrinya barusan?
"Terus, Dar! Iya, pukul lagi!" Lisa menyoraki sahabatnya agar terus memukul Nathan.
__ADS_1
"Eh ... eh, suami orang! Balas dong! Masa cowok kalah sama cewek, malu-maluin aja! Tenang aja, saya ikhlas kok kamu ngebalas, yang penting jangan main jambak-jambakkan, ya!"
Nathan termenung sebentar mendengar teriakan kedua sekretaris tersebut. Dia melotot setelah sadar jika kedua manusia tersebut sedang mengejeknya, yaitu dengan ikut mengatakan seperti yang dia katakan tadi.
"Sialan nih dua sekretaris!" gerutu Nathan. Bisa-bisanya mereka mengadu domba sepasang suami istri yang saling mencintai ini. Gaji-nya dipotong baru tahu rasa!
'Tunggu pembalasan saya, Dar!'
Dengan perlahan Nathan mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil salah satu black card miliknya. Perlahan dia menyodorkannya pada Dara.
"Nih, ambil! Udah ya marahnya, kan udah saya bayar pakai black card. Kamu tenang aja, di dalam itu uangnya cukup kok buat beli cilok sekaligus tukangnya!" ucap Nathan asal. Kini Nathan menunjukkan wajah menggemaskannya, berharap istrinya akan luluh. Tetapi bukannya luluh, Dara justru ingin muntah melihatnya.
Dara yang awalnya ingin menerkam suaminya kini terdiam menatap black card tersebut. Sepertinya lumayan juga! Pikir Dara.
Dara menatap tajam suaminya, lalu dengan cepat mengambil black card tersebut. Meskipun dia juga memiliki cukup uang, tetapi mendapatkan uang dari suami seperti Nathan adalah sebuah keajaiban, jadi ya harus diterima!
'Cih ... diambilnya juga! Dasar betina!'
Sean dan Lisa kompak melonggo. Semudah itukah Dara disogok? Hanya dengan uang? Padahal mereka berharap terjadi pergulatan di antara suami istri tersebut. Memang sekretaris kurang ajar!
"Sean, ambilkan surat perjanjian tersebut!" perintah Nathan dengan suara tegas, tidak loyo seperti saat dia berbicara dengan istrinya.
"Baik, Pak!" Mendengar suara tegas Nathan, Sean langsung menganggukkan kepalanya, lalu segera pergi dengan sedikit berlari, pasalnya kertas tersebut ada di dalam tas kerjanya, tetapi dia tinggalkan tadi, karena saking terkejutnya melihat bosnya yang berlari dengan sangat kencang.
Tak berselang lama Sean kembali membawa selembar kertas dan pulpen. Segera dia berikan kertas dan pulpen tersebut pada Nathan.
"Nih, cepat tanda tangan! Kalau lama saya perk*sa kamu nanti!" ketus Nathan menyerahkan selembar kertas dan pulpen tersebut pada istrinya.
Dara mengambilnya secara kasar, lantas membacanya terlebih dahulu, takutnya ada syarat nyeleneh seperti tadi.
"Ckk ... tenang aja, Dar! Nggak ada syarat macem-macem kok di situ!" ketus Nathan yang seakan tahu dengan pikiran istrinya tersebut.
Dara mengabaikan ucapan Nathan, dia masih fokus membaca isi surat perjanjian tersebut. Setelah dirasa aman, segera dia tanda tangan di bagian pojok bawah.
Nathan menerima surat perjanjian itu kembali. "Baik, terima kasih untuk kerja samanya, Nona! Kalau begitu saya pamit umur diri, senang bisa bekerja sama dengan Anda." Nathan menyodorkan tangannya, berniat bersalaman formal dengan istrinya tersebut.
__ADS_1
Dara menjabat tangan suaminya meski pun dengan penuh keterpaksaan. "Sama-sama, Tuan!"
Dara melotot saat Nathan masih sempat-sempatnya mengelus telapak tangannya. Rasanya ingin sekali dia mempelintir tangan laki-laki yang menjadi suaminya tersebut. Untung sayang! Eh ...?
Perlahan Nathan mendekati wajahnya ke wajah Dara. "Jangan lupa bawa bekal ke kantor saya nanti jam satu siang. Saya laper, Dar! Tapi kamu yang harus bikin, ya. Kita harus hidup hemat. Lagian kan saya udah bayar kamu tadi," bisik Nathan sambil cengengesan tidak jelas. Padahal mereka sudah berada di sebuah restoran, tetapi Nathan tidak mau makan di sana. BERHEMAT! Mengingat sudah banyak uang yang dia keluarkan untuk membooking semua tempat di restoran itu!
Tangan Dara mengepal. Apakah suaminya benar-benar menganggap dia seperti pembantu?
Tapi dia juga tidak tega jika memukul wajah tampan suaminya tersebut. Terlalu tampan untuk dilukai!
"Ayok, Sean! Kita kembali ke kantor sekarang!" ucap Nathan dengan sedikit gaya centil, sehingga membuat Sean merinding melihatnya.
"Seperti bencong!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1