Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Baperan


__ADS_3

Saat ini Nathan dan Dara sedang di perjalanan menuju rumah sakit untuk memastikan apakah Dara hamil atau tidak. Senyum terus mengembang di bibir Nathan. Doa terus dia rapalkan, berharap semoga saja apa yang ada di pikirannya benar-benar menjadi kenyataan. Dia benar-benar tidak sabar rasanya memiliki seorang malaikat kecil yang nantinya akan memanggil ia dengan panggilan Papa.


Dara memperhatikan suaminya yang terlihat seperti sangat senang sekali. Seketika ada perasaan takut dalam dirinya. Takut ternyata ia sebenarnya tidak hamil dan malah hanya masuk angin saja, mengingat dia tidak makan sama sekali tadi.


"Kamu kayaknya senang banget deh," celetuk Dara akhirnya, membuat Nathan langsung mengalihkan pandangannya sebentar ke arah istrinya. Dielusnya dengan lembut rambut Dara, membuat wanita itu merasa nyaman.


"Siapa sih yang nggak senang kalau istrinya hamil?"


"Kalau misalnya aku ternyata nggak hamil gimana?" tanya Dara ingin tahu.


"Ya tinggal sodok lagi aja," jawab Nathan ngawur yang sukses membuat Dara mecubit paha pria itu.


"Gue serius, Than!"


"Sakit, Sayang!" Nathan merengek sembari mengusap pahanya yang terasa panas akibat cubitan istrinya. "Lagian aku juga serius kok. Kalau kamu belum hamil, berarti perlu disodok terus sampai hamil," imbuh Nathan.


Dara menjadi gemes sendiri dengan tingkah suaminya itu. Kata sodok itu lho membuatnya merinding. Apa tidak ada kata yang lebih halus lagi apa?


"Heran gue punya suami. Kenapa nggak waras banget coba!" Dara menggerutu sendiri, namun masih bisa didengar Nathan. Bukannya marah atau pun tersinggung, pria itu justru terkekeh, lalu dengan gemesnya mencubit pelan hidung istrinya, membuat Dara berdecak kesal.


"Nggak apa-apa. Yang penting kan genteng, jadi nggak akan ngerusak keturunan."


"Ckk ... gimana kalau misalnya ternyata gue hamil anak Leo?"


Pertanyaan Dara sontak membuat Nathan menatap horor wanita itu. Bisa-bisanya istrinya memberikan pertanyaan macam itu.


"Kamu jangan ngadi-ngadi ya, Dar! Nggak lucu tau nggak! Kamu nggak pernah kan berhubungan dengan Leo? Awas aja kalau ternyata kalian pernah bermain api di belakang. Aku potong nanti tit*tnya si Leo!"


Melihat perubahan raut wajah suaminya yang menjadi kesal, Dara jadi merasa sedikit bersalah.


"Ya nggak lah! Mana mungkin aku selingkuh dari suami aku yang paling ganteng ini. Masa nyelingkuhin cowok ganteng demi cowok yang pas-pas'an kayak Leo."


Cupp


Dara melayangkan kecupan di pipi suaminya. Membuat Nathan tersenyum senang. Akhir-akhir ini istrinya itu emang lebih manja dengannya. Kadang minta peluk, bahkan kadang minta cium. Tapi itu semua jika berada di kamar saja, karena jika di ruang tamu, maka akan terjadi perang dingin.


"Bagus, Dar. Jangan mau sama Leo. Leo itu burik, nggak ada ganteng-gantengnya kayak saya. Mana nggak laku lagi." Nathan tertawa setelah puas menghina sahabatnya sendiri. Memang sahabat l*cknut!


Drttt drttt


"Dar, tolong dong. Itu ponsel aku getar. Tolong liat siapa yang nelpon."


Dara mengambil ponsel suaminya. Lagi pula memang tidak ada yang perlu disembunyikan Nathan dari istrinya itu. Tidak mungkin dia menyelingkuhi Dara, wanita yang sangat ia cintai dan sayangi.


