
"Yaudah, Mas berangkat ya, Sayang." Nathan berkata lembut, lalu memberikan kecupan di kening istrinya.
"Hati-hati, ya ..." sahut Dara menyalimi telapak tangan suaminya.
"Kamu juga hati-hati nanti kalau ke kantor. Assalamualaikum." Nathan mengacak gemes rambut istrinya, kemudian segera pergi menuju kantornya. Meski mereka masih berduka, tetapi Nathan merasa bersyukur karena Leo tidak menyimpan dendam padanya.
"Wa'alaikumsalam," balas Dara tersenyum manis menatap kepergian suaminya.
Setelah melihat suaminya sudah pergi dan tak terlihat lagi, Dara menghembuskan napas kasar. Kenapa hari ini tiba-tiba dia merasa gelisah dan khawatir? Apa akan ada sesuatu besar yang akan terjadi?
Dara menggeleng, berusaha menepis pikiran-pikiran negatif yang ada di pikirannya. Mungkin karena merasa lelah saja, mengingat ada sedikit masalah di kantornya.
"Bukan apa-apa, Dar!" Dara berusaha memberitahukan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada yang akan terjadi. Semuanya pasti baik-baik saja.
Karena tidak mau berlarut-larut, Dara memilih untuk segera bersiap-siap ke kantor saja. Mungkin pikirannya bisa tenang setelah melihat tumpukan kertas-kertas yang bisa menghasilkan uang untuknya nanti. Meski pun faktanya mungkin akan membuatnya semakin stres pada akhirnya.
Dara segera bersiap-siap pergi ke kantornya. Selama seminggu ini dia bahkan tidak tau perkembangan perusahaanya karena setiap harinya dia habiskan untuk menghibur Leo.
Dara sudah tau semua ceritanya, dan dia benar-benar tidak menyangka ada yang berbuat hal itu. Dia sangat percaya jika suaminya tidak mungkin melakukan hal seperti itu sekali pun dia sempat membenci Leo. Dia kenal sekali dengan Nathan, dan dia yakin seratus persen itu tidak mungkin.
*******
Drtt Drttt
"Halo?" jawab Dara malas setelah tau siapa yang meneleponnya.
"...."
"Oke, thank you," sahut Dara tulus. Setelah itu dia mematikan panggilan.
Wajah Dara seketika berseri-seri setelah mendapat telepon tersebut. Dia benar-benar merasa bahagia, bahkan rasa itu tidak bisa deskripsikan.
"Huh ... gue bersyukur banget sama Tuhan. Ternyata benar, tidak ada yang bisa mengalahkan doa. Selagi kita benar-benar meminta pada-Nya, Dia pasti akan mengabulkannya. Lagian, Dia tidak mungkin memberikan musibah melebihi kemampuan hamba-Nya. Terima kasih Tuhan," gumam Dara sembari tersenyum tipis. Tidak pernah terbayangkan olehnya jika Tuhan benar-benar mendatangkan malaikat untuk membantunya. Kini dia sudah merasa tenang menjalani hari-harinya. Meski pun dia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya, tetapi biar saja seperti ini dulu.
Sepanjang perjalanan Dara bersenandung bahagia. Sesekali dia mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil.
"Apa gue perlu merayakan kebahagiaan ini? Mentraktir mungkin." Dara bertanya pada dirinya sendiri. Dia berencana ingin mentraktir seluruh karyawannya.
"Tapi ... karyawan gue aja ada sekitar lima ribu orang. Bangkrut dong." Dara meringis saat mengingat jika di perusahaannya ada banyak karyawan. Bagimana mungkin dia memberi makan lima ribu orang?
"That's oke lah .... Sekali-kali kayaknya nggak apa-apa." Dara mengangguk-anggukkan kepalanya. Untuk saat ini tidak jadi masalah uangnya akan berkurang drastis, yang penting hatinya merasa bahagia. Mungkin ini akan menjadi masa-masa bahagia yang akan dia kenang nanti.
*******
Dara berjalan dengan anggun memasuki perusahaannya. Senyum manis terus terpantri di wajahnya. Dia juga membalas setiap sapaan para karyawannya.
Para karyawan yang melihatnya tentu agak merasa aneh. Tidak biasanya bos mereka bersikap ramah seperti itu. Buk Dara yang mereka kenal adalak sosok yang tegas.
"Dar, ada yang nyariin lo tuh. Dia main masuk aja ke ruangan lo lagi. Gue sempat larang, tapi dia bilang dia adalah orang penting dalam hidup lo." Lisa segera memberitahu pada sahabatnya saat melihat wanita itu.
