
Setelah makan siang bersama tadi, Dara masih saja bungkam. Dia sama sekali tidak berniat memberitahukan masalah tadi pada suaminya. Sungguh, dia merasa seperti dilec*hkan oleh Leo. Bagaimana mungkin laki-laki itu secara terang-terangan memujinya dengan kata-kata yang tidak pantas?
"Kamu kenapa, Sayang? Kok dari tadi diam aja?" tanya Nathan yang merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya.
"Hah? Nggak ada kok. Yaudah, aku langsung ke kantor aja, ya?" Nathan mengangguk saja. Padahal dia ingin berdua-duaan dulu dengan istrinya, namun nampaknya Dara sedang sibuk sekali sekarang ini.
Sementara Dara segera masuk ke dalam mobilnya. Padahal niat hatinya ingin sedikit berlama-lama berada di kantor suaminya, tetapi dia sedikit risih karena Leo sedari tadi terus menatapnya dengan tatapan yang ... akhh, pokoknya aneh sekali.
Dara segera tancap gas menuju kantornya. Pikirannya benar-benar sedang blank saat ini. Apa sebenarnya arti tatapan Leo tadi?
Dara menghembuskan napas kasar. "Hais ... sumpah gue takut banget rasanya," gerutu Dara sambil memukul setir mobil. Tadi Leo benar-benar terlihat mengerikan sekali.
Sementara Nathan dan Leo berjalan bersama-sama menuju kantor. Karena jarak restoran dan kantornya tidak terlalu jauh, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, lumayan menghemat bensin.
"Than ... Dara ternyata cantik banget, ya? Sama seperti dulu," celetuk Leo yang sontak membuat Nathan menatap laki-laki itu.
Nathan tersenyum tipis. "Iya, dia emang cantik, sama seperti dulu. Itulah yang membuat gue setiap saat jatuh cinta sama dia. Meski pun dia galak, judes, dan kadang bersikap dingin, tapi Dara yang sebenarnya adalah orang yang baik, penyayang, dan dermawan. Gue tau itu semua." Nathan menatap ke depan. Dia tersenyum kecil saat mengingat-ingat masa dia dan Dara yang selalu bertengkar hanya karena masalah sepele. Ah, rasanya sudah lama dia tidak mencari masalah dengan istrinya. Malah kini dia sepertinya bersikap dewasa, padahal sebenarnya dia tidak suka bersikap dewasa seperti ini di hadapan Dara, karena dia selalu ingin bersikap seperti anak-anak di hadapan istrinya. Melihat tatapan dan sikap Dara yang sedang jengkel mampu membuat mood-nya baik.
******
Ha ha ha
Terdengar gelak tawa di sebuah restoran saat melihat orang yang sedang mereka perhatikan telah pergi.
"Kau lihat, Ken. Sepertinya Leo benar-benar tidak sabar ingin mencicipi tubuh istri sahabatnya sendiri. Aku dapat melihat dari tatapannya. Ah, aku jadi tidak sabar menunggu malam tiba," ucap Lucy sembari terkekeh.
"Dan kau yakin dengan apa yang kau lihat barusan?" Kendrick menatap majikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa maksudmu?" Lucy sedikit bingung mendengar pertanyaan anak buahnya.
"Tidak! Kau benar. Leo sepertinya sangat mengingini Dara secepatnya. Aku lihat Dara juga sepertinya cocok dengan Leo. Mereka terlihat sangat serasi."
"Dan Nathan cocoknya bersanding denganku!" kekeh Lucy yang seketika wajahnya berseri-seri. Sementara Kendrick yang mendengarnya berdecih dalam hati.
'Sepertinya laki-laki baik tidak cocok bersanding dengan wanita Iblis seperti Anda!' batin Kendrick berdecih. Andai bukan karena uang, dia tidak akan mau membantu Lucy sedikit pun.
********
Jam terus berputar, hingga menunjukkan pukul lima sore. Dara segera membereskan berkas-berkas yang berserakan, lalu bersiap-siap hendak pulang. Dia ingin menyempatkan memasak untuk makan malam mereka hari ini. Dia sangat merasa bersalah karena melupakan tugasnya sebegai seorang istri tadi, dan sekarang dia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali.
"Ca, gue pulang duluan, ya? Maaf banget karena sejak gue menikah, kita udah jarang jalan-jalan." Dara menatap sahabatnya itu dengan tatapan bersalah. Tidak bisa dipungkiri jika sekarang hubungan Lisa dan dirinya semakin menjauh. Itu semua karena dia selalu sibuk.
