
Lucy menatap sendu gundukkan tanah yang ada di hadapannya. Kini orang yang sangat dia sayang sudah tidak ada, dia sudah pergi selama-lamanya meninggalkan dia sendirian di dunia ini. Dia benar-benar tidak menyangka jika orang tuanya sendiri lah yang membunuh orang yang sangat dia sayangi. Bagaimana mungkin ayahnya bisa sejahat itu? Sebenarnya di mana letak hati nurani pria itu? Apakah dia memang tidak punya hati nurani? Lucy benar-benar tidak menyangka ayahnya bisa membunuh, apalagi dengan wajah biasa saja, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Semoga kamu tenang di sana ya, El. Maaf, karena terlambat membantu kamu. Maaf karena salahku, kamu harus meninggal seperti ini. Andai aku tidak datang ke rumahmu, dan andai aku bukan kekasihmu, ini semua pasti tidak akan pernah mungkin terjadi. Akibat salahku, Ayahku harus membunuh kamu, padahal kamu tidak ada salah apa pun." Lucy menunduk. Dia benar-benar merasa terpukul dengan kematian kekasihnya itu. Kenapa? Kenapa Tuhan begitu kejam sampai mengambil orang yang teramat di cintai. Kenapa tidak ambil kedua orang tuanya yang sudah sangat jahat padany? Alih-alih mengurangi bebannya, Tuhan justru semakin membuatnya terpuruk. Ah, seketika dia meragukan yang namanya Tuhan. Mungkinkah Tuhan itu memang ada? Itulah yang ada di benak Lucy.
"Tetapi kau tenang saja, akan aku pastikan membalas semuanya. Sekalipun mereka adalah orang tuaku sendiri!" sambung Lucy dengan wajah bersungguh-sungguh. Setelah itu dia pergi dari area pemakaman tersebut, karena dia tidak mau berlama-lama menangisi kepergian kekasihnya tersebut.
Mendengar kekasihnya yang pergi selama-lamanya memang membuat dia sakit, tetapi saat mengetahui jika itu bukan murni kecelakaan, melainkan sudah dirancanakan oleh ayahnya sendiri justru membuat dia tidak bersedih lagi, melainkan terdapat dendam yang menggebu-gebu dalam dirinya untuk membalas semuanya.
Orang tuanya sendirilah yang sudah membentuk dia menjadi sosok yang seperti ini. Jadi, jangan salahkan dia jika dia nekad melakukan hal-hal di luar nalar manusia.
Lucy memilih untuk tinggal di rumah kekasihnya saja. Lagian rumah itu tidak ada yang menempatinya juga. Sementara dia tidak mungkin pulang ke rumah, mengingat dia baru saja diusir oleh orang tuanya.
Lucy duduk di ruang tamu, lalu pandangannya tiba-tiba tidak sengaja melihat figura kecil yang di dalamnya terdapat foto dirinya bersama dengan Elno. Dia masih ingat betul dengan foto tersebut. Foto itu diambil saat mereka sedang liburan setelah dia lulus SMA. Saat itu, Elno menyiapkan pesta kecil-kecilan untuknya, dan tidak ada orang sama sekali, hanya mereka berdua yang merayakannya. Kue yang diberikan oleh kekasihnya itu pun bukanlah kue tart atau bolu seperti yang sering diberikan oleh kekasih orang lain pada umumnya. Hanya donat dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dan terdapat beberapa lilin sederhana yang mengelilingi kue tersebut. Tetapi meski pun demikian, dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia justru merasa bahagia, karena Elno lah satu-satunya orang dalam hidupnya yang mampu membuat dia terus tersenyum dan tertawa lepas.
Lucy bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati figura kecil tersebut. "Bukankah ini terlalu cepat?" lirih Lucy sembari mengelus lembut foto Elno. "Kau bahkan belum menikahi aku, padahal kau sudah berjanji. Tidak hanya itu, kau juga berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku. Tetapi sekarang? Kau sudah pergi sangat jauh, hingga tak mampu untuk gapai." Lucy kembali terisak. Air matanya jatuh, sehingga membasahi kaca figura tersebut.
