Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Mabuk


__ADS_3

Setelah Nathan sudah pergi, perlahan pertahanan Dara mulai runtuh. Cairan hangat yang sedari tadi dia tahan perlahan jatuh membasahi pipinya. Dia menatap tubuhnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Apakah mungkin dia masih cocok bersanding dengan suaminya?


Hiks ... hiks


Dara terisak di tengah kesunyian malam itu. Bahunya bergetar dengan hebat. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Gu–gue juga nggak tau," lirih Dara dengan suara yang memilukan. "Gu–gue kotor. Gue udah nggak ada artinya sama sekali," sambung Dara yang justru semakin terisak.


"Gue benci! Gue benci sama diri gue sendiri!" teriak Dara sembari memukul dirinya sendiri.


Dara segera bangkit berdiri, lalu masuk ke dalam kamar mandi sambit terus menyeka air matanya yang justru tidak mau berhenti. Semakin dia menyeka, semakin deras air mata yang menetes.


Dara segera masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya yang nyatanya tidak akan mungkin bisa bersih. Dia menyalakan shower dan terduduk lemas bersandar di dinding kamar mandi. Kini air matanya bercampur dengan tetesan air yang jatuh dari shower.


Dara memeluk lututnya, di bawah guyuran air yang jatuh membasahi tubuhnya. Dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya di sana.


*******


Nathan berjalan keluar dari rumah dengan langkah kaki lebar. Air mata terus jatuh membasahi pipinya. Dia terisak dengan bahu yang bergetar hebat. Dadanya benar-benar terasa sangat sesak, seperti ada batu besar yang menghantam dadanya. Sangat sakit!


Setelah berada di luar rumah. Tubuh Nathan kembali merosot ke jalan. Dia benar-benar tidak mampu menahan berat badannya sendiri.


"ARGG!" Nathan berteriak frustasi di sana, untungnya komplek tempat mereka tinggal cukup sepi.


"Kenapa?" teriak Nathan lagi. Dia memukul dadanya dengan kuat. Air mata terus membasahi pipinya.


"Kalian br***sek?!" maki Nathan sembari menjambak rambutnya saking frustasi.


Nathan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hiks .... Hiks ....


Nathan membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan isakkan yang justru semakin membuatnya lemah. Dengan sekuat tenaga Nathan bangkit, lalu berjalan menuju mobilnya. Untungnya kunci mobilnya ada di dalam kantong, jadi dia tidak perlu lagi masuk ke dalam rumah, karena dia mungkin tidak akan sanggup.


Nathan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Kini dia ingin menenangkan pikirannya, yaitu dengan menikmati alkohol. Ya, sama seperti dulu, di saat dia sedang terpuruk, maka pelariannya adalah alkohol. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meminum minuman haram tersebut, tetapi sekarang dia justru merindukan minuman itu, karena hanya alkohol lah yang mampu menenangkan pikiran.


"Kenapa aku malah ikut sedih melihat Nathan ku terpuruk?" gumam Lucy yang masih bisa didengar Kendrick.


Saat ini mereka memang sedang berada di dekat rumah Nathan. Lucy tentu mendengar semua pembicaraan mereka di dalam rumah, karena setelah mereka makan siang tadi, dia dan Leo bertemu saat laki-laki itu pergi ke toilet. Tanpa sepengetahuan Leo, dia memasukkan penyadap suara ke dalam kantong laki-laki itu. Dia melakukan itu semua untuk berjaga-jaga saja, takut jika Nathan ternyata belum pulang, dan Dara sudah sadar dari pengaruh obat. Otomatis saja Nathan tidak akan percaya jika tanpa bukti.


"Aku ingin sekali memeluknya." Lucy kembali bergumam sambil memeluk dirinya sendiri. Kini bibirnya di majukan, bergaya sok imut. Ya, meskipun sebenarnya paras Lucy tidak perlu diragukan lagi. Wanita itu benar-benar sangat cantik, apalagi memiliki tubuh yang ideal. Hanya saja karena Kendrick sangat mengenal Lucy, dia justru merasa jijik dengan gaya Lucy.


Kendrick memutar matanya malas. 'Terpuruk? Bahkan gayanya saja lebay! Terlalu dilebih-lebihkan. Nathan sialan!' gerutu Kendrick dalam hati saat melihat Nathan yang menangis di depan rumah. Bagaimana mungkin laki-laki itu menangis, tetapi gayanya ... menjijikkan di matanya.


