
Beberapa minggu telah berlalu. Kini hubungan Nathan dan Leo sudah membaik. Tak jarang Nathan, Leo dan Dara menghabiskan waktu bersama layaknya seperti saat SMA dulu.
Kini Leo tidak lagi menjadi seorang Office Boy. Dia sudah menjadi seorang Sekretaris sekaligus orang kepercayaan Nathan. Ya, kini dia memiliki dua sekretaris, karena tidak mungkin dia memecat Sean begitu saja, mengingat sudah banyak jasa yang dilakukan Sean untuk perusahaannya. Awalnya Leo memang tidak mau, dia tidak mau dikasihani, tetapi Nathan terus membujuknya dengan mengatakan jika dia bukan mengasihani, tetapi memang memerlukan tenaga tambahan.
Tetapi siapa sangka respons Sean malah bahagia dan antusias menyambut Leo sebagai rekan kerjanya. Malah dengan entengnya dia mengatakan. "Lumayan dapat teman tapi gaji tetap aman." Dia sama sekali tidak merasa tersaingi.
Nathan memang mempekerjakan Leo tanpa mengurangi gaji Sean. Bahkan dia tidak pilih-pilih, dia selalu mengajak Leo dan Sean untuk makan bersama-sama. Tak jarang Dara justru membawakan mereka bertiga makan siang, sehingga mereka sering makan bersama-sama di dalam ruangannya.
Kini kondisi Bima juga semakin membaik. Dia sudah mulai bisa berbicara dengan cukup lancar. Itu semua karena Nathan memberikan pelayanan khusus untuk pria itu. Dia membayar para dokter handal dengan harga yang fantastis dari luar negeri untuk mengobati ayahnya.
"Gimana? Ayah senang bisa keluar dari ruangan yang membosankan itu?" Dara bertanya dengan antusias sambil mendorong kursi roda Bima.
Kini mereka berempat, Nathan, Dara, Leo, dan Sean memang berada di rumah sakit. Nathan sengaja mengajak Sean untuk ikut bersama mereka, dan Sean mengiyakannya saja, lagian di kantor sudah tidak ada pekerjaan lagi, karena Leo sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya.
Posisi mereka saat ini Nathan yang berdiri di samping istrinya, dan Leo serta Sean berjalan di samping Bima.
"Ayah sangat senang, apalagi ditemani oleh keempat anak-anak Ayah." Ucapan Bima sontak membuat Sean menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bima tersenyum lembut. "Kamu juga sudah Ayah anggap sebagai putra Ayah." Hati Sean menghangat mendengarnya. Sebenarnya dia mempunyai orang tua yang lengkap, hanya saja orang tuanya memilih untuk tinggal di negeri mereka, sehingga di sini Sean hanya sendiri.
"Terima kasih, Yah ..." ucap Sean tulus.
"Bagaimana kalau kita berfoto bersama?" tanya Nathan antusias. Ya, moment bahagia ini memang harus diabadikan.
"Enggak, Ayah udah jelek. Malu ...." Bima bergaya tidak mau, tetapi justru membuat mereka berempat terkekeh lucu, karena gaya Bima menolak sangat menggemaskan.
"Ayolah, Yah ...." Leo memelas menatap ayahnya.
"Nggak usah sok ganteng kamu! Muka kamu juga pas-pas'an!" ketus Bima mencandai putranya.
"Astagfhirullah!" Leo terkejut mendengar ucapan ayahnya yang sangat gamblang mengatakan muka putranya sendiri pas-pas'an. "Memangnya siapa yang lebih tampan di antara kami bertig?" tantang Leo bergaya angkuh.
"Kalo Ayah yang jawab, nanti dikira gay lagi. Jadi, biar adil, kita serahkan pada princess kita. Bagaimana Nyonya Adijaya?" Bima menatap Dara. Dara sendiri terkekeh mendengar panggilan pria itu yang memanggilnya dengan panggilan Nyonya Adijaya.
__ADS_1
"Eum ... siapa, ya?" Dara mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu. Baik Leo dan Sean hanya mampu menghembuskan napas kasar, karena tahu tidak mungkin mereka yang dipilih Dara. Sementara Nathan mengangkat dagunya sombong, merasa sangat pede jika dia lah yang akan dipilih.
'Cih ... kepedean banget nih laki!' gerutu Dara dalam hati.
"Ya sudah tentulah ...." Nathan bahkan tidak berkedip menunggu kelanjutannya. "Ayah dong!" jawab Dara yang sontak membuat Nathan melongo.