Begitu pun sebaliknya, pola ponsel Dara pun diketahui oleh Nathan. Jadi tidak ada yang disembunyikan, mereka kompak saling terbuka satu sama lain, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.


"Leo nih ...." Dara memperlihatkan layar ponsel tersebut pada Nathan.


"Tumben banget si curut nelpon. Jangan-jangan mau minta disodok."


Gumaman Nathan membuat Dara melotot. Sebenarnya suaminya ini normal atau tidak sih? Sepertinya sangat berharap sekali bisa bermain kuda-kudaan dengan sesama jenis.


"Gue heran punya suami kayak lo, Than. Dulu wanita pembohong, mana nggak setia lagi, habis itu belah duren. Eh sekarang malah sodok lagi! Bisa dikurangin dikit nggak sih m*esumnya?"

__ADS_1


"Nggak bisa, itu udah mendarah daging," sahut Nathan asal.


Tidak mau berdebat lagi dengan suaminya, Dara memilih untuk mengangkat panggilan dari Leo saja.


"Halo?" panggil wanita itu begitu panggilan tersambung.


"Halo? Ini siapa? Selingkuhannya Nathan, kah? Wah, gue nggak nyangka kalau Nathan bisa selingkuh juga. Bagus, gue suka sama sahabat yang suka selingkuh. Lagian, gue yakin banget kalau Nathan nggak akan mungkin bisa betah tinggal sama Dara. Secara kan tuh wanita sadisnya minta ampun. Masa main KDRT mulu sama suami. Fixs, gue setuju kalau Nathan selingkuh."


Leo langsung saja nyerocos di seberang sana tanpa henti. Sebenarnya dia tau kalau yang mengangkat telpon Nathan tersebut adalah Dara, jadi dia sengaja ingin bercanda dengan istri sahabatnya itu. Lagian mana mungkin Nathan bisa selingkuh jika sudah bersanding dengan Dara. Ia tahu betul sifat sahabatnya itu, bahkan ia tahu betapa besarnya cinta Nathan pada istrinya.


Napas Dara memburu mendengar cerocosan Leo. Sementara Nathan berusaha menahan tawanya melihat wajah istrinya yang memerah, mungkin karena sedang menahan amarah.


"MAKSUD LO APA, HAH? LO MAU GUE BUNUH LEO?"


Nathan meringis mendengar teriakkan istrinya yang menggelegar.


"Ja–jadi ini Dara, ya?" tanya Leo pura-pura terkejut di seberang sana.


"Hayo lho, Yo. Ini kita mau ke pasar, rencananya mau beli golok buat nyodok kamu," kekeh Nathan, namun langsung terhenti saat melihat tatapan istrinya yang setajam silet sedang menatap ia.


"Ada apa nelpon, Yo?" tanya Nathan yang kini sudah mulai serius.


"Nggak jadi aja deh. Gue takutnya istri lo ngamuk nanti. Entar makin ngeri lagi. Ya udah, gue matiin ya. Byee ...."


Setelah itu panggilan berakhir. Ponsel Nathan yang kebetulan masih berada di genggaman Dara langsung ia lempar begitu saja karena saking kesalnya dengan Leo.


Bukk


Nathan melotot melihat ponselnya yang dibanting oleh istrinya. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Itu hp lho, Dar. Belinya pakai duit, masa kamu main-main lempar-lempar aja!" Nathan menatap kesal istrinya, sehingga membuat Dara ingin menangis.


"Ya udah, kamu pilih siapa? Aku atau hp kamu itu? Kalau kamu nggak suka sama aku, ceraiin aja aku nya!"


Nathan melongo mendengar penuturan istrinya. Ini kenapa istrinya jadi baperan? Padahal setuhunya, Dara bukanlah sosok yang mudah baper.