"Kendrick. Apa kau sadar, selama ini semua rencana kita berjalan dengan lancar? Kita seolah bisa memprediksi masa depan. Seperti sekarang, aku bahkan sempat berpikir mungkin ketika Nathan kembali, Dara sudah sadar dari pengaruh obat tersebut. Tapi, lihatlah .... Bukankah kita sangat cerdik? Bahkan Dara itu bukanlah apa-apa untuk seorang Lucy," kekeh Lucy meremehkan Dara. Padahal sewaktu di pesta, Dara mengakan jika dia cerdik, tetapi sekarang? Dirinya bahkan dengan mudah menghancurkan wanita itu.


Tanpa sepengetahuan Lucy, Kendrick justru tersenyum sinis. "Mulut adalah bagian organ tubuh yang paling sering berbohong, tetapi terkadang, mata juga bisa berbohong, apalagi telingga," celetuk Kendrick yang sontak membuat Lucy menatap laki-laki itu, karena merasa bingung dengan ucapan yang dilontarkan anak buahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Lucy dengan kerutan di keningnya yang sangat kentara.


"Ah, tidak. Aku hanya teringat dengan kata-kata itu di media sosial," kekeh Kendrick biasa saja, dan Lucy mengangguk begitu saja.


"Ternyata kau suka juga bermain media sosial," balas Lucy yang ikut terkekeh.

__ADS_1


"Sekarang ikuti Nathan! Aku ingin tahu ke mana laki-laki itu setelah dia tau jika istri tercintanya sudah mengkhianatinya," perintah Lucy pada Kendrick.


"Palingan ke club dan minum di sana," celetuk Kendrick lagi.


"Are you sure? Tapi setahuku Nathan tidak minum."


"Alkohol adalah obat yang paling manjur untuk mengobati rasa stres," balas Kendrick apa adanya, dan Lucy mengangguk mengiyakan karena dia juga pernah berada di posisi terpuruk, dan dia justru lari ke alkohol.


Tanpa menunggu perintah, Kendrick lebih dulu menyetir mobilnya dan melajukannya menuju suatu tempat, padahal mereka sudah lumayan tertinggal jauh dari Nathan. Kendrick seolah tau semuanya, seakan-akan dia sangat genius.


"Sampai!" seru Kendrick saat mobilnya sudah berada tepat di sebuah club yang sangat bising, bahkan dentuman musik sampai ke telingganya meski pun sekarang dia ada di dalam mobil.


"What? Are you sure, Ken? Tapi bagaimana kalau ternyata Nathan tidak ada di dalam sana?" Lucy tidak habis pikir. Bagaimana Kendrick sangat yakin sekali jika Nathan pasti berada di dalam sana?


"Of course! That is his car," jawab Kendrick yang membuat Lucy lalu mengedarkan pandangannya ke arah tunjukkan Kendrick, dan benar saja, di sana ada mobil yang terparkirkan yang tadi digunakan Nathan.


"Kau benar-benar hebat! Bagaimana kau bisa tau?" Lucy menatap Kendrick dengan takjub.


"Karena aku juga seorang pria. Aku bisa menebaknya, karena jika aku ada di posisi itu, maka aku akan melakukan hal yang sama, sekali pun aku adalah orang yang taat. Lagian setahuku, ini adalah club yang paling dekat dengan rumah Nathan," jawab Kendrick yang sontak membuat Lucy mengangguk, karena ada benarnya juga..


"Yaudah, aku masuk, ya. Aku ingin menghibur Nathan di sana. Apa kau ingin ikut?" tawar Lucy yang mendapat anggukan dari Kendrick.


"Tentu saja! Aku pun ingin minum," jawab Kendrick yang segera turun dari mobil. Tidak seperti majikan dan anak buah pada umumnya. Kendrick sama sekali tidak pernah mau membukakan pintu mobil untuk Lucy, dan Lucy sendiri pun tidak keberatan, karena dia belum siap kehilangan Kendrick. Apalagi laki-laki itu sangat royal sekali.


Lucy dan Kendrick segera masuk ke dalam club yang terlihat sangat ramai sekali. Lucy berdecak kesal, karena tidak terbiasa dengan suasa bising. Ah, kini dia harus berkorban demi pujaan hatinya. Jika bukan karena Nathan, dia mungkin tidak akan mau menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.


Begitu mereka masuk, mereka dapat melihat Nathan yang sedang meneguk sebotol alkohol. Terlihat sekali jika laki-laki itu sangat frustasi.


Lucy segera berjalan mendekati Nathan, lalu tanpa meminta ijin terlebih dahulu, dia segera mendaratkan bok*ngnya di samping Nathan.


Nathan mendonggakkan kepalanya, melihat siapa yang berani sekali duduk di sampingnya, apalagi menganggunya yang sedang ingin sendirian.


