
..."Kamu mungkin bisa mengatakan jika kondisi saat ini menyakitimu, tetapi siapa yang tau dengan masa depan?" ~ Nathan....
Dara terus memberikan tatapan membunuh pada Nathan. Berani-beraninya laki-laki itu menendangnya, apakah dia sudah mengibarkan bendera perang dengan dirinya?
Dara benar-benar tidak menyangka jika Nathan berani membalas perbuatannya.
Sementara Nathan hanya diam sambil menunduk. Ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat Dara yang matanya hampir keluar.
"Maksud lo apa? Lo pengen ngajak tawuran? Yaudah ayok!" ucap Dara dengan napas memburu.
'Gila aja kalau dia ngajak tawuran, yang ada gue babak belur dihabisinya, secarakan seorang Dara adalah perempuan yang syadis, selain itu juga pembohong, mana nggak setia lagi' batin Nathan.
"Enggak, Dar. Saya udah tobat," jawab Nathan yang masih menunduk takut.
"Terus kenapa lo berani jambak gue? Dan kenapa lo berani nendang gue?" tanya Dara dengan sorot mata yang tajam.
"Gini, Dar. Di mana-mana itu istri yang patuh sama suami, dan istri biasanya yang takut sama suami. Terus di mana-mana suami yang KDRT sama istrinya. Tapi lihatlah kita berdua ... kenapa harus berbeda dengan pasangan lainnya?" ucap Nathan yang berusaha menjelaskan dengan hati-hati, takut tangan Dara kembali melayang di telingga maupun di pipinya.
"To the poin!" perintah Dara yang merasa ucapan Nathan terlalu bertele-tele.
"Jadi, bisa nggak sih kalau saya yang melakukan KDRT ke kamu?" tanya Nathan dengan polos. Tetapi melihat tatapan Dara yang semakin tajam, Nathan berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Maksud saya bukan begitu, Dar! Maksudnya itu ... anu ... apa itu namanya ..." Nathan menjadi panik sendiri saat Dara yang berjalan semakin mendekat.
"Maksud saya bisa nggak sih kamu lemah lembut dikit! Jangan main KDRT sama suami sendiri! Nggak lucu Dar kalau sampai saya lapor ke polisi atas gugatan penganiyayaan dan KDRT yang dilakukan istri! Masa suami takut istri? Mau ditaruh di mana muka saya, Dar? Saya nggak sanggup bayanginnya, Dar! Bahkan Dilan aja mungkin nggak akan sanggup. Ingat Dar, kalau kamu itu perempuan pembohong, mana nggak setia lagi," ucap Nathan setenang mungkin. Bahkan dengan beraninya laki-laki itu kembali menyindirnya.
Dara mengangkat dagu Nathan, sehingga membuat laki-laki itu menahan napas, merasa sangat gugup berhadapan dengan jarak wajah yang cukup dekat seperti itu. "Emang lo berani bermain kasar sama gue?" tanya Dara dengan suara rendah.
"Bermain kasar di kasur? Berani dong! Kamu pikir saya takut? Saya malah bakalan buat kamu mendesah dengan hebat di bawah kungkungan saya, apalagi kalau kamu liat punya saya yang gedenya minta ampun! Saya yakin kalau kamu minta nambah deh pokoknya," jawab Nathan yang jawabannya sama sekali jauh dari apa yang dimaksud Dara.
'Ini gue yang salah nanya atau gimana sih?' teriak Dara dalam hati.
"Maksud gue emangnya lo berani main tangan sama gue?" tanya Dara lagi.
__ADS_1
"Kenapa enggak?" tanya Nathan yang sontak membuat Dara terkejut, jadi Nathan berani main tangan. "Kalau anu saya langsung dimasukkin nggak asik, Dar! Jadi harus jamah-menjamah dulu. Nah kan kalau menjamah itu harus pakai tangan, kalau pakai kaki nggak mungkin, Dar! Nggak worty it tau nggak? Lagian saya juga nggak bisa," jawab Nathan yang entah benar-benar tidak paham maksud Dara atau hanya mengerjai wanita itu.
"Arghh!" Dara berteriak dengan sangat frustasi. Ini yang dia takutkan menikah dengan Nathan. Bahkan sebelum menikah pun dia rasanya sudah ingin gantung diri, karena tidak sanggup berurusan dengan Nathan. Bahkan jika disuruh memilih, Dara lebih suka bertarung dengan 10 preman dibandingkan berurusan dengan Nathan.
'Eh, nih cewek nggak berubah jadi manusia harimau, 'kan?' batin Nathan yang sedikit was-was, takut setelah itu Dara akan keluar taringnya, dan berubah menjadi power rangers. Eh, maksudnya berubah menjadi harimau.
