Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Lucy dan Dara


__ADS_3

Sedari tadi Nathan terus merasa gelisah. Memangnya siapa Lucy sampai bisa berada di pesta mertuanya? Apakah Lucy termasuk keluarga Dara? Itulah sederet pertanyaan yang muncul di benak Nathan.


"Dar ..." panggil Nathan yang tanpa sadar semakin mengeratkan pelukkannya.


"Iya?" Dara mengerutkan keningnya melihat tatapan suaminya.


"Apa kamu kenal dengan wanita itu?" Nathan menunjuk Lucy, untungnya wanita itu tidak melihatnya. Dia ingin memastikan apakah Lucy memang bagian keluarga Anderson atau tidak? Jika memang benar, maka dia tidak tahu hendak berkata apa lagi.


Dara mengikuti arah tunjukan suaminya. Keningnya mengerut. Dia sama sekali tidak kenal dengan wanita itu, mungkin saja rekan bisnis orang tuanya. Pikir Dara. Tetapi untuk apa Nathan bertanya? Apakah suaminya jatuh cinta pada wanita bule itu? Dara akui jika wajah wanita bula itu cukup cantik, tapi jika dibandingkan dengannya, sepertinya lebih cantik dirinya.


Dara menatap tajam suaminya yang terlihat sedang gelisah. "Kenapa nanya? Jangan bilang kamu suka sama dia? Awas aja, ya! Aku potong burungmu kalau berani selingkuh dari aku!" ucap Dara dengan ketus.


Nathan merinding mendengar ucapan terakhir istrinya. Kenapa istrinya malah berpikir ke arah sana?


"Ya nggak mungkinlah aku selingkuh! Aku cuman nanya, kamu kenal sama dia? Apa dia keluarga kamu?" Nathan memperjelas ucapannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Keluarga? Ya bukanlah! Kalau nggak salah, aku emang punya sepupu yang tinggal di luar negeri, tapi aku nggak tau pasti di mana dia tinggal sekarang. Dia cowok, nyokabnya nikah sama orang luar," jelas Dara. Dia memang punya sepupu laki-laki, tapi dia sudah tidak tahu di mana posisi mereka sekarang. Terakhir kali dia melihat sepupunya itu saat dia berumur empat tahun.


Nathan menghembuskan napas lega mendengarnya. Setidaknya Lucy memang bukan bagian keluarga istrinya. Kalau Lucy ternyata bagian keluarga Dara, maka dia mungkin akan lebih stres lagi.


"Kenapa emangnya? Kamu suka sama dia?" Dara kembali menanyakan pertanyaan yang tidak Nathan jawab tadi.


"Enggak! Aku nggak suka sama dia!" jawab Nathan tanpa keraguan sedikit pun.


"Kamu kenal sama dia?" Pertanyaan Dara sontak membuat Nathan terdiam. Dia bingung ingin mengatakan iya atau tidak. Jika dia menjawab iya, maka akan ada banyak pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu. Tetapi jika dia bilang tidak, dan akhirnya Dara tau kalau, mungkin wanita itu akan kecewa padanya.


"Nggak kenal kok," jawab Nathan sambil tersenyum tipis. Akhirnya dia memilih kembali berbohong saja. Dia belum siap menceritakan pada istrinya.


Dara mengangguk percaya saja, meski dalam hati dia ada sedikit keraguan. Jujur saja, dia sedikit curiga pada suaminya itu, tetapi dia berusaha untuk berpikir positif saja, karena yakin Nathan tidak mungkin berbohong padanya.


"Yaudah ayok masuk. Sana Mamah udah panggil."


Nathan dan Dara lalu masuk, terlihat banyak sekali orang yang datang ke pesta tersebut. Mungkin karena mereka ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga Anderson, mengingat perusahaan itu cukup besar, dan untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan Anderson bukanlah hal yang mudah.


Nathan berusaha untuk menghindar dari Lucy, berharap wanita itu tidak akan melihatnya. Dia tidak ingin satu orang pun tau tentang masa lalunya.


