
"HUA ... KAMU KENAPA BARU BILANG SEKARANG, DAR!" Nathan berteriak heboh, sehingga membuat Dara terlonjak kaget. Tentu saja! Suara Nathan benar-benar sangat melengking.
"Memangnya ada apa?" Dara menjadi ikut panik, memangnya apa yang sudah dilakukan suaminya sampai dia sepanik itu?
Nathan menggeleng dengan kuat saat teringat dengan apa yang sudah dia lakukan. Astaga, karena dendamnya pada Leo, dia bahkan menghancurkan hidup laki-laki itu, tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
"Dar, saya udah buat kesalahan yang besar!" Nathan memandang wajah istrinya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Kesalahan yang besar?" beo Dara. "Emangnya apa?" Dara memicingkan matanya menatap Nathan, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Sepertinya kesalahan yang dibuat suaminya kali ini benar-benar besar.
"Dar!" Saking tidak mampunya Nathan menjelaskan, dia justru hanya terkekeh tidak jelas. Astaga, bagaimana mungkin dia bisa mengambil keputusan secepat itu?
"Nathan, kesalahan besar apa yang udah lo lakuin?" Dara menjadi geram sendiri melihat sikap suaminya yang sangat aneh tersebut. Sebenarnya apa yang sudah dibuat Nathan? Pikir Dara.
Nathan memang pintar sedari dulu, tetapi laki-laki itu juga ceroboh dari dulu, dia selalu mengambil keputusan sendiri tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.
"Nathan!" Kali ini Dara membentak saat melihat suaminya yang hanya diam saja, sama sekali tidak menyahuti ucapannya tadi, apalagi laki-laki itu terlihat melamun.
"Dar, saya udah ngehancurin kehidupan Leo," lirih Nathan, nyaris tak bersuara.
"Apa? Apa yang udah lo lakuin ke dia?" Dara tentu terkejut mendengar suaminya yang mengatakan jika dia sudah menghancurkan kehidupan Leo. Kahancuran berupa apa yang dimaksud laki-laki itu?
"Sa–saya udah ngehancurin perusahaan ayahnya Leo," jawab Nathan sambil menatap mata istrinya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
Ya, beberapa bulan yang lalu dia mendapatkan tawaran untuk bekerja sama dengan perusahaan W'N Group, perusahaan milik keluarga Leo. Tentu saja Nathan tahu, itu semua karena di sana tercantum dengan jelas siapa pemiliknya, yaitu ayah Leo sendiri, Bima. Nathan sangat mengenal ayahnya Leo, karena dia memang sering main ke rumah Leo, dan terkadang membawa Dara juga ke sana. Ayah Leo memang sangat baik padanya, bahkan dia menganggap dirinya sebagai anaknya sendiri, tak jarang pria paruh baya itu juga membela dirinya dan memarahi Leo, sehingga membuat Leo cemberut. Tetapi meski pun demikian, endingnya selalu barakhir dengan tertawa tidak jelas. Bima, Leo, dan dirinya sudah seperti sahabat saja, meski pun terpaut umur yang jauh.
Entah dari mana pikiran jahat itu datang, tiba-tiba saja Nathan berniat ingin membalaskan dendamnya pada Leo selama ini, yaitu dengan menghancurkan perusahaan ayahnya Leo, karena memang itu saja yang bisa dia lakukan. Dengan penuh keyakinan Nathan menerima tawaran tersebut, tetapi dia mengutus Sean untuk bertemu dengan Bima, dan membuat alasan jika dia tidak bisa hadir. Setelah kontrak kerja sama itu disetujui oleh kedua pihak, dan tentunya sudah ditanda tangani, Nathan langsung memulai rencana jahatnya. Pertama, dia mulai memasukkan penyusup ke dalam perusahaan Bima, kemudian dia sengaja melakukan kecurangan, tetapi kecurangan itu dianggap adalah kesalahan W'N Group, sehingga membuat Bima harus membayar denda, meski pun jumlahnya tidak terlalu banyak. Merasa sudah lelah bermain, Nathan langsung membuat kecurangan yang lebih besar, sehingga membuat perusahaan W'N Group seketika gulung tikar karena denda yang dikeluarkan dalam jumlah yang besar, dan Bima tentu tidak mampu untuk membayarnya, sehingga dia menjual perusahaan miliknya.
Hingga kini Nathan tidak pernah lagi mencari tahu tentang keberadaan Leo. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi maupun keadaan laki-laki itu, bahkan dia tidak peduli bagaimana perasaan Bima, pria paruh baya yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Tetapi meski pun dendamnya sudah terbayar, tetap saja trauma itu tidak bisa hilang, dan justru malah membuatnya merasa bersalah telah melakukan hal sejahat itu.
Dara menggeleng kepalanya dengan kuat. Bagaimana mungkin Nathan bisa sejahat itu pada sahabatnya sendiri? Lebih tepatnya bagaimana mungkin dia bisa berbuat jahat pada ayahnya Leo, sementara beliau tidak tahu apa-apa masalah yang terjadi? Sekarang Dara justru meragukan, apakah suaminya memang memiliki hati nurani?
