
Nathan nampak terkejut dengan kehadiran wanita yang beberapa hari belakangan ini tidak terlihat olehnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Lucy penasaran. Setahunya perusahaan Nathan cukup jauh dari restoran ini. Lantas, apa yang membuat pria itu mampir ke restoran dekat kantornya? Mungkin kah karena pekerjaan?
"Aku?"
"Iya, kamu ...."
Seketika Lucy merasa gemes dengan tingkah Nathan. Memangnya siapa lagi yang dia ajak berbicara jika bukan pria itu? Jelas-jelas tatapan mengarap ke Nathan.
"Aku ke sini karena iseng aja. Katanya di sini steaknya enak, jadi aku penasaran," seloroh Nathan asal.
Dengan percayanya Lucy mengangguk. Memang sih, restoran di dekat kantornya ini memang menyediakan steak yang luar biasa enaknya. Bahkan banyak pengunjung baru yang datang ke restoran tersebut hanya karena ingin mencicipi steak yang konon terkenal sangat enak.
"Boleh aku duduk di sini?"
"Duduk aja."
Lucy segera mendaratkan bok*ngnya di kursi yang berada di hadapan Nathan. Senyum manis terus dia berikan. Memindai penampilan Nathan sekarang, entah kenapa dia malah ingin tertawa, apalagi melihat kantung mata Nathan yang menghitam. Sepertinya laki-laki itu terlihat sangat kacau sekali.
"Kamu kenapa? Kok penampilan kamu tiba-tiba berubah? Banyak pikiran?" Lucy berkata dengan penuh kelemah lembutan.
"Lumayan. Gue lagi pusing mikiran rumah tangga gue," jawab Nathan sekenanya.
"Memangnya ada masalah apa kamu sama istri kamu?" Kembali Lucy bertanya, seolah memang tidak tahu permasalahan laki-laki di depannya. Padahal dia sendiri lah yang menciptakan drama itu semua.
Nathan hanya tersenyum kecut, sama sekali tidak berniat menceritakan apa pun pada wanita di depannya. "Adalah. Kayaknya gue nggak bisa ngasih tau lo."
"Apa pun yang terjadi sama kamu, aku turut prihatin, ya. Aku harap semua masalah kamu bisa segera teratasi. Jangan pernah sungkan untuk cerita sama aku kalau kamu memang perlu teman untuk bercerita."
Tatapan teduh yang diberikan Lucy mampu membuat Nathan terdiam. Rasanya dia masih tidak percaya kalau ternyata Lucy adalah wanita iblis. Bagaimana mungkin sifat iblisnya itu bisa tertutupi oleh wajah malaikatnya.
"Lucy ... gue capek ...." Nathan berkata dengan suara lirih dan lemah. Dia menunduk, perlahan air mata yang sedari tadi dia tahan jatuh membasahi pipinya yang tirus.
"Astaga, Nathan. Kamu kenapa nangis?" Sontak saja Lucy panik melihat pria yang dia cintai meneteskan air mata.
"G—gue capek. Gue capek sama semua ini." Nathan kembali berkata dengan terus menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Cerita sama aku, Nathan. Siapa tau aku bisa ngasih solusinya buat kamu," sahut Lucy dengan lembut. Kini dengan beraninya dia menggenggam tangan Nathan, sementara Nathan hanya diam saja, sama sekali tidak menolak genggaman tangan Lucy.
"Boleh nggak gue akhirin ini semua?" Alih-alih bercerita, Nathan justru kembali bertanya sembari menatap mata Lucy dalam-dalam.
Lucy terdiam. Dia pikir mengakhiri yang dimaksud Nathan adalah perceraian. Agar terlihat peduli, Lucy bahkan berpura-pura ikut menangis, seolah merasakan sakit yang Nathan rasakan.
"Jangan. Apa pun yang terjadi jangan pernah mengakhirinya secepat ini. Kamu harus kuat Nathan. Kamu harus percaya kalau badai pasti berlalu. Kamu percaya kan sama aku?"
"Jadi, apa gue nggak boleh mengakhirinya?" tanya Nathan memastikan. Dia menatap Lucy dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Untuk sementara jangan. Tapi kalau kamu udah capek banget, kamu bisa menyerah dan mengakhirinya saja."
"Gue kecewa—"
Belum habis Nathan berkata, tiba-tiba datang seorang pelayan membawakan pesanan Nathan dan Lucy.
