
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian yang membuat Nathan sakit hati. Namun, selama dua minggu itu dia justru terlihat biasa saja. Tetapi meski pun demikian dia mulai menjauhi Dara. Bahkan bisa dibilang sekarang di perlahan berubah menjadi sosok yang dingin. Tidak ada lagi yang namanya senyum, jahil, dan kehebohannya yang biasa dia lakukan pada Dara.
Bahkan kini Nathan sudah tidak tidur di kasur yang sama dengan Dara. Ya, dia memilih untuk tidur di ruang tamu saja. Setiap hari mereka lalui, tetapi tidak ada sedikit pun yang keluar dari mulut mereka. Rumah itu terasa sangat sunyi. Meski pun terdapat orang, tetapi apa gunanya jika mereka tidak berbicara bahkan untuk bertegur sapa saja mereka tidak melakukannya?
Nathan keluar dari dalam kamarnya, dan bertepatan dengan itu pula istrinya berjalan ke bawah, mungkin berniat ingin memasak. Mata Dara bertubrukan dengan mata Nathan. Mereka terdiam sebentar, seolah saling berbicara melalui bahasa mata. Tidak mau berlama-lama, Dara segera memutuskan pandangan itu. Dia segera berjalan cepat menuju dapur, karena ingin membuat sarapan untuknya dan suaminya.
Nathan sendiri segera pergi berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Kamar tamu yang ada di rumah mereka memang tidak ada kamar mandi pribadi, sehingga membuatnya terpaksa membersihkan diri di kamar mandi yang ada di ruang tamu.
Sebenarnya Nathan sendiri bingung dengan hatinya sendiri. Dia ingin menceraikan Dara, tetapi hatinya seolah menolak. Dia terlalu sayang pada Dara, sehingga tidak mau melepaskan wanita itu. Tetapi jika terus bersama pun membuatnya justru merasa sakit yang teramat. Saking bingungnya dengan perasaannya sendiri, dia bahkan tidak melakukan tindakan apa pun.
Haruskan dia memaafkan dan melupakan saja apa yang sudah terjadi saat itu? Tapi ... kenapa sakit sekali?
Leo? Nathan bahkan tidak tahu di mana keberadaan laki-laki itu sekarang, dan dia sudah tidak peduli lagi. Terserah apa kata laki-laki itu saja. Jika pun dia sudah meninggal pun, ia tidak akan peduli lagi. Bahkan semua pakaian dan barang-barang Leo sudah dia buang. Dia sangat benci pada laki-laki itu.
Nathan segera masuk ke dalam kamar mandi. Segera dia membersihkan dirinya, dan tidak memerlukan waktu lama dia akhirnya selesai mandi.
Nathan keluar dari dalam kamar mandi dengan santai. Begitu dia melihat ke arah meja makan, dia disuguhkan dengan makanan yang terlihat sangat menggugah selera. Nathan hanya mampu meneguk salivanya dengan kasar. Tetapi dia tidak mendapati keberadaan istrinya.
Nathan segera masuk ke dalam kamar tamu yang sepertinya akan mulai menjadi miliknya. Tentu saja! Mengingat selama dua minggu ini dia selalu tidur di sana. Nathan segera memasang pakaian kantornya. Dia hanya mampu menghembuskan napas kasar saat mengingat moment-moment bahagia dirinya bersama Dara. Dulu Dara lah yang selalu memasangkan dasi untuknya. Tetapi kini dia harus melakukan itu semua sendiri.
Nathan segera keluar dari dalam kamar. Dia hanya melirik sekilas makanan yang dihidangkan, lalu segera berangkat tanpa mengucap sepatah kata pun pada istrinya, bahkan salam pun sama sekali tidak.
Dara yang sedang bersembunyi di bawah tangga menatap sendu kepergian suaminya. Kini Nathan yang sekarang sudah tidak sama sekali seperti Nathan yang dia kenal dulu. Kini dia sudah tidak menemukan sifat dan sikap Nathan yang suka menjahilinya. Semuanya tergantikan dengan sikap dingin Nathan.
"Aku kangen sama moment di mana kamu ngejahilin aku, Mas ..." gumam Dara pertama kali memanggil Nathan dengan sebutan Mas. Ya, dulu dia sangat benci dengan sikap Nathan yang suka membuatnya naik darah. Tetapi kini dia justru merindukan masa-masa itu. Kenapa semuanya harus berubah? Tetapi memangnya siapa yang pantas dia salahkan? Nathan? Tentu tidak! Sangat wajar sekali jika laki-laki itu kecewa padanya. Leo? Ya, seharusnya Leo yang disalahkan, karena ulah laki-laki itulah yang membuatnya seperti ini. Tetapi tetap saja ini semua adalah salahnya. Dia yang tidak bisa menahan diri.
"Maafin aku ..." lirih Dara yang suaranya semakin kecil. Kini air matanya perlahan jatuh membasahi lantai.
