
Setelah mendengar nasihat yang diberikan ayahnya, Leo seketika sadar. Dia memang kecewa, tetapi tidak seharusnya dia membenci laki-laki yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Benar kata ayahnya! Seorang kakak tidak boleh membenci adiknya sendiri.
"Kamu boleh kecewa, tapi jangan sampai rasa kecewa itu berubah menjadi rasa benci." Bima kembali menasehati putranya yang terlihat sudah mulai memahami maksudnya. Dia tidak ingin melihat putranya memiliki dendam pada Nathan, dan dia takut jika Leo mungkin akan membalas dendam. Dia tidak ingin hubungan kedua putranya menjadi renggang.
"Yah ...." Leo tidak mampu berkata-kata. Perlahan dia mulai menyesali apa yang sudah dia lakukan tadi terhadap Nathan. Apakah tadi dia kelewatan? Apalagi saat mengingat dirinya yang menampar wajah Nathan dengan sangat keras, sampai-sampai sudut bibir laki-laki itu berdarah. Ah, seketika dia menyesali perbuatannya tadi. Tak seharusnya dia menampar adiknya sendiri, apalagi Nathan sama sekali tidak membalas perbuatannya. Padahal jika dibandingkan Nathan, dirinya lebih kecil dan mungkin jika Nathan membalas, maka dialah yang akan koid.
'Gue menyesal udah nampar Nathan. Maafin gue, Than ...' batin Leo yang mulai menyesali perbuatannya.
Tetapi siapa sangka jika obrolan di antara orang tua dan anak tersebut didengar oleh dua pasang telingga yang sedang berdiri di ambang pintu.
Ya, Nathan dan Dara yang sudah berdiri di ambang pintu hendak mengetuk pintu tiba-tiba terhenti saat mendengar suara Leo yang meninggi. Mereka akhirnya mengurungkan niat mereka. Tetapi anehnya mereka justru terdiam di depan pintu, sama sekali tidak berniat ingin pergi, dan akhirnya menguping setiap pembicaraan mereka.
Air mata Nathan menetes mendengar setiap nasehat bijak yang diberikan Bima. Dia sendiri masih tidak menyangka jika orang yang sudah dia sakiti sudi memaafkan dirinya. Rasanya sedikit aneh mendapati manusia berhati malaikat, tetapi memang itulah faktanya, dan Bima termasuk salah satu di antaranya.
Dara yang tidak tega melihat keterpurukkan suaminya langsung membawa laki-laki itu ke dalam pelukannya. Dia mulai mengelus punggung laki-laki itu dengan pelan untuk menenangkannya. Rasanya sedikit sakit melihat Nathan yang menangis seperti itu. Jujur saja, akhir-akhir ini dia sudah tidak mendapati sifat somplak Nathan, yang ada di hadapannya hanyalah Nathan yang terpuruk.
"Udah, jangan nangis. Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita berdoa aja semoga Ayah bisa sembuh. Dan satu lagi, kamu harus membantu biaya pengobatan Ayah nanti," bisik Dara dengan lembut.
'Jika seperti ini, maka aku memilih sifat kamu yang menyebalkan saja dibandingkan seperti ini. Aku ikut merasa sesak melihat kamu yang seperti ini.'
Nathan mengangguk mantap. Dia pasti akan akan membantu biaya pengobatan ayahnya sendiri. "Pasti, Dar! Saya bahkan rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak sekali pun." Nathan menjawab mantap di dalam dekapan istrinya, dan Dara tersenyum mendengar jawaban suaminya.
"Mau masuk?" tawar Dara melepaskan pelukan Nathan.
Nathan terdiam sebentar, memastikan jika situasinya memang sudah pas. Ketika sudah tidak mendengar apa-apa lagi, dia mengangguk mengiyakan.
Ceklek ....
Leo yang sedang melamun sontak mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara pintu yang dibuka. Tubuhnya sedikit menegang melihat keberadaan Nathan, apalagi Dara yang juga berada di sana. Bima pun ikut mengalihkan pandangannya, dia tersenyum lembut saat melihat Nathan, tetapi dia tersenyum senang saat melihat keberadaan perempuan yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
"AYAH!" Di luar dugaan, Dara justru memekik senang melihat keberadaan Bima. Dia sontak berlari kecil menuju tempat tidur pria itu, meski pun cara berlarinya agak sedikit aneh. Tentu saja! Dia berlari dengan kakinya yang terbuka cukup lebar, sehingga menimbulkan kesan lucu.
"Dar, jangan lari!" Tanpa sadar Nathan menaikkan satu oktaf suaranya karena terkejut melihat apa yang dilakukan istrinya. Dia sangat khawatir pada wanita itu, mengingat kondisinya tidak sedang baik-baik saja.
