
Buukk
Sepatu Dara lebih dulu melayang ke aset berharga milik Nathan, sehingga membuat laki-laki itu melotot.
"Aduh!" Nathan kembali memekik. Bagaimana tidak berteriak? Ini adalah kali keduanya asetnya dipukul.
"Aduh Joni, kamu baik-baik aja, 'kan? Udah kamu maafin aja ya pelakunya, toh sebentar lagi kamu bakal bersemedi di dalam lobang betina yang udah buat kamu menderita. Kamu tenang aja, kamu bisa balas dendam nanti, pokoknya kamu harus bikin dia mendesah nanti!" Nathan hanya mampu mengelus aset berharganya.
"Eh, lo didiam'in kok malah makin ngelunjak sih? Emangnya siapa yang pengen belah duren sama lo? Lo jangan mimpi deh bisa nikmatin tubuh gue! Lagian sampai kapan pun gue nggak akan mau menikah sama orang modelan lo yang udah benar-benar nggak waras!" ketus Dara yang sudah benar-benar merasa jengkel.
"Lagian lo tuh punya otak nggak sih? Masa pengen hamil dulu baru nikah? Ingat dosa woy!" Setelah mengatakan itu, Dara lanjut berjalan dan mengabaikan Nathan, memilih untuk melanjutkan perjalanannya. Jika boleh jujur, ia sangat merasa kelelahan.
Sementara Nathan, ia kembali masuk ke dalam mobilnya. Kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan, berniat kembali mengejek wanita itu.
Tin ... tin ...
"Ekhem, serius nih kamu nggak ada niat mau ikut? Yakin? Rumah kamu masih jauh, lho." Nathan menaik-turunkan alisnya.
Dara mengabaikan Nathan, dan melanjutkan perjalanannya, meski pun kakinya terasa sangat pegal. Tapi mau bagaimana lagi.
"Yaudah masuk Aldara Stephanie Anderson! Jangan bersikap sok jaim! Saya tau kamu kelelahan. Buruan! Setidaknya hilangkan dulu rasa gengsi kamu untuk semantara." Nathan berbicara dengan wajah serius. Dia tau jika Dara sebenarnya sangat kelelahan, dan dia merasa kasihan dengan wanita yang jujur saja masih sangat ia cintai sampai saat ini.
Dara menatap wajah serius Nathan. Karena merasa kakinya sudah terasa sangat pegal, dengan penuh keterpaksaan ia masuk ke dalam mobil Nathan dengan wajah cemberut, sekaligus menahan malu.
Nathan yang melihat wajah cemberut Dara hanya mampu menahan diri agar tidak menguyel-uyel pipi yang sangat menggemaskan itu.
"Malu-malu kambing," kekeh Nathan mengejek Dara.
"Buruan!" bentak Dara yang sudah merasa sangat jengkel.
"Ckk ... kamu udah numpang, malah marah-marah lagi! Saya bawa kamu ke semak-semak, terus grape-grape kamu baru tau rasa!" gerutu Nathan.
"Dan kalau lo sampai berani, maka gue pastikan bakal m*tilasi lo di semak-semak itu!" ketus Dara dengan laki-laki mesum itu.
Nathan sedikit merinding mendengarnya. "Yakali gue dibunuh sebelum ngerasaain lobangnya," gumam Nathan, yang ternyata masih bisa didengar oleh Dara.
Dara menatap tajam Nathan. "Kok lo makin mesum sih, hah?" Dara tidak habis pikir dengan pemikiran Nathan yang sekarang. Nathan yang dia kenal dulu tidak seperti ini.
"Eum ... mungkin karena dulu saya pernah pacaran sama perempuan yang suka bohong, mana nggak setia lagi," jawab Nathan apa adanya.
__ADS_1
Lagi dan lagi Nathan menyindir Dara. Dara yang merasa lelah memilih untuk diam saja.
Tak berselang lama mobil yang Nathan kendarai sampai di sebuah perumahan elit milik keluarga Anderson.
"Kamu masih tinggal di sini, ya? Kamu tenang aja, sebentar lagi kamu akan keluar kok, dan tinggal berdua dengan saya di rumah baru," celetuk Nathan tiba-tiba.
Dara hanya memutar matanya malas. Sudah cukup dirinya meladeni Nathan hari ini.
Sebelum Dara membuka pintu mobil, Nathan lebih dulu menahan tangan wanita itu.
"Dar, kamu serius nggak mau main dulu di dalam mobil? Mumpung sepi lho," ucap Nathan, yang ternyata masih mengungkit masalah tadi.
