Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Siapa Ayah Ronald Sebenarnya?


__ADS_3

Dara menghembuskan napasnya saat melihat suaminya yang sedari tadi hanya diam saja. Nathan memang fokus dengan jalalan, tetapi aneh saja, mengingat biasanya Nathan akan banyak mengoceh dan biasanya akan terjadi pertengkaran di antara mereka berdua. Tetapi kini? Nathan seolah-olah tidak menyadari kehadirannya.


Nathan sendiri tidak tahu apa yang ingin dibicarakan. Mendadak saja otaknya blank. Dia kembali teringat dengan ucapan Lucy tadi. Dia benar-benar khawatir sekarang. Apa perlu dia menyewa bodyguard untuk menjaga istrinya? Sepertinya itu tidak mungkin, karena Dara pasti tidak mau. Dia sendiri tidak mungkin akan terus berada di dekat istrinya, mengingat dia harus bekerja dan melakukan aktivitas lainnya.


'Apa gue cerita aja masalah Lucy ini sama Dara?' Nathan menjadi gelisah. Ingin memberitahukan atau tidak pada istrinya.


'Tapi ... gue takut Dara kecewa nantinya. Gue nggak mau kehilangan Dara! Apalagi gue orang yang pertama dan terakhir untuknya'


"Dar ..." panggil Nathan yang langsung membuat Dara menatap laki-laki itu.


"Ada apa?" tanya Dara. Dia sedikit bingung melihat wajah ragu suaminya.


'Saya pengen jujur'


"Nggak apa-apa." Nathan tersenyum. Rasanya bibirnya terasa kelu untuk memberitahukan pada istrinya. Sungguh, dia belum siap mengatakannya sekarang. Dia terlalu takut kehilangan Dara. Dia takutnya wanita itu kecewa karena sudah dibohongi olehnya.


'Sebenarnya apa yang disembunyikan Nathan?' Dara bukanlah wanita bodoh yang tidak mengerti dengan gaya bahasa tubuh Nathan yang berbeda, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Tetapi dia memilih untuk diam saja. Dia dapat melihat jika suaminya sebenarnya ingin memberitahukan, hanya saja ragu. Semua itu terlihat jelas dari tingkah lakunya.


"Ckk ... gue kira apaan tadi!" ketus Dara yang sontak membuat Nathan terkekeh tidak jelas.


'Kayaknya nggak sekarang deh. Jika kami bertiga dipertemukan, maka gue akan cerita semua masa lalu gue sama Dara.'


Tak berselang lama akhirnya mobil yang dikendarai Nathan sampai di sebuah rumah elit milik mereka. Nathan merentangkan tangannya. Perjalanan yang cukup jauh membuatnya merasa lelah sekarang.


Nathan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur saat mereka sudah berada di kamar.


"Ini udah jam enam lebih. Kamu mandi gih, Yank!" perintah Nathan dengan panggilan sayang.


"Atau mau mandi sama-sama biar lebih cepat?" goda Nathan sambil menaik turunkan alisnya. Senyum nakal terbit di bibirnya, sehingga membuat Dara dibuat merinding.


"Dih ... yang ada makin lama. Ogah! Bye ...." Dara pergi begitu saja dan segera masuk ke dalam kamar mandi, sementara Nathan melonggo mendengar ucapan ketus istrinya.


"Buset! Kenapa Bini gue judes banget?" gumam Nathan yang kini bibirnya sudah maju lima centi.


Nathan menatap langit-langit kamar. Merenungkan apa saja yang sudah dia lakukan di masa lalu. Andai dia bisa kembali ke masa lalu, maka dia pastikan tidak akan pernah melakukan hal-hal yang kotor. Benar kata orang, ternyata penyesalan memang datang di akhirnya.


"Aku menyesal, Dar .... Aku harap kamu tidak akan kecewa mendengar faktanya nanti. Aku minta maaf jika membuatmu harus terlibat dalam konflik ini," gumam Nathan. Ya, dia sangat yakin jika kehadiran Lucy bukan hanya semata ingin liburan, melainkan ada niat terselubung.


FLASH BACK


"Kita putus!" ucap Nathan penuh penekanan saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kekasihnya yang sedang bergelanjut manja di lengan seorang pria yang umurnya Nathan tafsirkan mungkin 40 tahun.


"Enggak! Aku nggak mau putus, Than! Aku sayang sama kamu. Pokoknya aku nggak mau!" Lucy menggeleng dengan tegas.


"JANGAN GILA LUCY! KAU SUDAH BERSUAMI!" bentak Nathan dengan napas memburu.


"Memangnya kenapa? Aku akan pastikan meninggalkan pria tua itu dan hidup bahagia bersamamu!"


Nathan menggeleng tidak percaya mendengar ucapan Lucy, wanita yang memiliki wajah polos dan bertingkah menggemaskan selama ini. Bagaimana mungkin dia bisa tertipu selama ini?


"Jangan pernah menggangguku lagi!" Nathan berkata dengan penuh penekanan. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang luar biasa. Selama ini dia selalu percaya pada Lucy, meski pun ada banyak berita miring tentang kekasihnya itu. Tetapi dia selalu percaya dan yakin jika Lucy bukanlah wanita seperti itu.

__ADS_1


Baru saja Nathan melangkah, suara Lucy lebih dulu menyahut, sehingga membuat Nathan menghentikan langkahnya.


"Terserah! Tetapi aku mencintaimu! Aku akan terus mengejarmu, meski pun kamu sudah menjadi milik orang lain sekali pun!" ucap Lucy dengan mantap.


"Ingat Nathan! Tidak ada yang boleh mendapatkanmu, karena hanya aku yang boleh memilikimu!" ucap Lucy penuh penekanan.


