
"Ada apa, Pak? Apa ada penjahat?" Kelima satpam tersebut sontak sangat panik, karena merasa sudah lalai menjaga keamanan.
Restoran tersebut sangat sepi. Tentu saja! Itu semua karena semua meja sudah dibooking oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Nathan?
Sebenarnya perusahaan N'D Group adalah anak perusahaan ADJ Company, perusahaan utama milik Nathan yang dia bangun dari hasil jerih payahnya sendiri. Berawal dari seorang karyawan di perusahaan ayahnya, hingga membangun sebuah perusahaan dari hasil gaji dan uang jajannya semasa sekolah dulu.
Sebenarnya Adrian sudah mengatakan akan mewariskan perusahaannya pada Nathan. Tetapi laki-laki itu tetap kekeuh tidak mau, dan memilih untuk merintis usaha sendiri berbekal pengetahuan yang dia miliki.
Jangan salah, Nathan adalah sosok yang cerdas. Semasa dia sekolah dulu, dia selalu mendapat peringkat pertama, bahkan menjadi juara umum sewaktu kelulusan. Tak jarang Dara juga meminta bantuan padanya untuk mengerjakan PR miliknya, dan upahnya yaitu sebuah kecupan di pipi, maupun di kening.
Sebenarnya N'D Group diambil dari awalan namanya dan Dara. Tetapi nama awalnya sebenarnya bukan itu, tetapi N'T Group. Setelah mereka menikah, dia lalu memilih untuk mengubah nama anak perusahaannya tersebut, dengan menggabungkan namanya dan nama istrinya. Rencananya dia akan memberikan perusahaan itu saat hari ulang tahun istrinya yang sebentar lagi.
Nathan sengaja menyusun semuanya, bahkan dia sangat iseng sekali sampai rela mengetik membuat syarat-syarat yang mungkin saja mengantarkan dia ke dunia lain. Karena dia tahu seperti apa endingnya nanti, maka dia membooking semua tempat, sehingga sepi. Ya, setidaknya dia tidak terlalu malu dan tidak perlu khawatir, karena yang melihatnya hanya beberapa orang saja.
"Tolong saya, Pak! Itu ada wanita pembohong, nggak setia, mana sadis lagi sedang berubah jadi anjing rabies!" Segera Nathan berlindung di belakang para satpam tersebut.
"Hah?" Kelima satpam tersebut justru dibuat bingung. Wanita yang berubah jadi anjing rabies? Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah laki-laki itu yang membooking seluruh tempat yang ada di restoran ini? Pikir para satpam tersebut.
"Hah huh hah! TUH LIAT TANDUKNYA HAMPIR KALUAR!" Nathan semakin berteriak histeris saat melihat istrinya yang berlari menuju dia, apalagi wajah wanita itu merah padam, sepertinya sangat marah sekarang. Apakah dia baru saja membangunkan macan yang sedang tidur?
Meski bingung, para satpam tersebut tetap berusaha melindungi Nathan meski pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah wanita itu orang gila? Sepertinya tidak! Tidak mungkin ada orang gila yang berpenampilan sangat cantik seperti itu.
Melihat suaminya yang berlindung di belakang para satpam membuat darah Dara semakin mendidih. Sebenarnya di mana letak rasa malu laki-laki yang menjadi suaminya tersebut, sampai-sampai meminta tolong pada satpam?
Bagaimana mungkin justru dia yang dibuat malu dengan tingkah laku suaminya, sementara suaminya terlihat biasa saja? Ah, apakah dunia sudah terbalik?
"MINGGIR!" bentak Dara menatap nyalang para satpam tersebut.
"Jangan, Pak! Dia itu wanita pembohong, mana nggak setia lagi!" Astaga, bagaimana mungkin Nathan masih berani menyindir wanita yang sudah hampir berubah tersebut?
Para satpam tersebut tentu bingung, mereka bukannya takut pada wanita di depannya, hanya saja dia seorang wanita! Jadi, tidak mungkin mereka menyakitinya. Lagian, mana mungkin wanita itu mampu melawan mereka, dia bahkan terlihat seperti wanita lemah!
"Habisi aja, Pak! Saya ikhlas kok." Nathan berkata sambil cengengesan tidak jelas. Lihatlah, apakah ini yang dinamakan dengan seorang suami? Alih-alih menjaga istrinya, laki-laki itu malah menyuruh orang untuk menghabisi istrinya sendiri.