Ingin sekali rasanya dia menyapa Nathan, tetapi itu tidak mungkin, melihat tatapan Nathan seperti sangat membencinya.
Perlahan Dara segera berjalan menuju meja makan. Dia lalu melahap masakan yang sudah dia buat untuk suaminya itu.
Selesai makan, Dara segera kembali ke kamarnya. Meski pun dia sedang sedih, tetapi dia tidak boleh mengabaikan pekerjaannya begitu saja, bagaimana pun dia harus profesional terhadap pekerjaan.
Semua yang terjadi di rumah itu tentu di perhatikan oleh seseorang dari monitor laptopnya. Dia tersenyum puas melihat rumah tangga Nathan dan Dara kini hancur. Sekarang yang perlu dia lakukan adalah mendekati Nathan saja. Setelah berhasil, maka dia pastikan akan menghempaskan Dara dari dunia ini. Ya, sejak kejadian itu, dia memang nekad memasang CCTV di rumah Nathan. Untungnya saat itu memang sepi, sehingga dia berhasil.
Selama dua minggu itu dia terus memperhatikan setiap aktivitas yang dilakukan Nathan, dan apa saja yang terjadi di antara kedua manusia tersebut. Dan dia justru tersenyum puas saat melihat Nathan dan Dara yang tidak bertegur sapa.
"Ya, setidaknya that's oke wajah gue jadi korbannya waktu itu. Lagian, bukankah dia menampar karena menganggap gue Dara?" kekeh Lucy.
"Akan ku pastikan segera mendapatkan Nathan! Lihatlah ... betapa lemahnya diri lo, Aldara!" Lucy tersenyum sinis.
"Nathan, setelah ini aku pastikan kita akan hidup bahagia. Kita akan hidup bersama-sama dengan keluarga kecil kita. Dan of course kita berdua harus menghempaskan pasangan kita masing-masing!"
FLASH BACK
__ADS_1
Lucy meringis merasakan sakit sekaligus panas yang menjalar dari pipinya. Sungguh, pukulan Nathan bukan main kuatnya.
'Gila, kenapa jadi kayak gini? Gue pikir Nathan bakal ngajak gue tidur bareng sebagai ajang balas dendamnya. Tapi, kenapa malah gue ditampar?' Lucy menggerutu dalam hati. Ini benar-benar di luar ekspektasinya.
"SAYA PASTIKAN AKAN MENGUGAT CERAI KAMU, DAR!" teriak Nathan lagi dengan suara yang sangat nyaring.
Bughh
Lucy seketika oleng ke bawah saat Nathan melayangkan tamparan di wajahnya. Untungnya dia tidak pingsan meski pun pukulan itu terasa sangat sakit sekali. Ingin sekali rasanya dia menangis, tetapi dia berusaha menahannya mati-matian. Lagian, dia tidak mau dilihat lemah.
Lucy menatap Kendrick, memastikan laki-laki itu tidak melihat kejadian memalukan yang baru saja terjadi.
Seketika Lucy bernapas lega melihat Kendrick yang ternyata tidak memperhatikannya, melainkan memperhatikan beberapa wanita malam yang sedang melenggok-lenggokkan tubuhnya.
Setelah memberikan pukulan itu, Nathan langsung ambruk ke atas meja. Mungkin efek terlalu banyak minum tadi.
Sementara Kendrick benar-benar tidak mampu menahan tawanya. Mati-matian dia menahan tawa saat Lucy mengalihkan pandangannya ke arah dirinya. Setelah Lucy tidak memperhatikannya, dia kembali tertawa, tapi kali ini dia berpura-pura tertawa seperti orang yang sedang mabuk. 'Sialan! Mata perjaka gue ternodai dengan pemandangan di depan! Berpenampilan seperti itu, padahal sama sekali tidak cantik!' gerutu Kendrick saat melihat para wanita yang melenggok-lenggokkan tubuhnya. Cantik tidak! Menjijikkan iya!
Lucy segera bangkit. Meskipun dia sedang kesakitan sekarang, tetapi dia tidak boleh mengabaikan Nathan begitu saja. Anggap saja sekarang dia sedang berjuang untuk mendapatkan Nathan, dan dia sendiri tahu yang namanya berjuang bukanlah hal yang mudah.
'Semangat Lucy! Jangan marah hanya karena tamparan ini, lagian bukankah dia menganggap mu Dara? Jadi, wajar saja jika dia menamparmu.'
"Than ... biar aku antar kamu, ya?" tawar Lucy dengan lembut sembari mengelus lembut bahu Nathan. Tetapi Nathan langsung menepis tangan Lucy dengan kasar.
"Than ... tapi ini aku, Lucy. Bukan Dara. Aku nggak akan mungkin seperti Dara. Aku sangat mencintaimu." Lucy berusaha memberi pengertian pada Nathan, tetapi Nathan seakan-akan tidak mengerti dengan ucapannya.
