Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Kekejaman Lucy


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Kendrick setelah Leo keluar dari dalam ruangan dalam keadaan murka, sehingga membuatnya penasaran.


"Dia menolak tawaranku," jawab Lucy dengan sorot mata yang menajam ke depan.


"Anda gagal bernegosiasi dengan laki-laki itu?" tanya Kendrcik dengan suara mengejek. Lucy yang mendengarnya menggeram marah.


"Kau jangan mengledekku!" bentak Lucy dengan napas memburu. "Kita lanjut ke rencana ke dua!" perintah Lucy dengan mantap.


"Membu-nuh?" Kendrick bertanya untuk memastikan, dan dibalas anggukan mantap dari Lucy.


Kendrick menggeleng tidak percaya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran majikannya tersebut. Bagaimana mungkin wanita itu berniat menghabisi nyawa orang yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa? Inilah sosok majikannya yang tidak dia suka, majikannya itu bahkan tidak segan-segan melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa untuk kesenangannya sendiri.


"It's up to you! Memangnya siapa yang tidak tahu sifat keras kepala Anda?" Kendrick menyindir tanpa rasa takut sedikit pun. Tetapi respons Lucy malah terkekeh, dia sama sekali tidak merasa tersinggung dengan sindirian laki-laki yang menjadi anak buahnya itu.


Baru saja Lucy hendak membuka suara, Kendrick lebih dulu berkata dengan tegas, "Dan jangan menyuruhku untuk melakukannya! Aku tidak sudi sekali pun kau membayarku berkali-kali lipat."


Lucy terkekeh mendengarnya, tetapi dalam hati dia berdecih. 'Sok suci sekali laki-laki ini!'


"Tenang saja, aku yang akan turun tangan langsung. Kau hanya kutugaskan memantau situasinya saja. Dan jangan lupa hubungi aku jika Nathan sudah datang ke rumah sakit. Bagaimana? Jangan khawatir, bonusmu akan ku lipat gandakan." Lucy bertawar dengan anak buahnya sembari tersenyum manis. Tetapi bukannya luluh, Kendrick justru merasa jijik dengan senyum itu.


Kendrick menghembuskan napas kasar. "Baiklah, Anda bisa datang jam 7 nanti malam, karena rencananya Nathan akan ke sana setelah pulang dari kantor, karena itu sudah menjadi rutinitasnya," ucap Kendrick dengan wajah datarnya.


Nampak Lucy sedikit terkejut mendengarnya. Secepat itukah laki-laki itu mendapatkan informasi? Bahkan sebelum dia suruh?


"Bagaimana kau bisa tau? Aku bahkan belum menyuruhmu." Lucy berkata dengan kerutan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Hanya untuk memuaskan Anda," sahut Kendrick sedikit tidak minat. Lucy tentu tertawa nyaring mendengarnya. Astaga, anak buahnya ini seolah-olah bisa membaca situasi, sehingga cepat mengambil tindakan tanpa disuruh terlebih dahulu, padahal dia sendiri tadi sangat percaya diri jika Leo pasti akan mau bekerja sama dengannya, tetapi dia justru salah. Dan lihatlah ... Kendrick seakan tau itu semua.


"Ah, kau benar-benar yang terbaik, Ken. Boleh aku memelukmu?" tanya Lucy sambil merentangkan tangannya. Tetapi tatapan Kendrick justru menajam menatap Lucy yang sedang tersenyum manis.


"Menjijikkan!" gerutu Kendrick yang sontak membuat Lucy tertawa terbahak-bahak.


"Ckk ... aku hanya bercanda! Kau pikir aku wanita murahan?" Rasanya Lucy tidak terima dengan tatapan anak buahnya yang seolah melihat dia sebagai wanita murahan. Dia sama sekali bukan wanita yang seperti itu. Kenapa dia sudah tidak perawan saat berhubungan dengan Darius? Ada cerita di balik itu semua, dan itu semua dia pendam. Tidak ada yang tahu sisi kelam hidupnya.


"Mungkin. Anda bahkan menghasilkan Ronald yang bukan anak Darius," sahut Kendrick santai.


Plak


Lucy menampar pipi Kendrick karena saking kesalnya dengan laki-laki itu. "Jangan ikut campur urusanku Kendrick! Lakukan saja tugasmu!" bentak Lucy dengan kilatan marah di matanya. Setelah itu Lucy pergi dengan napas memburu.


Sementara Kendrick yang masih berada di dalam ruangan menggeram marah merasakan panas di pipinya.


