
Nathan mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan.
"Kenapa gue ngerasa sakit, ya?" Nathan bergumam di dalam mobil. Entah kenapa dia merasa ada perasaan aneh, seperti ada sesuatu buruk yang sedang terjadi, dan anehnya, perasaan itu muncul sejak pesan yang dikirim sekretarisnya tadi. Sejak tadi dia terus kepikiran ayahnya Leo, perasaannya tidak enak.
"Gue harap Ayah kedua gue baik-baik aja," gumam Nathan yang terus merapalkan doa, berharap apa yang dia takutkan tidak terjadi.
Nathan menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di perusahaannya, karena dia harus segera mencari Leo, dia takutnya laki-laki itu sedang kesusahan sekarang.
Tak berselang lama, akhirnya mobil masuk ke halaman perusahaan N'D Group, perusahaan yang akan dia berikan untuk Dara di hari ulang tahun wanita itu nanti. Tetapi kini dia harus berpikir dua kali lagi, karena jika dia memberikan perusahaan pada istrinya, maka istrinya otomatis akan disibukkan, dan dia mana tega melihat istrinya kelelahan mengurus dua perusahaan.
Nathan segera masuk ke dalam perusahaannya. Para karyawan yang melihatnya menunduk hormat, dan tak sedikit dari mereka justru menyapanya, tetapi hanya dibalas gumaman saja.
Gavin yang merupakan sekretaris Nathan langsung keluar dari ruangannya untuk menyambut bosnya yang memang jarang sekali mampir ke perusahaan. Gavin adalah salah satu laki-laki kepercayaan Nathan. Dia merupakan temannya saat berada di London waktu itu.
"Selamat siang, Pak," ucap Gavin formal sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi," jawab Nathan dengan suara datar. "Suruh Office Boy itu untuk datang ke ruanganku sekarang!" perintah Nathan tanpa mau berbasa-basi terlebih dahulu pada temannya itu.
"Baik, Pak!" Gavin mengangguk patuh. Setelah melihat Nathan pergi, dia segera memberitahukan pada salah satu OB yang kebetulan lewat untuk memanggil laki-laki yang ingin meminjam uang tadi.
*******
Leo duduk termenung sambil menatap dapur perusahaan. Sekarang pikirannya sedang runyam, terus berpikir ke mana lagi dia akan meminjam uang jika seandainya perusahaan tempatnya bekerja tidak mau meminjamkannya uang. Bank? Itu tidak mungkin! Nama keluarganya sudah masuk list sebagai orang yang sudah tidak bisa meminjam lagi, karena pernah bermasalah. Teman? Dia bahkan tidak memiliki teman yang hidupnya kaya. Ya, bisa dibilang semua temannya sama seperti dia, sama-sama membutuhkan uang. Jika pun dia meminjam uang, pasti tidak akan cukup.
'Ya, Allah, ku serahkan semuanya pada-Mu. Aku tau Engkau yang lebih tahu tentang kehidupanku'
Leo hanya mampu merapalkan doa sekarang. Tanpa sadar sebening kristal jatuh membasahi pipinya saat kembali teringat kondisi ayahnya yang kini semakin melemah. Saat ini ayahnya memang sedang dirawat, tetapi jika dalam satu minggu dia tidak bisa membayar administrasi, maka pihak rumah sakit terpaksa memulangkan ayahnya.
"Hiks ...." Leo menangis saat membayangkan ayahnya yang akan dipulangkan. Tidak! Dia tidak mau ayahnya menderita, dia ingin ayahnya hidup lebih lama, bahkan dia ingin ayahnya hidup selama-lamanya dengan dia. Dia tidak bermaksud untuk egois sampai tidak mau membiarkan Tuhan mengambil ayahnya, hanya saja, siapa lagi yang menemani dia hidup di dunia ini jika bukan ayahnya? Dia tidak memiliki siapa-siapa sekarang. Ibu? Tetapi ibunya sudah lebih dulu menghadap yang maha kuasa. Kerabat? Sayangnya baik ayah maupun ibunya sama-sama anak tunggal. Sahabat? Dia bahkan tidak tahu di mana keberadaan kedua sahabatnya sekarang. Dia memang sengaja memutuskan hubungan dengan Dara, karena dia merasa jika wanita itu sedikit menghindarinya, mungkin karena kesal padanya yang sudah membuat hubungan dia dan Nathan hancur. Karena merasa bersalah, akhirnya dia memutuskan kontak dengan wanita itu.
"LEO!"
Leo terlonjak kaget mendengar seseorang yang memanggilnya dengan berteriak. Segera dia melihat siapa pelakunya, dan ternyata itu adalah Rudi, sahabat sesama OB.
"Ada apa?" tanya Leo yang segera menghapus air matanya.
__ADS_1
"Lo dipanggil ke ruangan Bos!" Rudi berkata dengan antusias, karena dia tahu jika temannya itu memerlukan uang yang jumlahnya tak sedikit, tetapi sayangnya dia tidak bisa membantu, karena ada keluarganya yang harus dia nafkahi. Leo memang ada mengatakan padanya jika dia berniat meminjam uang dari perusahaan.
