Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Tamu Special?


__ADS_3

Setelah turun dari mobil Nathan, Dara langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia terus mendengar Nathan yang berteriak tidak jelas.


"Cih ... emang gila tuh orang kayaknya! Yakali aja minta cium, emang gue cewek apaan coba," gerutu Dara.


"Lagian dia kenapa sih tiba-tiba berubah menjadi mesum? Perasaan dulu dia masih waras aja, deh. Nathan yang dulu gue kenal perasaan polos, kok sekarang malah mesum? Huh, mungkin efek karena diputusin sama wanita pembohong, mana nggak setia lagi," ucap Dara dengan menirukan suara dan kata-kata Nathan.


Dara lalu masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum," ucap Dara.


"Wa'alaikumsalam," sahut Vira, ibu dari Dara.


"Eh, kamu udah pulang sayang. Tapi kenapa Mama nggak dengar suara mobil kamu?" tanya Vira heran.


"Huh ... tadi mobil Dara habis bensin di jalan, Ma," jawab Dara.


"Lho, terus kamu pulang diantar sama siapa?" tanya Vira lagi.


"Eum ... sama tem— sama orang gila."


"Hah? Gimana ceritanya kamu diantar sama orang gila?" Vira menjadi heran mendengar ucapan putri semata wayangnya itu.


"He-he nggak ada kok Ma. Udah nggak usah dipikirin," ucap Dara lembut sambil tersenyum.


Cupp


Dara mencium pipi wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya selama ini dengan kasih sayang.


Dara adalah wanita yang lemah lembut di mata orang tuanya, bahkan wanita itu murah tersenyum. Sementara di perusahaan, Dara adalah sosok yang kasar dan pemarah, ia tidak segan-segan memarahi, bahkan memecat orang yang tidak kompeten di perusahaannya.


Vira tersenyum menatap putrinya. Tapi, entah kenapa Dara justru merasa aneh dengan senyuman itu. Menurut Dara senyuman mama-nya sedikit berbeda dari biasanya.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama ngeliat Dara kayak gitu?" tanya Dara sambil menautkan alisnya.


"Enggak kok. Enggak ada apa-apa sayang. Oh, iya bentar!" Vira sedikit berlari ke arah sofa yang tadi ia duduki, kemudian mengambil paper bag yang berisi dress yang dia beli di Mall tadi siang. "Jadi nanti malam rencananya kita akan kedatangan tamu special. Jadi Mama udah beli dress untuk kamu, sekalian kamu pakai make up juga, ya. Karena nanti kita bakalan sekaligus makan malam." Vira menyerahkan paper bag itu pada putrinya dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya.


Kening Dara mengerut, pertanda dia sedang bingung. Tapi meski demikian, dia tetap menerima paper bag yang diberi mama-nya.


"Tamu special ? Tumben banget ada tamu, tapi Dara harus dandan cantik-cantik, Ma? Biasanya kalau ada tamu, penampilan Dara biasa-biasa aja, bahkan Dara kadang nggak gabung bareng kalian?" celetuk Dara.


"Aduh, kamu cerewet banget sih sayang. Udah kamu siap-siap sana! Pokoknya ini kejutan buat kamu." Vira berkata sambil tersenyum tidak jelas.


'Hah? Kejutan? Perasaan ulang tahun gue masih lama deh, tapi tumben banget Mama main rahasia-rahasiaan' batin Dara.


"Udah, jangan malah bengong! mending kamu mandi, terus perawatan, karena ini udah jam lima. Tamunya nanti bakal datang jam tujuh malam. Lagian kamu tuh bau, Ra!"

__ADS_1


"Ckk ... Mama apaan sih bilang Dara bau! Gini-gini Dara anak Mama, lho," sahut Dara dengan sedikit ketus.


"Enggak! Mama nggak punya anak bau, lho. Anak Mama harum semua," ucap Vira mengejek.


"Iya deh Mama yang paliiiing harum sejagat raya. Ini Dara bakal mandi kok, biar wangi kaya Mama-nya," ucap Dara dengan malas.


Dara lalu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Vira yang sedang terkekeh. Tapi, baru saja beberapa langkah, Dara menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap mama-nya.


"Oh iya, Ma. Adek mana? Udah pulang, 'kan?" tanya Dara. Bukan apa-apa, adik satu-satunya yang bernama Daffa Stephanoe Anderson itu agak sedikit bandel. Dia bahkan selalu keluyuran sepanjang hari tanpa ingat waktu. Dara sendiri sering mendapati adiknya itu balap-balapan di jalanan. Tapi meskipun demikian, Daffa adalah anak yang baik, dan juga penyayang menurut Dara. Tapi sama seperti dirinya, Daffa lebih suka menunjukkan sisi buruknya pada semua orang.


