Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Tersinggung (Selama Ini Dianggap apa?)


__ADS_3

"Huh ... akhirnya selesai juga!" Dara mengelap keringatnya. Akhirnya masakan yang dia buat jadi juga. Untuk menu siang ini Dara memutuskan untuk memasak Udang balado, tumis jamur tiram, dan ayam goreng yang dipotong kecil-kecil.


Segera Dara memasukkan masakan tersebut ke dalam kotak bekal yang nanti akan dia bawa ke perusahaan suaminya.


"Mending gue mandi aja dulu, badan gue lengket-lengket karena keringat, mana bau bawang lagi!" Dara menggerutu saat mencium bau badannya sendiri.


Langsung saja Dara masuk ke dalam kamar mandi, lalu segera membersihkan dirinya dengan sesekali bersenandung kecil.


Setelah selesai, Dara lalu menggunakan bathrobe. Sebelum mengganti pakaian, dia lebih dulu mengambil handphonenya, takut ada pesan penting.


Kening Dara mengerut saat melihat panggilan tak terjawab yang hampir sepuluh kali dari Sean. Ada apa gerangan sekretaris suaminya tersebut menghubunginya?


"Tumben dia nelpon gue?" Dara bergumam, lalu kembali menelpon pemilik nomor tersebut.


Dara semakin dibuat bingung dan curiga saat Sean yang mengatakan jika dia tidak sengaja terkekan. Apakah masuk akal tidak sengaja tertekan sampai hampir sepuluh kali?


Tetapi tak berselang lama Dara justru dibuat kesal. Ternyata itu semua ulah suaminya. Astaga, bagaimana mungkin Nathan sangat iseng padanya sampai-sampai meminjam handphone milik sekretarisnya hanya karena tidak mau habis pulsa? Sungguh, suaminya tersebut memang sangat langka.


Setelah panggilan selesai, Dara kembali menggerutu tidak jelas.


"Sialan nih laki! Dikira gue pembantu apa! Masa iya ngasih kerjaan nggak nanggung-nanggung lagi!" Dara terus menggerutu, bahkan saat memasang pakaian pun dia tetap saja menggerutu.


"Sabar, Dar! Sabar! Ingat, dia laki lo! Jangan sampai lo khilaf ngehabisin dia." Dara mengelus dadanya, berusaha untuk menormalkan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Dara berjalan menuju meja rias miliknya, lalu mulai memoleskan bedak tipis di wajah serta lipstik di bibirnya.


"Perfect! Untung aja gue free hari ini!"


Segera Dara turun ke bawah, lalu mengambil bekal buatannya tersebut. Meski pun Nathan memintanya untuk memasak sendiri, tetapi Dara sama sekali tidak keberatan. Dia justru lebih senang saat suaminya suka dengan masakan yang dia buat. Itu membuat dia bahagia sendiri, karena jika suaminya suka makan di luar, dia merasa seperti tidak menjadi istri sungguhan, atau lebih tepatnya tidak berguna.


Dara segera masuk ke dalam mobil, lalu tancap gas menuju perusahaan milik suaminya.


********


"Sakit juga ternyata tamparannya, Yan!" Nathan terkekeh sambil sesekali meringis memegang sudut bibirnya yang robek tersebut.


"Yee, ya pasti sakitlah! Tapi sakit mana sama sih aki-aki tadi yang udah lo habisin!" ketus Sean yang kini sudah bersikap santai pada Nathan karena sedang free, dan Nathan sendiri juga bersikap nonformal padanya.


"Ya mana gue tau! Kan dia yang ngerasain!" ketus Nathan yang sontak membuat Sean cengengesan. Benar juga!


"Itu gimana kalau Bini lo ngeliat?" tanya Sean yang mulai penasaran.


"Palingan gue bilang habis dicip*k sama lo!" jawab Nathan asal.


Bukk


Bantal sofa yang ada di tangan Sean sontak melayang ke wajah Nathan. Gila saja bosnya tersebut! Alasan macam apa itu!

__ADS_1


"Buset, Yan! Kok lo KDP sih sama gue?" Nathan mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit sakit.


"Hah? KDP apaan?" Sean bertanya dengan tampang wajah polosnya.


"Kekerasan Dalam Perusahaan!" Nathan menjawab sambil terus cengengesan.


"Gila nih bos!" gumam Sean, tetapi dengan suara yang nyaring, sehingga membuat tawa Nathan semakin pecah.


"Eh, by the way, gimana nikah sama Dara? Lo pasti udah bahagia, 'kan?" Sean menaik-turunkan alisnya. Dia sangat yakin jika Nathan pasti sudah sangat bahagia sekarang. Tentu saja! Wanita yang sangat dia cintai dari dulu kini sudah menjadi milik dia seutuhnya.


"Ckk ... biasa aja sih. Asal lo tau nih ya, dia itu cewek yang sadis, mulutnya pedas abis, mana nggak bisa puas lagi kalau di atas ranjang, masa minta nambah ronde mulu, kan gue jadi nggak enak kalau nolak, dan terpaksa gue turutin. Pokoknya dia itu m*esum banget!" Kali ini Nathan justru menjelek-jelekkan istrinya di belakang. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan istrinya yang berdiri di samping pintu.


Sean membelalakkan matanya. Memang saat ini posisi Nathan sedang membelakangi pintu, karena mereka sedang duduk di sofa saja. Sean berusaha mengkode bosnya untuk berhenti berbicara, dan membalikkan badan ke belakang. Namun, Nathan sama sekali tidak paham, dan malah melanjutkan ucapannya.