"Happy Anniversary ya, Mah, Pah," ucap Dara sembari bergantian memeluk kedua orang tuanya.


"Makasih, Sayang." Damar dan Vira kompak membalas.


Nathan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan istrinya, yaitu memberikan ucapan selamat untuk anniversary pernikahan mertuanya, dan mendoakan semoga pernikahan mereka tetap langgeng.


"Yaudah, kalian cari makan gih. Mumpung gratis," kekeh Damar yang langsung disambut Nathan dengan wajah yang berbinar.


"Dar, kamu bawa kresek nggak?" tanya Nathan menatap istrinya.


"Untuk apa?" Dara bertanya dengan polos, karena tidak tahu ke mana arah pembicaraan suaminya.


"Buat bungkusin makanan di sini, kan mumpung gratis. Buat sarapan besok, jadi tinggal panasin aja, nggak perlu masak! Lumayan duit jadi aman." Nathan menjawab antusias, sementara respons Dara dan Vira sama-sama melongo mendengarnya. Se niat itukah?


"Than, kamu ini sebenarnya titisan apa? Masa malah minta dibungkus? Kamu itu cowok lho! Masa kayak emak-emak aja!" celetuk Vira asal.


"He-he ... Nathan ini serba guna, Mah. Bisa jadi cowok, sekaligus merangkap jadi cewek. Nah, kalau Dara ini cewek, sekaligus bisa merangkap jadi pembantu," ucap Nathan santai, tetapi berhasil mendapat cubitan dari istrinya.


"Yaudah terserah kalian. Kalian bisa makan sepuas-puasnya, bungkus aja sepuas-puasnya. Mamah sama Papah pengen nyamperin tamu-tamu dulu." Damar pamit pada kedua anaknya, lalu meninggalkan Nathan dan Dara di sana.


"HALO OM UTAN!" Baru saja mereka melangkah, suara cempreng lebih dulu menggelegar memekikkan telinga, sehingga membuat Dara dan Nathan menghentikan langkah.


'Aduh, buset! Ada tuyul lagi' Nathan meringis melihat kedua bocah yang sudah lama tidak dia lihat, karena dibawa oleh kakak sepupunya ikut suaminya.


Berbeda dengan Nathan, Dara justru tersenyum senang melihat kedua bocah yang memiliki wajah yang cukup sama. Dia benar-benar dibuat gemes dengan kedua bocah itu. Varo yang sangat tampan tapi receh seperti Nathan, dan Natali yang memiliki wajah imut dan menggemaskan.


"Kalian ngapain di sini?" ketus Nathan yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Dara.


"Kenapa?" tanya Nathan polos dengan tatapan tajam istrinya.


"Kok kamu kasar banget sama anak kecil? Lagian mereka kan keponakan kamu!"

__ADS_1


Nathan hanya mampu berdecak kesal. Kenapa istrinya malah membela kedua tuyul itu? Padahal kan di sini yang suaminya adalah dia.


"Iya nih, yang pelit diam aja," celetuk Natali dengan gaya sinisnya, tapi justru terkesan imut.


"Nih, Aro bawa kresek untuk Om." Varo memberikan satu kresek berwarna putih bening pada Nathan. Mata Nathan sontak berbinar. Baru saja dia hendak mengambilnya, Varo kembali menariknya.


"Yee, ini untuk Aro sama Ata. Buat nanti malem begadang nonton Upin Ipin. Wlekk .... Ayo Ta, kita sikat semua makanan yang ada di sini. Untung aja Mommy kasih kita kresek tadi." Dengan semangatnya Varo dan Natali berlari meninggalkan Nathan dan Dara yang terdiam sambil melongo.


"Dar ..." panggil Nathan yang masih bengong.


"Iya?"


"Aku harap kita nggak punya anak kayak gitu nanti, ya ...."


"Amin ...." Tanpa sadar Dara justru mengamini ucapan suaminya. Setelah itu mereka saling pandang, seolah saling berbicara lewat tatapan mata. Entah apa artinya, mereka bahkan tidak paham.


