
Saking stresnya Nathan habis bertemu dengan Lucy, dia bahkan melupakan tujuan awalnya yang hendak pergi ke toilet. Dia berjalan bagaikan orang yang linglung, sama sekali tak tahu arah hendak pergi ke mana.
Dia memilih untuk kembali ke toko di mana istrinya sedang berbelanja saja. Rasa ingin buang air kecil mendadak hilang begitu saja. Nathan berjalan gontai, layaknya manusia yang tak bertenaga. Kini pikirannya dipenuhi dengan Lucy. Kenapa wanita itu harus kembali? Bukannya apa-apa, tetapi dia tahu betul seperti apa Lucy, wanita itu benar-benar sangat nekat. Dia takutnya Lucy justru akan menyakiti istrinya nanti.
'Aku akan terus menjaga Dara! Tidak akan aku biarkan Lucy menyentuhnya!' batin Nathan bersungguh-sungguh.
Dara yang baru saja selesai mencari baju untuknya menatap suaminya bingung, karena Nathan terlihat seperti tidak suka. Padahal yang seharusnya marah itu dia, mengingat Nathan pergi ke toiletnya sangat lama. Apakah kencing batu? Pikir Dara.
"Udah belanjanya?" Nathan bertanya tanpa ekspresi, dan tentu saja itu membuat Dara seketika kesal. Sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya saat pergi ke toilet? Kenapa sikapnya lain?
"Kamu kenapa? Kok natap akunya kayak nggak suka?" tanya Dara dengan wajah memelas. Entahlah, kini dia lebih mudah baper, mungkin karena dia sudah jatuh cinta pada suaminya.
Nathan seketika sadar. Dia benar-benar tidak sadar telah bersikap tidak suka di hadapan istrinya. Itu semua karena dia masih terbayang-bayang wajah Lucy. "Eh, maaf ..." sesal Nathan pada istrinya.
"Kamu kenapa sih? Muka kamu kayak orang yang nggak suka aja? Habis ketemu siapa?" Dara memicingkan matanya menatap suaminya.
Nathan tersenyum tenang. "Nggak ada siapa-siapa. Tadi ada yang nabrak aku, jadi makanya aku kesal sampai sekarang," jawab Nathan tak sepenuhnya berbohong, karena memang itu faktanya, meski pun dia tidak mengatakan siapa yang menabraknya tadi. Entahlah, dia masih belum siap memberitahukan pada istrinya tentang masa lalunya yang benar-benar kelam.
Dengan percayanya Dara mengangguk. Berpikir Nathan masih seperti dulu, yaitu laki-laki yang tidak bisa berbohong. Dia sangat yakin jika Nathan sama sekali tidak berubah.
"Yaudah, ayok pulang," ucap Nathan lembut sembari mengelus lembut pucuk kepala istrinya.
"Pulang? Kan belum nyari baju buat kamu? Baru juga baju aku dan hadiah buat Mamah Papah. Kamu nggak mau beli baju?" Dara mengerutkan keningnya.
Nathan terkekeh tidak jelas. "Nggak perlu, uangnya bisa dialokasikan buat beli cilok," sahut Nathan asal.
'Ya, Allah. Kenapa pakai acara ngebahas cilok segala lagi?' pekik Dara yang gemes dengan ucapan suaminya barusan.
"Serius, Than!" ucap Dara yang sudah sangat gemes.
"Iya, nggak perlu. Aku ada kok baju di rumah." Nathan meyakinkan istrinya. Dara hanya mampu menghembuskan napas lelah. Tidak mau memaksa suaminya, ia lantas mengangguk saja.
Mereka lalu segera pergi dari pusat perbelanjaan tersebut. Nathan benar-benar tidak mau berlama-lama di sana. Dia takutnya kembali bertemu dengan Lucy, dan wanita itu akan melihat istrinya. Sekarang Nathan justru sangat khawatir. Istrinya pernah mengatakan jika dia merasa perasaan tidak enak. Mungkinkah ini yang dimaksud?
Dara menatap aneh suaminya yang sejak tadi diam saja. Biasanya Nathan akan terus mengoceh di dalam mobil, tetapi laki-laki itu kini justru terdiam saja. Sebenarnya apa yang terjadi? Tanya Dara pada dirinya sendiri. Tetapi dia tidak mau menanyakannya, biarlah Nathan yang memberitahukannya.
__ADS_1
Tak berselang lama mobil sampai di hotel. Mereka segera mengemasi pakaian milik mereka, karena hari sudah mulai sore. Sementara perjalanan nanti mungkin akan memakan sekitar dua jam.
