
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya Dara dan Nathan sampai juga di salah satu hotel yang cukup besar di kota tersebut. Segera Nathan dan Dara masuk ke dalam, lalu berjalan menuju meja receptionist untuk memesan kamar.
"Lo pesan dulu aja, ya? Gue harus nelpon Caca dulu." Dara segera pergi sedikit menjauh dari suaminya untuk menelpon sekretarisnya, ingin memberitahukan bahwa kemungkinan besok dia tidak ada di kantor selama seharianan.
Nathan menggerutu melihat istrinya yang asal pergi saja. "Ckk ... Untuk Bini! Bilang aja kalau nggak mau bayar! Liat aja, gue pastiin dia tidur di samping gue nanti! Yaiyalah, yakali aja gue suruh dia tidur di luar, yang ada gue ditabok nanti!" Nathan terus menggerutu tidak jelas, hanya mengeluarkan apa yang terlintas di dalam otaknya.
Nathan segera berjalan menuju meja receptionist sendirian, kini perlahan matanya mulai menajam saat melihat wanita yang berdiri dengan make up yang cukup tebal. Cih ... Mungkin dia berpikir itu cantik! Tapi justru sangat menjijikan!
Perempuan itu melemparkan senyum terbaiknya saat melihat Nathan yang berjalan mendekatinya.
"Saya ingin pesan satu kamar hotel!" tegas Nathan dengan suara datar.
Melihat laki-laki yang ada di depannya berniat memesan hotel dengan penampilan menggunakan pakaian kerja, tetapi tidak membawa tas kerja sekalipun membuat dirinya seketika berpikir mungkin saja laki-laki yang ada di hadapannya itu ingin membooking kamar dan menghabiskan malam panas. Kapan lagi coba bisa mendapatkan cowok setampan yang ada di depannya? Pikir perempuan itu.
"Baik, Pak!" sahut perempuan itu dengan suara yang dibuat-buat manja.
Tangan Nathan mengepal dengan sempurna melihat perempuan yang ada di depannya yang menggoda dirinya sangat kentara. Apalagi perempuan itu menggerlingkan matanya dengan nakal. Mungkin perempuan itu berpikir jika dia ingin menghabiskan malam panas di hotel tersebut, dan mungkin dia ingin join.
'Sial! Dia kira gue cowok murahan apa? Dara juga lama banget lagi! Entar kalau gue diculik gimana?' Nathan menggerutu di dalam hati, berusaha untuk sabar dengan perempuan yang ada di depannya itu. Jangan sampai dia bermain kekerasan hanya karena sifat wanita itu yang menjijikkan.
Perempuan itu menyodorkan satu kunci kepada Nathan. Segera Nathan mengambilnya, tetapi rupanya perempuan itu tidak melepaskan gengamannya. Nathan terkejut bukan main saat perempuan itu mengelus tangan kekar miliknya. Sorot mata Nathan seketika makin tajam, tetapi perempuan itu sama sekali tidak takut, karena berpikir laki-laki di depannya sedang ter*ngsang.
"Mau ngapain sih sendirian ke sini, ganteng? Mau main? Sama aku aja!" Perempuan itu mengedipkan matanya dengan genit.
Nathan segera menepis kasar tangan receptionist tersebut. "JANGAN SEMBARANGAN ANDA, NONA!" Nathan membentak dengan suara tinggi, lalu menunjuk perempuan itu dengan jari telunjuk. Napas Nathan memburu pertanda jika dia benar-benar sedang marah. Dia sudah stres seharianan ini memikirkan sahabatnya yang mungkin sedang kesusahan sekarang, tetapi kini emosinya justru dipermainkan oleh wanita dengan gaya menjijikkan itu.
