Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Joni?


__ADS_3

"Lo tuh bisa nggak sih jangan buat gue malu sehari aja!" ketus Dara setelah keluar dari butik tersebut.


"Emangnya saya salah apa, Dar?" tanya Nathan polos.


"Lo tuh nggak sadar diri banget sih! Gimana ceritanya lo mau nawar dalam jumlah yang nggak wajar? Harganya itu 100 juta Nathan, gila aja lo kalau nawar jadi 50 juta!" ketus Dara.


"Ya ... yakan siapa tau bisa, Dar. Kamu tuh harusnya bersyukur bisa dapetin laki-laki yang jago nawar kayak saya. Padahal tadi saya mau nawar jadi 80 juta aja, tapi kamu yang duluan natap saya dengan tajam. Sok banyak duit banget, eh ujung-ujungnya pakai duit saya juga," sinis Nathan.


"Yaudah nih kembalikan bajunya! Kita nggak jadi nikah!" ketus Dara, lalu memberikan paper bag tersebut secara kasar, kemudian dia pergi begitu saja.


"Dih, ngambek," gumam Nathan.


'Ihh, kamu tuh ngegemasin banget sih, Dar. Jadi, pengen ngegantungin deh' teriak Nathan dalam hati.


"Dar tungguin! Kamu jangan sok-sok'an ngambek, ingat umur, Dar!" teriak Nathan, lalu segera berlari menyusul Dara.


Dara segera masuk ke dalam mobilnya, berniat segera pergi dari tempat terkutuk tersebut. Entahlah, dia merasa kesal dengan Nathan yang terlalu perhitungan dengan uang. Laki-laki itu akan sangat cerewet jika berurusan dengan uang.


Baru saja Dara ingin memasukkan kunci mobil, Nathan lebih dulu masuk ke dalam mobilnya, sehingga membuat Dara menghentikan kegiatannya, lalu menatap tajam Nathan yang berani masuk ke dalam mobilnya.


"Lo ngapain masuk ke dalam mobil gue?" tanya Dara dengan ketus.


Nathan tidak menjawab, dia menyerahkan paper bag yang berisi baju pengantin tersebut pada Dara. "Nih baju tadi! Jangan sampai nggak jadi nikah, Dar! Kamu nggak kasihan sama si Joni?" tanya Nathan sedikit ketus.


"Joni?" beo Dara, merasa bingung siapa yang dimaksud Nathan.


"Nih, si burung!" jawab Nathan menunjuk ke bawah.


Dara melotot mendengarnya, apa-apaan Nathan membicarkan hal seperti itu. "Lo tuh emang udah stres, Than!" gumam Dara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, karena dulu saya pernah pacaran sama perempuan yang pembohong, mana nggak setia lagi," sahut Nathan dengan sindiran.

__ADS_1


"Terus kalau lo stres karena si perempuan pembohong, mana nggak setia lagi itu, kenapa lo malah mau nikah sama dia?" tanya Dara dengan ketus.


"Lho? Kenapa kamu yang marah? Saya nggak bilang kamu, lho," jawab Nathan yang sontak membuat Dara terdiam.


"Y—ya yakan kata-kata itu yang biasa lo ucapkan pas nyindir gue!"


"Oh, gitu ...." Nathan mangut-mangut. "Kenapa saya pengen nikah sama dia? Karena dia cantik, baik, ramah, lucu, dan banyak lagi," lanjut Nathan yang sontak membuat pipi Dara merah seperti tomat.


"Tapi boong! Pal pale pal pale pal pale pale pale ...." Nathan melanjutkan ucapanya dengan bernyanyi, lalu tertawa dengan nyaring saat melihat pipi Dara yang merah.


"Kenapa saya pengen nikah sama kamu? Karena saya pengen belah duren, Dar!" ucap Nathan dengan tampang wajah serius.


"Aduh ... duh ... duh!" Nathan berteriak di dalam mobil saat telingganya kembali ditarik oleh Dara dengan sangat kencang.


"Da—Da—Dar, jangan kencang-kencang, kalau putus gimana?" teriak Nathan.


"Kalau putus, maka gue bakalan ngadain acara syukuran tujuh hari tujuh malam sebagai wujud rasa terima kasih gue!" jawab Dara dengan ketus.


Tapi bukan Dara namanya kalau takut hanya karena dibentak sedikit saja. "APA?" tanya Dara dengan ikut membentak.


"Ishh ... kamu jangan syadis-syadis banget dong, entar kalau saya diculik tante-tante gimana? Iya kalau tante-tante girang, kalau tante-tante syedih, gimana?" rengek Nathan sambil memajukan bibirnya.


"Than, lo bisa nggak sih sehari aja jadi kayak anjing penurut? Jangan buat gue naik darah mulu!" Dara berkata dengan lemah, merasa sudah habis tenaganya menghadapai manusia seperti Nathan.


"Gini, Dar. Kalau kamu jadi anjing, terus kamu punya pemilik yang jahat, suka nyiksa kamu, apa kamu bakalan tetap nurutin permintaannya? Kalau saya sih bakalan gigit pemiliknya sampai rabies!" tutur Nathan.


"Emangnya gue jahat apa? Emangnya gue suka nyiksa lo?" tanya Dara tak tahu diri.


"Wah, tidak syadar syekali kamu Markonah." Nathan tentu gemes mendengar pertanyaan Dara yang tidak tahu diri sama sekali.


Nathan membuka bajunya, berniat untuk menunjukkan perutnya yang sedikit membiru akibat cubitan Dara yang bukan main lembutnya.

__ADS_1


"Lo ngapain? Lo jangan macem-macem, Than! Gue bisa banting, lho!" teriak Dara yang sontak menutup mata sucinya.


"Jangan ge'er kamu, Dar! Saya orangnya suka main di ranjang, bukan di mobil, kecuali kalau terdesak! Tapi kalau mau sekarang sih boleh-boleh aja, si Joni siap kapan saja memenuhi panggilan ayangnya," sahut Nathan ngelantur.


Bukk .... Dara memukul pundak laki-laki itu dengan cukup kencang, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menutup kedua mata indahnya.


"Lo jangan ngomong makin ngelantur, Than!" ketus Dara.


"Ckk ... nih kamu lihat baik-baik Dara. Ini adalah bukti yang perlu diabadikan di meseum, bahwa Dara adalah perempuan yang syangat syangat syadis syekali. Kamu lihat nih perut saya! Biru, Dar! Udah kayak habis di c*pang aja. Tapi fakta berkata lain, ternyata ini adalah bentuk kekerasan yang dilakukan oleh seorang calon istri pada calon suaminya! Bayangin aja, itu kebalik, lho. Di mana-mana suaminya yang bakal menganiyaya istrinya. Tapi saya? Saya udah kayak suami yang ter-zolimi, untung aja saya ini laki-laki yang baik, pintar, penyabar, sholeh, dan yang pastinya rajin menabung. Jadi, saya masih sabar ngadepin kamu!" cerocos Nathan panjang kali lebar.


"Nih kamu liat, telingga saya merah karena jeweran kamu, nih pipi saya udah dapat cap lima jari kamu, nih leher saya udah dapat sidik jari kamu. Dan sekarang apa? Bahu saya yang nggak tau apa-apa juga menjadi korban tangan kamu yang nackal itu!" lanjut Nathan dengan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang sudah dijamah oleh Dara. Lebih tepatnya bukan dijamah, tetapi dianiyaya!




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2