
Sudah tiga hari Nathan tidak masuk ke sekolah, alasannya karena ada acara keluarga. Selama tiga hari itu pula Dara menjadi tidak semangat untuk bersekolah. Bagaimana tidak, selama tiga hari itu tidak ada kabar dari kekasihnya. Nathan sama sekali tidak memberinya kabar, bahkan sama sekali tidak membalas pesan yang dikirim.
Biasanya Nathan tidak pernah mengabaikan dia seperti ini, meski pun laki-laki itu sedang sibuk sekalipun. Tetapi kenapa kini laki-laki itu mengabaikan dia?
"Kenapa?" tanya Putri, teman sekelas Dara yang kebetulan cukup dekat dengan dirinya.
"Nggak apa-apa!" jawab Dara singkat. Dara memilih untuk menelungkupkan kepalanya di atas meja, sama sekali tidak ada semangat.
"Galau ya karena nggak ada Ayank?" tanya Putri yang berniat bercanda.
"Ya begitulah! Dia nggak ada ngasih kabar ke gue!" jawab Dara yang kini mulai uring-uringan.
"Yaudah sabar aja! Mungkin dia lagi sibuk, makanya nggak sempat kabarin kamu!" sahut Putri, berusaha untuk menghibur teman sebangkunya.
Dara hanya mengangguk pasrah saja, meski dia kesal pada Nathan yang tidak memberi kabar, tetapi dia juga khawatir, takut terjadi apa-apa pada laki-laki itu.
"Woy, Dara!" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar memanggil dirinya. Dara berdecak kesal karena tahu siapa pemilik suara tersebut. Siapa lagi jika bukan Leo?
Leo menghampiri Dara. "Sebenarnya Nathan kemana sih? Dia sama sekali nggak bisa dihubungi!" Langsung saja Leo menanyakan perihal Nathan, karena berpikir mungkin Dara tahu, mengingat gadis itu adalah pacar Nathan.
"Gue nggak tau!" lirih Dara tanpa menatap Leo. Dia benar-benar sedih karena tidak bertemu dengan Nathan, dan yang lebih parahnya dia merasa sangat rindu dengan pacarnya itu. Padahal mereka tidak bertemu selama tiga hari saja. Ya, mau bagaimana lagi? Memang seperti itulah anak remaja yang sedang kasmaran.
"Gimana kalau kita ke rumahnya aja!" usul Leo yang sontak membuat Dara terdiam, berusaha menimbang tawaran laki-laki itu.
"Yaudah ayok! Kita pergi sekarang!" Dara langsung saja menyambar tas sekolahnya.
"Lah? Nggak sekarang beg*! Ini kan masih sekolah!" ketus Leo.
"Bodo! Sekali-kali bolehlah bolos! Udah buruan!" Tanpa menunggu persetujuan Leo, Dara segera menyeret laki-laki itu. Leo? Dia hanya bisa pasrah saja, memangnya siapa yang tidak mengenal Dara? Bad Girl di sekolah tersebut.
Leo dan Dara segera pergi menuju rumah Nathan. Sebenarnya Dara sedikit malu datang ke sana, apalagi sekarang masih jam sekolah, pasti orang tua Nathan akan berpikiran buruk tentangnya. Tetapi sudahlah, dia sudah dibuat penasaran dengan keberadaan kekasihnya tersebut.
Tak berselang lama motor yang dikendarai Leo sampai di kediaman keluarga Prasetya. Dara yang kebetulan duduk di belakang langsung turun terlebih dahulu. Segera dia masuk ke dalam rumah Nathan. Leo yang melihat wanita itu jalan lebih dulu langsung buru-buru menyusulnya.
"Assalamualaikum," salam Leo dan Dara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Vania yang kebetulan hendak keluar mengunjungi putranya yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Eh, Dara, Leo? Ada perlu apa ke sini?" tanya Vania tersenyum lembut pada kedua anak remaja tersebut.
"Nathan nya ada, Tante?" tanya Dara dengan suara lembut.
"Nathan? Emangnya dia nggak bilang sama kalian kalau dia pindah sekolah?" Vania terlihat terkejut, entah memang benar-benar terkejut atau hanya berdrama saja.
"Hah? Pindah sekolah?" Dara yang terkejut tanpa sadar menaikkan satu oktaf suaranya.
"Iya, Nathan pindah ke London, katanya pengen ngelanjutin sekolah di sana, sekaligus kuliah di sana." Sebenarnya Vania terpaksa berbohong, tetapi tidak sepenuhnya, karena Nathan memang mengatakan ingin pindah ke London saja, padahal laki-laki itu sudah kelas dua belas. Tetapi melihat putranya yang memohon sontak membuat dia tidak tega jika tidak menurutinya.
