
Di dalam perjalanan Kenzo masih menangisi mertuanya yang sudah tak bernyawa lagi.
"Apa yang harus aku katakan pada Kaila Bu, aku tidak sanggup melihat Kaila sedih."
Bapak yang menolong Kenzo hanya diam mendengar dan melihat pemuda yang ditolongnya, sungguh pilu dan menyedihkan.
"Ikhlas kan kepergian beliau nak," hibur sang bapak paruh baya.
"Pak saya sudah ikhlas. Hanya saja saya bingung mau berkata apa pada istri saya, saya tidak tega mengatakan bahwa ibu istri saya telah meninggal." ucap Kenzo sendu.
Bapak penolong mendengarkan kalimat pemuda yang ditolongnya sangat sedih.
Namun, sebisa mungkin mencoba menghibur pemuda yang di lihatnya seumuran dengan anaknya yang sudah meninggal.
"Semua manusia di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi mas. Saya tahu mas nya sedih, tapi ini sudah jalan dari Allah mas, mas harus menerima nya dengan ikhlas."
Bapak tersebut menghembuskan nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saya paham apa yang mas rasakan. Dulu anak saya meninggal saya juga seperti mas nya. Tapi saya harus kuat dan ikhlas agar saya bisa menghibur istri saya, mungkin jika dulu saya terlalu sedih atas kepergian anak saya, saya tidak akan bangkit dari kesedihan atas meninggalnya anak laki-laki saya." curah bapak tersebut tetap fokus dengan kemudi.
Kenzo mendengar cerita dari bapak yang belum di ketahui namanya, yang bersedia membantu dirinya.
Kenzo melihat ada kesedihan di mata bapak tersebut, dia mencoba mendengarkan kisah pilu sang bapak yang kehilangan anaknya, sama halnya dengan dirinya saat ini, hanya saja Kenzo bukan kehilangan anak, tapi kehilangan mertuanya.
"Maaf Pak sebelumnya, saya belum mengetahui nama bapak. Apa boleh saya tahu nama bapak?" Kenzo sudah mulai berhenti menangisi ibu mertuanya.
Bapak tersebut sedikit lega mendengar pemuda yang ditolongnya sudah mulai berbicara normal.
"Nama saya Dibjo mas, mas nya dengan mas siapa yah kalau boleh bapak tau?" ucap bapak yang di ketahui namanya Dibjo.
"Nama saya Kenzo Wijaya Pak, Bapak Dibjo boleh panggil saya Kenzo." ucap Kenzo tersenyum ramah pada Pak Dibjo.
"Kenzo Wijaya, saya tidak asing dengan nama tersebut, ehmm.. " pak Dibjo mencoba berpikir setelah mengetahui nama pemuda yang di tolong nya.
"Masha'Allah, mas nya ini pengusaha yang pernah muncul di TV yah." tebaknya.
Kenzo hanya tersenyum mendengar Pak Dibjo mengenalnya.
"Masnya ternyata lebih ganteng dari pada yang di TV. Saya beruntung banget bisa bertemu mas Ken secara langsung." ucap Pak Dibjo melirik kaca spion.
__ADS_1
"Tadi bapak bilang kalau anak laki-laki bapak meninggal dunia, maaf Pak. Anak bapak meninggal karena apa yah ?" tanya Kenzo hati-hati takut menyakiti perasaan Pak Dibjo.
"Anak saya meninggal saat berusia 20 tahun, dulu dia sedang menuju arah jalan pulang dari kuliahnya, tapi tiba-tiba ada mobil yang menabraknya dari arah belakang dan mobil tersebut bukannya berhenti tapi malah kabur meninggalkan anak saya yang sedang sekarat di jalan." ucap Pak Dibjo sayu.
"Maaf Pak, saya jadi membuat bapak sedih mengingat kejadian yang menimpa anak bapak." sesal Kenzo.
"Tidak apa-apa mas, "
"Apa bapak mau saya cari tahu siapa yang telah menabrak lari anak bapak? "
"Tidak perlu nak. Saya sudah ikhlas atas apa yang menimpa pada anak saya. Saya yakin anak saya juga sudah mengikhlaskan apa yang menimpa nya."
"Saya tetap harus kuat karena memang ada pergi ada datang, alhamdulillah sekarang saya sudah punya cucu."
"Alhamdulillah kalau bapak tidak larut dalam kesedihan. Bapak juga boleh anggap saya seperti anak bapak sendiri." ucap Kenzo.
"Iya mas. Saya seperti sedang berbicara dengan anak saya."
"Nah mas, makanya masnya jangan sedih lagi yah, masnya harus kuat supaya bisa menguatkan istri masnya." lanjutnya.