"Se–seriusan? Emang Bos ada di perusahaan sekarang?" Leo sedikit terkejut mendengar penuturan temannya itu.
"Iya! Kebetulan dia memang ada di kota ini. Jadi, sekarang lo dipanggil menghadap dia," sahut Rudi.
Senyum terbit di wajah Leo. Setidaknya ada secercah harapan untuknya, meskipun belum tentu jika bos memanggilnya karena ingin meminjamkan uang.
Tanpa basa-basi Leo segara berlari keluar. Dengan penuh semangat dia berlari menuju ruangan CEO. Sepanjang perjalan dia terus merapalkan doa, berharap pemilik perusahaan itu berbaik hati mau meminjamkannya uang untuk pengobatan ayahnya.
'Aku harap ini jalan keluarnya!' gumam Leo dalam hati.
*******
Nathan mendaratkan bok*ngnya di atas kursi kebanggaannya. Dia tersenyum tipis melihat tumpukkan kertas di atas mejanya, tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya, karena selama ini Gavin selalu memberikan dia file-nya lewat email.
"Sebenarnya perasaan apa ini?" Nathan semakin bingung dengan perasaannya. Kini dia justru dibuat deg-deg'an, padahal tidak ada yang terjadi.
Karena pusing dengan perasaannya sendiri, Nathan memilih untuk memainkan handphonenya saja, mendata ada berapa rumah sakit yang ada di kota itu, untuk memastikan jika dia tidak akan terlewat nantinya.
Nathan memutar kursinya membelakangi meja kerjanya, karena melihat tumpukkan kertas yang ada di atas mejanya justru membuat dia pusing.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" perintah Nathan tanpa mengubah posisi duduknya.
Leo segera masuk setelah diberi ijin. Keringat mulai jatuh membasahi pipinya. Sekarang dia sangat gugup, bahkan badanya sedikit bergetar, antara takut dan tidak berani.
"Se–selamat siang, Pak. Saya yang dipanggil Bapak tadi," sapa Leo dengan suara ramah dan sedikit bergetar.
"Siang. Kenapa kamu ingin meminjam uang perusahaan?" tanya Nathan pura-pura tidak tahu, karena sebenarnya dia sangat tahu jika laki-laki itu memerlukan uang untuk biaya pengobatan ayahnya. Tetapi dia hanya ingin memastikan. Tetapi entah hanya perasaannya saja atau bagaimana, dia seperti mengenali pemilik suara itu.
Leo menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Saya ingin meminjam uang perusahaan karena saya sangat memerlukannya. Ayah saya sedang sakit sekarang dan memerlukan uang untuk membayar administrasi, karena jika tidak bisa membayar, maka ayah saya mungkin akan dipulangkan oleh pihak rumah sakit." Leo menjelaskan tanpa mengurangi maupun melebihi faktanya.
"Sa–saya mohon, Pak. Sa–saya sangat memerlukan uang. Sa–saya nggak sanggup jika harus kehilangan ayah saya. Sekarang hanya dia yang saya miliki di dunia ini." Leo memohon, bahkan kini perlahan dia menangis.
__ADS_1
Nathan yang mendengar isak tangis laki-laki itu jadi tersentuh. Perlahan dia membalikkan kursinya, ingin melihat seperti apa sosok laki-laki yang sangat menyayangi ayahnya tersebut.
Tetapi di saat dia sudah membalikkan kursinya dan melihat siapa sosok yang menangis tadi, tubuhnya membeku melihat laki-laki yang selama ini dia rindukan, laki-laki yang ingin dia cari. Apakah dia tidak bermimpi? Jadi, selama ini sahabatnya bekerja di perusahaannya sendiri? Dan tidak tahu akan hal itu?
"Le–Leo?" Dengan susah payah Nathan mengeluarkan suaranya, karena saat ini dadanya terasa sesak melihat kondisi sahabatnya yang tidak seperti dulu. Bagaimana tidak, kini Leo terlihat lebih kurus, bahkan kantung mata yang terlihat hitam, mungkin karena kelelahan dan kurang tidur.
Leo yang kebetulan sedang menunduk tentu heran. Bagiamana mungkin pemilik perusahaan mengenal dirinya yang hanya bekerja sebagai OB saja?
Perlahan dia mendonggakkan kepalanya, penasaran seperti apa wujud wajah dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja ini.
Tidak jauh berbeda dengan Nathan, Leo tak kalah terkejut melihat sosok yang selama ini dia rindukan. Seketika tubuhnya menegang. Dia sama sekali tidak pernah menebak jika pemilik perusahaan itu adalah sahabatnya sendiri. Ah, mungkinkan Nathan masih menganggapnya sebagai sahabat?
"Na–Nathan?"
TBC
Aku nggak janji ya kalau Leo mau maafin kesalahan Nathan, mengingat Nathan agak keterlaluan🤭
.
.
.
__ADS_1
.