"El, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa menuruti keinginanmu untuk menjadi wanita yang baik. Aku benar-benar tidak mampu untuk melakukannya. Biarkanlah aku menjadi sosok seperti ayahku, yaitu monster. Aku harap kamu tidak akan pernah kecewa denganku." Lucy tersenyum kecut. Dia sudah tau apa yang harus dia lakukan. Akan dia pastikan mereka yang sudah membuat hidupnya hancur mendapat balasan berkali-kali lipat.
*******
Brady menatap rekan kerjanya. Sepertinya dia ingat dengan wajah tersebut. Ah, seketika dia baru ingat. Laki-laki itu pernah dia temui beberapa kali keluar dari hotel dengan perempuan yang berbeda-beda. Jadi, pria itu adalah seorang casanova?
"Selamat siang, Tuan." Brady menyapa rekan kerjanya dengan bahasa formal.
"Ah, selama siang. Kita mulai sekarang! Saya tidak punya banyak waktu karena saya sibuk," ucap laki-laki yang bernama Abercio tersebut sambil melirik jarum tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik!" Brady menganguk setuju, lalu mulai menjelaskan point-point tertentu, sekaligus menjelaskan apa saja keuntungan yang akan didapat kedua belah pihak jika mau bekerja sama.
Abercio mengangguk-angguk paham. "Cukup menarik. Tetapi maaf, saya tidak bisa menanda tangani kontrak tersebut, karena dari penjelasan yang Anda berikan, sepertinya proyek tersebut ada kemungkinan akan gagal, dan saya tidak mau mengambil resiko!" ucap Abercio dengan suara datarnya.
Brady nampak kelabakan. Padahal inilah satu-satunya jalan agar perusahaannya selamat, karena sekarang perusahaannya berada di ambang kehancuran.
"Maaf, Tuan. Apakah Anda suka mengencani wanita?" tanya Brady yang langsung mendapat tatapan tajam dari Abercio.
"Bukan urusan Anda!" jawab Abercio penuh penekanan.
"Maaf, Tuan. Tapi, saya punya rekomendasi yang mungkin bisa menghangati ranjang Anda. Dia masih per*wan." Brady kembali berucap saat melihat rekannya hendak pergi.
Abercio langsung menghentikan langkahnya. "Per*wan?" Nampak wajah Abercio terlihat sangat terkejut. Apakah pria di depannya sedang bercanda? Memang masih ada wanita yang masih segel zaman sekarang? Dia saja bahkan tidak pernah mencicipi wanita yang masih segel.
"Benar, Tuan. Dia adalah putri saya. Jika Anda mau menerima kerja sama ini, serta mau membayar lebih, maka saya pastikan akan membawa putri saya dan melemparkannya ke ranjang Anda untuk Anda nikmati."
Ucapan Brady sontak membuat Abercio melotot. Apa dia tidak salah dengar barusan? Rekan kerjanya menawari putrinya sendiri untuk dinikmati oleh orang lain? Apakah sebegitu gilanya kah rekan kerjanya itu pada uang, sehingga mengorbankan anaknya sendiri?
"Apakah menurutmu uang lebih berharga dari pada putrimu sendiri?" Abercio terkekeh sinis. Laki-laki seperti Brady banyak dia temui saat melakukan pertemuan. Tetapi baru kali ini saja ada yang menawarkan putri kandungnya sendiri, karena biasanya para client-nya akan menawarkannya para wanita malam.
Brady mengangguk dengan mantap. Memangnya siapa juga yang mengharapkan keberadaan gadis tersebut?
__ADS_1
"Apa kau yakin dia benar-benar masih per*wan? Bisa saja dia membohongimu dan ternyata sudah bermain tanpa sepengetahuanmu."
"Aku yakin seratus persen! Jika dia ternyata sudah tidak perawan, maka kau boleh mengambil kembali uang yang sudah kau keluarkan!" ucap Brady mantap. Dia yakin sekali jika putrinya itu masih per*wan.
