Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Bertemu Kembali dengan Lucy


__ADS_3

"Widih, balik juga lo akhirnya," kekeh Nathan sembari bertos ala pria dengan laki-laki yang beberapa hari ini cuti.


"Yaiyalah! Emangnya lo mau bayar gue kalau gue nggak kerja?" ketus Sean yang seketika jengkel.


Nathan justru semakin terkekeh. "Ogah banget gue! Emang lo siapa? Lo emang teman gue, tapi bisnis tetap bisnis!" jawab Nathan santai, dan langsung mendapat sentilan gemes dari Sean.


"Ah, udahlah! Sono lo kerja! Udah bertumpuk-tumpuk kerjaan yang harus segera lo kerjain!" Nathan menunjuk meja kerja Sean yang terlihat begitu banyak tumpukkan kertas dan documen. Melihatnya, Sean tanpa sadar melonggo. Padahal niat hatinya ingin bersantai-santai terlebih dahulu, tetapi rupanya memang tidak ada yang namanya berleha-leha.


"Buset dah! Itu si Leo kagak ada niat mau ngerjain gitu?" tanya Sean dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan. Sean memang tidak tahu apa-apa permasalahan yang terjadi dengan orang-orang terdekatnya tersebut.


"Dia udah nggak kerja. Udah berhenti," jawab Nathan yang langsung membuat Sean mengerutkan keningnya. Kenapa cepat sekali laki-laki itu berhenti? Padahal bisa dibilang Leo bekerja hanya beberapa minggu saja.


Sean menatap tajam sahabat sekaligus bosnya tersebut. "Jangan bilang dia berhenti karena lo ngasih pekerjaan yang nggak manusiawi. Lo pasti ngasih kerjaan nggak nanggung-nanggung kan sampai-sampai dia nggak sanggup?" Sean memicingkan matanya pada Nathan.


"Kalau ngomong itu jangan sembarangan! Apakah mungkin muka ku yang menggemaskan ini jahat pada sekretarisku sendi—"


"Oh, tentu saja!" celetuk Sean lebih dulu sehingga membuat Nathan berdecak kesal, karena perkataannya dipotong.


"Ah, malas gue cerita sama lo! Adek udah ngambek sama Abang!" Nathan memanyunkan bibirnya sehingga membuat Sean menatap jijik bosnya itu. Apakah sejak dia pergi, tinggah bosnya itu semakin menjadi-jadi? Menjadi-jadi gila maksudnya?


Nathan segera berjalan begitu saja meninggalkan Sean. Tapi, baru beberapa langakah, dia berhenti sebentar. "Mereka pengkhianat!" ucap Nathan dengan suara dingin dan menusuk, membuat Sean seketika tersentak, pasalnya suara Nathan memang sangat berbeda ketika berbicara biasa saja dan berbicara dingin.


"Maksud lo?" Sean memberanikan diri bertanya meski pun dia sedikit takut.


"Mereka mengkhianati saya!" Nathan kembali mengulang ucapannya, tetapi bukannya paham, Sean justru semakin dibuat bingung. "Jangan terus bertanya! Bekerja lah sekretaris Sean!" perintah Nathan dengan tegas saat melihat sekretarisnya yang hendak membuka mulutnya.


Sean yang awalnya memang berniat bertanya sontak menutup mulutnya kembali saat mendengar suara tegas bosnya itu, apalagi mendengarnya yang memanggil dirinya dengan embel-embel sekretaris, membuat dia tidak berani lagi mengeluarkan suara, meski hanya sepatah kata.


"Baik, Bos."


******


Sementara Lucy, sehabis dia mengantarkan putranya ke sekolah, dia melajukan mobilnya menuju perusahaan. Ya, perusahaan suaminya yang saat ini memang dia yang menjalaninya. Tetapi meskipun demikian, suaminya itu sama sekali belum berniat mengubah nama kepemilikkan perusahaan, sehingga membuat Lucy kesal setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kan dia mendesak suaminya untuk segera menanda tanganni surat tersebut, sementara untuk membuktikan jika suaminya memberikan dia perusahaan itu atau tidak, maka harus ada saksi yang menyaksikannya.


Selama di perjalanan, pikiran Lucy benar-benar kosong, dia hanya berusaha untuk fokus menatap ke depan. Dia benar-benar terkejut melihat kedatangan laki-laki yang dulu pernah menyeret dirinya ke atas ranjang laki-laki itu. Entah siapa namanya, namun yang pasti, dirinya hanya ingat wajah tampan laki-laki itu.


Setelah sampai di perusahaan miliknya, dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Segera saja dia hempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya, dan bersandar di sana.

__ADS_1


Tiba-tiba kejadian beberapa tahun yang lalu kembali terlintas di pikirannya.


"Andai saja aku nggak nekad pergi ke club waktu itu," lirih Lucy dengan pandangan sendu. Dia benar-benar menyesali perbuatannya yang pergi ke club waktu itu, sehingga membuatnya mabuk lalu melakukan hubungan terlarang tersebut dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.