Tubuh Dara membeku mendengarnya, tatapan matanya kosong, dia merasa sangat kecewa pada Nathan. Kenapa laki-laki itu meninggalkannya? Padahal mereka sudah berjanji bersama-sama akan ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan bersama-sama, tetapi kenapa janji itu dilupakan begitu saja?
"Ta—"
"Makasih infonya, Tante. Kalau begitu kami permisi! Assalamualaikum!" Sebelum Leo melanjutkan perkataannya, Dara lebih dulu memotong, lalu segera menarik tangan laki-laki itu untuk segera pergi.
Pikiran Dara benar-benar kacau sekarang. Dia sedih sekaligus kecewa pada Nathan. Bagaimana mungkin laki-laki itu sama sekali tidak menghubunginya?
Leo sendiri hanya bisa diam, dia juga sedih sahabatnya itu pergi tanpa pamitan. Tetapi dia tahu jika Dara lebih terpukul.
__ADS_1
*******
Nathan terdiam di atas kasur dengan pandangan kosong ke arah depan. Jiwanya benar-benar terguncang saat tahu orang yang paling dia sayangi mengkhianatinya. Bagaimana dia bisa tidak sadar jika selama ini Leo memandam perasaan pada kekasihnya sendiri?
Ceklek ....
Pintu dibuka, lalu munculah sosok Vania. "Kamu udah baikan, Than?" tanya Vania lembut.
"Udah, Mah!" sahut Nathan singkat.
Vania menghela napas, sebenarnya apa yang terjadi pada putranya sehingga melarang ia untuk memberitahukan tentang kondisinya pada pihak sekolah, bahkan pada Dara, kekasihnya sendiri?
"Mamah udah urus 'kan surat perpindahannya?" tanya Nathan menatap wajah Vania.
"Udah! Kamu kenapa? Cerita dong sama Mamah? Tadi Dara dan Leo datang ke rumah, dan nyariin kamu. Mamah bilang kalau kamu udah pindah ke luar negeri. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa Dara sampai nggak tau, padahal dia kekasih kamu, lho? Kamu lagi bertengkar sama dia?" Vania mulai mengintrogasi putranya. Bukan apa-apa, tetapi Vania tidak suka jika putranya tersebut memiliki masalah, tetapi malah melarikan diri!
"Nggak ada apa-apa kok, Mah! Nathan sama Dara udah putus! Udah jangan banyak nanya!"
Segera Nathan menutupi dirinya dengan selimut agar ibunya tidak banyak bertanya.
************
Seminggu sudah berlalu. Kini Dara menjadi pribadi yang dingin, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, dan seketika membenci sebuah hubungan!
Tringg....
Handphone Dara tiba-tiba berbunyi pertanda ada pesan. Segera Dara membuka pesan yang ternyata dari Nathan.
[Temui aku di cafe seberang sekolah.]
Dara sedikit termenung membaca pesan yang dikirim Nathan. Tetapi sedetik kemudian dia segera berlari ke luar kelas.
"Kamu kenapa nggak ngabarin aku?" ketus Dara sambil memanyunkan bibirnya.
Nathan yang melihatnya tentu merasa sesak. Bagaimana mungkin Dara bisa bersikap biasa saja, padahal dia selingkuh?
Nathan menghembuskan napas kasar, lantas berkata, "Tidak usah berbasa-basi! Aku ingin mengakhiri hubungan ini!" ucap Nathan yang sontak saja membuat tubuh Dara membeku. Me–mengakhiri?
"Ma–maksudnya?"
"Kita putus!" tegas Nathan.
Bagai tersambar petir, Dara terdiam membeku, pikirannya berusaha untuk mencerna baik-baik ucapan Nathan. Kenapa? Apakah dia punya salah sehingga laki-laki itu memutuskannya? Tetapi apa?
"Kenapa?" lirih Dara dengan suara bergetar. Mata Dara kini mulai berkaca-kaca, sekali kedip saja, maka air mata itu menetes.
"KARENA KALIAN PENGKHIANAT!" tekan Nathan dengan napas memburu. Setelah mengatakan itu, Nathan segera bangkit berdiri, lalu pergi meninggal Dara di sana. Perlahan pertahanan Nathan runtuh. Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini terjun bebas membasahi pipinya. Dia merasa sangat sesak. Sangat tidak rela rasanya mengatakan kata 'putus' tetapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa terima jika diselingkuhi!
"Nathan, maksud lo apa?" Sebelum laki-laki itu benar-benar menghilang dari pandangannya, Dara lebih dulu bertanya.
