
Baik Nathan mau pun Leo sama-sama terbengong untuk sesaat. Rasanya seperti mimpi mereka bisa bertemu, apalagi dalam keadaan yang tidak disengaja.
Nathan yang lebih dulu sadar segera bangkit berdiri. Perlahan kakinya melangkah mendekati Leo yang terlihat masih terdiam membisu.
"Le–Leo." Suara Nathan benar-benar bergetar.
Grab ....
Tanpa basa-basi Nathan segera memeluk tubuh yang sangat dia rindukan selama ini. Jujur, selama sembilan tahun ini dia selalu merindukan Leo, bahkan tak jarang dia berhalusinasi bahwa laki-laki itu selalu ada untuknya. Selama sembilan tahun, saat dia mengalami depresi, dia seperti merasakan keberadaan Leo. Di satu sisi dia tersiksa, tetapi di lain sisi dia juga nyaman saat merasakan keberadaan laki-laki itu.
Pelukan Nathan benar-benar erat kali ini. Leo yang awalnya berpikir jika Nathan mungkin masih membencinya tentu terkejut dengan ulah laki-laki itu yang ternyata memeluknya. Dia pikir Nathan akan mengusirnya, tetapi ternyata dia salah.
"Na–Nathan," lirih Leo. Perlahan tangannya terangkat, lalu dengan pasti dia membalas pelukkan Nathan tak kalah erat. Dia tak menyangka jika Nathan bisa menjadi sesukses ini. Sungguh dia merasa malu sekarang, apalagi kehidupannya bisa dikatakan menderita, sementara Nathan sudah sukses.
"Lo di mana aja selama ini?" tanya Nathan yang masih belum mau melepeskan pelukkan mereka.
"Than, maafin gue .... Gue sama sekali nggak pernah mengkhianati lo. Gue sama sekali nggak pernah pacaran sama Dara. Semua itu hanya salah paham, Than. Gue minta maaf karena gue nggak ijin dulu sama lo, sehingga semuanya hancur. Gue tau kalau gue salah. Gue mohon maafin gue." Alih-alih menjawab, Leo justru menjelaskan tanpa Nathan meminta. Sungguh, sedari dulu dia selalu ingin menjelaskan pada Nathan. Tiap hari dia berdoa, meminta pada Tuhan agar bisa dipertemukan dengan Nathan, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Siapa sangka jika ketiga orang yaitu, Nathan, Dara, dan Leo sama-sama terpukul saat itu. Mereka semua mengalami depresi. Dara yang depresi karena kecewa dan sedih dengan sifat Nathan sampai-sampai harus membuat dirinya menghabiskan waktu di rumah sakit untuk di okname selama tiga hari. Leo yang selalu menunjukkan senyum terbaiknya di depan ayahnya, tetapi ketika kesunyian mulai menyapanya, maka perlahan dia akan menangis, dia sangat menyesal, hanya berandai-andai. Andai dia tidak melakukan hal itu atau meminta Nathan untuk ikut menyaksikan, maka semuanya mungkin tidak akan terjadi. Setiap hari Leo memaki dirinya, menyalahkan dirinya sendiri, dan selalu bergumam kata minta maaf saat berada di belakang sekolah. Nathan sendiri juga mengalami depresi, hanya saja dia lebih berat dari mereka berdua.
Lira? Perempuan itu meninggalkan Leo karena bosan dengan tingkah Leo yang selalu saja berdiam diri, padahal dia berekspektasi jika Leo mungkin orang yang asik, tetapi laki-laki itu justru selalu diam saat mereka sedang berduaan, sehingga membuat Lira memutuskan hubungan itu. Respon Leo sendiri hanya bisa pasrah, karena semangat menggebu-gebunya untuk pacaran sudah redup di dalam dirinya.
Nathan tersentuh mendengar penjelasan Leo. Bahkan dia belum meminta laki-laki itu untuk menjelaskannya, tetapi dia langsung segera menjelaskan tanpa diminta.
"Gue tau, gue udah tau semuanya. Maaf, Yo ..." ucap Nathan dengan suara pelan, nyaris berbisik.
Di saat sedang asik berpelukkan, Nathan segera teringat dengan tujuan Leo mendatanginya. Jadi, ayah Leo masih sakit hingga sekarang? Ah, seketika hatinya terasa seperti ditusuk oleh sebilah belati.
Nathan melepaskan pelukkan mereka, lalu menatap lekat mata Leo yang kini dipenuhi dengan air mata. "Ayah lo masih sakit?" tanya Nathan sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Leo seketika teringat dengan ayahnya. Ah, karena sangat merindukan Nathan, dia seketika melupakan keberadaan ayahnya. Tetapi jujur saja, dia sedikit bingung saat sahabatnya itu mengatakan jika dia sudah tau ceritanya. Memangnya siapa yang sudah memberitahukan dia? Mungkinkah Dara?