Kening Dara mengerut mendengar ucapan Lisa. 'Orang penting? Aku bahkan tidak ada janji dengan seseorang'
"Yaudah makasih infonya. Kalau gitu gue masuk." Dara tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam ruangannya.
Dara menatap datar saat tau siapa yang datang ke kantornya pagi-pagi buta tersebut. Apalagi dia semakin dibuat kesal saat melihat laki-laki itu yang duduk di atas kursi kebesarannya. Berani sekali laki-laki ini! Gerutu Dara dalal hati.
Sementara laki-laki itu masih belum menyadari keberadaan Dara. Dia fokus menatap gambar seorang wanita cantik yang ada di atas meja kerja Dara. Dia mengusap lembut gambar tersebut, lalu terkekeh sebentar.
"She is so cute," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Dara.
"Ekhem!" Dengan sengajanya Dara berdehem dengan cukup nyaring, sehingga membuat pandangan laki-laki itu teralihkan.
"Hi, good morning, Sweety," ucapnya melambai-lambaikan tangannya ke arah Dara.
"Ckk ... ada perlu apa kau datang ke sini? Kenapa kau sangat nekad? Tidak bisakah lewat telepon saja? Menjengkelkan sekali, apalagi dengan lancangnya kau duduk di atas kursi kebesaranku!" gerutu Dara sambil menatap tidak suka laki-laki di depannya.
__ADS_1
Bukannya tersinggung, laki-laki itu justru terkekeh melihat cara Dara yang memarahinya. "Kau benar-benar sangat menggemaskan ketika marah, Sweety."
"Ckk ... jawab pertanyaanku, ada perlu apa kau datang ke sini? Bagaimana jika nanti kau ketahuan?" Dara kembali memarahi laki-laki itu, tetapi suaranya terdengar sedikit merengek.
"Karena aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Dan aku ingin menghabiskan waktu ku hari ini bersamamu, Sweety," jawab laki-laki dengan serius.
*******
Nathan sedikit heran saat tidak mendapati keberadaan Leo. Bukankah laki-laki itu yang pergi lebih dulu? Lalu kenapa belum sampai? Pikir Nathan.
Nathan tidak mau ambil pusing. Dia memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang terlihat menggunung, seperti tidak sabar menunggu disentuh.
"Ckk ... andia ada Sean, mungkin gue bisa minta tolong sama dia," gumam Nathan. Hampir dua minggu ini dia tidak melihat Sean, dan rasanya dia sedikit merindukan laki-laki itu. Lebih tepatnya merindukan tangan Sean untuk membantunya mengerjakan pekerajaan yang menggunung tersebut.
"Lebih baik aku telpon saja." Nathan segera mencari nomor sekretarisnya itu, berniat menanyakan kabar laki-laki yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
Tidak memerlukan waktu lama, panggilan tersambung. Nathan sedikit tidak menyangka secepat itu Sean mengangkat panggilannya, padahal di London mungkin masih dini hari sekarang.
"Halo?" jawab Sean dari seberang sana. Dari suaranya, Nathan bisa menyimpulkan jika Sean tidak tidur, karena tidak terdengar suara seperti orang baru bangun.
"Halo, Yan. Lo di mana?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Nathan, padahal dia sudah tau jika laki-laki itu pasti di London.
"G–gue? Ya, gue di London lah! Pertanyaan macam apa itu?" Gerutu Sean merasa sedikit gemes dengan pertanyaan bosnya.
Nathan cengengesan tidak jelas. "Gimana kabar lo di sana? Terus kabar nyokab lo gimana? Apa mulai membaik?" tanya Nathan penuh perhatian.
"Kabar gue baik kok. Nyokab juga baik. Makasih banyak udah nanyain kabar gue sama Nyokab," sahut Sean sembari tersenyum tipis di seberang sana.
"Santai aja kali. Yaudah kalau gitu gue tutup, ya. Gue cuman pengan nanya keadaan lo sama Nyokab doang."
Nathan sedikit terkekeh setelah panggilan telepon berakhir. "Sean kayak lagi gugup banget," kekeh Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin laki-laki itu berpikir dia berniat memecatnya. Pikir Nathan.
"Hai, Yo ..." sapa Nathan saat melihat Leo yang masuk.
Leo hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak berniat membalas lambaian tangan Nathan.
"Ah, maaf. Tadi, gue tiba-tiba pengen makan sesuatu, jadi berhenti sebentar buat sarapan lagi," jawab Leo lancar, dan Nathan mengangguk begitu saja. Percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Leo.
*******
Jam menunjukkan pukul 11.45 yang artinya sudah tiba waktunya makan siang.
Dara melotot melihat jam. Dia benar-benar tidak sadar karena keasikan mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk, hingga tidak tau jika sudah tiba waktunya makan siang. Segera Dara menyambar handphonenya yang berada di atas meja, lalu segera menelpon suaminya.