Tetapi Dara mengabaikannya begitu saja, dia kembali berlari menuju Bima dengan gaya yang benar-benar lucu, sehingga membuat Bima terkekeh. Tidak berbeda dengan pria itu, Leo juga tanpa sadar terkekeh lucu dengan gaya berlari sahabatnya itu. Kini otaknya sudah dipenuhi dengan pikiran m*esum. Dia memang belum menikah, tetapi umurnya bisa dibilang tidak muda lagi, karena dia dan Nathan seumuran, hanya berbeda bulannya saja. Dia tentu tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Apakah mereka baru saja menghabiskan malam panas semalam? Tetapi kenapa cara jalan wanita itu seperti itu jika pernikahan mereka sudah berjalan hampir sebulan? Apakah ini yang pertama kalinya?
__ADS_1
Dara langsung memeluk Bima dengan erat. Dia bahkan tidak peduli bagaimana respons Leo. Tidak peduli jika laki-laki itu akan marah, karena dia jauh lebih garang dibandingkan Leo.
Bima membalas pelukan Dara tak kalah erat. Kini dia sangat bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan ketiga anak-anaknya. Jika pun Tuhan ingin mengambil nyawanya, dia tidak masalah, karena dia percaya jika Nathan dan Dara pasti akan menjaga Leo.
"Gi–gimana kabar kamu?" tanya Bima dengan lembut sambil mengelus lembut rambut putrinya.
"Dara baik kok, Yah." Dara menjawab dengan antusias. "Kalau Ayah gimana?" Meski sudah tau bagaimana keadaan pria itu, Dara tetap menanyakannya. Ya, anggap saja basa-basi.
"Ayah baik kok. Kamu kenapa jalan kayak gitu tadi?" Bima menggoda putrinya.
"Habis digempur habis-habisan sama pawangnya," celetuk Leo yang langsung mendapat delikkan tidak suka dari Dara.
"Diam lo!" Dara membentak Leo dengan tatapan permusuhan.
"Busyet." Leo mengelus dadanya. Sementara Bima terkekeh, lalu melihat Nathan yang seketika salah tingkah.
"Berapa ronde semalam?" Leo menatap Nathan dengan santai, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
"Cuman 1 doang." Nathan menjawab dengan polos. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu sampai menjawab yang sesungguhnya.
Sementara Leo tidak mampu menahan tawanya. Dia tertawa terpingkal-pingkal, apalagi melihat wajah Nathan yang terlihat bingung.
"E‐eh, tadi kamu nanya apa?" Nathan semakin salah tingkah melihat tatapan tajam istrinya. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan? Itulah yang ada di benaknya sekarang.
"Lo jangan ketawa Leo!" bentak Dara menatap tajam Leo yang membuat laki-laki itu mendengus kesal.
"Ckk ... lo kenapa kagak bisa berubah dari dulu? Perasaan kayak benci banget sama gue." Leo berdecak kesal menatap Dara.
"Kerana suami gue ganteng wlekk!"
"Dih ... kagak nyambung banget!"
Nathan tersenyum senang mendengar istrinya mengatakan jika dia tampan. Ah, rasanya ingin sekali dia melompat-lompat saking bahagianya.
Perlahan Leo mendekati Nathan. "Gue minta maaf, Bro. Gue nggak bermaksud nampar lo tadi." Leo menatap Nathan dengan wajah penuh penyesalan sehingga membuat Nathan tersentuh. Tidak seharusnya laki-laki itu meminta maaf, karena jika dia berada di posisi Leo, mungkin dia akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Gue yang seharusnya minta maaf, Yo. Karena ulah gue hidup kalian jadi kayak gini. Gu–gue minta maaf. Gue janji bakal nebus semua dosa yang udah gue lakuin. Gue janji bakal bantu biaya pengobatan Ayah." Nathan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Iya, gue percaya. Makasih banyak untuk bantuannya." Leo memeluk Nathan yang langsung disambut laki-laki itu tak kalah eratnya.
Bima dan Dara saling pandang, seolah berbicara lewat tatapan.
"Cie yang pelukkan." Bima dan Dara kompak mengucapkannya. Mereka sengaja menggoda kedua laki-laki itu.
Nathan dan Leo langsung melepaskan pelukkan mereka. Seketika mereka menjadi salah tinggah, sehingga membuat Bima dan Dara tertawa lepas.
'Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa aku merasa akan ada musibah yang menimpa putra dan putriku kelak? Aku mohon kiranya tidak ada yang terjadi di kehidupan mereka. Jika pun ada, aku memohon pada-Mu, berikan mereka kekuatan serta kuatkan tali persaudaraan mereka agar masalah apa pun yang menimpa kehidupan mereka, mereka tetap mampu mengatasinya. Amin.' Bima berdoa dalam hati. Entah kenapa nalurinya sebagai seorang ayah merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Tetapi meski pun demikian, dia tetap berpikir positif saja.
TBC
Habis ini mulai konfliknya yaa \><
.
.
.
__ADS_1
.