Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)

Menikah Dengan Pria M*esum (Suami Takut Istri)
Tidak Menyangka Jika Dia Sesakit Itu


__ADS_3

"Dar, itu bukan punya saya!" Nathan berusaha untuk mengelak, meski pun percuma saja, karena jelas-jelas terdapat namanya di lembaran tersebut.


"Kenapa, Than? Lo trauma kenapa?" Dara menatap wajah suaminya. Siapa sangka jika wajah ceria itu ternyata menyimpan luka yang hanya dia sendiri yang tau.


"Enggak, Dar! Dokter salah periksa!" Nathan masih saja berusaha untuk mengelak, sepertinya dia benar-benar tidak mau Dara tau kelemahannya.


"JANGAN BOHONG! LO KENAPA BISA DEPRESI!" Dara yang kesal langsung berteriak di depan wajah suaminya. Bagaimana mungkin suaminya itu masih mengelak sementara buktinya sudah nyata?


"Apa ini karena kejadian itu?" tanya Dara dengan suara lirih.


Nathan diam, lidahnya mendadak kelu untuk menjelaskan pada istrinya tersebut. Dia terlalu malu dan tidak mau membuat Dara merasa bersalah nantinya.


"Jawab gue, Than!" pinta Dara dengan wajah sendunya. Air matanya menetes membayangkan betapa sengsaranya Nathan, dia yang depresi ringan saja sudah sangat sengsara, lantas apa kabar dengan suaminya tersebut?


Nathan menghembuskan napas berat. "Iya, saya mengalami depresi hebat! Saya memiliki trauma!" jawab Nathan dengan jujur akhirnya.


"Apa yang buat lo depresi? Apa yang buat lo sampai trauma seperti ini?" lirih Dara.


"Nggak ada apa-apa, Dar!" Rasanya Nathan belum siap mengatakan jika dia seperti ini karena istrinya, karena pengkhianatan istrinya dan Leo, sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Gue mohon, Than." Dara menatap mata suaminya. Memelas agar Nathan mau mengatakan fakta yang sebenarnya.


"Iya! Saya sempat depresi karena kejadian itu. Saya terpukul, apalagi pengkhianatan itu dilakukan oleh kekasih dan sahabat saya sendiri. Sa–saya benar-benar nggak bisa nerima fakta itu, Dar! Saya sakit! Tetapi saya nggak tau kalau ternyata saya mengalami depresi yang hebat. Saya sudah pergi ke psikolog, tapi hasilnya percuma. Sa–saya tetap aja sakit hiks ...." Nathan menangis sesenggukan. Dia benar-benar merasa jika dirinya sangat lemah, sehingga tidak mampu melawan rasa trauma tersebut, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Sewaktu saya ngeliat Leo yang menyatakan cinta ke kamu, saya sudah mulai merasa sesak, dan saya sadar kalau tubuh saya mendadak lemah. Saya segera pergi waktu itu, dan sialnya, ternyata saya kecelakaan yang menyebabkan kaki saya patah, tetapi untungnya tidak permanen. Jadi, selama tiga hari saya tidak masuk itu, karena saya berada di rumah sakit. Saya memutuskan untuk pindah ke luar negeri saja karena nggak mau ngeliat kalian berdua lagi! Tetapi, saya baru sadar kalau saya memiliki depresi. Itu semua waktu saya ngeliat seorang laki-laki yang menyatakan cinta pada perempuan, dan caranya sama seperti yang kalian lakukan. Hingga di situ saya mulai merasa sesak, lemas, dan seketika teringat kembali kejadian saat Leo menyatakan cinta ke kamu, itu semua bagaikan roll film, Dar. Tetapi anehnya saya merasa sangat pusing saat itu, dan setelah itu saya tidak sadarkan diri. Begitu saya membuka mata, ternyata saya sudah berada di rumah sakit. Dokter lalu bertanya apa yang terjadi dengan diri saya sebelum saya pingsan. Setelah saya menjelaskannya, Dokter memprediksi jika saya kemungkinan mengalami depresi, karena gejala-gejala itu sama persis. Saya lalu pergi ke Psikolog, dan ternyata benar, saya mengalami depresi, dan yang lebih mengejutkannya, saya mengalami depresi akut!" Nathan mulai menceritakan dirinya saat pertama kali mengalami ganguan jiwa, hingga akhirnya dia diprediksi mengalami depresi. Dia berusaha untuk melawan rasa trauma tersebut, melakukan semua yang diminta oleh dokter, tetapi hasilnya tetap saja, nihil!


"Than, kenapa lo nggak pernah cerita masalah ini sama gue?" lirih Dara yang seolah merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya. Pasti sangat sesak sekali!


"Karena saya tidak suka dianggap lemah! Saya juga nggak mau buat kamu merasa bersalah. Jadi saya memilih untuk memendamnya sendirian, Dar." Nathan menjelaskannya yang seketika membuat hati Dara menghangat dan tersentuh.


"Lalu, kenapa penyakit itu bisa kambuh?" tanya Dara lagi, karena jelas jika penyakit laki-laki itu kambuh lagi, karena tidak mungkin dia mendapatkan surat dari rumah sakit.


"Karena saya mendengar cerita yang membuat saya mendadak teringat dengan kejadian itu! Tiba-tiba saya telingga saya sensitive mendengar kata 'perselingkuhan' dan 'pengkhianatan' dan tubuh saya langsung mendedak lemas, apalagi dada saya terasa sangat sesak," jelas Nathan, sepertinya tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi! Sudah saatnya istrinya tau semua kebenaran tentang dirinya.


Nathan terdiam, seolah tidak percaya jika apa yang sudah dia lihat dan dengar salah.


Dara yang tidak mendapat respon suaminya langsung mendonggakkan kepalanya, menatap mata suaminya yang terlihat ragu, dan terlihat seolah tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Ini yang membuat Dara ragu, dia takut jika suaminya tersebut tidak percaya dengan apa yang dia katakan nanti.


"Apa sebegitu nggak percayanya lo sama gue, Than? Sebenarnya lo cinta nggak sih sama gue? Kalau lo benar-benar cinta, lo pasti akan selalu percaya dengan gue. Tapi ... lihatlah, lo seakan-akan nggak percaya kalau yang lo liat itu cuman kesalahpahaman. Gue nggak ada selingkuh sama sekali sama Leo! Tolong lo percaya sama gue!" Dara menatap mata Nathan, berusaha meyakinkan laki-laki itu untuk percaya pada dia.

__ADS_1


"Baik, ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi saat itu," ucap Nathan akhirnya.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2