"Ckk ... dia benar-benar menjengkelkan!"


********


Jam menunjukkan hampir pukul enam. Kini Lucy dan Kendrick sedang berada di mobil. Tujuan mereka saat ini yaitu menuju rumah sakit di mana ayah Leo dirawat.


Lucy terlihat gugup. Entahlah, dia belum pernah turun tangan seperti ini, karena biasanya dia hanya memerintahkan orang lain. Awalnya dia berniat menyuruh orang lain saja, tetapi dengan tegas Kendrick menolaknya dengan mengatakan semuanya akan semakin runyam jika menyuruh orang lain, dan akhirnya Lucy mengiyakan karena apa yang diucap Kendrick ada benarnya juga.


"Kenapa? Apa Anda gugup?" tanya Kendrick sekilas melihat Lucy yang duduk dengan tidak tenang.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Lucy jujur.


Kendrick tidak bersuara lagi. Dia memilih untuk diam saja sambari fokus menatap jalanan. Tak berselang lama mobilnya akhirnya sampai di sebuah rumah sakit besar. Kendrick segera menepikan mobilnya di parkiran.


"Silahkan Anda keluar, Nyonya." Dengan santainya Kendrick mengusir Lucy.


"Doakan aku semoga berhasil, Ken," ucap Lucy yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Kendrick.


"Anda melakukan perbuatan dosa, dan malah meminta saya mendoakan Anda? Apakah Anda waras, Nyonya?" Lucy sontak tertawa. Benar juga! Kenapa dia sekarang bersikap seolah ingin melakukan hal positif?


"Tidak perlu berbicara dosa di hadapanku! Kau saja belum tentu suci!" ketus Lucy, lalu segera keluar dari dalam mobil.


"Ingat, waktu Anda hanya 30 menit saja!" ucap Kendrick yang diangguki oleh Lucy.


Lucy segera masuk ke dalam rumah sakit besar tersebut. Kegugupan semakin melanda dirinya, tetapi sebisa mungkin dia bersikap tenang. Dengan sengaja dia menggunakan kaca mata dan masker hitam agar tidak ada yang mengenalinya, karena jika ada yang kenal dia, dan tau dia pergi ke rumah sakut, maka semuanya akan semakin runyam. Bukannya mendapatkan pujaan hatinya, dia malah mungkin akan bersemayam di sel tahanan.


"Ruangan VIP nomor 06," gumam Lucy sembari melihat nomor-nomor ruangan VIP yang ada di rumah sakit tersebut. Untungnya Kendrick sudah memberitahukannya di ruangan mana ayah Leo dirawat. Jadi, dia tidak perlu repot-repot bertanya pada receptionist, karena itu akan berpengaruh buruk untuk dirinya.


Senyum manis mengembang di bibir Lucy saat melihat ruangan yang bertuliskan 'VIP 06'. Segera dia masuk ke dalam ruangan tersebut. Tetapi keningnya langsung mengerut saat melihat siapa yang sedang berbaring di kasur rumah sakit tersebut. Bukankah dari informasi yang dia dapat, yang sakit itu adalah ayahnya Leo? Lalu kenapa yang sedang berbaring itu seorang wanita paruh baya?


Drttt .... Drttt


Lucy sedikit terlonjak kaget mendengar suara dering handphonenya. Dia menggeram marah melihat nama Kendrick yang tertara di layar handphonenya. Tetapi segera dia angkat karena ada yang ingin dia tanyakan juga.


"Halo, Ken? Yang sakit sebenarnya ayah Leo atau Ibunya?" Lucy bertanya dengan sedikit berbisik.


"Ah, maaf Nyonya. Saya salah memberikan informasi kepada Anda. Maksud saya ruangan VIP nomor 16. Di sana Ayah Leo dirawat."


Seking kesalnya, Lucy segera mematikan panggilan tersebut, lalu keluar dari dalam ruangan. Dia segera berjalan mencari ruangan VIP nomor 16.


Lucy semakin kesal saat tau jika ruangan VIP nomor 16 ada di lantai atas. Terpaksa dia menunggu lift selanjutnya karena lift sebelumnya sudah penuh.


Setelah lift terbuka, dia segera masuk. Lucy terus memperhatikan jam, dia takutnya terlambat sedikit saja, maka dia akan ketahuan oleh Nathan. Saat sampai, dia langsung keuluar dari dalam lift, lalu sedikit berlari mencari ruangan VIP nomor 16.


"Got it!" seru Lucy saat melihat ruangan VIP nomor 16. (Dapat!)


Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Lucy segera masuk ke dalam ruangan VIP tersebut. Dapat dilihatnya jika di dalam ruangan itu terdapat benda kecil yang dia yakini adalah CCTV. Untungnya Kendrick sudah mengatur semuanya, dan mematikan CCTV di rumah sakit tersebut. Jadi, dirinya tidak perlu khawatir lagi.


Lucy menatap seorang pria paruh baya yang sedang tertidur nyenyak tersebut. Seringai jahatnya muncul di bibirnya. Sekarang dia terlihat seperti seorang psikopat saja.


"Hanya seperti ini? Ini bahkan terlalu kecil!" Lucy menjentikkan jarinya ke udara. Perlahan dia mendekati pria itu. Sebelum dia memulai rencananya, dia terlebih dahulu memasang menempelkan penyadap suara di bawah kasur yang ditempati Bima. Dia sengaja meletakkannya karena ingin mendengar apa saja yang terjadi nantinya.


Lucy membelai lembut pipi Bima sehingga membuat tidur Bima terganggu. Perlaham Bima membuka matanya, keningnya mengerut melihat seorang wanita yang tidak dia kenali berdiri di sampingnya dengan senyum manis. Tumbun sekali yang masuk bukan perawat yang sering datang. Pikir Bima.


"Ada apa?" tanya Bima dengan suara lemahnya.


"Aku ingin bertemu dengan Anda, Tuan," jawab Lucy dengan ceria.


"Ada perlu apa, Nak? Kamu siapa? Saya bahkan tidak pernah melihat kamu sebelumnya," tutur Bima yang mengira wanita di depannya adalah wanita baik, karena wajah Lucy sama sekali tidak menunjukkan jika dia adalah wanita yang jahat.


"Aku?" Lucy menunjuk dirinya sendiri. "Aku pencabut nyawamu," sambung Lucy sedikit berbisik.

__ADS_1


"Maksu— mphhh ...." Bima melotot saat wanita itu menarik selang masker oksigennya, sehingga membuatnya sulit bernapas. Tanpa bantuan dari alat itu, dia mungkin akan mati.


Tangan Bima berusaha menggapai selang masker oksigen tersebut dari tangan Lucy. Dia benar-benar tidak menyangka jika wanita di depannya adalah orang jahat, dan berniat membun-uhnya.


"Mau ini?" Lucy terkekeh, sama sekali tidak merasa kasihan melihat pria di depannya yang napasnya mulai tersendat-sendat. Apalagi wajahnya mulai terlihat pias. "Anda itu udah terlalu tua. Jadi, jangan nyusahin jadi orang! Lebih baik Anda say good bye pada dunia, dan tinggal di alam baka sana! Kasihan Nathan ku harus mengeluarkan uang banyak uang untuk biaya pengobatan Anda!" ucap Lucy tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Tringg....


[Segera pergi, Nyonya! Nathan sudah sampai dan berjalan masuk menuju ruangan tersebut!]


Pesan yang dikirim oleh Kendrick sontak membuat Lucy panik. Dia segera keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Bima yang napasnya masih tersendat-sendat. Mungkin sebentara lagi akan langsung mati!


********


Sementara Nathan berjalan santai menuju ruangan ayahnya dengan senyum yang mengembang. Di tangannya ada sebuket bunga yang memang dia beli tadi special untuk Bima. Nathan memang selalu menyempatkan membeli bunga untuk Bima, tujuannya untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada pria paruh baya itu.


Ceklek ....


Nathan membuka pintu ruangan di mana ayahnya dirawat.


"Aya— ASTAGFHIRULLAH!" Nathan memekik melihat selang masker oksigen yang terlepas dari wajah Bima. Bagaimana itu bisa terjadi? Itulah pertanyaan yang ada di benak Nathan.


Nathan berlari menuju Bima. Tubuhnya membeku, di depan matanya sendiri dia melihat orang yang sangat dia sayangi menghembuskan napas terakhirnya.


"A–Ayah ...." Lidah Nathan terasa kelu. Dia memegang selang masker oksigen yang terlepas itu. Tetapi sangat disayangkan, bertepatan dengan itu semua, pintu dibuka, dan muncullah Leo.


Sementara Leo membelalakkan matanya melihat apa yang dilakukan oleh Nathan. Di depan matanya sendiri dia melihat Nathan memegang selang masker oksigen ayahnya.


"NATHAN APA YANG LO LAKUIN KE AYAH GUE?!"




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2