"LO MASIH WARAS HAH?" Dara berteriak di depan wajah suaminya, napasnya memburu, dia benar-benar marah sekaligus kecewa dengan tingkah suaminya yang seperti kekanak-kanakkan. Ya, bagaimana tidak, tidak mungkin laki-laki dewasa berpikir sependek itu!
__ADS_1
"Kenapa kamu marah? Kamu kasihan sama Leo? Atau jangan-jangan kamu ternyata suka sama dia!" Nathan membela dirinya, dia merasa tidak suka melihat Dara yang membela Leo, seolah-olah laki-laki itu sedang sengsara, padahal dia jauh lebih sengsara.
"Lo dengan baik-baik ya Nathan Geovanni Adijaya!" Dara menunjukan wajah Nathan menggunakan jari telunjuk, bahkan dia menyebut nama panjang laki-laki itu, pertanda jika dia sedang marah sekali. "Yang salah itu siapa hah? Apakah Leo atau Ayahnya? Gimana ceritanya lo dendam sama Leo, tapi membalasnya ke Ayahnya? Eh, LO PUNYA HATI NURANI NGGAK SIH? Lo pikir pakai otak! Lo jangan bersikap kayak kekanak-kanakan! Lo itu terlalu bodoh sampai mengambil keputusan tanpa berpikir panjang! DIA ITU SAHABAT LO! Lo tau sendiri kan kalau Leo adalah anak tunggal, dan Ibunya udah meninggal. Lo tau sendiri kalau Leo cuman punya Ayahnya doang! Lo mikir nggak kalau apa yang udah lo perbuat itu sangat berpengaruh besar?!" Setiap ucapan Dara selalu diikuti dengan gaya tangan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya tersebut. Sebenarnya kemana otak pintar Nathan selama ini?
"Tapikan ... Leo bisa nyari kerja! Nggak mungkin juga dia cuman diam aja!" Mendengar penjelasan istrinya, Nathan jadi merasa bersalah. Apakah dia sudah sangat keterlaluan? Tetapi dia masih saja menolak jika dia bersalah.
"Kok gue ngeraguin ya kalau lo itu pintar? Sebenarnya otak pintar lo kemana sih?" Dara menatap sinis suaminya. "Dengan lo ngebuat perusahaan mereka bangkrut dengan berita jika Om Bima sendiri yang melakukan kecurangan, apakah masih ada perusahaan yang mau nerima Om Bima atau Leo, sementara mereka tau jika Leo sendiri adalah putra dari keluarga Winata?" Dara menatap suaminya dengan sorot mata tajam. Ah, sekarang dia malah mengkhawatirkan kondisi laki-laki yang dulu juga menjadi sahabatnya. Entah kenapa dia merasa jika kehidupan Leo sedang tidak baik-baik saja.
Nathan terdiam. Benar juga! Lantas, bagaimana kehidupan sahabatnya itu? Apalagi kondisi ayah Leo yang tidaklah kuat, mengingat umurnya yang sudah hampir setengah abad. Seketika perasaan bersalah menelusup masuk ke dalam relung hati Nathan.
"Lo terlalu kejam, Than!" Dara mengusap air matanya yang sempat mengalir, baru saja dia berniat membangun rumah tangga yang harmonis dengan Nathan, tetapi kini dia kembali dibuat kecewa dengan ulah laki-laki itu.
"Da–Dar, apa yang harus saya lakukan? Saya udah berbuat jahat sama Leo?" Nathan menatap mata istrinya, meminta saran apa yang seharusnya dia lakukan.
"Gue nggak tau, tapi gue kecewa sama lo!" lirih Dara.
************
"Hiks ... Hiks ...." Laki-laki itu menangis dengan sesenggukan.
"Ke–kenapa? Kenapa ini terjadi Tuhan?" gumam laki-laki itu.
Dia adalah Leo! Kini kehidupan Leo benar-benar menyedihkan, dia benar-benar sengsara sejak perusahaan milik ayahnya bangkrut.
Karena tidak sanggup menerima kenyataan, ayahnya mengalami serangan jantung, dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Dokter menyarankan agar ayahnya dirawat inap, karena takut jikalau sewaktu-waktu ada kejadian yang tidak diinginkan. Leo yang sangat menyayangi ayahnya tidak pikir panjang langsung menyetujui, tetapi saat dia membayar administrasi, dia terdiam karena jumlahnya yang tidak sedikit, apalagi dia memang meminta perlayanan khusus untuk ayahnya. Tanpa pikir panjang dia segera menjual harta benda milik mereka, dari mobil, hingga barang mahal lainnya, bahkan Leo sampai harus mengeluarkan uang tabungan yang sudah dia tabung sejak SMA dulu. Kini yang ada di pikirannya hanyalah kesembuhan ayahnya.