"Permisi Kak. Ini pesanannya."
Lucy mengangguk ramah pada pelayan tersebut, tetapi meski puj demikian, dalam hati dia mengumpat habis-habisan pelayan itu karena sudah mengganggunya. Setelah memastikan pelayan tersebut benar-benar pergi, Lucy kembali menatap Nathan dengan tatapan lembut.
"Tadi kamu mau bilang apa, Than?"
Dan detik itu pula Lucy mende-sah panjang. Padahal dia sudah tidak sabar mendengar cerita menyedihkan itu keluar dari mulut pria bernama Nathan. Sial! Ini semua gara-gara pelayan tadi.
Akhirnya dengan penuh keterpaksaan Lucy menyantap makanan yang tersedia di depannya. Bagaimana pun dia tetap harus terlihat elegent, seolah tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan pria yang dia cintai.
"By the way, lo ngapain di sini, Lus?" tanya Nathan di tengah-tengah aktivitas makannya.
"Aku?" Lucy menunjuk dirinya sendiri. "Kebetulan aku pemilik perusahaan Darcy Group. Jadi, emang sengaja makan di sini."
Mendengar penuturan Lucy, Nathan sedikit terperanjat. "Maksudnya gimana? lo punya perusahaan?"
"Iya, aku punya perusahaan. Ya, Darcy Group itu perusahaan punya aku."
Tanpa tahu diri Lucy tetap mengatakan jika perusahaan itu miliknya, padahal jelas-jelas perusahaan itu milil suaminya yang memang dia yang diminta untuk menjalankannya. Namun, meski pun demikian, perusahaan itu masih belum bisa dikatakan seutuhnya milik Lucy, karena Darius sama sekali belum mengambil keputusan apa pun.
"Wah ... lo benar-benar hebat bisa punya perusahaan juga," puji Nathan dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
Nampak Lucy terkekeh mendengarnya. Hebat? Memang! Dia adalah wanita hebat sekaligus licik.
"Makasih banyak Nathan .... Kamu dari dulu emang nggak pernah berubah, selalu aja puji aku."
Nathan terdiam sebentar. Tapi tak berapa lama kemudian dia menatap Lucy dengan pandangan sayu.
"Kamu kenapa berubah, Lus?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Nathan.
Lucy menunduk. "Maaf, Than .... A–aku nggak bermaksud buat bohongin kamu. Aku benar-benar menyesal sudah berkhianat di belakang kamu. Aku terlalu bodoh, Than. Andai aku diberi kesempatan kedua, aku janji bakal nebus semua kesalahan yang udah aku perbuat." Perlahan cairan hangat jatuh membasuhi pipi Lucy yang tirus. Kali ini dia benar-benar menyesal. Andai saja dia bertemu dengan Nathan lebih dulu dibandingkan dengan Darius, maka dia pastikan akan setia pada Nathan.
"Nggak ada yang perlu disesalin. Toh semuanya udah terjadi juga, kan? Gue cuman minta supaya lo perbaikkin hidup lo supaya jauh lebih baik."
"Oh iya, gue harus pamit. Gue buru-buru mau balik ke kantor. Lo nggak apa-apa kan gue tinggal?" tanya Nathan karena dia sudah selesai makan.
"It's oke. Makasih untuk waktunya. Kalau boleh, bisa nggak kita ketemuan kayak gini lagi?" Lucy menatap Nathah dengan penuh harap.
"Bisa diatur. Oh iya, gue mau minta maaf sama kejadian di bar waktu itu. Gue benar-benar nggak bermaksud buat nampar lo kayak gitu. Itu semua murni karena pengaruh alkohol."
Mendengar penuturan Nathan, Lucy tersenyum senang. Sepertinya dia mendapat lampu hijau. Nathan terlihat tidak sedingin dulu padanya. Mungkinkah pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Mungkin Nathan memang belum bisa melupakan ia sepenuhnya.
"Nggak apa-apa kok. Tapi, kenapa pas kamu nampar aku itu, kamu sambil nyebut nama Dara?"
Sembari memasang jas, Nathan berkata dengan santai, "Gue lagi ada masalah sama dia. Entah gimana hubungan ini nanti. Tapi kemungkinan gue bakal pisah."
Tbc
.
.
__ADS_1
.