
Plak
Dengan antengnya Dara melayangkan tamparan di wajah suaminya, tanpa merasa bersalah sedikit pun!
"Astagfhirullah!" Nathan beristigfar, sudah tak terhitung berapa kali Dara sudah menampar, mencubit, dan memukulnya. Apakah dia harus membeli samsak, dan meletaknya di setiap sudut ruangan, agar ketika istrinya marah, dia hanya perlu membawa Dara ke dekat samsak tersebut?
"Lo kalau ngomong itu disaring dulu napa! Gue nikah sama lo bukan buat dijadikan pembantu, tapi dijadikan ratu!" ketus Dara.
Nathan memandang istrinya dari atas sampai bawah dengan pandangan sinis, setelah itu bergaya seolah-olah merinding.
"Kenapa?" tanya Dara yang merasa heran dengan tingkah suaminya tersebut.
"Ada gitu ya ratu yang syadis?" celetuk Nathan, yang sontak saja membuat tangan Dara terangkat.
"Wah, santai-santai bini ku! Jangan dikit-dikit KDRT mulu! Ingat, Allah ngeliat lho kesadis'an yang kamu lakukan ke suami terkece mu ini!" ucap Nathan sambil sedikit was-was.
Tangan Dara terangkat, lalu dengan gemesnya dia mencakar-cakar udara di depan wajah suaminya, berharap dengan cara itu bisa mengurangi rasa kekesalannya.
"Kurang arggg ... argggg-nya, Dar. Biar mirip si guguk," kekeh Nathan, lalu tanpa basa-basi segera masuk ke dalam rumah baru tersebut dengan kedua tangannya yang menyeret koper besar yang berisi pakaian milik istrinya. Dara? Tentu dia tinggal begitu saja.
Dara berdecak kesal, tapi meski demikian dia tetap berjalan mengikuti suaminya.
"Assalamualaikum," ucap Nathan begitu pintu tersebut terbuka.
"Wa'alaikumsalam," ketus Dara, yang sontak mendapat sentilan gemes dari Nathan.
"Ckk ... nyahut-nyahut aja kamu! Ya udah, sebelum kita masuk, kita berdoa dulu!"
“Allahumma innii as-aluka khairal mawlaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa ‘alaallahi rabbanaa tawakkalnaa.” Nathan dan Dara kompak mengucapkan doa tersebut bersama-sama, setelah itu mereka segera masuk ke dalam rumah baru mereka.
Dara kembali berdecak kagum melihat dekorasi rumah baru mereka. "Berapa lama lo ngebangun nih rumah, Than?" tanya Dara yang seketika menjadi kepo.
"Dua tahun lebih," jawab Nathan singkat.
"Lo udah tau dari dulu kalau lo bakal dijodohan sama gue?" tanya Dara dengan wajah terkejutnya.
"Ckk ... nggak usah kepede'an kamu! Rumah ini saya bangun memang untuk istri saya, tapi saya nggak tau kalau sekarang kamu yang menjadi istri saya!"
"Udah, jangan banyak nanya!" Sebelum Dara kembali melayangkan pertanyaan, Nathan lebih dulu menegur. "Ayok!" Nathan berkata lembut, lalu membawa koper tersebut melewati tangga. Ya, Nathan memilih kamar mereka di atas saja.
Dara mengangguk saja, lalu mengikuti suaminya itu dari belakang. Nathan berhenti setelah sampai di depan sebuah pintu yang terdapat gantungan bertulisan "Kamar Belah Duren Pria Sholeh dengan Wanita Pembohong, mana nggak setia lagi!"
Dara mengangga membaca tulisan di gantungan tersebut. Setiap saat Nathan selalu menyindirnya dengan mengatakan wanita pembohong, mana nggak setia lagi. Dan kini apa? Sepertinya sindirin itu bertambah, yaitu Pria Sholeh, dan yang pastinya belah duren.
"Nggak sekalian lo tambahain wanita syadis di situ!" ketus Dara.
"Wah ... boleh, boleh! Entar saya pesan yang baru lagi dengan tulisan My Bini Syadis, pembohong, mana nggak setia lagi." Nathan menjawab dengan antusias.