FLASH BACK OFF


******


"Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?" Lucy melenggok-lenggokkan tubuhnya di hadapan Kendrick. Tetapi respons laki-laki itu hanya diam saja dengan tatapan datarnya.


"Cantik, Nyonya," jawab Kendrick, tetapi wajahnya menunjukkan seperti penuh keterpaksaan mengucapkannya.


"Apa kau yakin tidak mau ikut denganku ke pesta?" tanya Lucy yang kesekian kalinya.


"Tidak Nyonya! Maaf, tapi saya tidak bisa." Kendrick kembali menolak dengan tegas.


"Kenapa? Kau bisa jadi pasanganku di sana." Lucy terus mendesak agar Kendrick mau menuruti permintaannya.


"Tidak Nyonya! Tolong hargai keputusan saya! Kenapa Anda tidak membawa Ronald saja?" tanya Kendrick yang sontak mendapat tatapan tidak suka dari Lucy. Membawa Ronald? Yang benar saja! Yang ada semuanya akan hancur.


"Apa kau waras? Jika aku membawa Ronald, itu sama saja aku menggali kuburanku sendiri!"


"Katakan saja itu anak Nathan, maka semuanya akan hancur," ucap Kendrick santai.


Lucy menatap tajam Kendrick. "Apa kau gila? Ronald bahkan tidak memiliki kesamaan wajah dengan Nathan! Bagaimana mungkin aku mengatakan jika Ronald adalah anak Nathan sementara Nathan sendiri tidak pernah menyentuhku. Jangankan meniduriku, menciumku saja tidak pernah!" gerutu Lucy. Dia masih ingat saat mereka pacaran terlebih dahulu. Nathan sama sekali tidak pernah mencium bibirnya, hanya sekedar mencium pipinya saja, itupun beberapa kali saja.


Tetapi meski pun demikian, dia menyayangi Ronald, karena anak kecil itu memiliki sikap yang sangat baik dan dermawan. Dia bahkan sering menghabiskan waktunya untuk bermain dengan anak tampan itu.


'Entah kenapa, mengingat wajah Ronald, aku seperti pernah melihat laki-laki yang memiliki wajah sama. Aku seperti pernah melihat Ronald dalam versi dewasa. Tapi di mana?' Kendrick berusaha mengingat kembali wajah orang yang memiliki kesamaan dengan wajah Ronald, tetapi dia sama sekali tidak ingat di mana dia pernah melihatnya.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang! Kau yang mengantar aku!" perintah Lucy yang diangguki oleh Kendrick.


Lucy dan Kendrick kemudian segera berangkat menuju pesta keluarga Anderson.


"Kau boleh langsung pergi, Ken!" ucap Lucy setelah mereka sudah sampai.


"Baik, Nyonya!" Kendrick segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah keluarga Anderson.


'Kita lihat, bagaimana reaksi kalian semua setelah mendengar siapa itu Lucy di kehidupan Nathan' batin Lucy sambil menyeringai.


*******


"Pelan-pelan," ucap Nathan lembut ketika istrinya hendak keluar dari mobil. Dia menggenggam lembut telapak tangan Dara.


Dara tidak menyahut. Dia tersenyum manis menatap suasana rumah orang tuanya yang sangat dia rindukan. Apalagi adik manisnya yang sedikit nakal itu.


Dara menggandeng tangan suaminya, dan Nathan melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang Dara.


"Kamu cantik banget malam ini," bisik Nathan lembut di telingga istrinya.

__ADS_1


"Berarti semalam-semalam nggak cantik, gitu?" Dara menatap suaminya dengan wajah yang cemberut.


Nathan terkekeh tidak jelas. Sepertinya ucapannya tadi memang sedikit salah. "Nggak gitu maksudnya. Kamu selalu cantik, dan sekarang kecantikan kamu bertambah berkali-kali lipat."


"Kamu juga tampan kok. Tapi ...."


"Tapi apa?" Nathan nampaknya tidak sabaran mendengar kelanjutannya.


"Tapi masih tampan adek aku," sambung Dara sambil menunjuk adiknya yang terlihat gagah sedang berdiri dengan gagahnya.


Nathan menatap datar istrinya. "Apa perlu aku sleding adek kamu? Untung adek ipar, kalau bukan udah aku kawinin!" gerutu Nathan asal.


"Ckk ... ingat umur! Adek aku itu masih muda, sedangkan kamu kan udah bau tanah," canda Dara tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Astagfhirullah, Dar! Umur kita cuman beda satu tahun doang! Gayanya kamu bilang saya tua! Nggak ingat diri banget kamu!" Nathan menatap tajam istrinya, tetapi Dara justru terkekeh lucu, sama sekali tidak merasa bersalah.


"Iya, deh. Suami aku memang yang paling the best!" Dara memuji Nathan yang langsung membuat Nathan percaya diri.


"Suami siapa dulu dong?" tanya Nathan.


"Suami Aldara Stephanie Adijaya dong," jawab Dara. Kemudian mereka tertawa bersama-sama. Sungguh, kini perlahan Dara mulai tertular virus gila suaminya.


"Yaudah, ayok masuk!" ajak Dara yang langsung diangguki Nathan.


Nathan mendongakkan kepalanya menatap setiap tamu yang datang. Dia mengerutkan keningnya melihat seorang wanita yang seperti dia kenali dari warna rambutnya.


Seketika mata Nathan membelalak melihat wanita itu berbalik, sehingga terlihat jelas siapa sosok wanita itu.


'Lu–Lucy? Bagaimana mungkin dia bisa berada di sini?'




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2