"Maksud gue, emang lo berani melakukan KDRT sama gue?" teriak Dara yang benar-benar sudah sangat kesal.
"Oh, bilang dong dari tadi!" ketus Nathan tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Nah itu sih Dar permasalahannya. Saya bukannya takut, tapi cuman nggak berani doang. Terlalu banyak konsekuensi yang bakal saya dapat kalau saya melakukan KDRT sama kamu," jawab Nathan yang bergaya seolah-olah dia hanya tidak tega melukai Dara. Padahal dirinya memang benar-benar takut berurusan dengan Dara. Pasalnya wanita itu ahli dalam beberapa seni bela diri.
"Masalahnya kalau saya melakukan KDRT sama kamu, kamu bukannya diam aja, malah balas lagi nanti. Saya mana berani sama wanita pembohong, mana nggak setia lagi," gumam Nathan dengan suara yang sangat pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Dara.
"So, kenapa lo nggak batalin aja pernikahan ini? Toh sebelum terjadi, kan?" tanya Dara dengan senyum manisnya, berharap Nathan akan membatalkan pernikahan mereka yang tidak lama lagi akan berlangsung.
Nathan yang mendengarnya sontak berpikir terlebih dahulu. Dara yang melihatnya terus merapalkan doa, berharap apa yang dia inginkan akan terwujud, yaitu tidak jadi menikah dengan laki-laki resek seperti Nathan.
"Tidak! Saya tetap akan menikah dengan kamu. Saya ingin membuktikan sama kamu kalau saya jauh lebih baik dari Leojamet itu! Saya ingin membuktikan sama kamu, kalau saya itu adalah laki-laki yang setia, pintar, baik, sholeh, dan yang pastinya rajin menabung. Tidak seperti kamu, udah pembohong, mana nggak setia lagi," jawab Nathan bersungguh-sungguh.
Dara menjadi sangat gemes dengan sikap Nathan. Tidak terhitung laki-laki itu sudah menyindir dirinya dengan kata-kata sialan itu. "Ckk ... sumpah lo itu sangat menjengkelkan! Kenapa gue harus se sengsara ini? Di masa lalu udah cukup penderitaan gue pacaran sama lo! Tapi, kenapa di masa depan gue harus lebih menderita sih, hah?" teriak Dara yang darahnya sudah benar-benar mendidih, apalagi mendengar sindiran laki-laki itu.
"Stres!" Setelah mengatakan itu, Dara langsung berjalan menuju butik untuk mencoba beberapa gaun dan jas yang akan mereka gunakan di pernikahan nanti.
"Dar, gimana kalau kita bernegosiasa aja?" tawar Nathan yang berhasil menyamakan langkah Dara.
"Bernegosiasi?" beo Dara. Sontak saja Dara tersenyum, karena mengira negosiasi yang dimaksud Nathan adalah membatalkan pernikahan mereka dengan syarat tertentu.
"Iya, jadi gini ... gimana kalau maharnya dikurangin aja jadi 50 juta? Sebagai imbalannya, saya bakal menambah ronde permainan panas kita pas malam pertama nanti jadi 50 ronde, gimana? Kamu tenang aja, saya bakal buat kamu ketagihan. Kalau sampai kamu merasa nggak puas, maka dengan terpaksa saya menggunakan jurus akhir, yaitu jurus semer mesem," tawar Nathan dengan wajah serius.
Napas Dara sudah memburu. Perlahan tangannya terangkat, lalu tanpa basa-basi Dara mencekik leher Nathan.
Nathan melotot dengan ulah Dara. "D—Dar, ka—kamu ma—mau bu—nuh sa—saya?" tanya Nathan dengan napas tersendat-sendat.
__ADS_1
"Iya, gue pengen bunuh lo! Kenapa juga di dunia ini ada orang yang pemikirannya kayak lo!" teriak Dara yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Y–ya ud–udah, bu–nuh sa–saya dengan ci–cinta ka–kamu aja!" Bahkan di kondisi yang seperti ini pun Nathan masih sempat saja menggombal.
"Argg!" Dara langsung melepaskan cekikkan tersebut, kemudian masuk ke dalam butik dengan sorot mata yang tajam.
Uhuk Uhuk
Nathan bahkan terbatuk-batuk akibat ulah Dara tadi.
"Gila, gue hampir dibunuh coy!" guman Nathan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya Allah, tolong jangan buat jodoh Nathan syadis-syadis syekali. Masa belum nikah, jodoh hamba udah melakukan KDRT aja. Bagaimana dengan harga diri hamba, ya Allah?" Lagi-lagi laki-laki itu mengangkat kedua tangan, layaknya orang yang sedang berdoa.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.