
..."Gini amat ya hidup, padahal saya ganteng." ~Nathan....
..."Tuhan, apakah membunuh suami seperti Nathan adalah perbuatan dosa? Atau justru perbuatan mulia?" ~Dara....
Dara yang mendengarnya terdiam sebentar, berusaha untuk mencerna ucapan laki-laki itu. "Aaaaaa!" Setelah sadar, Dara sontak saja berteriak sehingga membuat Nathan langsung berlari menuju wanita itu. Tanpa basa-basi Nathan segera membekap mulut wanita itu, takutnya mereka yang mendengar teriakan Dara akan berpikir jika dia bermain kasar dengan wanita itu.
"Jangan kenceng-kenceng! Entar dikira saya mainnya kasar, padahalkan kita belum sampai belah duren!" bisik Nathan.
"Mhfff!"
"Ckk ... ngomong yang jelas dikit, Dar!" ketus Nathan tanpa melepaskan tangannya. Dara tentu jengkel mendengar ucapan suaminya tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa berbicara jelas sementara mulutnya sedang dibekap oleh Nathan.
Dara memukul tangan Nathan dengan sangat kuat, sehingga membuat laki-laki itu sedikit meringis kesakitan, dan langsung melepaskan tangannya dari mulut Dara.
"Lo mau bunuh gue?" pekik Dara, dan bertepatan dengan itu juga handuk yang meliliti tubuhnya terlepas, sehingga membuat tubuh Dara sontak membeku.
Sementara Nathan yang melihatnya, seketika semakin membuka mulutnya, dan tanpa sadar air liurnya menetes, seolah-olah Dara adalah santapan yang sangat nikmat.
"Ya Allah, emang benar kalau rezeki anak sholeh nggak akan kemana-mana," gumam Nathan, lalu menghapus air liurnya yang terus menetes tersebut.
Dara yang sadar sontak mengambil handuk tersebut, lalu melilitkan di tubuhnya dengan erat.
"Kenapa ditutupin?" pekik Nathan yang sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Sungguh, sepertinya jiwa m*esumnya meronta-ronta.
"Lo ...." Dara sudah kehabisan kata-kata untuk laki-laki di depannya itu. Napasnya sudah memburu, antara malu dan marah pada Nathan. "LO LIAT AJA! GUE BAKAL BUNUH LO, THAN!" teriak Dara menggelegar, lalu memunggut lingerie yang ada di atas lantai tersebut. Dara segera kembali, dan masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan campur aduk.
Nathan terdiam di tempat, laki-laki itu mengerjabkan matanya berkali-kali, kemudian menatap pintu kamar mandi dengan polos. "Ini jadi nggak sih belah durennya?" gumam Nathan, dia merasa sedikit aneh dengan respon yang diberikan istrinya, bukankah wanita itu juga ingin belah duren?
"Ternyata mulus euy! Gue kira hutan belantara. Gila sih, my Bini cakep banget kalau nggak pakai baju," kekeh Nathan. Jujur saja, saat handuk tersebut jatuh, pandangan Nathan sontak jatuh pada bagian tubuh Dara yang paling berharga, yaitu goa miliknya. Setelah itu pandangan naik ke atas, sehingga menampilkan perut rata milik Dara, dan begitu pandangannya semakin ke atas, dia disuguhkan dengan pemandangan yang amazing, yaitu dua bukit kembar, dengan ****** yang berwarna merah muda.
Nathan duduk di pinggir kasur, menunggu istrinya keluar dari dalam kamar mandi. Tak berselang lama Dara keluar dari dalam kamar mandi dengan lingerie berwarna merah yang asal dia comot tadi.
"Ajegile! Very very membuat si Joni berontak," gumam Nathan yang masih bisa didengar oleh Dara.
"Lo jangan macem-macem ya, Than! Kalau nggak, gue bakal bunuh lo!" ancam Dara, dengan tangan kanannya menutupi aset berharganya, dan tangan satunya menutup kedua gunungnya.
__ADS_1
Sial! Baju itu bahkan tidak benar-benar menutupi tubuhnya dengan benar.
