
Dara menatap suaminya dengan pandangan tidak suka. Setelah pintu terbuka, segera dia masuk, lalu menyalakan lampu ruangan hotel tersebut.
Nathan memanyunkan bibirnya, karena istrinya yang tidak merespon sama sekali. "Cih ... Tadi katanya pengen produksi anak! Tapi pas ditagih malah ngehindar! Dasar betina!" Nathan mengerutu sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Kening Nathan mengerut melihat istrinya yang bengong di samping tempat tidur. "Kenapa?" Akhirnya dia memberanikan bertanya.
"Gue pengen mandi, tapi nggak ada baju ganti," jawab Dara dengan suara lemas.
"Yaudah nggak usah pakai baju aja," ucap Nathan asal, sehingga mendapat delikkan tajam dari istrinya.
"Gue serius, Than!" kesal Dara karena suaminya tersebut selalu mengajak bercanda.
"Yaudah, pakai bathrobe aja, lagian susah nyari pakaian malam-malam begini. Kamu juga nolak mulu, kita kan udah halal, Dar! Saya berhak dapetin hak saya sebagai suami." Sebenarnya Nathan tidak bermaksud memaksa istrinya untuk memberikan haknya, dia hanya bercanda saja. Tetapi, Dara sedikit tersinggung mendengar ucapan suaminya itu. Hatinya tersentil mendengar ucapan suaminya. Apakah dia memang tidak layak disebut istri? Bahkan tidak memberikan yang sudah menjadi hak suaminya, yaitu tubuhnya.
Segera Dara masuk ke dalam kamar mandi. Apakah mungkin malam ini saja dia memberikan hak suaminya? Tapi ... entah kenapa ada sedikit keraguan dalam dirinya. Tidak! Dia tidak meragukan cinta Nathan, dia sangat yakin jika suaminya itu tulus mencintainya, hanya saja ... Akhh, dia bahkan tidak tahu ingin mengatakan apa.
Sementara Nathan, setelah melihat istrinya sudah masuk ke dalam kamar mandi, dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu menghambuskan napas kasar. Dia kembali teringat dengan sahabatnya, berbagai pikiran negatif muncul memenuhi pikirannya. Mungkinkah jika Leo dan ayahnya baik-baik saja sekarang? Atau mungkin mereka justru menderita? Akh! Memikirkan semua itu membuat Nathan semakin pusing. Jika kehidupan sahabatnya itu ternyata sangat menderita, mungkin dia adalah satu-satunya orang yang akan sangat menyesal telah menghancurkan kehidupan sahabatnya itu.
"Gue minta maaf, Yo. Karena ego gue, lo mungkin menderita sekarang. Gue akui gue kakanak-kanakkan sampai nggak mau ngedengar penjelasan kalian terlebih dahulu saat itu. Gue menyesal, gue harap lo nggak akan menyimpan dendam sama gue," lirih Nathan sambil menatap langit-langit kamar tersebut. Jujur saja, dia sempat berpikir jika Leo akan membenci dirinya saat tahu jika dia lah biang kerok hancurnya perusahaan ayahnya, bahkan kini orang-orang memandang rendah ayahnya karena mengira Bima adalah orang yang licik.
"Gue janji, gue bakal nebus semua dosa-dosa yang udah gue lakuin ke lo! Gue akan nebus sebisa mungkin, meski pun nyawa gue taruhannya!" ucap Nathan mantap. Kini Nathan memikirkan di mana kemungkinan ayah Leo yang sudah dia anggap seperti ayahnya itu dirawat. Sepertinya dia harus mendatangi seluruh rumah sakit yang ada di kota ini, mungkin saja ayah Leo ada di salah satu rumah sakit yang ada di kota ini.
Ceklek ....
Nathan yang sedang fokus melamun sontak menatap ke samping, dan terlihatlah istrinya keluar hanya menggunakan bathrobe. Ternyata wanita itu menuruti ucapannya juga.
Nathan terpukau melihat istrinya yang sangat harum, bahkan bau sabun yang digunakan istrinya itu tercium sampai ke hidungnya.
Seketika Nathan merasa gerah, gairahnya tiba-tiba bangkit, apalagi saat melihat rambut panjang istrinya yang masih basah tersebut. Ah, ingin sekali rasanya dia berdiri, lalu berlari menuju istrinya itu. Tetapi sayangnya, itu semua hanya hayalannya saja, mungkin tidak akan pernah terwujud. Karena tidak ingin kelepasan, Nathan segera bangkit, lalu berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin air dingin yang menguyur tubuhnya akan menjernihkan pikirannya nanti.
Gerak-gerik Nathan yang seperti orang gelisah tersebut tentu tidak luput dari pandangan Dara. Dia paham jika suaminya itu mungkin tergoda dengan tubuhnya. Mungkin saja selama ini Nathan ternyata tersiksa selama tidur dengan dia.
__ADS_1
'Apa iya ini waktunya?' batin Dara yang masih dilema, antara memberikan hak suaminya, atau di lain waktu saja.