__ADS_1
"Cih ... Anda itu memang wanita murahan! Tidak ada harga diri sama sekali! Di luaran sana banyak para gadis yang mempertahankan harga dirinya, tetapi Anda bahkan tidak jauh bertingkah seperti layaknya jal*ng! Saya laki-laki normal, tetapi saya sama sekali tidak berminat melihat tubuh Anda! Tingkah Anda sangat menjijikkan! Asal Anda tahu, istri saya jauh lebih cantik dari pada perempuan mirip ondel-ondel seperti Anda! Bahkan, Anda mungkin hanya dakinya saja!" Nathan berkata dengan sinis dan suara yang sengaja dia besarkan, sehingga banyak orang yang sedang lalu lalang di sana mendengar ucapan Nathan.
Sang receptionist nampak pucat pasi karena malu dilihat orang-orang, apalagi tatapan mereka seolah memandang dia rendah.
Dara yang kebetulan sudah selesai menelpon Lisa segera menyusul suaminya. Tetapi saat Dara sedang berjalan, dia terlonjak kaget mendengar suara yang sangat nyaring, dan yang membuatnya semakin terkejut adalah itu ternyata suara suaminya. Segera dirinya menyusul Nathan, karena penasaran apa yang sedang terjadi.
"Kenapa?" Dara menatap suaminya, meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat istrinya sudah datang, Nathan segera melingkarkan tangannya di pinggang Dara, lalu menariknya agar lebih dekat dengan dia.
"Dia istri saya! Bisa Anda bandingkan dengan penampilan Anda! Di mana-mana jauh cantikkan istri saja! Lantas, apa mungkin saya bermain api di belakang, apalagi dengan wanita seperti Anda? Ah, maaf, saya bukan laki-laki yang buta, sampai rela bermain api di belakang istri saya! Dan saya tidak mungkin membuang berlian hanya untuk memunggut batu yang tidak berharga seperti Anda!" Nathan semakin menyindir perempuan yang ada di depannya, bahkan sindiran itu terdengar sangat pedas!
Dara sedikit meringis mendengar sindiran suaminya. Bagaimana mungkin suaminya berkata tanpa memikirkan perasaan orang lain? Tetapi dia juga merasa tersentuh mendengar ucapan Nathan yang tanpa sadar menyatakan jika dia adalah laki-laki yang setia.
"Emangnya ada apa, Mas?" Dara cepat tanggap meski pun sedikit tidak tau permasalahan suaminya, tetapi dia dapat menyimpulkan jika ada yang tidak beres dengan perempuan yang dia ada di depannya.
Dara melotot mendengarnya, lalu menatap tajam perempuan yang penampilannya sedikit menor itu. "Emangnya udah berapa lama dianggurin, sampai gatel banget?" ejek Dara dengan pandangan merendahkan. Sungguh pasutri ini memang the best menyindir orang sampai mati kutu.
"Apalagi sampai minta suami orang yang muasin! Cih ... udah berapa banyak Om-Om yang dilayani? Masih belum cukup, ya? Maaf, nih Tante, tapi kalau diliat-liat, muka saya jauh lebih cantik deh dari situ! Lagian kita nginap di hotel ini memang berniat untuk menghabiskan malam panas! Kenapa? Pengen nonton?"
Ucapan Dara sontak membuat Nathan menatap istrinya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Apa tadi kata istrinya? Mereka berniat menginap di sini karena ingin menghabiskan malam panas? Yang benar saja istrinya itu! Tapi kalau memang benar, dia siap! Karena dia memang siap senantiasa.
'Sialan nih cewek! Pengen ngerebut suami gue? Cih ... Jangan harap!'
"Ayok, Sayang! Kita produksi anak banyak-banyak!" Dara segera menggandeng tangan suaminya, bergaya romantis di depan orang yang sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Ayok!" Nathan dengan antusias mengangguk.
'Apakah ini saatnya anak sholeh mendapatkan rejekinya?'
Sesampainya di depan pintu kamar yang mereka booking, Dara segera melepaskan gandengan tangannya.
"Ayok, Sayang! Katanya tadi mau produksi anak!" Nathan berkata dengan antusias, lalu menatap istrinya dengan mata berbinar.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.