"Lah? Kalau nggak macem-macem, berarti nggak belah duren, dong!" ketus Nathan yang tidak terima dengan ucapan istrinya itu. Bagaimana mungkin mereka tidak belah duren, sementara mereka sudah halal.
"Siapa juga yang pengen belah duren? Kalau lo berani menyentuh gue, gue bakal bunuh lo!"
Dara langsung berjalan menuju tempat tidur, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Nathan melotot, padahal Joni sudah sangat berontak di bawah sana, ingin sekali mengobrak-abrik lubang kenikmatan milik istrinya.
"Dara!" Kali ini Nathan sudah membentak istrinya, lalu berjalan mendekati wanita itu yang terlihat biasa saja.
"Pengen belah duren!" rengek Nathan, lalu tanpa persetujuan wanita itu, tangannya lebih dulu menjamah salah satu bukit Dara, sehingga membuat wanita itu melotot, tidak menyangka dengan keberanian Nathan.
Plak
Dara menampar pipi Nathan, sehingga membuat laki-laki terdiam, berusaha menikmati rasa yang tiada tara dari tangan istrinya.
"Lo tidur! Kalau lo nggak tidur juga, maka gue pastikan bakal buat lo tidur selama-lamanya. Gue pastikan bakal keluarkan seluruh kemampuan bela diri gue!" ancam Dara tidak main-main.
'Ya Allah, gini amat hidup Nathan. Padahal Nathan ganteng, lho.'
"Bodo amat! Dosa gue juga udah banyak! Palingan kalau gue masuk neraka, gue bakal seret lo ke sana juga!" ketus Dara asal.
"Jadi nggak belah duren nih?" tanya Nathan dengan pandangan sendu.
"Enggak, Than! Gue belum siap!" jawab Dara penuh penekanan.
"Oke, fine!" Nathan menjawab dengan angkuh. "Kalau kamu nggak mau, saya belah durennya sama tetangga sebelah aja!" sambung Nathan dengan mengancam.
"Perhatikan baik-baik wajah gue, Than!" perintah Dara dengan wajah seriusnya. Nathan dengan polosnya menuruti memandang wajah cantik istrinya tersebut. "Adakah muka gue keliatan peduli! Terserah! Lo mau main sama tetangga kek, sama sapi, atau sama ayam pun gue nggak mempersalahkan! Silahkan."
Nathan melongo mendengar jawaban istrinya. Haha, apakah ada seorang istri yang memiliki sifat seperti Dara ini? Sungguh, istri macam apa yang membiarkan suaminya belah duren dengan wanita lain! Bukannya melarang, wanita itu malah secara suka rela mengijinkan suaminya belah duren dengan wanita lain!
'Dara! Kamu itu memang pantas dikarungin aja!' Nathan berteriak di dalam hati. Andai ada karung di sekitarnya, maka dapat dipastikan dia akan memasukkan istrinya tersebut ke dalam karung, setelah itu membuangnya ke tong sampah!
__ADS_1
"Kamu nggak kasihan sama Joni? Dia pengen ketemu Ayank-nya, lho. Sebentar aja." Nathan memelas, berharap dengan cara itu Dara mau menuruti keinginannya. Tapi sepertinya itu hanya sia-sia saja.
"No! Gue belum siap!" Dara masih saja kekeuh. Meski dia tau jika dosa hukumnya jika tidak mau menuruti permintaan suaminya, tetapi mau bagaimana lagi? Dia benar-benar belum siap, apalagi melihat wajah m*esum suaminya tersebut.
Nathan berdecak kesal, lalu ....
Cupp
Karena merasa sangat gemes, Nathan langsung mendaratkan kecupan di bibir Dara, lalu segera berlari menuju kamar mandi, takut nyawanya tidak akan selamat jika terus berada di sana.
"Nathan sialan!" pekik Dara.
"Dasar istri durhaka!" sahut Nathan ikut berteriak.
'Tuhan, apakah membunuh suami seperti Nathan adalah perbuatan dosa? Atau justru mulia?' batin Dara.
Karena merasa kelelahan, Dara akhirnya terlelap tidur.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.