"Iya, Adek kamu udah pulang, kok. Mama sengaja minta supaya dia cepat pulang hari ini. Dia ada di kamar," jawab Vira menyunggingkan senyumnya.


Dara mengangguk paham, kemudian berjalan menuju kamar adiknya.


Ceklek ....


Dara hanya mampu mengeleng-gelengkan kepala melihat adiknya yang sibuk bermain game di handphonenya.


Dara berjalan mendekati adik kesayangannya itu, kemudian duduk di sampingnya.


Cuppp


Dara mencium pipi kiri adiknya dengan penuh kelembutan. "Tumben kamu pulangnya cepat banget?" tanya Dara sambil mengelus pucuk kepala adiknya.


"Tadi Mama yang minta, soalnya hari ini ada tamu special buat Kakak," jawab Daffa yang masih fokus dengan game-nya.


"Itu rahasia, Kak. Entar Kakak bakalan tau, kok. Udah sana Kakak mandi, Kakak bau," ucap Daffa.


Dara kembali berdecak kesal mendengar ucapan adiknya. "Ckk ... enggak Ibu, enggak Adek, sama aja!" gerutu Dara, lalu segera keluar dari dalam kamar adiknya dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya.


Sementara Daffa terkekeh di dalam kamar melihat kalakuan kakaknya.


"Entah ini akan menjadi berita bahagia atau berita terburuk buat lo, Kak?" gumam Daffa sambil terkekeh.


Dara masuk ke dalam kamarnya, kemudian segera membersihkan diri. Tak perlu waktu lama, tiga puluh menit dia sudah selesai membersihkan badannya.


"Seger banget, sumpah!" gumam Dara.


Dara berjalan menuju meja riasnya, kemudian mengambil paper bag yang baru saja diberikan oleh mama-nya.


"Se special apa sih tamunya, sampai Mama beli baju sebagus ini? Biasanya juga gue pakai baju apa pun nggak dipermasalahin," gumam Dara.


"Tapi, jujur gue ngerasa ada yang aneh deh. Kayaknya setelah ini akan ada bencana yang datang." Dara hanya mampu membuang napas dengan kasar. Ada banyak tebakkan-tebakkan di kepalanya.

__ADS_1


"Enggak mungkin 'kan perjodohan?" tanya Dara pada dirinya sendiri. "Kayanya enggak deh. Nggak mungkin orang tua gue pengen ngejodohin anaknya. Lagian ini kan udah zaman modern, mana ada yang namanya perjodohan!" Dara menyangkal apa yang sedang ia pikirkan.


******


Saat ini seluruh keluarga Anderson sedang duduk di meja makan. Mereka sedang menunggu kedatangkan tamu yang katanya sangat special.


"Sebenarnya siapa sih Pa tamu undangan special itu? Kok Dara sampai dandan segala? Biasanya juga enggak," tanya Dara menatap papa-nya, berharap papa-nya mau memberitahukan pada Dara.


"Aduh Kak, lo jangan banyak omong deh! Entar lo liat aja! Tamu undangan kali ini special banget, dan mungkin bakal buat lo speechles," sahut Daffa sambil sedikit terkekeh.


Vira dan Damar sontak ikut terkekeh. "Udah kamu yang sabar ya sayang. Sebentar lagi mereka bakal datang kok," jawab Damar, yang memiliki nama lengkap Damar Elfredo Anderson, papa dari Dara dan Daffa.


"Enggak bisa kasih bocoran dikit gitu?" tawar Dara dengan wajah imutnya.


"Enggak!" jawab Vira tegas, sehingga membuat Dara hanya mampu mendengus kesal.


Tok ... tok ...


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu rumah. Sepertinya tamu yang sedang mereka tunggu sudah datang.


"Ah, kayaknya keluarga Prasetya sudah datang. Biar Papa aja yang menyambut mereka, kalian tunggu di sini," ucap Damar, lalu bangkit berdiri untuk menyambut tamu tersebut.


Sementara Dara, tubuhnya sontak membeku mendengar kata Prasetya. Dia tahu betul siapa keluarga Prasetya itu. Tidak mungkin, 'kan?


"Tunggu ... jangan bilang ...." Dara mengantungkan ucapannya, kemudian matanya menatap tamu yang datang tersebut. Mata Dara sontak melotot melihat orang-orang yang ia kenali membawa beberapa bingkisan. Tapi, yang membuatnya benar-benar terkejut adalah melihat wajah laki-laki yang menurut dia paling gila se dunia.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2