"Baiklah, bawa dia nanti malam ke hotel. Untuk bayaran, jika dia masih per*wan, maka aku akan menerima kerja sama ini, serta membayar kepada Anda sebesar 100 milliyar!" ucap Abercio tanpa keraguan sedikit pun. Brady yang mendengar jumlah yang ditawarkan sontak melonggo. Sebanyak itukah? Padahal itu ingin mematok harga 10 milliyar saja.
"Baiklah! Malam ini akan saya pastikan Anda puas!" Abercio hanya terkekeh sinis. Benar-benar orang tua gila! Tetapi itu bukan urusannya, yang pentin dia merasa puas malam ini.
Setelah rekannya sudah pergi, Brady tersenyum senang. Sebentar lagi dia akan mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat banyak.
"Ini adalah bentuk balas budi yang harus kau lakukan anak sialan!" gumam Brady.
Brady segera mengambil handphonenya, lalu menghubungi seseorang.
"Culik dia! Dan bawa dia ke hotel *** malam ini jam tujuh!" perintah Brady, lalu mematikan panggilan tersebut.
Brady merentangkan tangannya, lalu duduk sambari kakinya di letakkan di atas meja. "Akhirnya kamu berguna juga sebagai seorang anak," kekeh Brady.
*******
Tok ... Tok ...
Kening Lucy mengerut saat ada yang mengetuk di jam seperti ini. Siapa yang tidak memiliki sopan santun tersebut? Kenapa tidak bertamu saat hari masih sore tadi?
"Iya, ada ap— mphh!" Ucapan Lucy seketika terpotong saat seseorang membekap mulutnya. Dia benar-benar terkejut, tetapi perlahan kesadarannya mulai hilang. Ah, sapu tangan tersebut mengandung alkoholnya. Penglihatan Lucy akhirnya menggelap. Dia tidak tau lagi apa yang terjadi dengan dirinya.
Setelah sampai di sebuah hotel. Salah satu diantara mereka menggendong Lucy dengan gaya bridal style, sementara yang lainnya memencar, agar tidak ada orang yang curiga pada mereka.
Orang tersebut segera membawa Lucy menuju salah satu kamar hotel yang dipesan khusus. Segera dia masuk dan meletakkan Lucy dia atas ranjang.
"Ikat pergelangan tangan dan kakinya!" perintah Brady dengan suara datar.
Ketiga orang tersebut mengangguk, lalu segera mengikat kedua tangan dan kaki Lucy, setelah itu mereka segera pergi keluar dari dalam kamar tersebut.
Brady memukul pipi putrinya sedikut keras untuk menyadarkan wanita itu. Lucy sontak terbangun. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing, mungkin karena efek alkohol tadi.
"Kau sudah bangun?" tanya Brady dengan suara dingin.
Lucy segera mengalihkan pandangannya saat mendengar suara yang tidak asing di telingganya. "A–Ayah? Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Lucy murka saat menyadari jika tangan dan kakinya diikat.
"Ckk ... tidak usah berteriak seperti itu!" bentak Brady yang tidak terima diteriaki oleh putrinya sendiri.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika kau harus balas budi padaku?" tanya Brady yang langsung mendapat gelengeng dari Lucy.
"Tidak ada yang perlu aku balas! Kau bahkan bukan Ayah yang baik!" maki Lucy yang sontak membuat Brady menggeram marah.
"Itu semua karena kau memang tidak layak untuk disayangi!" ucap Brady penuh penekanan.
__ADS_1
"Tidak usah berbasa-basi lagi. Aku hanya ingin mengatakan padamu kalau ada seorang pengusaha yang membelimu." Brady berkata dengan santai, seolah itu bukanlah masalah yang besar. Sementara Lucy melotot mendengar ucapan ayahnya. Menjual? Apa maksud ayahnya itu? Definisi menjual seperti apa yang dimaksud ayahnya itu?
"Apa maksudmu menjualku?" tanya Lucy dengan suara yang sedikit tercekat.
"Ckk ... tidak usah sok polos! Ada seorang pengusaha yang ingin membeli keperawananmu! Bahkan dengan harga yang fantastis! Untungnya aku sangat pandai dalam urusan menawar." Brady terkekeh sendiri.