Napas Dara sudah memburu, pertanda jika ia sudah benar-benar marah. "Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, maka gue pastiin bakal habisin lo di sini," sahut Dara dengan suara rendah.
"Maksudnya kamu pengen buat kiss mark di seluruh tubuh saya? Boleh-boleh kok. Saya ikhlas, banget malahan," ucap Nathan dengan semangat.
Dara memberikan tatapan paling tajam pada Nathan, sehingga membuat laki-laki itu sontak menelan salivanya dengan kasar. Tatapan Dara sudah sepert siap membunuh dirinya.
Nathan hanya mampu tersenyum dengan mengangkat dua jarinya, pertanda ingin berdamai.
Baru saja Dara membuka pintu mobil, Nathan kembali menahan wanita itu. Dara hanya mampu berdecak kesal.
"Eh, kamu mau kemana? Bayar dulu dong! Kamu pikir nganterin kamu nggak pakai bensin, hah?" semprot Nathan.
Dara langsung merogoh tas kecil miliknya, tetapi sayangnya tidak ada uang sama sekali. Dia baru ingat jika lupa menarik uang tadi.
'Sial! Gue nggak ada duit lagi'
"Mana? Lama banget sih!" ketus Nathan.
"Ekhem, gue nggak ada duit cash, jadi gue masuk dulu ke rumah buat ngambil duit, baru setelah itu gue bayar," sahut Dara.
"No no! Nggak bisa! Pokoknya kamu harus bayar sekarang!" ucap Nathan penuh penekanan.
"Ckk ... gue bilang nggak ada duit! Lo budek atau gimana sih?" ketus Dara.
"Ya udah kalau kamu nggak bisa bayar pakai duit, bayar pakai yang lain aja."
"Bayar pakai apa?" tanya Dara heran.
__ADS_1
"Muachh!" Nathan memajukan bibirnya, bermaksud meminta Dara untuk menciumnya. "Cium aja kalau gitu," ucap Nathan sambil menutup matanya.
Dara melotot mendengar permintaan Nathan.
Plak
"Rasain tuh ciuman tangan gue. Bye!" Setelah melayangkan satu tamparan di wajah Nathan, Dara langsung keluar begitu saja, meninggalkan Nathan yang justru meringis, pasalnya tamparan Dara tidak main-main.
"Dasar burung dara! Udah numpang, mana nggak tau diri lagi!" teriak Nathan. "Cuman cium doang apa susahnya sih! Kamu harusnya berterima kasih karena saya masih mau dicium sama perempuan pembohong, mana nggak setia lagi!" Nathan terus berteriak pada Dara yang terlihat bodo amat.
"Mana nggak bayar lagi! Awas aja kamu burung dara! Saya nggak kasih kamu kesempatan buat istirahat pas malam pertama nanti! Pokoknya kita harus main 100 ronde!"
Nathan berdecak kesal saat Dara tidak memberi respon sedikit pun. "Ckk ... gue udah capek-capek teriak, masa nggak direspon sama sekali sih? Mana nggak disuruh mampir lagi! Setidaknya disuruh ngopi kek sebentar sambil makan kue apem!" gerutu Nathan.
"Haduh Mom. Sebenarnya Nathan sayang sama Dara, tapi Nathan juga sayang sama tubuh Nathan yang membahana ini. Nathan belum siap mati muda Mom. Dara terlalu syadis untuk Nathan yang berhati lembut seperti malaikat ini," gumam Nathan dengan bergaya seolah-olah ia sedang tersakiti. "Masa iya belum nikah, udah di KDRT berkali-kali sih? Entar kalau Nathan udah nikah, belum juga malam pertama, udah jadi jasad aja, karena habis digebukkin sama iblis cantik itu." Sedih Nathan semakin menjadi-jadi, seolah-olah dirinya sudah tidak lama lagi berada di dunia ini. Laki-laki itu bahkan terus menghapus air mata yang sebenarnya tidak keluar sama sekali.
"Hiks ... hiks hiks hiks." Laki-laki itu terus berpura-pura menangis. "Kok suara nangis gue malah mirip suara babi, ya?" Nathan terkekeh sendiri.
"Yaudalah gue harus pulang sekarang. Gue udah nggak sabar ngelamar pujaan hati gue yang pembohong, mana nggak setia lagi," ucap Nathan lagi dengan sedikit terkekeh.
Nathan lalu pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap nanti malam.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.