"Tapi ... setidaknya sekarang ada Ronald. Maafin Mommy ya Sayang." Perlahan air mata jatuh membasahi pipi Lucy. Dia merasa bersalah pada putranya, karena harus lahir ke dunia tanpa pernah melihat ayah kandungnya sendiri.


Sebenarnya, selama dia berhubungan dengan Darius, tanpa sepengetahuan pria itu, dia selalu minum pil pencegah kehamilan. Sementara saat dia berhubungan dengan laki-laki itu, dia lalai minum pil tersebut akibat masih shock. Ternyata saat itu dia sedang subur-suburnya, dan hasil dari hubungan itu tidak bisa dielakkan. Pernah terbesit di pikiranya untuk menggugurkan janin tersebut, karena dia tau itu akan menghalangi jalannya. Namun, meskipun demikian, dia memilih untuk tetap mempertahankannya saja.


"Lagian, kenapa dia harus kembali? Bagaimana jika dia bertemu dengan anakku nanti," lirih Lucy lagi. Tiba-tiba ketakutan tanpa alasan menyelimuti hatinya. Dia takutnya ayah dari anaknya akan mengambil alih Ronald darinya pelukkannya.


Lucy akhirnya memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya yang justru membuatnya menelantarkan pekerjaannya yang menggunung tersebut.


Tak terasa sudah tiba waktunya makan siang. Segera saja dia membersihkan meja kerjanya lalu berjalan keluar dari kantor untuk makan siang, karena jujur saja dia mulai kelaparan sekarang.


Lucy berjalan santai menuju salah satu restoran yang kebetulan ada di dekat kantornya. Sesekali dia membalas sapaan para karyawannya.


*******


"Yan, lo ikut gue makan siang nggak?" tawar Nathan menatap sekretarisnya yang sibuk memeriksa dokumen sambil berdumel.


"Tumben banget lo ngajak gue makan siang bareng? Ada apa gerangan? Biasanya juga istri lo yang bawain." Terlihat jelas kerutan di kedua alis Sean. Biasanya juga istrinya yang akan membawa makanan siang untuknya, bahkan dulu Dara pernah membawakan untuknya juga. Istri sahabatnya itu memang the best, dia sangat baik pada siapa pun.


"Iya juga sih." Seketika Sean ikut terkekeh. "Kayaknya gue nggak bisa deh, gue pesan aja nanti," lanjut Sean sedikit merasa bersalah.


Respons Nathan justru biasa saja. "Yaudah deh, ada bagusnya juga, jadi gue nggak usah ngetraktir lo," sahut Nathan santai, lalu berjalan santai meninggalkan Sean yang berdecak kesal. Bosnya itu memang tidak ada pekanya sama sekali. Alih-alih menawarkan, dia justru asal pergi saja, memang tidak bisa diajak basa-basi!


"Sialan lo Bos!" teriak Nathan menggelegar, dan dibalas kekehan Nathan.


Nathan segera berjalan meninggalkan perusahaan, dan masuk ke dalam mobilnya.


[Sabar Abangku yang paling byurik! Ini Adek udah otw kok. Love you Abang. Terimalah ciuman Adek, muachh ....]


Begitulah isi pesan yang dikirim Nathan pada seseorang yang terus menerornya sedari tadi. Dia terkekeh sendiri membaca pesan yang baru saja dia kirim itu. Entahlah, dia memang suka sekali menjahili laki-laki yang sepertinya sangat membencinya itu.


Segera saja Nathan melajukan mobilnya menuju salah satu restoran untuk makan siang. Tak berselang lama dia akhirnya sampai di sebuah restoran, segera saja dia duduk di sana, menunggu seseorang di sana.


********

__ADS_1


Lucy masuk ke dalam restoran, dan duduk di salah satu kursi dengan gaya elegan. Segera dia pesan beberapa menu makanan. Sembari menunggu, Lucy iseng-iseng membuka ponselnya, melihat apakah ada berita terbaru.


"Ckk ... apa kalian tidak becus bekerja hah?!"


Lucy yang sedang fokus dengan ponselnya langsung mengalihkahkan pandangannya saat mendengar bentakkan seseorang.


Matanya sontak membulat melihat siapa yang baru saja berteriak tersebut. "Nathan?" gumam Lucy yang masih tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Seketika senyum manis terbit di bibir Lucy. Sepertinya dia dan Nathan memang berjodoh hingga bisa bertemu tanpa adanya rencana. Ya, bisa dibilang pertemuan yang tidak disengaja.


"Kayaknya kita emang berjodoh, Baby," gumam Lucy sembari tersenyum simpul.


Tanpa basa-basi Lucy segera berjalan menghampiri Nathan yang terlihat masih marah, mungkin karena kesal pada pelayan tadi.


"Nathan," sapa Lucy dengan suara yang mengalun indah.


Nathan mendonggakkan kepalanya mendengar suara merdu tersebut. Seketika netranya bertubrukan dengan tatapan teduh Lucy.


"Lucy?"




Tbc



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2