Tidak masalah! Itu semua karena dia tahu kemampuan bela diri yang dimiliki istrinya. Wajah Dara memang terlihat seperti wanita yang lemah lembut, tetapi jangan salah! Wanita itu bahkan mampu membanting orang.
Dara menatap tajam suaminya. Nathan merinding melihat wajah istrinya yang seperti ingin melahapnya saja.
This is the real suami takut istri!
Dara mengambil handphone yang ada di kantongnya, lalu mulai menghubungi seseorang.
"Halo, saya pesan kain kafan 19 meter! Segera kirimkan ke alamat yang saya kirimkan!" ucap Dara.
"ASTAGFHIRULLAH!" Nathan terkejut setengah mati mendengar ucapan istrinya. Apa dia tidak salah dengar? Istrinya memesan kain kafan? Untuk siapa?
"Nyebut, Dar! Ingat, suami kayak saya ini langka lho. Tidak ditemukan di pasaran! Kamu harusnya bersyukur saya mau sama perempuan pem—"
"BURUAN MINGGIR!" Sebelum Nathan menyelesaikan ucapannya, Dara lebih dulu memotong dengan berteriak. Sepertinya dia tahu lanjutan dari ucapan laki-laki itu.
"Maaf, Nona. Tapi kami tidak bisa membiarkan Anda membuat keributan di restoran ini!" tegas salah satu satpam tersebut.
__ADS_1
Dara yang mendengarnya tersenyum miring. Ah, sudah lama rasanya dia tidak pernah mengeluarkan jurusnya. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk meregangkan otot-ototnya.
Nathan yang melihat senyum iblis istrinya sontak merinding. Apakah dia akan menonton pertunjukan live nanti?
'Mati lo semua!' Nathan merinding membayangi bagaimana nasib para satpam tersebut. Mereka terlalu memandang rendah wanita yang memiliki wajah cantik tersebut! Padahal mereka tidak tahu saja jika ajal sedang menunggu mereka di depan pintu.
"Jika kalian ngotot tidak mau minggir, maka mari lawan aku!" sinis Dara. Efek terlalu marah dengan suaminya membuat Dara ingin menghabisi siapa saja yang dilihatnya.
"Maaf, tapi kami tidak bisa melawan perempuan." Satpam tersebut menunduk hormat, tetapi suaranya terkesan mengejek.
Bughhh
"Arghhh!"
Tanpa basa-basi Dara melayangkan bogeman pada wajah salah satu satpam tersebut, sehingga membuat sang empunya meringis kesakitan. Dara tersenyum sinis, sementara Nathan terlonjak kaget.
'Gue prediksi mereka pasti kalah. Ya, Allah kepada siapa lagi hamba berlindung agar tidak diterkam?' Nathan menjadi sangat panik.
"Satu-satu jika berani!" Melihat mereka yang berniat membalas, membuat Dara seketika angkat bicara, sehingga mereka yang awalnya berniat membalas secara bersama-sama terdiam.
"Baiklah jika seperti itu maumu, Nona!" Para satpam tersebut mulai mendekati Dara.
Bughh
Bughh
Dara mulai mengeluarkan kemampuan bela dirinya, bahkan wanita itu terlihat santai dan sangat menikmati pertarungan tersebut. Bukanlah hal yang sulit baginya untuk melumpuhkan para penghalang tersebut.
"Terus, Dar! Iya, pukul lagi!" Nathan menyoraki istrinya agar terus memukul para satpam tersebut, padahal dia tidak tahu saja jika para satpam tersebut sudah tepar, maka nyawanya akan terancam punah.
"Eh ... eh, suami orang! Balas dong! Masa cowok kalah sama cewek, malu-maluin aja! Tenang aja, saya ikhlas kok kalian pukul wanita pembohong, mana nggak setia itu. Tapi, jangan sampai pegang gunung istri saya, takutnya meletup, apalagi kalau sampai kalian belah duren, saya nggak ikhlas!" Nathan terus bersorak, entah ada di pihak mana laki-laki itu, yang pasti dia hanya menjadi penonton.