"APA KAU GILA?!" teriak Lucy dengan suara menggelegar.
"Gila? Tentu saja tidak! Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku. Aku memang tidak pernah menyayangimu, tapi kau tidak akan bisa hidup jika aku tidak memberimu makan! Jadi, anggap saja kau membayar biaya yang selama ini aku keluarkan untuk membesarkanmu," kekeh Brady tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Lucy menggeleng tidak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya sendiri. Dia tidak pernah menyangka jika ayahnya adalah sosok yang seperti itu. Bukankah memang seharusnya seorang ayah membesarkan anaknya sendiri? Ah, dia benar-benar tidak habis pikir. Sebenarnya makhluk jenis apa ayahnya itu? Bagaimana mungkin dia sama sekali tidak memiliki hati nurani, bahkan rasa kasihan sedikit saja?
Brady menatap jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. "Sebentar lagi laki-laki itu akan datang! Pastikan jika kau benar-benar melayaninya dengan baik, dan memuaskannya, karena dia adalah orang yang handal dalam bermain di atas ranjang. Saya yakin jika kau pasti akan sangat ketagihan dengan permainan panas tersebut." Brady berkata tanpa rasa bersalah sedikit pun, seolah-olah ucapannya itu biasa saja, tanpa menyadari jika ucapannya itu baru saja menyakiti hati putrinya sendiri.
Brady segera pergi dari sana, tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah, dia segera berbalik lagi karena lupa mengatakan sesuatu. "Ah, iya. Jika setelah ini kau merasa ketagihan, jangan sungkan menghubungi saya. Saya akan dengan senang hati membantumu untuk menjadi j*l*ng di sebuah Club dengan harga tarif yang tinggi. Tetapi uang tersebut dibagi dua!" ucap Brady yang membuat hati Lucy bagaikan ditusuk ribuan jarum. Padahal dia masih dalam suasana duka, tetapi ayahnya itu kembali membuat masalah. Tidak bisakah ayahnya itu memberikan dia waktu untuk menghirup udara segara sebentar saja.
"Yah, aku mohon. Jangan jual aku. Aku akan melakukan apa pun yang Ayah minta, tetapi tolong jangan jual aku seperti ini. Kalau Ayah ingin menjodohkan aku, maka aku siap! Tolong, Yah ...." Lucy memohon pada ayahnya sendiri dengan mata yang berlinang air mata. Rasanya ingin sekali dia melepaskan tali yang melekat di tangan dan kakinya, tetapi apalah daya, ikatan tersebut sangat kencang sehingga membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cih ... sayangnya aku tidak tertarik dengan negosiasimu. Kau harus tetap melayani pria itu. Jika kau mampu membuatnya merasa puas, aku yakin dia akan memberikanmu bonus untuk jajan. Jangan pernah kecewakan saya!" Setelah mengatakan itu, Brady segera pergi keluar dari dalam kamar tersebut dengan santai.
"ANDA BR***SEK BRADY!" Lucy mulai berteriak memaki ayahnya sendiri. Bahkan dengan lancangnya dia memanggil nama ayahnya tanpa embel-embel ayah.
"ANDA BAJ***AN!"
"ANDA MEMANG TIDAK PANTAS DISEBUT SEBAGAI MANUSIA! DASAR IBLIS!" Lucy terus berteriak memaki ayahnya, tetapi ayahnya terlihat seperti tidak pedulubsama sekali. Bairkan saja perempuan itu terus-terusan berteriak, palingan jika dia merasa lelah, dia akan berhenti dengan sendirinya. Kini yang perlu dia lakukan hanyalah bersenang-senang dengan uang yang sangat banyak tersebut, karena Abercio baru saja memberikan dia uang DP nya terlebih dahulu, sehingga membuatnya memekik bahagia.
Lucy menangis di dalam kamar tersebut dengan bahu yang bergetar hebat.
Sementara Brady, begitu dia keluar, dia berpapasan dengan Abercio. Segera saja dia menunduk hormat pada laki-laki itu,karena perusahaan miliknya itu bisa saja langsung dihancurkan oleh Abercio dengan sebentar.
Tbc
.
.
.
__ADS_1