
Setelah berteriak, Nathan langsung terkekeh tidak jelas, membuat Dara merinding melihatnya. Kenapa bisa seperti itu?
Sadar jika dia sedang diperhatikan, Nathan langsung mengalihkan pandangannya ke samping, dan melihat istrinya yang bergaya seolah-olah merinding. "Kenapa kamu melihat saya? Ganteng, ya? Saya udah tau kok," ucap Nathan pede.
"Cih ...." Dara berdecih melihat kepedean suaminya. Ya, meski pun tidak bisa dipungkiri jika Nathan memang tampan.
"Ekhem ...." Dara berdehem, dia ingin membicarakan perihal foto yang dia temukan di dalam laci suaminya tersebut. Entah kenapa, dia rasanya ingin sekali membuka hatinya untuk Nathan.
"Kenapa? Pengen dicip*k? Yaudah sini!" Nathan berkata dengan asal, sambil tangannya yang bergerak, seolah menyuruh wanita itu untuk mendekatinya.
Dara berdecak kesal. Kenapa suaminya tersebut sangat m*esum? Perkataannya tidak jauh dari kata belah duren dan cip*k!
"Gue pengen nanya," ucap Dara dengan wajah serius.
"Nanya apa? Nanya gimana rasanya dicip*k? Eum ... enak sih. Rasanya gurih, terus manis. Pokoknya enak deh. Kenapa nanya? Kenapa nggak praktek aja?" usul Nathan yang langsung membuat Dara menatap datar laki-laki itu.
"Gue serius! Gue pengen nanya. Kenapa lo masih nyimpan foto ini?" Dara mengeluarkan foto yang tadi dia temukan di hadapan Nathan.
"Foto apaan? Kayaknya saya nggak pernah deh nyimpan foto orang yang lagi belah duren. Gini-gini saya masih alim kok, Dar." Nathan yang penasaran langsung mengambil foto yang ada dia atas meja tersebut, kebetulan foto itu dalam posisi terbalik.
Begitu Nathan membalikkan foto tersebut, tubuhnya seketika menegang. Ya, dia akui jika dia masih menyimpan foto dirinya dengan Dara semasa pacaran dulu. Dia benar-benar tidak rela jika foto itu harus dibuang, apalagi itu hanyalah satu-satunya foto yang dia punya, karena dulu Dara sangat susah untuk diajak berfoto bersama.
Ketika dia sedang sendiri, dia pasti menatap foto tersebut. Meski sakit dan sesak, tetapi foto itu jugalah yang selalu menyemangati dia, karena saat dia menatap foto itu, dia seketika teringat dengan kenangan manis yang pernah mereka lalui, meski pun endingnya dia akan menangis dan merasakan sakit kepala saat teringat kejadian menyakitkan itu.
"Kamu dapat foto ini dari mana?" Alih-alih menjelaskan, Nathan justru bertanya, karena beberapa bulan akhir ini dia tidak menemukan foto tersebut, padahal dia selalu meletakkannya di balik gambar dirinya yang memakai jas lengkap. Ya, foto sebagai pengenalan bahwa dia adalah CEO di perusahaan itu. Tetapi ketika dia membuka figura foto tersebut, dia tidak menemukan foto itu, bahkan dia sudah mencari ke segala penjuru ruangan, tetapi tetap tidak menemukannya.
"Dari dalam laci meja kerja lo, pas gue nyari obat merah," jawab Dara apa adanya.
"Kenapa lo masih nyimpan foto lama itu? Apa sebegitunya lo masih mencintai gue? Padahal lo sendiri yang mutusin gue, tapi kenapa malah lo yang nggak bisa move on?" tanya Dara dengan sedikit sinis.
Nathan terdiam sebentar. "Saya nggak ada nyimpan foto ini, ya! Ini kemaren dibawa tuyul, dia kira uang, tapi ternyata foto wanita pembohong, mana nggak setia lagi. Dia bilang, pantas aja rasanya aneh pas pegang kertas itu, ternyata itu gambar wanita syadis. Kamu nggak usah ge'er deh! Yakali aja saya belum move on sama kamu!" sinis Nathan.