"Than!" bisik Sean.


"Apa sih, Yan? Gue belum selesai ngomong nih. Mending lo cari cewek tuh yang kaleman dikit deh, Yan. Gue sih terpaksa menikah dengan Dara, soalnya dia maksa gue buat nikahin dia, masa dia sampai guling-guling di hadapan gue pas gue nolak cintanya. Tapi ya gitulah, karena gue baik, maka gue terima dia. Lo tau, dia itu suka banget nyindir gue, masa dia suka bilang gue itu cowok pembohong, mana nggak setia lagi. Padahalkan jelas-jelas kalimat itu untuk dia." Nathan terus menjelek-jelekkan istrinya. Untuk kali ini dia benar-benar tidak menyadari keberadaan istrinya yang sedang berdiri di belakangnya.


"Ekhem ... udah selesai ngegibahin gue, suami?"


Nathan melotot, tubuhnya sontak membeku mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Perlahan laki-laki itu membalikkan badannya dan berdiri seraya tersenyum canggung. "Eh, Bini. Sejak kapan di sini?" tanya Nathan.


"Mampus!" gumam Sean pelan.


Dara melotot ke arah laki-laki itu. "Sejak Anda bilang saya sadis."


"Mulut saya pedas abis."


"Dar, saya—"


"Saya m*esum."


"Dar, saya tadi—"


"Saya biasanya nyindir-nyindir. Ingat, kulkas di rumah masih muat buat nampung daging satu ton."


Nathan menelan salivanya susah payah. Lagipula, mengapa istrinya bisa masuk tanpa mengeluarkan suara? Dasar titisan jalangkung!


"Sean, keluar!" perintah Dara dengan suara rendah.


"Kenapa lo nggak bilang kalau ada Bini gue?" tanya Nathan sedikit berbisik.


"Gue udah ngasih kode, Than. Lo nya aja yang ngomongnya nyerocos kayak kereta api," jawab Sean berbisik pula.


"Sean, apakah kamu tidak mendengar perintah saya?"


"Ba–baik, Bu!" Sean segera keluar mendengar suara tegas istri bosnya.

__ADS_1


"Hehe, Dar. Kamu kenapa natap suami kamu sampai segitunya?" Nathan bertanya dengan setenang mungkin, padahal wajahnya sudah pucat pasi sekarang. Dia akui jika dia berani menghadapi musuh-musuh atau orang-orang yang handal dalam seni bela diri, tetapi untuk menghadapi istrinya, nyalinya benar-benar menciut.


Namanya juga suami takut istri! Badan doang gede, tapi sama istri kagak berani!


"Lo tuh kenapa sih, Than. Kok nyebelin banget!" Dara memekik dengan gemes di hadapan laki-laki itu. Sementara Nathan hanya diam saja.


"Enggak apa-apa nyebelin, yang penting nggak pernah bohong, apalagi saya orangnya setia, Dar!" sahut Nathan sambil sedikit terkekeh.


"Bayangkan, Dar! Nyebelin mana saya sama kamu yang dulu malah main api di belakang saya! Jangan-jangan kamu sudah sempat belah duren lagi sama si Leonet itu!" Nathan keceplosan mengatakan apa yang seharusnya tak dia katakan. Padahal jika dia mengatakan itu, sama saja dia menganggap istrinya perempuan yang tidak baik.


Sebenarnya Nathan mengira jika istrinya tersebut sudah tidak peraw*n, dia pikir Dara sudah sempat bermain lebih dengan Leo sewaktu dia pergi ke luar negeri saat itu. Tetapi meski pun demikian, dia tetap menerima Dara apa adanya. Ya, anggap saja dia sudah benar-benar gila dan sangat sayang pada wanita itu.


Dara terdiam. Dia masih terima jika Nathan menuduhnya selingkuh, pembohong, atau apalah itu. Tapi dia tidak terima jika ada yang menuduhnya sudah melakukan hal yang tidak baik, karena menurutnya itu terdengar sama saja mereka menganggapnya j*l*ng.


Dara terkekeh sinis. "Emangnya kenapa kalau gue udah sempat main sama Leo? Kenapa? Kenapa kalau gue udah nggak peraw*n? Lo mau gue servis juga? Apa lo anggap gue nggak lebih dari jal*ng ya selama ini?" Sebening kristal jatuh membasahi pipinya. Rasanya sangat sesak, tetapi dengan cepat Dara menyekanya dengan kasar. Tetapi meski pun demikian, Nathan masih sempat melihatnya.


Seketika Nathan merasa bersalah. "Dar, saya terima kamu apa adanya kok."


Ucapan Nathan justru semakin membuat Dara sakit. See! Berarti laki-laki itu memang menganggapnya wanita murahan.


"Lo dengar baik-baik, Nathan! Gue sama sekali nggak pernah selingkuh dari lo!" Dara berkata dengan penuh penekanan.


"Apa kamu berani bersumpah? Lalu apa maksud kamu berpelukan dengan Leo saat itu? Dan jelas-jelas saya mendengar kalau kamu nggak suka sama saya!" Nathan menatap tajam istrinya. Sepertinya perang dunia ketiga akan dimulai! Tidak ada lagi Nathan yang loyo seperti biasanya.


Dara menatap Nathan dengan wajah serius. Napasnya mulai memburu.


"Karena gue cinta sama dia!"




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2