"iya Pak. "
"oh ke kanan Pak, nanti langsung sampai ke rumah saya kok." balas Kenzo.
Kenzo memandang tubuh ibu mertuanya yang berlumuran darah , di pandang wajah damai sosok perempuan yang telah melahirkan perempuan yang kini menjadi istrinya, sangat mirip dengan istrinya, wajah cantiknya, berseri dan bercahaya.
"Semoga kamu bisa menerima ini semua adil, semoga kamu ikhlas atas apa yang menimpa pada ibu mu. " batin Kenzo menangis lagi.
Pak Dibjo paham apa yang tengah di rasakan Kenzo, walau Kenzo sudah ikhlas, tapi mengikhlaskan sesuatu yang sangat amat berharga sangat lah sulit.
Setelah sampai di depan rumah nya, Pak Dibjo membantu Kenzo membukakan pintu mobil. Kenzo keluar dengan menggendong tubuh ibu mertuanya yang sudah tak bernyawa.
Tok Tok Tok
"Assalamu'alaikum ail,ail." ucap Kenzo dari luar sedangkan Pak Dibjo berdiri di samping Kenzo.
"iya sebentar, " ucap Kaila dari dalam rumah.
Dibukakan pintu,
__ADS_1
"Waalaikum.... astaghfirullah Ibu, mas ibu kenapa mas, apa yang terjadi sama ibu. " tanya Kaila sudah bercucuran air mata melihat ibunya berlumuran darah.
"Nanti aku ceritain, sekarang kita masuk dulu yah. " ucap Kenzo lalu membawa tubuh Bu Aisyah ke dalam rumah, diletakkannya di sofa, Kaila langsung mendekati sang ibu.
"Mas, ibu kenapa mas, apa yang sebenarnya terjadi? "
"Ibu kecelakaan ail dan meninggal di tempat kejadian, " ucap Kenzo.
"Nggak. Nggak mungkin mas. Inu masih hidup kan mas, nggak mungkin ibu meninggal mas. Tadi pagi ibu baik-baik aja kenapa sekarang begini." tangis Kaila pecah melihat ibunya, di guncangnya tubuh kaku sang ibu, tidak ada pergerakan sedikitpun.
Kenzo mendekat ke arah istrinya. Dipeluknya tubuh lemah sang istri, didekapnya dengan erat.
Kenzo juga mengeluarkan air matanya melihat perempuannya menangis. Dia berusaha tetap kuat agar bisa menjadi kekuatan sang istri.
"Ikhlas kan ail, sekarang ibu harus segera di makamkan," ucap Kenzo mendekap sang istri.
"Hiks... hiks.. mas, aku akan ikhlasin ibu mas Aku gak mau membuat ibu sedih untuk terakhir kalinya." ucap Kaila lirih namun masih bisa di dengar Kenzo.
Kenzo lega mendengar penuturan sang istri yang mengikhlaskan kepergian Bu Aisyah.
"aAhamdulillah kalau kamu sudah ikhlas ail Jadi kepergian ibu akan dilancarkan semua sampai pemakaman." ucap Kenzo sembari mencium kening sang istri yang masih di pelukannya.
Pak Dibjo terharu melihat pasangan muda yang harus sedih kehilangan sang ibu. Karena tak enak, Pak Dibjo memutuskan pergi dari rumah pemuda yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri.
"Tadi aku di bantu sama.. loh Pak Dibjo kemana, kok gak ada. " ucap Kenzo saat teringat Pak Dibjo yang telah menolongnya.
Kaila ikut mencari sosok yang di bicarakan sang suami, namun hasilnya nihil, tidak ada seseorang yang di sebut sama suaminya.
"Besok aku cari tahu, yang terpenting sekarang adalah ibu, kita harus memberi kabar pada mama dan keluarga ail, agar ibu bisa segera di makamkan. " ucap Kenzo.
"iya mas, sembari menunggu kerabat datang, biar aku yang membersihkan darah ibu untuk terakhir kalinya. " ucap Kaila sendu.
"Tapi kamu kuat ail, aku khawatir sama kamu, kamu lebih baik duduk aja, biar aku hubungi mama dan kerabat kamu. "
"Hiks aku.. aku.. aku gak punya kerabat mas, aku sama ibu cuma hidup berdua selama ini, tidak ada kerabat mas. hiks.. hiks.. "
"Maaf yah ail, aku gak tahu. "
"Tak papa mas, "
__ADS_1
Lalu Kenzo menghubungi mama dan keluarganya, juga Andi untuk membantu proses pemakaman sang mertua.