"It's oke, Ra. Gue paham kok posisi lo," sahut Lisa tersenyum tipis sembari terus membereskan meja kerjanya.
"Yaudah, gue pulang, ya. Bye, Ca ...." Lisa mengangguk saja, lalu setelah itu Dara berjalan meninggalkan sahabatnya.
Di perjalanan menuju rumah, Dara semakin gugup, perasaannya menjadi tidak karuan. Dia benar-benar takut, meski pun tidak terlalu tau dengan perasaannya sendiri.
*****
"Than, gue boleh minta tolong nggak?" cicit Leo sembari menunduk.
Nathan yang sedang fokus mengerjakan beberapa sisa berkasnya sontak mendongak mendengar suara Leo. Akibat terlalu fokus memeriksa dokumen, dia sampai tidak menyadari keberadaan Leo yang sudah berada di depannya.
"Iya? Lo mau minta tolong apa?" tanya Nathan dengan santai.
"Gu–gue mau minta tolong buat ngerjain pekerjaan gue. Soalnya itu berkas penting banget, dan gue nggak bisa, karena gue mau ngejenguk Ayah gue." Leo semakin menunduk, merasa bersalah pada Nathan karena sangat lancang meminta bantuan pada bosnya sendiri.
Nathan terdiam sebentar, padahal dia sudah tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengan istri tercintanya. Tapi mendengar alasan yang diberikan Leo, dia jadi tidak tega untuk menolaknya. Mungkin dia memang harus lembur malam ini untuk mengerjakan berkas-berkas tersebut.
"Yaudah, nggak apa-apa. Lo bisa pergi, biar gue aja yang ngerjainnya." Nathan tersenyum tipis pada Leo.
"Benaran? Lo nggak keberatan, kan?" tanya Leo memastikan, dan Nathan mengangguk mantap.
Leo bertersenyum senang sembari terus mengucapkan terima kasih banyak. Dia segera berlari menuju meja kerjanya, lalu membawakan berkas-berkas yang menumpuk ke atas meja Nathan.
Nathan yang melihatnya seketika melonggo. Padahal dia pikir mungkin hanya dua sampai tiga berkas saja, tetapi ternyata banyak sekali.
"Makasih banyak ya, Than. Kalau gitu gue pergi dulu. Maaf karena udah buat lo lembur malam ini." Leo menatap Nathan dengan tatapan bersalah.
"I–iya ...."
Leo segera keluar dari perusahaan Nathan. Pokoknya dia harus segera sampai di rumah lebih dulu sebelum Dara pulang. Jika sampai wanita itu yang duluan pulang, maka rencananya sudah dapat dipastikan gagal.
__ADS_1
Lucy sendiri sudah mentransfer uang untuknya. Uang yang dikirim wanita itu kira-kira cukup untuk membeli rumah mewah. Apalagi jika dia berhasil meniduri Dara nanti, maka Lucy akan memberikan dia bonus dengan jumlah yang tak kalah banyak dari sebelumnya. Itulah yang membuatnya jadi sangat bersemangat. Memangnya kapan lagi bisa mendapat rasa nikmat yang luar biasa, dibayar lagi!
"Sabahat? Apa itu sahabat? Gue sama sekali nggak peduli dengan yang namanya sahabat, karena yang gue peduliin cuman hidup gue sendiri. Lagian, sahabat mana yang membun-uh pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri?" Leo terkekeh sinis saat melihat ada dua laki-laki remaja yang terlihat akrab.
Leo menepikan mobilnya saat melihat gerobak penjual martabak. Dia segera turun dan memesan mertabak ukuran jumbo. Ini merupakan bagian dari rencananya dan Lucy.
Setelah membeli martabak, Leo segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum, karena saat membeli martabak tadi ada antrian. Untungnya pedagangnya mau bernegosiasi.
Tak berselang lama, akhirnya Leo sampai di rumah. Segera dia parkirkan mobilnya dengan sembarangan, lalu segera masuk ke dalam rumah. Dia segera membuat dua cangkir susu hangat, lalu meletakkan martabak yang sudah dia beli tadi di piring.
Setelah selesai Leo segera menghidangkan makanan dan minuman itu di atas meja. Diambilnya secarik kertas lalu menulis sesuatu di sana.