"Siapa?" tanya Nathan yang terus memperhatikan wajah Lucy. Sepertinya dia sangat mabuk sekarang sampai tidak mengenali siapa pun.


"Hai, aku Lucy. Kamu masih ingat kan?" sapa Lucy berusaha seceria mungkin, seolah-olah tidak tahu apa yang baru saja dihadapi laki-laki di hadapannya.


"Lucy?" beo Nathan. "Lucy ... Lucy ... Lucy .... Siapa itu Lucy?" tanya Nathan tidak tahu. Dia menatap wajah Lucy dengan tatapan polos.


"Aku wanita yang sangat mencintaimu, dan aku pernah menjadi bagian dari hidupmu," jawab Lucy tak tahu diri.


Kendrick yang berada sangat dekat dengan Nathan dan Lucy sampai tidak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan.


'Sialan! Gara-gara musiknya sangat keras, aku bahkan tidak bisa mendengarnya!' gerutu Kendrick yang seketika kesal. Segera saja Kendrick meminum minuman yang ada di hadapannya, tetapi baru saja minuman itu masuk ke dalam mulutnya, dia langsung menyemburkannya. 'Real wine?' pekik Kendrick dalam hati. 'Bukankah aku sudah mengatakan air putih saja? Ckk ... aku bahkan tidak biasa meminum minuman seperti itu!' Kendrick menggerutu, kini mulutnya justru komat kamit, memaki dan menyumpahi pemilik Club tersebut, meskipun dia tidak tahu siapa pemiliknya.


"Bagian dari hidupku?" Nathan kembali membeo, dan Lucy mengangguk dengan antusias.


"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba mabuk? Bukannya Nathan yang aku kenal nggak pernah minum? Ada masalah apa sih? Kamu kalau perlu teman curhat bisa cari aku aja. Aku pasti dengan senang hati dengarin cerita kamu dan aku akan berusaha bantu kamu semampuku." Lucy berkata dengan sangat lembut, bahkan kini dengan lancangnya telapak tangannya berada di atas telapak tangan Nathan dan mulai mengelus-elusnya.


Tetapi Nathan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Lucy barusan. "Bagian dari hidupku?" Nathan kembali mengulang pertanyaan yang sama.


Nathan segera bangkit berdiri dengan sedikit kesusahan. "AKU INGIN BALAS DENDAM!" ucap Nathan lantang.


Lucy sekita salah tingkah. Apakah balas dendam yang dimaksud Nathan adalah menidurinya? Pikir Lucy yang pikirannya seketika tidak karuan. Sebenarnya dia ikhlas saja jika Nathan memang mengingini tubuhnya, karena dengan begitu, dia mungkin akan lebih mudah mendapati Nathan.

__ADS_1


"A—Aku—"


Plak!


Belum sempat Lucy menghabisi ucapannya, Nathan lebih dulu menampar pipi wanita itu, sehingga membuat tubuh Lucy sontak membeku. Apakah dia baru saja ditampar? Bagaimana mungkin Nathan justru menamparnya, dan tamparan laki-laki itu terasa sangat sakit sekali.


"Ka–kamu kenapa tampar aku?" tanya Lucy yang masih tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Bukannya menjawab Nathan kembali melayangkan tamparan di pipi Lucy.


Plak


"Kamu itu jahat, Dar! Sebenarnya apa salah aku sama kamu? Aku tuh sayang banget sama kamu, tapi kamu malah berkhianat sama sahabat aku sendiri. Kamu kenapa jahat sama aku, Dar?" racau Nathan. Rupanya dia menganggap wanita yang ada di depannya adalah istrinya.


Nathan menjambak rambut Lucy sehingga membuat wanita itu sontak berteriak karena jambakkan Nathan sangat sakit, sehingga membuat kulit kepalanya terasa nyut-nyuttan.


"Shhh ... sakit, Than!" gumam Lucy.


"KAMU ITU JAHAT, DAR!"


Plak


Plak


Plak


Kini wajah Lucy merah karena tamparan bertubi-tubi yang diberikan Nathan. Ingin membalas dia tidak tega, karena bagaimana pun Nathan sekarang sedang mabuk, jadi wajar saja dia menganggap dirinya sebagai Dara.


Kendrick yang memperhatikan adegan itu tidak mampu menahan tawanya. Dia tertawa terbahak-bahak di sana. Sungguh, dia tidak menyangka jika Nathan akan melakukan itu semua. Apalagi melihat wajah Lucy yang hanya bisa pasrah membuatnya semakin tertawa.


Tidak mau menyia-nyiakannya, Kendrick segera memvideo adegan menggelitik tersebut. Setelah itu dia segera mengirim video tersebut ke seseorang.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2