"I–iya, Than. Ayah gue sakit. Di–dia kena stroke," jawab Leo dengan suara lirih.
Nathan menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Se parah itukah? Seketika Nathan kepikiran, mungkinkah Leo akan memaafkan dia saat tahu fakta yang sesungguhnya?
'Bagaimana jadinya kalau dia sampai tahu kalau semua ini ternyata ulahku?' gumam Nathan dalam hati.
"Sekarang dia dirawat di mana?" tanya Nathan dengan suara panik.
"Di dirawat di rumah sakit Mitra Anda," jawab Leo yang kini air matanya kembali jatuh saat teringat dengan kondisi ayahnya.
"Kita ke sana sekarang!" Tanpa basa-basi Nathan menyambar kunci mobil yang ada di atas meja kerjanya, lalu menarik Leo dan berjalan cepat keluar dari perusahaan.
Tak sedikit para karyawan yang bingung melihat bos mereka yang berjalan cepat dengan seorang berpakaian OB.
Nathan dan Leo masuk ke dalam mobil, lalu segera melajukan mobil menuju rumah sakit Mitra Anda. Meski pun dirinya sudah lama tidak kembali ke kota kelahirannya, tetapi dia masih ingat dan tahu betul letak rumah sakit tersebut, karena rumah sakit itu sudah dibangun sejak dia kecil.
"Sekarang di mana ruangannya?" desak Nathan yang sudah tidak sabaran. Rasanya ingin sekali dia berlutut meminta maaf pada pria paruh baya itu, karena ulahnya lah pria itu seperti ini.
Leo segera berjalan lebih dulu, menuntun Nathan untuk menuju ruangan di mana ayahnya dirawat. Karena tidak mampu membayar ruangan VIP, ayahnya terpaksa dipindahkan ke ruangan biasa. Sebenarnya ada sedikit rasa tidak rela dalam dirinya. Dia tidak tega melihat ayahnya yang hanya mendapatkan perlakuan biasa dari pihak rumah sakit. Dia ingin ada yang selalu menjaga ayahnya, tetapi sayangnya dia tidak memiliki uang. Hampir setiap hari dia merasa terpukul, merasa gagal telah menjadi anak. Bagaimana mungkin dia tidak bisa berbalas budi? Dulu kehidupannya sewaktu kecil lebih dari cukup, tetapi kini dia bahkan tidak mampu menberikan yang terbaik untuk ayahnya.
Akhirnya Leo dan Nathan sampai di sebuah ruangan bernomor 105. Mereka segera masuk, lalu terlihatlah seorang pria yang terlihat sangat kurus sedang tertidur nyenyak.
Runtuh sudah pertahanan Nathan. Rasanya ingin sekali dia menghabisi nyawanya sendiri karena sudah membuat ayahnya sendiri menderita seperti ini.
Hiks ....
Isak tangis terdengar dari mulutnya. Dia membekap mulutnya melihat kondisi pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri terbaling lemah dengan kondisi badan yang kurus. Kepalanya terus menggeleng. Dia sama sekali tidak pernah terpikirkan jika dampak dari apa yang sudah dia lakukan akan seburuk ini.
__ADS_1
Nathan segera berlari ke arah Bima meski pun kakinya terasa lemas. Kini dia hanya ingin merengkuh tubuh pria itu.
Nathan segera memeluk Bima. Kini tangisnya semakin nyaring . Apa yang selama ini sudah dia lakukan? Itulah pertanyaan yang selalu dia tanyakan pada dirinya sendiri. Ah, apakah dia memang sebodoh ini?
Leo yang melihat pemandangan itu tidak mampu untuk tidak menangis. Air matanya kembali terjun bebas melihat sahabatnya yang tak kalah terpuruk dengan dia.
Tidur Bima terusik saat merasakan ada yang memeluknya. Perlahan mata sayu-nya terbuka. Dia mengerutkan kening saat melihat seorang laki-laki yang tidak dia ketahui. Tetapi sedetik kemudian dia mengenali sosok laki-laki itu, ternyata dia adalah putra keduanya sendiri.
"Na–Nathan?" Bima berbicara dengan gaya mulut yang sedikit miring, seperti orang stroke pada umunya.
"A–Ayah." Tangis Nathan semakin menjadi-jadi. Hatinya bagai ditusuk oleh ribuan jarum melihat tatapan sayu pria itu, apalagi cara bicaranya yang terlihat sangat kesusahan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.