"Halo, Yank? Ada apa?" Nathan bertanya sembari membereskan berkas-berkasnya.
"Than ..., maaf ..." lirih Dara yang sontak membuat Nathan menghentikan aktivitasnya.
"Maaf? Maaf tentang apa?" tanya Nathan penasaran.
"Aku lupa masak buat makan siang hari ini. Aku terlalu fokus ngerjain berkas-berkas sampai lupa waktu," cicit Dara dengan suara pelan.
Nathan terdiam sebentar. Padahal dia sudah tidak sabar ingin pulang, dan makan siang masakan istrinya.
"Yaudah nggak apa-apa. Gimana kalau kita makan di restoran aja?" tawar Nathan berusaha bersikap biasa saja.
"Restoran? Tapi, kamu nggak keberatan, kan?" tanya Dara memastikan, takutnya suaminya itu terpaksa saja, padahal tidak rela.
Nathan terkekeh di seberang sana. "Ya enggak lah. Sekali-sekali nggak akan bikin bangkrut kok. Yang penting jangan sering-sering. Sekalian nanti ajak Leo," kekeh Nathan.
"Yaudah, aku ke kantor kamu, ya? Kita makan di restoran yang nggak jauh dari kantor kamu itu."
"Yes, Honey ...."
Dara segera membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya. Setelah itu dia segera pergi menuju kantor suaminya.
__ADS_1
********
"Leo, kau ingin makan siang bersama aku dan Dara?" tawar Nathan pada sahabatnya yang terlihat sedang fokus menatap layar laptopnya.
"Makan siang?" beo Leo, lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata memang sudah waktunya makan siang. "Boleh."
"Yaudah, Ayok!" Leo segera menyimpan file yang baru saja dibuatnya, lalu berdiri dan berjalan bersama Nathan menuju restoran yang ada di dekat perusahaannya. Kebetulan restoran itu memiliki makanan yang lezat-lezat.
Setelah sampai, Nathan lebih dulu memesan, supaya begitu istrinya sampai langsung makan tanpa menunggu lagi.
"Jangan terus menerus bersedih, Yo .... Kalau lo perlu bantuan, jangan sungkan-sungkan bilang sama gue atau Dara, karena lo adalah Kakak gue," ucap Nathan lembut saat melihat tatapan Leo yang berbeda.
Leo tersenyum tipis dan mengangguk saja. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya makanan yang mereka pesan jadi juga. Dan bertepatan dengan itu pula Dara datang.
"Maaf, agak lama. Tadi macet di jalan," ucap Dara, dan mendapat anggukan dari Nathan dan Leo.
"Santai aja. Yaudah buruan, gue udah laper banget." Leo segera menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan antusias.
Tidak ingin kalah, Nathan dan Dara juga segera menyantap dengan lahap makanan mereka.
"Sayang, aaaa!" perintah Nathan sambil menyodorkan sesendok penuh lauk miliknya.
Dara membuka mulutnya dengan senang hati. Leo menatap kedua manusia itu dengan tatapan datar. Cih ... sok romantis sekali! Batin Leo.
Tringg ....
Leo yang sedang menyantap lahap makanannya hanya melihat sekilas pesan yang baru masuk.
Uhuk .... Uhuk
Leo sontak terbatuk membaca pesan yang dikirim. Sungguh, pesan itu benar-benar membuatnya terkejut.
'Sial! Bagaimana mungkin?' gerutu Leo dalam hati.
"Aku ke toilet sebentar, ya," ucap Nathan yang segera bangkit dan berjalan menuju toilet.
Leo menatap kepergian Nathan sampai laki-laki itu benar-benar hilang dari penglihatannya. Setelah memastikan laki-laki itu benar-benar pergi, Leo menatap Dara yang fokus dengan makanannya.
"Lo makin cantik aja, Dar," celetuk Leo yang sontak membuat Dara mendongakkan kepalanya.
"Lo makin putih, bersih, tubuh lo juga makin sem*k, dan bibir lo juga makin s*xy. Nathan pasti ketagihan sama servis lo, kan? Gue jadi pesanaran sama kemampuan lo di atas ranjang." Leo mulai memberanikan diri berbicara kurang ajar pada wanita di depannya.
Dara membelalakkan matanya mendengar ucapan Leo yang terang-terangan seperti melec*hkannya.
"Jangan kurang ajar, Leo! Aku ini istri sahabatmu!" Dara memperingati Leo, tetapi laki-laki itu justru terkekeh sinis mendengarnya.
Sahabat? Mungkin itu hanya berlaku dahulu saja, tidak sekarang!
TBC
.
.
.
__ADS_1
.