"Kok Ayah sih, Dar? Orang dia udah tua juga!" Nathan tentu tidak terima dengan ucapan Dara tadi.
"Cih ... asal kamu tahu, dulu sewaktu muda, Ayah sangat tampan, bahkan jika dibandingkan dengan kamu, Ayah jauh lebih tampan. Kamu itu cuman daki Ayah saja." Bima mengibaskan baju rumah sakitnya. Ucapan pria itu tentu membuat mereka bertiga mati-matian menahan tawa. Tetapi tidak untuk Nathan. Dia justru kesal dengan ucapan pria itu.
"Lalu kenapa hasilnya malah kayak Leo?" celetuk Nathan yang sontak membuat Leo melotot. Memangnya apa yang salah dengan dirinya.
"Eum ... entahlah, mungkin salah goyang," jawab Bima dengan gamblang.
"Udah, ayok kita foto bersama." Sebelum Leo berbicara, Dara lebih dahulu berkata lebih dulu, sehingga membuat Leo mengurungkan diri untuk berbicara.
Dara lalu meminta pada salah satu perawat yang kebetulan lewat. Kini mereka mengatur gaya posisi mereka. Nathan dan Dara yang berada tepat di samping wajah Bima, serta Leo dan Sean yang berjongkok di samping kursi roda.
'Kenapa aku merasa perasaan ini semakin tidak enak? Apakah ajal sebentar lagi akan menjemputku?' Bima membatin. Entah kenapa dia semakin merasa jika badai ini akan sangat besar. Entah menerjang siapa, dia tidak bisa memprediksinya. Mungkin salah satu di antara keempat putranya? Atau justru dia sendiri?
Rupanya ada seseorang yang memperhatikan mereka sedari tadi.
"Oh, rupanya dia yang bernama Aldara Stephanie Adijaya. Berani sekali kamu mengambil posisiku sebagai Nyonya Adijaya. Tidak ada yang boleh mengambilnya. Hanya aku! Hanya aku yang layak mendapat gelar Nyonya Adijaya itu." Sorot matanya menajam ke arah mereka berempat. Tangannya mengepal dengan sempurna.
"Kau yang memulai Aldara! Jadi jangan salahkan aku jika melakukan hal di luar nalar manusia. Kau belum tau seperti apa itu Lucy." Ya, wanita itu adalah Lucy. Dia terkekeh menyeramkan.
Rupanya Dara menyadari jika ada yang memperhatikan mereka. Sejak tadi dia memang merasakan jika ada yang terus memperhatikan mereka, tetapi ketika dia mengedarkan pandangannya, dia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.
Perlahan Dara kembali mengedarkan pandangannya. Dan kini dia mendapatkan seorang wanita yang terlihat cukup cantik sedang menatapnya dengan tajam. Kening Dara mengerut. Kenapa wanita itu seperti ada dendam padanya? Itulah yang ada di pikiran Dara. Padahal dia sama sekali tidak mengenal wanita itu, apalagi sampai membuat masalah dengannya.
Lucy yang ketahuan langsung pergi begitu saja dari sana.
'Siapa dia? Kenapa dia seperti tidak suka denganku? Aku bahkan tidak mengenal dia sama sekali. Bertemu dengan dia pun aku tidak pernah. Apa aku pernah membuat kesalahan tanpa aku sadari?' Dara berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sudah dia lakukan, tetapi dia sama sekali tidak mengingat apa-apa tentang wanita tadi. Ya, dia sangat yakin jika dia belum pernah bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
'Ah, sudahlah! Mungkin hanya perasaanku saja' Dara berusa untuk berpikir positif saja.
'AKH! SEBENARNYA PERASAAN APA INI?' Dara berteriak frustasi dalam hati. Dia bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dia rasakan. Khawatir, takut, sedih, sesak. Semua bercampur menjadi satu. Tetapi dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya sendiri.
TBC
Sekedar informasi, novel ini happy ending kok (Mudah-mudahan sampai tamat ya kalau nggak ada halangan \><)
Tapi, aku nggak janji happy endingnya seperti apa. Mungkin saja kedua pemeran utama yang bersatu, atau mungkin berpisah dan bersama pemeran pengganti. Atau ...
Hehe, rencananya aku pengen bikin novel ini penuh kejutan (Kalau aku mampu sih wkwk \><)
.
.
.
__ADS_1