
"Baik, ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi saat itu," ucap Nathan akhirnya. Dia memilih untuk berusaha mendengarkannya terlebih dahulu, baru setelah itu menimbangnya, apakah masuk akal atau tidak. Meski Dara adalah istrinya sekarang, tetapi sejak kejadian itu, dia sudah tidak pernah lagi mau mempercayai siapa pun.
"Dan apakah lo akan percaya kalau gue cerita?" tanya Dara, memastikan apakah Nathan akan percaya jika dia bercerita, karena percuma saja dia bercerita jika pada akhirnya suaminya tidak akan percaya nantinya.
"Tergantung," jawab Nathan singkat.
Baru saja Dara ingin menjelaskan, tiba-tiba dia teringat dengan sesuatu. Pertanyaan yang selama ini dia pendam, yaitu kenapa Nathan bisa salah paham, sementara seingatnya Leo menyebut nama 'Lira' bukan 'Dara'. Seharusnya Nathan tidak akan salah paham, kan?
"Sebelum itu gue pengen nanya. Memangnya apa yang lo dengar saat itu?" tanya Dara, dia ingin memastikan terlebih dahulu di mana letak kesalahpahaman itu.
Mendengar pertanyaan istrinya, Nathan langsung menggeleng dengan kuat. "Enggak! Saya nggak ingat apa-apa!" jawab Nathan cepat. Nathan terus menggelengkan kepalanya saat ingatan itu kembali melintas di pikirannya. Tidak! Dia tidak ingin teringat dengan kejadian itu lagi. Tapi, bagaimana cara menghilangkannya?
Dara dapat melihat jika suaminya hanya berpura-pura lupa. Dia tau jika ingatan itu sangat membekas di hati dan pikiran laki-laki itu, karena jika Nathan tidak ingat, maka tidak mungkin dia mengalami depresi berat seperti itu. Hati Dara bagai tertusuk sebilah belati saat melihat suaminya yang terus menggeleng, mungkin karena teringat dengan kejadian itu.
"Than, saat itu—"
"ARGG!"
Baru saja Dara mengeluarkan suara, berniat menjelaskan semua kesalahpahaman itu, dia terkejut saat mendengar suaminya berteriak, apalagi laki-laki itu menjambak rambutnya sendiri, dan itu terlihat sangat kuat.
"Than, lo kenapa?" Dara terkejut bukan main saat melihat suaminya yang terjatuh, lalu meringkuk layaknya orang yang ketakutan, apalagi air mata terus membasahi pipinya.
"Dar! ka–kalian jahat! A–apa salah saya Dar sampai kamu mengkhianati saya?" Nathan meracau dengan terus menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menangis.
Dara yang melihat suaminya seperti itu merasa sangat terpukul, apalagi Nathan terlihat sangat tersiksa. Dengan cepat Dara mendekap suaminya, dan membawa laki-laki itu ke dalam pelukannya. Air mata terus membasahi pipi Dara, dia sangat sedih melihat kondisi suaminya seperti itu.
Sementara Nathan terus menangis di dalam pelukan istrinya.
"Than, tolong jangan kayak gini!" lirih Dara sambil mengusap-usap punggung suaminya tersebut dengan lembut.
"Dar! Huh ... Sa–sakit ... Se–sesak!" Napas Nathan mulai terputus-putus karena saking merasa sesak di dadanya. Astaga, ini benar-benar sangat menyiksa dirinya. Padahal tadi dia sudah semaksimal mungkin menahan pikirannya agar tidak teringat dengan kejadian itu lagi, tetapi rupanya dia kalah, dan ingatan itu kembali lagi bagai roll film. Dia merasa seperti kembali menyaksikan kejadian itu lagi, dan semuanya terasa seperti nyata.
Dara melepaskan pelukkan mereka, lalu menangkup kedua pipi suaminya agar melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Lawan, Than! Lo pasti bisa ngelawan rasa trauma lo!" tegas Dara yang hanya dibalas gelengan oleh Nathan. Bagaimana mungkin dia melawannya? Sementara semakin dia berusaha untuk melawan, dia justru semakin merasa sakit dan sesak di dalam.
"Enggak bisa, Dar! Hiks ... Sa–sakit! Se–sesak!" Nathan meremas kuat dadanya, berharap dengan cara itu bisa mengurangi rasa sesak di dadanya.
Perlahan Nathan mulai merasakan sakit di kepalanya, kini pandangannya mulai mengabur, semaksimal mungkin dia berusaha untuk tetap kuat, tetapi percuma, sedetik kemudian dia pingsan dan terjatuh ke dalam pulakan istrinya. Ya, mungkin pingsan jauh lebih baik, dari pada dia terus tersiksa merasakan sakit itu.
Dara yang merasakan beratnya tubuh Nathan sontak panik saat mengetahui jika suaminya ternyata pingsan. Segera dia berteriak memanggil Sean, dan tak perlu waktu lama, Sean masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Buk? Astagfhirullah! Nathan kenapa?" Sean terkejut saat melihat bosnya yang pingsan.
"Cepat bawa suami saya! Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Dara tanpa menjawab pertanyaan sekretarisnya terlebih dahulu.