Sean panik melihat Dara yang melawan para satpam tersebut, dia bahkan menepuk keningnya saat melihat suami wanita itu yang terlihat biasa saja. Astaga, apakah memang ada laki-laki seperti Nathan ini?
Tetapi baru saja Sean berniat membantu, lengannya lebih dulu ditahan oleh Lisa.
"Lo mau ngapain?" ketus Lisa pada Sean.
"Ckk ... ya mau bantuin lah! Dia itu cewek!" Sean menjadi geram pada wanita yang menjadi sekretaris Aldara tersebut. Kenapa terlihat biasa saja melihat bosnya yang sedang bertarung tersebut.
"Cih ... lo nggak usah sok baik! Orang suaminya biasa aja! Noh lo liat si Nathan, anteng banget sumpah! Bahkan dia terlihat menikmati pertarungan itu!" cerocos Lisa. Lisa sangat tau kemampuan bela diri yang dimiliki sahabatnya itu, makanya dia tidak panik.
Benar juga! Untuk apa dia ribet-ribet membantu sementara suami wanita itu malah terlihat biasa saja. Oke, lebih baik dia ikut menikmati pertunjukan tersebut.
"Eh, Yan. Ada popcorn nggak?" teriak Nathan pada sekretarisnya. Sean sendiri melonggo mendengar permintaan bosnya tersebut.
Darah Dara semakin mendidih saat tidak ada satu pun yang berniat membantunya, bahkan mereka malah menonton dengan santai.
"NATHAN LO SIAP-SIAP AJA!" teriak Dara di tengah-tengah pertarungan tersebut.
"Nggak apa-apa, palingan juga cuman koma setahun doang." Nathan menjawab dengan santai. Menurutnya tidak jadi masalah, toh cuman koma doang.
__ADS_1
Nathan yang bosan menonton pertunjukan tersebut sontak melamun, entah apa yang sedang dilamuni laki-laki itu.
'Kayaknya gue harus latihan karate deh, jadi pas belah duren nanti, bisa sambil banting membanting, pasti romantis!' Nathan mangut-mangut, sepertinya itu akan menyenangkan. Membayangkan mereka yang sibuk belah duren, tetapi tiba-tiba dibanting ke lantai, sangat romantis!
'Belah duren? Kapan sih gue bisa belah duren? Apa perlu gue beli obat tidur aja ya buat Dara? Jadi, pas dia tidur nanti, gue bisa tuh grape-grape dia!'
'Tapikan, berarti gue nggak bakal ngedengar suara des*han dia dong. Apa iya, gue selingkuh aja sama tetangga sebelah? Astagfhirullah! Tetangga sebelah kan cowok! Emangnya di mana gue nyoloknya nanti?' Nathan menggeleng dengan kuat saat mengingat siapa tetangga sebelah rumah mereka.
"Ekhem ...."
"Ckk ... apa sih? Orang saya lagi mikiran sama siapa kira-kira saya belah duren nanti? Anda nggak tau aja kalau istri saya itu perempuan—"
"Pembohong, mana nggak setia lagi!" Sebelum Nathan menyelesaikan ucapannya, Dara lebih dahulu memotongnya.
Tubuh Nathan sontak membeku mendengarnya. Perlahan dia mendongakkan kepalanya, karena posisinya memang sedang jongkok saat ini.
"Lho, Dara? Kok kamu selamat?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Nathan. Memangnya apakah laki-laki itu sanggup kehilangan istri tercintanya?
"Emangnya lo berharap gue mati?" ketus Dara. Jujur saja, berada di dekat Nathan memang membuatnya sering naik darah, tetapi berada di dekat laki-laki itu juga membuat mood-nya membaik.
"Enggak gitu, Dar! Saya tadi cuman berharapnya kamu pingsan, jadi biar bisa saya gendong tuh, terus bawa ke kamar, langsung digrape-grape!" jawab Nathan dengan jujur.
"Nathan!" Dara berkata dengan lirih, sehingga menciptakan hawa mengerikan.
"Lah? Kok mereka semua pada tepar? Berarti mereka kalah dong?" Nathan dibuat melonggo saat melihat kelima satpam tersebut yang tepar di lantai, bahkan ada yang masih meringis kesakitan.
"He'em ...."
"Berarti giliran saya ya, Dar?" tanya Nathan dengan polos sambil menunjuk dirinya.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1