"Yaudah ayok makan," ucap Dara membuyarkan lamunan Nathan. Nathan mengangguk, tetapi matanya tetap waspada melihat sekililing, karena tidak mau berpapasan dengan Lucy.


******


Sementara Lucy, matanya sedari tadi celingukan ke sana kemari, mencari orang yang menjadi tujuannya datang ke sini. Tetapi sedari tadi dia tidak melihat Nathan. Apakah laki-laki itu belum datang? Pikirnya.


"HALO OM UTAN!"


Lucy sedikit terkejut mendengar pekikkan yang sangat cempreng menusuk gendang telinganya. Sontak matanya mencari sumber suara, dan di sana dia bisa melihat dua anak kecil yang terlihat tampan dan cantik. Dia tafsirkan kedua anak itu mungkin seumuran Ronald.


Mata Lucy berbinar melihat laki-laki yang dia cari rupanya ada di sana.


"Oh My God, dia terlihat sangat tampan malam ini," gumam Lucy mengagumi penampilan Nathan yang terlihat gagah dengan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya.


"Kamu cocoknya bersanding dengan aku Nathan. Bukan wanita j*l*ng itu!" Lucy menatap tajam Dara yang tangannya sangat lancang menggandeng tangan pujaan hatinya.


"Baik, mari kita bermain ...." Lucy mengeluarkan senyum manisnya. Dia sengaja bersembunyi saat melihat Nathan yang celingukan, mungkin karena tahu keberadaannya di sini.


******


"Kamu kenapa sih? Perasaan dari tadi celingukan ke sana kemari?" tanya Dara pada akhirnya.


"Hah? Ak—"


Byurr!


"Astagfhirullah!" Belum selesai Nathan menyelasaikan ucapannya, dia terkejut bukan main saat ada yang menumpahkan minuman ke arahnya, untungnya minuman dingin.


"Aduh, maaf. Aku nggak sengaja," ucap wanita yang tadi dengan sengaja menumpahkan minuman itu di tubuh Nathan.


Kening Dara mengerut, padahal dia melihat dengan jelas jika wanita itu sengaja melakukannya. Tetapi entah kenapa dia memilih diam saja, bibirnya seolah terasa kelu untuk memaki wanita yang dengan lancangnya mengganggu suaminya.


"Ckk ... kamu bisa ha— Lucy?" Nathan yang awalnya berniat menegur wanita itu, justru tanpa sadar menyebut nama Lucy saat melihat wajahnya.


Sementara Dara terkejut bukan main mendengarnya. 'Bukannya tadi dia bilang nggak kenal?' batin Dara.


Lucy mendongakkan kepalanya. "Nathan?" Lucy bergaya seolah ikut terkejut. "Ini kamu, kan? A–aku kangen banget sama kamu. A–aku nggak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu." Mata Lucu berkunang-kunang, sekali saja dia berkedip, maka cairan hangat itu akan menetes. Dia membekap mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Nathan terkejut mendengar ucapan Lucy. Kenapa wanita itu sangat terkejut bertemu dengannya, seolah ini adalah pertemuan pertama mereka, padahal tadi mereka sudah bertemu, dan respons Lucy tidak sedramatis ini.


'****! Apa mau wanita ular ini?'


"Kalian saling kenal?" Akhirnya Dara memberanikan diri bertanya karena merasa aneh dengan wanita yang ada di depannya yang bersikap seolah sangat kenal dengan suaminya.


Lucy menatap Dara dengan wajah polosnya. "Aku ... aku kekasih Nathan," jawab Lucy yang sontak membuat Nathan membelalakkan matanya.


"Ah, maksudnya .... Aku mantan kekasihnya Nathan." Buru-buru Lucy memperjelas ucapannya, lalu kemudian menunduk meminta maaf.


Deg ....


Dara terdiam mendengarnya. Mantan kekasih? Bukankah suaminya pernah mengatakan padanya jika dia tidak memiliki mantan?