Tidak mau pusing memikirkannya, Dara segera berjalan menuju meja rias, lalu mengambil hair dryer yang kebetulan disediakan oleh pihak hotel. Sambil mengeringkan rambutnya, Dara terus berpikir, menimbang apakah memang ini sudah saatnya.
'Hais! Gue bisa gila kalau kayak gini!' pekik Dara dalam hati. Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Dara segera membaringkan tubuhnya di atas kasur, menunggu suaminya untuk keluar dari dalam kamar mandi.
Tak berselang lama, Nathan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe juga. Dia tersenyum tipis melihat Dara yang menatap dirinya.
Dara menjadi deg-deg'an sendiri. Membayangkan apa yang akan mereka lakukan malah membuatnya merinding.
Nathan berjalan santai menuju tempat tidur, membaringkan tubuhnya, lalu mengambil handphonenya untuk melihat takut ada pesan yang masuk ke dalam handphonenya.
Ketika lagi asik bertukar pesan dengan sekretaris l*cknut-nya, karena laki-laki itu yang malah mengajaknya bercanda, tiba-tiba Dara mendekati dirinya.
"Lagi chattan sama siapa?" Dara bertanya sambil menatap layar handphone suaminya. Dia tidak curiga, hanya saja sedikit aneh melihat suaminya yang terkekeh seperti itu.
"Eh?" Nathan terkejut melihat istrinya yang menempel dengan dirinya, apalagi bau sampo rambut istrinya itu membuat dia menjadi salah tingkah. "Ini chattan sama Sean." Nathan berusaha menjawab setenang mungkin. Dia menunjukkan layar handphonenya pada istrinya, setelah itu mematikan handphone, dan meletakkannya di atas nakas.
Dara mengangguk. "Tapi peluk, ya?" pinta Dara dengan suara yang menggemaskan di telingga Nathan.
Nathan tersenyum, lalu mengangguk. 'Baru aja nenangin si Joni, eh malah bangun lagi!' Nathan meringis saat merasakan benda pusaka miliknya yang mulai berdiri hanya karena mendengar ucapan istrinya itu.
Dara mulai mendekati dirinya pada Nathan, lalu menyembunyikannya wajahnya di dada bidang milik suaminya. Perlahan dia menggesek-gesekkan kepalanya di dalam dekapan Nathan.
Nathan melotot dengan ulah istrinya itu. Napasnya seketika memburu. Dirinya hanya mampu berusaha mengepalkan tangannya, menahan gejolak di bawah sana. Tidak! Dia tidak boleh meminta lebih, jika istrinya tidak mengijinkan! Tidak boleh!
Dara semakin berani, dia lalu mendongakkan kepalanya di dalam dekapan suaminya. Perlahan tangannya terulur mengelus rahang tegas suaminya. Dapat dirasakannya jika rahang Nathan sedikit kasar, mungkin karena laki-laki itu selalu mencukur bulu-bulu yang tumbuh di rahangnya itu.
Nathan meneguk salivanya dengan kasar. Napasnya semakin memburu. Keringat mulai jatuh membasahi wajahnya.
Karena sudah tidak tahan, Nathan segera menahan tangan istrinya yang terus menerus menyentuh dan mengelus wajahnya. Dara hanya mampu menggigit bibirnya karena tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ah, apakah dia baru saja melakukan kesalahan? Apakah sebenarnya tidak seharusnya dia melakukan ini, sehingga membangkitkan macan yang sedang tertidur?
__ADS_1
"D–Dar!" Dara merinding mendengar suaminya yang memanggil dia dengan suara yang sangat berat. Entah kenapa dirinya merasa panik.
"Iya?" Dara berusaha untuk bersikap tenang semaksimal mungkin, meski pun detak jantungnya tidak bisa berbohong, karena saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Nathan menatap mata istrinya dalam-dalam. Sebenarnya dia sedikit ragu memintanya, tetapi dia sudah tidak tahan sekarang, akibat ulah istrinya itu. Bagaimana pun, perlu digaris bawahi jika dia juga laki-laki normal, jadi wajar saja jika napsunya langsung naik saat mendapat sentuhan, apalagi sentuhan wanita yang sangat dia cintai.
"Apa saya boleh meminta hak saya sebagai suami?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nathan. Kini dia dapat melihat wajah istrinya yang kebingungan. Melihat wajah istrinya, Nathan seketika merasa bersalah karena sudah meminta padahal wanita itu belum siap. Ah, dia tidak ingin jika Dara menganggap dirinya hanya ingin tubuh istrinya saja, karena faktanya dia memang sangat mencintai wanita itu.
"Ah, maaf, Dar! Saya nggak bermaksud nanya kayak gitu. Lupain aja!" Nathan yang bingung hendak melakukan apa langsung memilih untuk tidur memunggungi istrinya saja, mungkin dengan cara itu bisa membuat tubuhnya menjadi normal kembali.
"Iya, aku siap memberikannya!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.