Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Bakso Untuk Mertua


__ADS_3

"Lo bisa diam nggak sih!"


Dengan cepat, satu mangkok bakso itu kandas oleh Dara. Sementara Nathan hanya mampu menggeleng-geleng kepala melihat Dara yang sudah seperti orang tidak makan selama setahun saja.


"Lagi?" tanya Nathan saat Dara mengelap bibirnya menggunakan tissue.


"Cukup!" ketus Dara, lalu segera pergi dari sana, meninggalkan Nathan yang melotot, karena Dara meninggalkan dia begitu saja.


"Dar, tungguin!" teriak Nathan, lalu bangkit berdiri, berniat untuk mengejar wanita itu. Tetapi sebelum itu terjadi, teriakkan seseorang lebih dulu terdengar, sehingga membuat Nathan mengurungkan niatnya.


"Eh ... Kang, baksonya belum dibayar!"


"Hais ... gue lupa bayar lagi," gerutu Nathan, lalu segera mengeluarkan uang di saku celananya.


"Nih!" Nathan menyodorkan uang 25 ribu pada pedagang tersebut.


"Lho, kok cuman 25 ribu, Kang?"


"Lah, saya kan makan baksonya cuman satu, sama es teh manis satu gelas?"


"Punya istri Akang tadi belum dibayar, Kang."


'Ckk ... sialan tuh calon istri!' Nathan hanya mampu merutuki Dara yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Nih!" Nathan kembali memberikan uang sebesar 150 ribu.


Mata pedagang bakso tersebut berbinar. "Kembaliannya untuk saya ya, Kang?" Dengan tidak tahu malunya pedagang itu bertanya.


"Sembarangan kamu suami orang! Saya pesan tiga mangkok bakso lagi, dibungkus! Kembaliannya untuk Abang aja." Sebenarnya Nathan bukanlah laki-laki yang pelit-pelit amat, hanya saja laki-laki itu sangat suka sekali mengganggu Dara, dan senang jika melihat wanita itu mengamuk. Ya, meski pun nyawanya terancam punah.


"Ckk ... ini uang pas atuh, Kang! Yaudah bentar, saya buatin dulu baksonya!" Pemilik kedai bakso tersebut segera pergi menuju gerobaknya, untuk membuat tiga mangkok bakso lagi, sesuai pesanan.


Tak berselang lama, pemilik bakso tersebut kembali dengan membawa satu plastik berukuran besar, lalu menyerahkannya kepada Nathan.


"Nih!" Nathan kembali menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada pemilik kedai bakso tersebut.


"Pesan lagi ya, Kang?"


"Enggak, ini untuk Abang. Berhubung saya ganteng, jadi saya pengen sedekah." Nathan tersenyum ramah, kemudian segera pergi menyusul Dara, sebelum wanita itu mengamuk dan menghancurkan kota.

__ADS_1


"Lama amat!" ketus Dara saat Nathan baru saja masuk ke dalam mobil.


"Saya tadi pesan tiga bungkus bakso lagi buat calon mertua, dan adik ipar." Nathan menjawab dengan lembut.


"Saya minta maaf atas perlakuan saya tadi, yang udah lancang mencium kamu. Saya nggak bermaksud apa-apa, Dar. Saya mencintai kamu, bahkan sangat mencintai kamu." Nathan berkata dengan senyum manis yang terus terukir di wajah tampannya, dan kini telapak tangannya dengan berani mengelus rambut wanita itu yang terdiam.


Dara menjadi sedikit salah tingkah saat Nathan memperlakukannya dengan lembut, bahkan laki-laki itu terlihat seperti pria dewasa. Tanpa sadar, pipi Dara ngeblush.


"Cie ... baper nih, ye? Emang sih pesona seorang Nathan itu nggak usah diragukan lagi, bahkan perempuan yang sadis aja luluh dengan ketampanan seorang Nathan Geovanni Adijaya." Nathan berkata dengan pede. Rupanya laki-laki itu hanya berpura-pura saja meminta maaf, karena itu sama sekali bukan dirinya banget. Pantang untuk dirinya untuk meminta maaf pada seorang perempuan bernama Dara.


Bughh


Dara kembali melayangkan pukulan di bahu Nathan, dan kali ini cukup kuat, sehingga membuat Nathan sontak terdiam, tidak berani lagi mengeluarkan sepatah kata pun.


'Ini sih kalau berani main-main sama macan'


Nathan memilih untuk mengendarai mobilnya saja, karena jika dia berani mengeluarkan sedikit saja suara, maka wanita yang ada di sampingnya mungkin saja akan menerkam dirinya, mengingat Dara adalah wanita yang sadis, pembohong, mana tidak setia lagi.


Tak berselang lama, mobil memasuki perumahan elit milik keluarga Anderson.


Nathan segera memparkirkan mobilnya. Baru saja dia selasai, Dara lebih dulu keluar, meninggalkan Nathan yang hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.


"Assalamualaikum." Nathan dan Dara kompak mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam." Di ruang tamu tersebut terlihat tiga orang sedang menonton TV.


"Tumben adek ada di rumah," celetuk Dara yang sedikit heran melihat keberadaan adiknya di sana, padahal laki-laki itu sangat jarang mau berkumpul bersama.


"Karena gue pengen jadi adik yang baik sebelum lo pergi dari rumah ini, Kak," jawab Daffa singkat, dan hanya dibalas anggukan oleh Dara.


"Oh iya, ini Nathan bawakan bakso untuk kalian!" Nathan menyerahkan sebungkus bakso tersebut dengan senyum manis yang terpantri di wajah tampannya.


'Cih ... cari muka doang! Aslinya pelit nggak ketulungan!'


"Wah, ternyata kamu memang calon menantu yang the best, Than!" Damar mengacungkan dua jempol pada Nathan, sehingga membuat Nathan merasa terbang di udara.


'Cih ... baru juga dipuji dikit, udah mau lepas aja tuh kepala!'


Vira lalu mengambil bakso tersebut, lalu membawakannya ke dapur untuk dituangkan ke dalam mangkok.

__ADS_1


Nathan duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang dengan calon mertua dan adik iparnya. Sementara Dara ijin ke kamar untuk membersihkan badannya yang terasa lengket.


Tak berselang lama, Dara keluar dengan baju tipis miliknya. Dia tidak tahu saja jika pakaiannya tersebut membuat Nathan meneguk salivanya tanpa sadar.


Tantu saja! Dara memakai celana yang pendek, sehingga menampilkan paha mulusnya yang membuat adik kecilnya mendadak bangun. Rasanya ingin sekali dia membawa Dara ke semak-semak, terus memperk*sa wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


'Bawa ke semak-semak ... engak? Bawa ke semak-semak ... enggak? Jangan deh, entar bukannya belah duren, malah anu gue yang dipotong'


"Baksonya enak! Emang berapa semangkoknya, Bang?" tanya Daffa setelah menghabiskan semangkok yang rasanya sangat nikmat.


"20 ribu," jawab Nathan singkat.


"Buset, mahal amat!"


"Nah benar, 'kan. Emang dasar tuh tukang bakso. Masa jualan mahal banget, mana Dara nya mesan tiga mangkok lagi, kan auto bangkrut Abang," cerocos Nathan panjang lebar tanpa sadar, sehingga membuat Daffa tertawa terpingkal-pingkal.


Dara memang pernah mengatakan padanya bahwa Nathan memiliki sifat yang pelit. Jadi, Daffa hanya ingin mengetesnya saja, dan sayangnya itu malah benar.




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2