__ADS_1


Dara menatap mata suaminya yang justru terlihat terdiam dengan sorot mata yang kosong.


"Kamu kenal sama dia?"


"Nggak kenal kok."


'Baru saja kamu mengatakan tidak mengenali wanita ini, tapi kini ...? Pantas saja kamu terlihat gelisah sedari tadi' Dara tersenyum kecut saat mengetahui jika suaminya ternyata sudah bisa berbohong. Dia pikir Nathan masih sama seperti dulu yaitu sosok yang jujur. Tetapi kini dia justru meragukan semua itu.


Di luar dugaan, Dara justru tersenyum manis. "Jadi ini mantan Nathan? Cantik juga. Kenalin, gue istrinya, sekaligus cinta pertamanya. Aldara Stephanie Adijaya. Nyonya Adijaya." Dara memperkenalkan dirinya dengan wajah biasa saja, seolah tidak terkejut mendengarnya.


Sebenarnya dia terkejut mendengar fakta itu, tetapi dia masih mampu menormalkan mimik wajahnya. Setidaknya tidak ada yang boleh melihatnya lemah.


"Hah? Ja–jadi kamu udah nikah, Than? Bukannya kamu bilang bakal ngejadiin aku sebagai istri kamu?" Lucy menatap sendu Nathan.


Nathan semakin terkejut. Bukankah di pusat perbelanjaan tadi dia sudah menegaskan bahwa dia sudah menikah. Kenapa Lucy malah terkejut seperti ini, seolah baru mendengar faktanya?


"Sejak kapan saya bilang bakal nikahin kamu?" sewot Nathan.


"Mfhh ...." Dara membekap mulutnya menahan tawa, dan itu semua dilihat oleh Lucy. "Ngarepin banget dinikahin," celetuk Dara tanpa rasa bersalah.


"Sayang, kamu bersihin dulu baju kamu gih. Entar kamu sakit lagi. Aku nggak mau ya kamu sampai sakit, kan kamu bilang pengen main 10 ronde malam ini." Dara berkata manis, sekaligus menyindir Lucy yang wajahnya terlihat merah pedam, sepertinya dia tidak mampu menenangkan dirinya sendiri.


"Ya–yaudah, aku pergi ke toilet dulu." Nathan berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari Dara.


Setelah kepergian Nathan, Lucy menatap tajam Dara. Sementara Dara kini menunjukkan wajah polos plus menggemaskannya.


"Kenapa? Kok kamu natap aku kayak gitu? Perasaan kamu tadi keliatan polos deh," ucap Dara dengan suara yang diimut-imuti.


"Cih ... nggak usah sok polos lo! Gue cuman pengen bilang, Nathan itu milik gue! Nggak ada yang boleh dapatin dia selain gue!" ucap Lucy penuh penekanan.


"Dih! Tapi gue udah dapat wlekk!"


"LO!" Lucy menunjuk tepat di wajah Dara saking kesalnya. "Gue akan rebut Nathan dari lo!" ucap Lucy penuh penekanan.


"This is Lucy! Don't call me Lucy, jika gue nggak bisa dapatin apa yang udah gue claim jadi milik gue!" bisik Lucy, setelah itu mengeluarkan seringainya.


Bukannya takut, Dara justru terkekeh. "And, this is Dara! Don't call me Dara, jika gue nggak bisa pertahanin apa yang udah jadi milik gue! Lo licik, tapi gue cerdik!" kekeh Dara menyeramkan.


Tangan Lucy mengepal sempurna mendengar balasan Dara.


"Baik, kita liat siapa yang menang!" ucap Lucy penuh penekanan, setelah itu pergi dengan napas memburu.


Rupanya ada seorang laki-laki yang memperhatikan kedua wanita itu, yaitu Lucy dan Dara. Dia tersenyum simpul melihat Dara yang membalas setiap ucapan Lucy.


"Aku suka caramu, Baby ..." gumam sosok misterius itu yang terus memperhatikan Dara.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2