"Selesai! Gue benar-benar nggak sabar mencicipi tubuh wanita itu. Apalagi kulitnya sangat putih, pantes Nathan sayang banget," kekeh Leo. Yang ada di pikiran Leo, Nathan sayang pada Dara karena wanita itu yang memiliki tubuh indah, bukan karena cinta.
"Oke, gue cuman harus sembunyi. Setelah target masuk ke dalam jebakan, maka gue baru keluar," gumam Leo. Dia segera berlari, bersembunyi di balik tangga saat mendengar suara deru mesin mobil dari luar. Dia sangat yakin itu pasti Dara.
*******
Dara masuk ke dalam rumah. Keningnya sedikit mengerut melihat mobil suaminya yang diparkir asal-asalan. Tetapi sudahlah, mungkin suaminya sedang buru-buru. Sekarang dia harus cepat-cepat memasak untuk makan malam.
"Assalamualaikum," sapa Dara begitu membuka pintu rumah.
Tidak ada sahutan sama sekali. Dara tentu semakin bingung. Dia sudah dibuat bingung karena tumben sekali suaminya pulang cepat, dan sekarang dia tidak menemukan keberadaan suaminya di rumah.
"Nathan?"
"Sayang?"
Dara terus berteriak, tapi masih tidak ada sahutan sama sekali. Saat dia berjalan menuju dapur, dia sedikit heran melihat sepiring martabak dan dua gelas susu yang masih utuh. Perlahan dia berjalan mendekati meja makan.
Melihat ada secarik kertas, Dara langsung mengambilnya lalu membacanya. Senyum terbit di bibirnya. Ternyata Nathan sangat perhatian padanya.
"Masih anget," gumam Dara saat merasakan martabak dan susunya masih hangat.
Dara segera mendaratkan bok*ngnya di sana. Tanpa ragu dia segera menyantap mertabak yang ada di hadapannya.
"Eum ... enak banget." Dara memakan martabak tersebut dengan lahap. Dia memang suka makan mertabak, dan suaminya itu memang sangat tau apa kesukaannya. Benar-benar suami pengertian.
Setelah merasa kenyang, Dara lalu meneguk susu hangat yang ada di hadapannya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Dara menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Istirahat sebentar sebelum memasak untuk makan malam. Sebenarnya dia merasa lelah, tetapi memasak adalah tugasnya sebagai seorang istri.
Sepuluh menit Dara duduk di sana. Dara mulai merasa gerah dan merasa resah. Dia benar-benar merasa gerah, sampai rasanya dia ingin sekali melepaskan bajunya. Pikirannya pun mulai tidak karuan.
"Hai, Dar ...." Tiba-tiba Leo muncul entah dari mana, karena Dara tidak memperhatikan.
"H–hai ..." balas Dara sedikit gugup melihat Leo. Tetapi bukan itu yang membuatnya gugup, tapi tubuh Leo yang terlihat sangat ... s**y
"Kenapa gugup? Gue ganteng banget, ya?" kekeh Leo biasa saja, lalu mencomot martabak yang ada di atas meja makannya.
"I–iya," jawab Dara yang sontak membuat Leo menatap wanita itu dengan tatapan terkejut.
"Ah, ma–maksudnya nggak gitu." Dengan cepat Dara memperbaiki ucapannya. Dia tidak bermaksud memuji laki-laki itu. Perkataan tadi benar-benar tidak sengaja keluar dari mulutnya.
"Ka–kalau gitu gue ke kamar dulu, ya." Dengan segera Dara segera bangkit berdiri. Dia memaki dirinya yang sempat berpikir yang tidak-tidak tentang Leo. Astaga, otaknya benar-benar sedang tidak sehat.
Sebelum Dara pergi, Leo lebih dulu mencekal pergelangan tangan wanita itu, sehingga membuat tubuh Dara menegang. Tubuhnya seperti tersengat listrik mendapat sentuhan Leo.
"Lo kenapa sih? Kayak kayak gelisah gitu?" tanya Leo pura-pura tidak tahu.
"Nggak ada apa-apa!" jawab Dara yang napasnya mulai memburu.
"Jangan bohong, Dar. Kalau lo perlu bantuan, bilang aja, gue dengan senang hati bakal bantuin lo," ucap Leo lembut dengan sedikit mengelus pergelangan tangan Dara.
Mendengar tawaran yang diberikan Leo, pikiran Dara seketika semakin tidak tenang. Tiba-tiba lib***nya meningkat. Akhirnya otak sehat Dara kalah dengan hawa napsunya. Dia benar-benar gelap mata sekarang.