Sean terdiam mendengar perintah istri bosnya tersebut. Mengangkat Nathan? Yang benar saja! Badannya saja lebih kecil dari Nathan, lantas bagaimana caranya dia bisa mengangkat tubuh Nathan yang jumbo itu? Yang ada bukannya sampai, tapi justru mereka berdua yang sama-sama pingsan.
"Kamu kenapa diam aja? Buruan!" Dara membentak sekretaris suaminya tersebut saat melihat laki-laki itu yang tidak bergeming.
Sean terlonjak kaget mendengar bentakkan Dara, segera dia mengangguk kepalanya dengan cepat. "Ba–baik, Buk!" Bukannya langsung mengangkat Nathan, Sean justru keluar dari ruangan tersebut, sehingga membuat Dara melotot. Tetapi tak lama kemudian Sean datang dengan membawa dua karyawan laki-laki.
"Cepat bantu saya mengangkat Tuan Nathan!" perintah Sean pada kedua karyawan tersebut. Kedua karyawan tersebut mengangguk patuh, lalu mereka bertiga mulai mengangkat tubuh Nathan bersama-sama.
Akhirnya mereka bisa juga membawa Nathan sampai ke dalam mobil Dara. Segera Dara ikut masuk, dan duduk di belakang, menjaga Nathan di sana. Sementara Sean disuruh untuk mengemudi menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Dara terus mengelus kepala suaminya dengan lembut, dan sesekali memberikan kecupan di pucuk kepala laki-laki itu.
'Kenapa ini bisa terjadi?' Dara benar-benar merasa terpukul melihat keadaan suaminya seperti itu. Berkali-kali dia mengusap air matanya yang terus mengalir dengan deras.
"Maafin gue, Than. Ini semua salah gue. Gue emang jahat! Gue minta maaf sama lo! Gue nggak bermaksud buat bikin lo tersiksa kayak gini. Andai gue benar-benar menyusul lo ke London saat itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, mungkin lo nggak akan kayak gini! Tapi percayalah, gue sama sekali nggak pernah mengkhianati lo! Gue sangat sangat mencintai lo, dan nggak mungkin berselingkuh di belakang lo! Maafin gue. Hiks ... Hiks ...." Dara terus menangis di dalam mobil tersebut. Andai dan andai, dia hanya mampu berandai-andai saja sekarang. Berandai jika saja dia dulu mengikuti saran Leo untuk menyusul Nathan ke London dan menjelaskan semuanya, maka mungkin saja ini semua nggak akan mungkin terjadi! Nathan mungkin tidak akan sesakit ini.
Tetapi sekarang nasi sudah menjadi bubur. Dia sangat menyesali perbuatannya dulu yang terlalu egois dan hanya memikirkan perasaannya. Dia terlalu bodoh, sehingga hanya beranggapan jika hanya dia yang sakit di saat itu. Tetapi Nathan justru jauh lebih sakit dari dia, karena meski pun Nathan berusaha untuk menyibukkan dirinya, bayang-bayang kejadian itu terus mengghantuinya. Berbanding terbalik dengan Dara, karena perlahan Dara bisa menerima apa yang sudah terjadi karena dia terus menyibukkan dirinya.
Sean tentu dapat mendengar semua yang diucapkan Dara. Dia ikut merasa sedih dengan kisah percintaan bosnya. Jika boleh jujur, dia merasa sangat yakin jika Dara bukanlah wanita yang bisa berselingkuh, dan sepertinya tidak mungkin berkhianat dari Nathan. Dia dapat melihat jika Dara adalah wanita yang baik, dan sebenarnya wanita itu juga mencintai Nathan.
'Ternyata ini yang membuat Nathan tersiksa sampai depresi seperti ini'
__ADS_1
Perlahan mata Nathan terbuka. Dia dapat mendengar dengan jelas seluruh yang diucapkan istrinya, bahkan tangisan wanita itu terdengar jelas di telingganya.
"Ini bukan salah kamu kok, Dar. Aku yang terlalu lemah di sini. Kamu nggak perlu merasa bersalah, ya! Maaf, maaf karena sudah membuatmu menangis, padahal aku sudah berjanji jika aku tidak akan membuatmu menangis, tetapi ternyata aku gagal." Nathan berkata dengan suara pelan dan lirih.
"Maaf, karena kamu harus menikahi laki-laki gila sepertiku. Maaf karena memaksamu untuk menikah denganku, padahal kamu tidak mencintaiku," lirih Nathan dengan suara sendu.
"Lo ngomong apa sih, Than? Gue mencintai lo! Sangat sangat mencintai lo! Lo jangan ngomong kayak gitu! Gue janji akan memberikan hak lo sebagai suami kalau lo bisa sembuh! Gue janji akan belah duren dengan lo!" jawab Dara bersungguh-sungguh, tetapi kalimat akhirnya justru terdengar lucu di telingga Nathan. Kenapa di situasi seperti ini istrinya masih sempat saja mengucapkan kata sakral tersebut.
Sean mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah di dalam mobil tersebut. Masih sempat-sempatnya aja mereka bahas belah duren! Pikir Sean.
"Janji, ya!" kekeh Nathan. Mendengar kata belah duren membuat dirinya sedikit bersemangat. Kapan lagi kan ditawari?
'Astaga, barusan gue ngomong apaan? Belah duren? Yang benar aja lo, Dar!'
TBC
.
.
.
__ADS_1
.