Nathan kali ini tidak seperti biasanya, dan Dara hanya diam saja. Mungkin suaminya sedang stres. Pikirnya.
*******
Ha-ha-ha
"Oh, My God. Aku tak percaya bisa bertemu dengan dia lagi. Sepertinya kita memang berjodoh, Honey ...." Lucy semakin terkekeh tidak jelas, layaknya orang yang sudah gila.
"Kendrick, kira-kira bagaimana menurutmu?" tanya Lucy pada laki-laki yang sedang menyupir mobil tersebut. Nampak Kendrick terlihat bingung.
"Menurutku? Maksudnya, Nyonya?"
"Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kembali laki-laki pujaan hatiku? Apakah aku harus menyingkirkan wanita sialan itu terlebih dahulu?" ulang Lucy dengan senyum manisnya.
Kendrick terdiam sebentar. "Apakah maksud Anda membunuhnya?" tanya Kendrick memastikan, dan dibalas anggukan antusias dari Lucy.
Kendrick menggeleng-gelengkan kepalanya. "Membunuh? Sepertinya itu hanya kesenangan sesaat? Membuatnya menderita jauh lebih menyenangkan, Nyonya." Kendrick menyeringai, dan itu dilihat oleh Lucy sendiri.
"Kenapa tidak kau hancurkan saja rumah tangga mereka? Buat drama sebanyak mungkin. Bukankah kau sangat suka menciptakan drama? Daripada langsung membunuhnya, lebih baik kau buat wanita itu menangis darah terlebih dahulu. Aku sudah mendapatkan banyak informasi tentang mereka berdua." Ucapan Kendrick berhasil membuat Lucy berbinar. Ini yang dia suka dengan Kendrick, laki-laki itu bisa mengambil keputusan tepat sebelum disuruh. Benar-benar bisa diandalkan!
"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya Lucy antusias.
"Yang penting kau berjanji akan membayarku lebih Nyonya," jawab Kendrick yang sontak membuat Lucy tertawa.
"Kau tenang saja. Akan ku berikan kau sepuluh kali lipat dari gajimu!" ucap Lucy tanpa keraguaan sedikit pun.
"Kau tinggal cari laki-laki yang bernama Leo, lalu bernegosiasi dengannya. Nathan pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal pada kehidupan Leo. Nathan pernah menghancurkan perusahaan ayah Leo, sehingga membuat laki-laki itu menderita, dan ayahnya yang terpaksa menginap di rumah sakit karena mengalami stroke—"
"Tunggu! Jadi, yang berada di rumah sakit itu ayahnya Leo?" Lucy memotong ucapan anak buahnya, lantas bertanya. Kendrick mengiyakan ucapan majikannya.
"Benar! Tapi, jangan sekali-kali Anda berniat membunuhnya!" ucap Kendrick penuh penekanan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena dia tidak bersalah!"
Lucy tertawa mendengar ucapan Kendrick. Dia hanya mengangguk acuh saja, tetapi dalam hati dia berdecih.
'Cih ... memangnya lo siapa yang bisa ngatur-ngatur gue?'
"Saya rasa tidak semudah itu untuk memaafkan kesalahan yang sudah dibuat Nathan. Jadi, Anda bisa terus bernegosiasi dengan Leo dengan terus mempengaruhi pikirannya."
"Lantas, jika aku berhasil mendapatkan Leo. Apa yang bisa dilakukannya?" Nampaknya Lucy masih sedikit bingung dengan maksud Kendrick.
"Anda tinggal meminta Leo untuk meniduri wanita bernama Dara itu, dan mengeluarkan benihnya di dalam. Dan setelah itu saya pastikan semuanya akan hancur. Anda bisa melihat sosok Dara yang hancur, atau mungkin dia akan mengakhiri hidupnya sendiri tanpa Anda perlu repot-repot melakukannya. Setelah itu Anda bisa merebut Nathan, dan buat dia jatuh ke pelukkan Anda. Lagian, saya pikir, tidak mungkin Leo tidak memiliki perasaan pada Dara, karena dari pancaran matanya saya bisa melihat jika dia mengagumi Dara. Bukankah lebih menyenangkan daripada sekedar membunuh?" Kendrick terkekeh menyeramkan.
"Kau benar, Ken. Kita atur semuanya segera!" ucap Lucy mengiyakan. Tidak sabar rasanya dia ingin menyelasaikan semuanya, lalu hidup bahagia bersama Nathan dan Ronald. Darius? Dia pastikan akan menghabisi pria itu setelah mendapatkan Nathan.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1