Sebulan kemudian datang pihak BANK dan menyita rumah milik mereka dengan alasan ayahnya yang tidak mampu membayar uang yang sudah dipinjamkan, apalagi pinjaman uangnya dalam jumlah yang tidak sedikit. Ternyata uang dari menjual perusahaan saat itu masih tidak cukup untuk membayar denda pada salah satu perusahaan, yaitu ADJ Company yang dia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Dengan terpaksa dia meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan manis tersebut, lalu memilih untuk mengontrak saja, karena untuk membeli rumah baru dia tidak punya uang. Sebenarnya ada, tetapi itu semua sudah dia siapkan untuk pengobatan ayahnya.
Sudah tidak terbilang berapa banyak perusahaan yang sudah dia coba lamar, tetapi hasilnya tetap saja nihil! Tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerimanya hanya karena dia anak dari Tuan Winata, karena mereka semua berpikir jika ayahnya adalah sosok yang licik dalam dunia bisnis. Tetapi meski pun demikian, dirinya tidak menyerah begitu saja, dia tetap mencari pekerjaan meski pun endingnya dia selalu ditolak mentah-mentah. Karena tidak mendapat pekerjaan sama sekali, Leo akhirnya memutuskan untuk menjual motor kesayangannya, motor yang dia beli bersamaan dengan motor Nathan, apalagi gayanya sama, hanya berbeda warna, karena motor Nathan berwarna hitam, sedangkan motornya berwarna merah. Uang yang dia dapatkan dia gunakan lagi untuk membeli motor biasa saja yang sudah setengah pakai, dia berencana untuk menjadi tukang ojek saja, karena itulah pekerjaan yang tidak memerlukan persetujuan siapa pun.
Selama dua bulan ayahnya masih koma. Dia benar-benar merasa terpukul, setiap hari dia berdoa untuk kesembuhan pria paruh baya tersebut. Setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk ayahnya meski pun di tengah kesibukan yang dia hadapi. Lelah? Tidak ada kata lelah untuk super hero yang selama ini ada untuknya!
Saat dia mendengar ayahnya yang sudah siuman, dia tentu merasa sangat senang, dan segera menjenguk ayahnya ke rumah sakit, padahal dia belum mendapatkan uang sama sekali hari itu. Leo dapat melihat kesedihan ayahnya saat melihat dirinya yang menggunakan jaket ojek. Berulang kali Bima meminta maaf pada dirinya, tetapi selalu dijawab Leo 'Ini bukan salah ayah.'
__ADS_1
Sebulan kemudian kondisi ayahnya semakin membaik, bahkan kini dia mampu untuk berjalan jika ingin pergi ke toilet. Leo sendiri kini selain menjadi tukang ojek, dia juga mencari tambahan dengan menjadi OB di perusahaan N'D Group, perusahaan yang dia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Itu semua berawal saat dia melihat poster yang bertuliskan sedang mencari tambahan OB. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia segera menerimanya. Dan alhamdulillah-nya dia diterima, meski pun mereka tau jika dia adalah putra dari Winata. Leo sendiri salut pada perusahaan tersebut, mereka sangat profesional, sehingga tidak mempermasalahkan bagaimana latar belakang orang tersebut, selagi dia ada niat, kemauan, dan pastinya keterampilan mereka pasti menerima.
Leo terkejut setengah mati saat mendapatkan kabar jika ayahnya mengalami stroke ringan akibat terbentur saat akan ke toilet. Segera dia minta ijin untuk pulang, lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai, air matanya menetes saat melihat kondisi ayahnya yang sedikit kesulitan untuk berbicara. Mati-matian dia bersikap biasa saja, seolah-olah sedang tidak bersedih, apalagi sampai menangis di depan ayahnya. Dia takutnya ayahnya akan semakin merasa bersalah.
Saat dia menghadapi dokter, tubuhnya bagai tersambar petir saat dokter mengatakan nominal yang harus dia keluarkan, karena perawatan yang dilakukan untuk ayahnya sekarang bukan perawatan biasa, tetapi perawatan untuk orang stroke. Leo hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Gu–gue dapat dari mana uang sebanyak itu?" lirih Leo dengan sesekali batuk.
"Tuhan, apa kesalahan hamba sampai Engkau terus memberikan hamba cobaan yang bertubi-tubi?" gumam Leo sambil menatap langit-langit rumah sakit.
"Apakah ini karma untuk hamba karena sudah menghancurkan hubungan sahabat hamba sendiri?" Leo terus berbicara sendiri.
Perlahan laki-laki itu meringkuk, kembali menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
'Than, gue kangen sama lo. Gue pengen curhat sama lo. Gue pengen bilang kalau gue nggak baik-baik aja. Gu–gue minta maaf atas kejadian sembilan tahun yang lalu'
Hmm, ada yang bisa nebak konflik cerita in? ><
TBC
Halo semuanya, aku mau minta maaf kalau selama ini aku update-nya cuman satu bab aja per harinya. Aku selalu sibuk dari pagi sampai jam 3 sore. Jadi aku cuman punya waktu dari jam 4, dan untuk buat satu eps itu memerlukan waktu sekitar 2-3 jam (Lama amat, ya? Iya! Apalagi kalau lagi buntu wkwk)
Nah, sebenarnya satu eps ini isinya sebanding kok dengan dua eps, tetapi aku emang sengaja buat jadi satu aja. Jadi anggap aja aku double update ya😆
__ADS_1