Dara terkekeh mendengar jawaban Nathan yang sama sekali tidak nyambung. Yakali saja tuyul yang meletakkan foto itu di dalam laci? Lagian mana berani tuyul mencuri uang milik Nathan, secara kan suaminya sangat pelit, yang ada tuyulnya diceramahi habis-habisan oleh Nathan.
"Gue serius? Kenapa lo masih nyimpan foto ini? Lo masih sayang kan sama gue?" Dara kembali menanyakan pertanyaan yang sama, dia ingin suaminya tersebut jujur, tidak perlu membohongi perasaannya sendiri. Dia sudah bertekad untuk membuka perasaannya kembali pada Nathan, karena selain Nathan adalah suaminya, tentu saja karena dia sudah mulai berdebar berdekatan dengan laki-laki itu.
Nathan menatap mata istrinya dengan lekat. Sekarang dia memilih untuk memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Bodo amat jika wanita itu justru akan mengejeknya nanti, itu urusan belakangan, dia bisa memutar otaknya nanti.
__ADS_1
"Iya! Saya masih mencintai kamu!" jawab Nathan dengan mantap, dan Dara tertegun mendengar ucapan suaminya yang berbicara tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya masih mencintai kamu, Dar! Bahkan hingga detik ini. Sembilan tahun itu nggak ada arti apa-apa bagi saya, karena saya tetap nggak bisa ngelupain kamu. Bagaimana mungkin saya bisa ngelupain kamu, sementara kamu adalah wanita pertama yang bisa meluluhkan hati saya? Selama sembilan tahun itu, bukannya saya bisa move on dari kamu, tapi membuat saya semakin merindukan kamu! Saya nggak bisa ngelupain kamu, Dar! Kamu wanita pertama yang mengajarkan saya arti cinta." Nathan menjelaskan dengan napas memburu, sebening kristal perlahan jatuh membasahi pipinya. Akhirnya dia bisa mengatakan kembali isi perasaannya.
Dara yang melihat air mata yang menetes itu seketika luluh. "Apa lo yakin jika lo benar-benar mencintai gue? Kenapa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Dara.
"Iya, saya yakin dengan perasaan saya! Kenapa? Kamu mau meledek saya? Silahkan! Kenapa saya masih mencintai kamu? Saya sendiri juga nggak tau! Bahkan saya rasanya ingin merobek d*da saya, dan mengikis nama kamu di sana! Tapi nggak bisa, Dar! Nama kamu seolah abadi dalam sini!" Nathan menekankan d*danya. Dara sendiri benar-benar tertegun dengan pengakuan Nathan, bahkan kalimat itu terdengar sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar ucapan manis belaka!
"Kenapa lo masih mencintai gue, sementara gue udah berkhianat? Apa lo nggak membenci gue?" tanya Dara. Jika selama ini Nathan berpikir dia selingkuh, lantas apa yang membuat laki-laki itu masih memendam perasaan padanya? Seharusnya kan laki-laki itu membencinya?
"Kata siapa? Saya sempat membenci kamu, bahkan sangat membenci kamu! Tapi untuk cinta, saya sendiri nggak bisa membuang perasaan itu. Hati saya seakan menolak untuk mempercayakan apa yang sudah saya lihat. Hati saya menolak ketika saya berencana untuk ngelupain kamu! Saya bodoh ya karena sudah terlalu gila karena cinta? Mungkin jawabannya iya. Tapi percayalah, saya udah berusaha, tapi nggak bisa, Dar!" Runtuh sudah pertahanan Nathan, akhirnya dia memberanikan diri memberitahukan semuanya secara terbuka, biar saja jika pada akhirnya istrinya akan mengejek dia nantinya.
Nathan masih ingat saat dirinya yang mengencani para gadis yang ada di London saat itu. Ya, dengan harapan dia bisa melupakan Dara. Bahkan dia pernah mengencani beberapa gadis sekaligus, bisa dikatakan jika dia berselingkuh. Tidak hanya itu, pergaulannya pun cukup bebas di sana. Dia yang awalnya sosok yang alim di sekolah, tiba-tiba berubah saat berada di London. Dia sudah merasakan yang namanya alkohol, rokok, bahkan minuman keras. Tetapi meski pun demikian, dia sama sekali tidak pernah merusak perempuan, bahkan saat berada di club sekali pun dia bisa menahan diri meski pun di bawah kendali alkohol. Dia masih teringat dengan pesan pamannya yang mengatakan, jika dia boleh nakal, tetapi jangan sampai menghancurkan wanita, karena bukan hanya wanita itu yang hancur, tetapi juga masa depan dirinya, karena jika wanita itu hamil, maka dia tidak akan memiliki masa depan lagi.