__ADS_1
Dara menghembuskan napas lelah. Hanya satu doanya, semoga dia tidak tertular virus gila suaminya tersebut.
Begitu pintu dibuka, Dara lagi dan lagi disuguhkan pemandangan yang memukau. Kamar tersebut dua kali lebih besar dari kamar miliknya, dan terlihat dengan jelas ada kasur besar di sana.
"Gila, kamarnya besar juga," gumam Dara yang masih berdecak kagum melihat ruangan kamar tersebut.
"Yaiyalah! Kalau nggak besar, entar kamu malah minta cerai lagi!" ketus Nathan.
Dara memanyunkan bibirnya, saat itu kan dia hanya bercanda, dan tidak menyangka jika Nathan menuruti keinginannya.
Nathan terpukau melihat wajah menggemaskan istrinya. Ini adalah kali pertamanya dia kembali melihat wajah yang sangat dia rindukan selama ini setelah sekian tahun lamanya.
"Nggak gitu juga konsepnya, Than! Ya kali aja gue minta cerai hanya karena masalah harta. Gue bukan cewek matre kali!" kesal Dara.
"Yaudah, ayok kita pindah ke gubuk aja," sahut Nathan asal, dan justru dibalas Dara dengan semakin memanyunkan bibirnya. "He-he becanda, Dar. Ya kali saya menikahi kamu, tapi malah membuat kamu kesusahan. Saya sudah berjanji dengan diri saya sendiri kalau saya menikah, saya akan membahagiakan istri saya, salah satunya dari segi finansial. Jadi, nggak mungkin saya membuat kamu menderita." Nathan berkata dengan lembut, sambil sebelah tangannya mengelus lembut rambut panjang istrinya.
Dara menatap wajah tampan suaminya yang sedang menatapnya juga dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Baper, ya? Yaudah, ayok belah duren!" Nathan mengajak istrinya dengan antusias, tetapi justru dibalas tatapan datar oleh Dara.
"Au udahlah! Gue pengen istirahat. Gue capek banget! Lo keluar deh dari kamar gue." Dara mengusir suaminya. Dia pikir mereka akan tidur terpisah, tapi di luar dugaan, Nathan justru menahan pintu menggunakan kakinya saat Dara hendak menutup pintu.
"Ckk ... ini kamar saya, Dar! Kenapa kamu malah ngusir saya?" ketus Nathan.
Dara terdiam, merasa sedikit malu. "Yaudah, kamar gue di mana?" tanya Dara menahan rasa malunya.
"Gue serius, Than! Jangan sampai gue banting lo, ya!" Sudah habis kesabaran Dara. Suaminya tersebut sepertinya sangat suka berdebat dengannya.
"Dengar baik-baik istriku yang paling tepos! Nggak bahenol sama sekali! Dan yang pastinya syadis! Secara hukum dan agama, Aldara Stephanie Anderson sudah resmi menikah dengan Pria tampan bernama Nathan Geovanni Adijaya. Jadi, di mana-mana yang namanya sepasang suami istri harus tidur di satu kasur yang sama!" Nathan menjelaskan secara rinci agar istrinya tersebut mengerti.
"Tapikan ...." Dara bingung bagaimana menjelaskannya. Bukannya dia tidak mau dan tidak tahu, tapikan ... dia belum siap jika sewaktu-waktu suaminya meminta haknya nanti.
Seakan tau apa yang ada dipikiran istrinya, Nathan menghembuskan napas kasar, lantas berkata, "Kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh! Suamimu ini orangnya sholeh! Saya nggak akan minta hak saya sampai kamu siap! Palingan saya perk*sa kamu kalau saya kebelat pengen belah duren," ujar Nathan dengan suara yang semakin kecil di akhir kalimat, tetapi Dara dapat mendengarnya dengan jelas, mengingat jarak mereka sangat dekat saat ini.
"Udah, nggak ada tapi-tapian! Saya suami kamu, dan saya berhak jika sewaktu-waktu meminta hak saya! Kamu tenang aja, saya nggak akan ngapa-ngapain kamu. Kita hanya tidur doang kok." Nathan menghembuskan napas kasar. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan dia memaksa sementara dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan wanita itu padanya sekarang. Dirinya sudah bersumpah tidak akan memaksakan kehendaknya tanpa rasa cinta!