Nathan berhenti, tetapi tidak berbalik. Laki-laki itu lantas terkekeh sinis. "Tidak usah sok polos!" Setelah mengatakannya, Nathan benar-benar pergi, meninggalkan Dara yang terus menangis sesenggukan.
"Hiks ... hiks ... sa–sakit! Sebenarnya apa salah gue?" Dara terus menepuk d*danya yang terasa sesak. Padahal dia sangat mencintai Nathan, karena Nathan lah satu-satunya laki-laki yang mampu membuatnya nyaman. Dia belum pernah merasakan rasa nyaman ketika berada di dekat laki-laki mana pun kecuali ayahnya, tetapi Nathan mampu memberikan rasa nyaman itu.
*********
Seminggu sudah berlalu, kini Dara menjadi sosok yang pendiam, tidak banyak bicara. Ketika di rumah, dia selalu mengurungkan dirinya di kamar, lalu menangis dengan terus bergumam memanggil nama Nathan.
__ADS_1
Saat ini Dara berada di kantin bersama Leo serta Lira, kekasih baru Leo. Ya, Leo diterima saat menyatakan cinta pada Lira.
Tiba-tiba datang seorang siswi mendekati Dara. Kening Dara mengerut karena tidak mengenal gadis itu.
"Kak Dara putus ya sama Kak Nathan?" Siswi tersebut langsung saja bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Dara yang mendengarnya mendelik tajam siswi tersebut, karena terlalu kepo dengan urusan pribadinya.
"Maaf, Kak. Tapi Puput nggak bermaksud ikut campur, tetapi Puput punya berita yang mungkin aja bersangkutan sama hancurnya hubungan Kakak! Karena waktu itu Puput ngeliat dengan mata kepala sendiri!" ujar siswi yang memiliki nama Puput tersebut. Dara terdiam, lalu menatap siswi tersebut.
"Ayok!" Dara segera bangkit dan mengenggam tangan siswi tersebut, berniat mencari tempat yang sepi saja, karena tidak enak jika didengar oleh orang lain.
Namun Puput sama sekali tidak bergeming, sehingga membuat Dara bingung. "Tapi ini ada kaitannya sama Kak Leo!" ucap Puput yang sontak membuat Leo menjadi tertarik. Dirinya? Memangnya apa yang sudah dia lakukan.
Dara segera duduk kembali, lalu meminta siswi tersebut untuk menjelaskannya.
"Jadi Puput pernah ngeliat Kak Nathan yang menangis sambil megang dadanya, dan ternyata dia nangis karena ngeliat Kak Leo yang menyatakan cinta ke Kak Dara. Kak Nathan sempat jatuh sambil terus memukul dadanya. Dia keliatan kayak ngerasa sesak!" jelas Puput.
"Hah? Sejak kapan gue nembak Dara?" Leo bertanya dengan tampang polos.
"Eum ... waktu di lapangan saat itu!" jawab Puput yang seketika membuat Leo teringat.
Tunggu!
Jadi, maksudnya Nathan salah paham, dan mengira dirinya menyatakan cinta ke Dara? Yang benar saja! Dia bukan teman ban**t!
"Jadi dia salah paham?" lirih Dara. Sebening kristal jatuh membasahi pipinya.
Setelah tidak ada lagi yang perlu dikatakan, Puput segera pergi. Leo menatap Dara dengan pandangan yang sulit diartikan. Seketika dia merasa bersalah, karena ternyata dia lah penyebab mereka putus. Dia merasa menyesal karena tidak meminta ijin terlebih dahulu pada Nathan. Sebenarnya dia berniat meminta ijin pada Nathan, tetapi saat itu Nathan memang tidak keluar sama sekali dari dalam ruang guru, sehingga dia pikir Nathan tidak akan marah juga. Tetapi rupanya itu justru menimbulkan masalah sehingga membuat hubungan sahabatnya hancur.
"Dar! Apa perlu kita pergi ke luar negeri? Kita perlu jelasin ini semua sama Nathan, Dar!" Leo menatap mata Dara yang justru sedang menatap kosong ke depan.
"Nggak perlu!" ucap Dara denga suara datar.
"Kenapa? Semua ini perlu diluruskan, Dar! Nathan salah paham sama kita!" Leo justru dibuat bingung dengan pikiran wanita yang ada di depannya. Kenapa dia malah diam saja!
"Karena untuk apa menjalin hubungan jika tidak ada rasa percaya di kedua belah pihak? Untuk apa menjalin hubungan sementara dia sendiri nggak percaya sama gue? Bahkan nggak mau ngedengar penjelasan gue terlebih dahulu! Biarkanlah semua hancur seperti ini! Gue udah kecewa banget sama dia!"
FLASH BACK OFF
TBC
.
.
.
__ADS_1
.