"Nggak gitu maksud aku, Sayang. Tapi, benda yang kamu lempar itu berharga lho." Nathan berusaha menjelaskan baik-baik pada istrinya. Bukannya tidak mampu membeli ponsel baru, hanya saja dia tidak suka cara Dara yang asala melempar ponselnya itu.


"Iya, aku tau kalau aku itu nggak berharga buat kamu!"


Setelah mengatakan itu, Dara segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Sementara Nathan benar-benar dibuat melongo. Ini istrinya tidak lagi kesurupan, kan?


'Ini istri hamba kenapa Ya Allah? Masa cuman gitu doang baperan!'


Nathan hanya bisa berusaha untuk bersabar. Mengelus dadanya, lalu mengurangi kecepatan mobilnya dengan sesekali menatap ke samping.


Hiks ...


Nathan terlonjak kaget mendengar isak kecil. Ia lalu menatap ke samping, dan benar saja, bahu Dara bergetar.


"Astagfhirullah, kamu kenapa nangis Sayang?"


Alih-alih menjawab, tangisan Dara malah semakin kencang. Segera saja Nathan menepikan mobilnya, lalu berusaha membalikkan tubuh istrinya. Meski mendapat penolakan dari Dara, tapi tenaga pria itu jauh lebih kuat.

__ADS_1


"Kamu kenapa nangsi, Sayang? Aku ada salah, ya? Aku minta maaf."


Nathan menatap istrinya dengan tatapan bersalah. Diusapnya secara lembut air mata yang mengalir dari pelupuk mata istrinya.


"Ka–kamu jahat. Kamu ternyata lebih sayang sama hp kamu dari pada aku. Hiks ... hiks ...."


"Astagfhirullah, Sayang. Nggak ada ceritanya kayak gitu. Mana mungkin aku lebih sayang sama hp dibandingkan kamu. Aku tuh cinta mati sama kamu." Meski bingung melihat tingkah istrinya, Nathan memilih untuk menenangkannya saja. Merasa tidak tega melihat istrinya yang menangis seperti itu.


"Beneran, kan?" tanya Dara dengan sedikit sesenggukan.


"Iya, sumpah."


Astaga, Nathan benar-benar dibuat gemes dengan tingkah istrinya itu. Bagiamana mungkin wanita itu bisa menangis hanya karena masalah sepele saja?


"Ta–tapi kamu nggak ada niat pengen selingkuh, kan?"


"Hah? Kenapa kamu bisa kepikiran sampai sana? Ya, nggak mungkin lah!"


"Tapi tadi kata Leo kamu bisa aja selingkuh karena pasti nggak sanggup hidup sama perempuan sadis kayak aku," ucap Dara dengan wajah yang polos. "A–aku nggak mau dimadu, Than ...." Tangis Dara semakin kencang.


Nathan sendiri, bukannya kasihan, sekarang malah ingin tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan terakhir istrinya. Ada-ada aja di pikiran istrinya itu sampai berpikir akan dimadu segala.


'Sialan lo, Leo! Gara-gara lo gue jadi stres ngeliat bini gue yang tiba-tiba baperan kayak gini!'


Nathan membawa istrinya itu ke dalam dekapannya, diciumnya dengan lembut pucuk kepala wanita itu. Dara tidak menolak, dia menenggelamkan kepalanya di dad* bidang suaminya.


"Aku janji nggak bakal KDRT lagi sama kamu. Tapi, aku nya jangan dimadu, ya?"


Nathan berusaha mati-matian menahan tawanya agar tidak kelepasan. Yang ada tangisan istrinya semakin menjadi-jadi jika dia tertawa.


'Ya, Allah. Hamba mu ini pengen ngakak.'


"Aku nggak masalah kok kalau kamu mau nyubit, nampar, atau mukul aku sekali pun. Yang penting jangan pernah ninggalin aku, karena duniaku akan terasa hampa tanpa kamu di hidupku."




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2