"PERGI KAU, J*L*NG!" teriak Nathan nyaring.
Lucy hanya bisa pasrah saja. Dia segera berjalan meninggalkan Nathan, lalu menghampiri Kendrick. Lucy tidak berbicara apa pun, dia hanya memberikan bahasa tubuh, dengan maksud meminta Kendrick untuk keluar.
Kendrick yang paham segera mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera dia menyusul Lucy dengan berjalan biasa, seperti orang yang tidak mabuk. Ya, memang dia tidak mabuk sih.
"Kenapa kau tidak membawanya?" tanya Kendrick pura-pura penasaran.
"Hufh ... karena tidak bisa," jawab Lucy dengan pelan. "Sekarang kita pergi saja. Biarkan Nathan di sana sendirian. Mungkin dia memang perlu waktu sendiri. Setidaknya aku sudah berhasil membuat Nathan benci dengan istrinya." Senyum terbit di wajahnya.
'Kenapa, Lus? Kenapa kau harus memiliki sikap yang seperti ini? Kenapa kau sangat terobsesi dengan segala-galanya? Padahal aku sangat mencintaimu' lirih Kendrick dalam hati sembari menatap Lucy dengan pandangan sendu. Ya, Kendrick tidak bisa berbohong jika dia mencintai Lucy, tetapi dia mencintai Lucy saat dia melihat wanita itu yang polos, lugu, dan baik. Dia bahkan rela jadi supir dan sekarang menjadi bodyguard demi bisa dekat dengan wanita itu. Tetapi sayangnya, dia tertipu dengan wajah polos itu. Ternyata Lucy yang asli benar-benar sangat mengerikan.
'Padahal aku berniat menjadikanmu istriku saja'
FLASH BACK OFF
Rupanya ada sepasang mata dan sepasang telingga yang mendengar seluruh ucapan Lucy. Dia menunduk, perlahan air matanya jatuh. Dia tidak menyangka jika ibu nya adalah orang yang jahat.
Ronald menarik napas panjang, lalu menyeka air matanya. Segera dia berlari mendekati ibu nya dengan wajah seceria mungkin "Mommy. Bisakah kau antar aku ke sekolah?" tanya Kendrick dengan wajah memohon.
__ADS_1
Lucy terdiam sebentar. "Maaf, Sayang. Tapi Mommy—" Lucy menghentikan ucapannya saat melihat putranya yang menunduk. Sekarang dia justru tidak tega. Dia memang sangat jarang sekali menghabiskan waktunya bersama putranya itu, tetapi meski pun demikian, dia benar-benar sangat menyayangi putra semata wayangnya.
Meski pun Ronald adalah anak dari kesalahannya di masa lalu, tetapi dia sama sekali tidak pernah menganggap Ronald anak yang diinginkan.
"Eum ... baiklah! Kebetulan Mommy juga lagi nggak ada kerjaan sekarang. Ayok kita berangkat, nanti kamu telat lho." Lucy segera menutup laptopnya, lalu menggendong putranya.
Lucy segera menjalankan mobilnya menuju salah satu TK yang ada di kota tempat tinggalnya sekarang. Ya, Ronald memang bersekolah. Itu semua karena dia terus merengek padanya, sehingga membuatnya tidak tega, dan akhirnya memasukan putranya itu ke TK untuk sementara saja.
Sepanjang perjalan yang ada hanya kesunyian saja. Lucy dan Ronald seperti orang asing saja. Lucy sendiri tidak tahu apa yang bisa dia bicarakan pada putranya, sehingga dia memilih untuk diam saja.
Mereka memang anak dan ibu, tetapi terkadang mereka bersikap seperti tidak mengenal satu sama lain.
"Aku sekolah dulu ya, Mom. Aku mencintaimu. Bye ...." Ronald melambai-lambaikan tangannya, lalu segera berlari masuk.
Lucy tersenyum melihat putranya. "Mommy juga sangat menyayangi kamu, Sayang," gumamnya.
Baru saja Lucy berniat masuk ke dalam mobil. Dia terdiam saat matanya tidak sengaja menatap seorang laki-laki yang sangat dia kenali. Mendadak saja tubuhnya bergetar hebat. Air matanya secara tiba-tiba jatuh. Kenangan beberapa tahun silam kembali menghantuinya.
"Ke–kenapa? Kenapa dia kembali?" lirih Lucy saat melihat sosok yang itu yang perlahan pergi. Tiba-tiba seluruh kenangan buruk tentang dirinya kembali melintas di benaknya. Ah, betapa menyadihkannya hidupnya.
"Benar-benar hidup yang mengerikan," kekeh Lucy tertawa garing. Dia menertawakan hidupnya sendiri yang sangat mengerikan, sehingga membentuknya seperti sosok iblis sekarang ini.
Lucy segera masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan, meninggalkan TK tersebut.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1