Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Hamil?


__ADS_3

Pisah? Lucy bertanya-tanya dalam hati. Apa maksud Nathan berpisah yang dimaksud itu bercerai? Jika memang benar, maka dapat dipastikan Lucy lah wanita paling bahagia di dunia ini.


'Udah gue bilang, drama itu hal kecil bagi Lucy.'


"Pisah?" ulang Lucy, memastikan apa maksud pisah yang diucapkan Nathan.


Bukannya menjawab, Nathan hanya tersenyum tipis, lalu segera beranjak dari sana. Segera dia lajukan kendaraan beroda empat miliknya tersebut. Bukannya melajukan mobilnya menuju perusahaan, Nathan malah dengan santainya melajukan mobil menuju rumahnya.


Ketika sudah sampai, Nathan segera memparkirkan mobilnya di parkiran, lalu turun dari mobil dengan berjalan santai masuk ke dalam rumah.


Begitu masuk ke dalam rumah, tatapan Nathan mulai menajam. Aura dinginnya memenuhi seisi ruangan, apalagi ketika dia melihat sosok wanita yang sedang duduk di ruang tamu, sepertinya menunggu kedatangannya.


Dara sendiri segera menghampiri suaminya.


"Kamu udah pulang?" Berbeda dengan dulu, kini Dara lah yang terlihat lebih lembut.


"Punya mata, kan?" Alih-alih menjawab, Nathan malah menanyakan balik dengan suara dinginnya.


"Biar ak— hmfff ...."


Belum selesai Dara menghabisi ucapannya, dia langsung membekap mulutnya saat merasa hendak muntah. Hal itu tentu membuat Nathan mengerutkan keningnya.


"Uwek ...." Dengan cepat Dara berlari ke arah kamar sambil tersebut membekap mulutnya.


"ASTAGFHIRULLAH, KAMU KENAPA SAYANG?" Nathan langsung berteriak histeris, lalu segera berlari mengejar istrinya yang sudah masuk ke kamar lebih dulu. Persetan dengan benda kecil yang terus mengawasi gerak-gerik mereka. Saat ini yang ada di pikiran Nathan hanya lah kondisi istrinya. Dia benar-benar kuatir dengan kondisi wanita itu.


Sesampainya di kamar, Nathan mendapati istrinya yang sedang berusaha memuntahkan isi perutnya tapi sayangnya yang keluar hanyalah cairan bening, mungkin karena sedari tadi Dara tidak makan apa-apa.


"Kamu kenapa Sayang?" Nathan terlihat sangat panik. Dia menghampiri istrinya lalu memijit pelan tengkuk wanita itu.

__ADS_1


"Ckk ... lo kagak liat apa gue lagi munta— uwek ...."


Karena terus-terusan muntah tapi tidak mengeluarkan apa-apa, Dara malah menangis, mungkin karena merasa sedikit sesak.


"Kamu baik-baik aja, kan? Perlu dibawa ke dokter?"


"Ke dukun aja, Than!"


"Lha? Ngapain ke dukun, Dar? Kamu disantet orang, ya?" Dengan polosnya Nathan menatap istrinya, sehingga membuat Dara kembali mual.


Uwekk


'Sialan nih istri! Masa langsung muntah begitu liat muka gue? Senajis itukah gue? Padahal kan suaminya ini gantengnya nggak ketulungan.'


"G–gue capek, Than ...." Dara bersandar pada dinding kamar mandi. Peluh keringat memenuhi wajahnya.


"Apa perlu Mas yang gantiin kamu muntahnya, Sayang?" tanya Nathan menatap polos istrinya.


Meski keadaan Dara masih lemah, tapi dengan sekuat tenaga dia menampar pipi Nathan, membuat laki-laki itu terkejut.


'Buset, masih sakit aja tetap berasa tamparannya. Untung istri, kalau kagak udah gue perk*sa si Dara.'


"Lo bisa serius dikit napa sih? Bisa nggak sehari aja lo waras dikit, hah? Bukannya cepat-cepat bawa gue ke rumah sakit, ini malah ngajak tawuran. Kalau gue mati gimana?" bentak Dara sambil menatap tajam suaminya.


"Ya cari istri baru aja," jawab Nathan tanpa rasa berdosa sedikit pun.


"GUE SERIUS UDIN!"


'Lah? Dikira gue becanda apa? Ya kalau Dara udah nggak ada mending gue nikah lagi aja. Kan kasihan si Joni nganggur.'

__ADS_1


"Kayaknya kamu hamil deh, Sayang," celetuk Nathan tiba-tiba yang wajahnya mulai serius.


Dara terdiam mendengar penuturan suaminya itu. Apa mungkin dia memang hamil? Tapi jika dihitung-hitung, dia memang terlambat datang bulannya.


"Hamil? Apa iya?"


"Mungkin, Dar. Apalagi kamu telat datang bulan, kan?" Nathan tahu sekali kisaran tanggal istrinya datang bulan.


"Kayaknya sebentar lagi kita bakal punya debay, Sayang!" Dengan penuh antusiasnya Nathan melompat seperti anak kecil yang lagi kegirangan diberi permen.


"Pantasan gue ngidam sesuatu dari semalam."


"What? Kamu kenapa nggak bilang sama aku kalau lagi ngidam? Aku nggak mau ya punya anak yang ngeces nantinya." Nathan menatap garang istrinya itu. Namun itu sama sekali tidak membuat Dara takut sedikit pun.


"Dari semalam gue ngidam, Than. Tapi gue nggak berani bilang sama lo."


"Emangnya kamu ngidam apa? Kasih tau aku!"


"Dari semalam gue ngidam pengen bunuh Lucy."


"ASTAGFHIRULLAH!" Mendengar apa yang diidamkan istrinya, Nathan tanpa sadar berteriak.


"Jangan bilang anak kita psikopat, Dar? Kamu ngidamnya juga jangan yang ngeri-ngeri Dar. Mangga kek, bakso, atau apalah. Masa ngidam bunuh orang."


"Halah, gue udah biasa makan begituan. Gue belum pernah makan daging manusia. Jadi, sekarang gue pengen makan daging manusia aja."


'Nak, kamu kenapa mer*sahkan?'


__ADS_1



Tbc


__ADS_2