Dara yang mendengarnya tersenyum senang. Ternyata dugaannya benar, jika Nathan masih memiliki perasaan padanya, meski laki-laki itu kecewa sekali pun.
Perlahan Dara mendekati Nathan yang air matanya masih menetes. Kemudian secara perlahan wajahnya mendekati wajah Nathan yang kini terdiam, bingung dengan apa yang hendak dilakukan istrinya tersebut.
Cuppp
Satu kecupan lembut mendarat di bibir Nathan. Pelakunya sudah tentu Dara! Ya, Dara sudah memutuskan untuk berusaha membuka seluruh hatinya pada Nathan.
"Dar, ka–kamu cium saya?" tanya Nathan polos sambil menunjuk dirinya.
Dara tidak menjawab, perlahan wajahnya kembali mendekati wajah Nathan. Nathan sendiri hanya mampu menutup mata saat merasakan hembusan napas wanita itu.
Cuppp
Lagi dan lagi Dara mengecup bibir Nathan, tapi kali ini bukan hanya sekedar kecupan biasa, karena perlahan bibirnya mulai mel*mat bibir Nathan dengan lembut. Kini Dara juga ikut memejamkan matanya, menikmati ciuman mereka.
Nathan sendiri begitu menikmati ciuman yang diberikan istrinya. Benar-benar sangat lembut! Apalagi bibir itu terasa sangan manis.
Apakah ini awal kebahagiaan? Apakah setelah ini hubungan mereka akan membaik? Itulah pertanyaan yang ada di pikiran Nathan.
Nathan yang merasa jika istrinya hanya mel*mat bibirnya saja langsung mengambil alih permainan. Dia mulai menekan tengkuk Dara, guna memperdalam ciuman mereka. Tangan Dara refleks memeluk leher laki-laki itu.
Nathan menggigit pelan bibir bawah Dara, sehingga membuat Dara meringis, bukan karena sakit, tapi karena terkejut.
__ADS_1
Nathan melepaskan ciuman mereka. "Maaf," bisik Nathan, setelah itu kembali mencium bibir milik istrinya. Nathan mulai memasukkan lidahnya saat mendapat akses dari Dara. Segera lidahnya bermain di dalam sana, mengabsen setiap gigi putih milik istrinya, kemudian bermain dengan lidah Dara.
"Eughh!" Saking dirinya menikmati ciuman yang diberikan Nathan, tanpa sadar Dara justru sedikit mend*sah. Menurutnya ciuman ini benar-benar memabukkan. Terasa sangat nikmat!
Nathan tidak menghentikan kegiatannya, dia terus mel*mat bibir Dara yang terasa sangat nikmat, apalagi terasa sangat manis. Bibir milik istrinya itu benar-benar membuatnya candu.
Nathan menghentikan ciuman mereka saat Dara terus memukul dad*nya, mungkin karena mulai kehabisan oksigen, mengingat ciuman mereka cukup lama berlangsungnya. Bagaimana bisa terlepas jika dia sendiri menekan tengkuk istrinya?
"Lo ma–mau bu–bunuh gue, Than?" ketus Dara dengan napas yang ngos-ngosan. Dia berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kenapa? Kenapa kamu mau menciumku?" tanya Nathan dengan suara lirih, kemudian jarinya mengelap bibir Dara yang dipenuhi salivanya tadi. Bahkan tanpa sadar Nathan mengubah gaya bahasanya menjadi 'aku' bukan 'saya' lagi.
Dara tidak menjawab, dia hanya memandang lekat mata suaminya. "Karena aku ingin mencintaimu!" ucap Dara dengan bersungguh-sungguh.
Cupp
Dara kembali memberikan kecupan singkat di bibir Nathan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.