Cupp ...
Akhirnya Dara mengecup bibir Leo, sehingga membuat laki-laki itu terkejut.
"Da–Dar? Apa yang lo lakuin?" tanya Leo dengan terbata-bata.
Dara menggeleng, dia ingin menolak, tetapi tubuhnya seolah memaksanya untuk melakukan itu semua.
__ADS_1
Dara memelas menatap Leo, bahkan dengan lancangnya tangannya mulai berkeliaran di dad* bidang Leo.
"Kau yang meminta, Dar ...." Dengan cepat Leo segera mencium kembali bibir Dara. Tidak hanya mencium, Leo bahkan mel***t bibir itu dengan penuh napsu.
Dara menggila dengan ciuman Leo. Dia terus membalas ciuman laki-laki itu. Sekarang yang ada ada di pikirannya hanya ingin tenang, dan sepertinya inilah satu-satunya cara agar dia bisa tenang.
Shhh ... Akhh ....
Dara mel***uh saat tangan Leo mulai aktif menjamah tubuhnya.
"L–Leo ..." lirih Dara yang masih sedikit sadar. Dia berusaha untuk menahan tangan laki-laki itu agar tidak bermain lebih.
"Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Kau yang memulai, Baby." Leo langsung menekan dengan kuat sehingga membuat Dara sontak mend***h dengan nyaring.
Dara ingin mengatakan tidak, tetapi sayangnya tubuhnya justru berkata lain, karena kepala Dara justru mengangguk mengiyakan.
"Kau yang mengangguk, dan mengiyakan. Aku hanya membantumu," ucap Leo lalu segera kembali mel***t bibir Dara, dan kali ini ciuman itu lebih menuntut.
Karena tidak mau bermain di dapur, Leo segera menggendong Dara dan membawanya menuju kamarnya yang disediakan Nathan. Dia sengaja membawa Dara ke kamarnya, karena jika dia membawa Dara ke kamarnya dan Nathan, maka mungkin saja Nathan justru berpikir dialah yang memper**sa istrinya.
Leo menghempaskan tubuh Dara di atas kasur, lalu dengan cepat mengukung wanita itu.
"Dara ... aku sudah lama menunggu moment ini," bisik Leo dengan sens**l tepat di samping telinga wanita itu.
Dara hanya bisa pasrah saja, tubuhnya sama sekali tidak berniat untuk menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh Leo.
Leo melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Dara dengan perlahan sambil terus menc**bu wanita itu, kemudian dengan segera dia melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.
Leo menatap takjub tubuh Dara. Dia benar-benar cantik, apalagi keringat yang menetes dari wajahnya, ditambah rambut panjangnya yang sedikit berantakan menambah kesan s**y pada wanita itu.
"Are you ready, Baby?" tanya Leo yang sudah siap. Tetapi respons Dara justru menggeleng, dan Leo tidak peduli dengan itu semua.
Akhh ....
Dara kembali mend***h saat Leo mulai berani bermain di bawah sana.
"Sabar, Baby. Sebentar lagi, milikmu benar-benar sempit sekali." Leo kembali berusaha hingga akhirnya berhasil juga.
Dara mengeratkan gengamannya pada bed cover saat Leo mulai melakukannya.
"Ah ... Leo, ini benar-benar nikmat! Le–lebih dalam," ucap Dara dengan sesekali mend***h.
"Of course, Baby!" ucap Leo yang semakin mempercepat permainannya.
"Le–Leo, a–aku ingin keluar!" ucap Dara yang mulai bergetar merasakan ada yang mendesak dari dalam tubuhnya.
"Sebentar, Baby. Aku juga ingin keluar!"
Dara tidak menghiraukan ucapan Leo. Tubuhnya semakin bergetar.
"Le–Leo ... akhh!" Dara mend***h saat mencapai k****ks. Tubuhnya terasa lemas setelah mengeluarkan cairan tersebut. Setelah itu kesadaran Dara hilang. Dia pingsan di bawah kungkungan Leo.
Leo tidak memperdulikannya, ia terus menghentak-hentakkan miliknya di dalam sana. Hingga akhirnya dia merasa ingin mencapai puncak. Dia segera mempercepat permianannya.
"Akhh ... Dara!" Tubuh Leo sontak ambruk di tubuh Dara setelah mengeluarkan miliknya di dalam milik Dara. Ya, sesuai dengan permintaan Lucy yaitu dia harus mengeluarkannya di dalam.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.