Tanpa basa-basi Nathan segera masuk ke dalam kamar, dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk tersebut. Sementara Dara masih tidak bergeming di samping pintu. Bukannya apa-apa, dia takutnya Nathan kembali nekad memperk*sanya saat sedang tidur. Tahu sendiri 'kan seperti apa dia jika sedang tidur!
Dara hanya bisa pasrah, lalu menyeret dua kopernya tersebut ke arah lemari. Dara mulai membongkar isi kopernya tersebut. Ketika dia membuka lemari, berniat memasukan pakaiannya ke dalam lemari, dirinya sedikit terkejut melihat berjejer rapi beberapa dress di sana. Apakah suaminya yang membelikan untuknya? Ah, memangnya siapa lagi!
*********
Dara membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia merasa sangat lelah, padahal satu kopernya belum dibongkar. Baru saja Dara berniat memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi dibuka, lalu munculah laki-laki yang terlihat sangat s*exy tersebut.
"Dar, saya la—" Ucapan Nathan sontak terhenti saat melihat istrinya yang sedang terbaring di atas kasur, sepertinya sedang kelelahan.
"Kamu capek, ya?" Nathan yang awalnya berniat mengatakan jika dia lapar, langsung merasa tidak tega, padahal niat awalnya ingin meminta istrinya tersebut membuat makan malam.
__ADS_1
"He'em ...." Dara berdehem saja. "Kenapa? Maaf gue lupa nyiapin baju buat lo," sambung Dara dengan suara pelan. Dara tau apa saja yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, salah satunya menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Baru saja Dara berniat untuk bangun, Nathan lebih dulu berkata, "Udah nggak perlu. Saya bisa nyiapin sendirian kok. Kamu bisa tidur aja kalau capek, siapa tau bisa mimpi digrape-grape sama saya," kekeh Nathan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Melihat Dara yang berniat menyiapkan baju untuknya entah kenapa membuat Nathan senang bukan main, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
'Astaga, kok gue malah senang banget ngeliat bini gue perhatian.' Mati-matian Nathan menahan dirinya agar tidak melompat-lompat karena kegirangan mendapati perlakuan manis dari istrinya.
Melihat istrinya yang memejamkan mata, Nathan menjadi tidak tega meminta wanita itu membuat makan malam. Dengan pelan dia keluar dari dalam kamar, dan berjalan menuju dapur.
Untungnya di dalam lemari pendingin tersedia banyak stok bahan-bahan yang bisa diolah. Itu semua atas permintaan Nathan pada ibunya.
"Banyak amat jenis daun-daun'an di sini. Dikira gue sapi kali, ya? Ya udahlah, kita masak burung dara aja." Nathan terkekeh tidak jelas, lalu mengambil beberapa telur yang tersusun rapi di rak pendingin tersebut.
"Oh, iya. Pertama-tama kan kita harus masak nasi dulu." Nathan menepuk keningnya. Ya kali dia hanya makan telur saja tanpa nasi, kan tidak akan membuatnya kenyang.
"Berasnya di mana?" Nathan semakin frustasi saat tidak mendapatkan beras, padahal perutnya terus berbunyi sejak tadi.
"Akhirnya ...." Nathan menghembuskan napas lega saat mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. "Ckk ... kalau dipanggil itu nyahut napa, Ras! Pakai acara ngumpet segala!" Nathan mulai menceramahi beras tersebut, berharap dengan cara itu beras itu nanti akan datang dengan sendiri jika dia panggil.
"Masak nasi gimana, ya?" Nathan memandang beras yang ada dihadapannya dengan polos. Jujur, ini adalah kali pertamanya terjun ke dapur, karena biasanya ibunya lah yang selalu menyiapkan makanan untuknya.
"Berasa kayak bujangan yang pergi ngerantau tau nggak! Padahal kan udah punya Bini. Huh ... apa boleh buat, my Bini kan lagi capek, gue nggak tega." Terpaksa Nathan membuka handphonenya, lalu membuka youtube, dan menonton cara memasak nasi dan menggoreng telur dadar.
Nathan mulai mempraktekan sesuai yang dipandu dalam video tersebut.
"HUA ... DARA TOLONG!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.