Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Dalang Penculikan


__ADS_3

"Ada apa Ail, dan dimana Kenzie?" Kenzo memandang Kaila menanti jawaban.


Kaila terisak, bingung harus menjawabnya bagaimana.


Kenzo mensejajarkan tubuhnya dengan Kaila.


"Jawab Ail, Kenzie kemana!" bentak Kenzo mencekram kedua bahu Kaila yang bergetar.


"Kenzie hilang Mas, aku aku nggak tau Kenzie ada dimana," tenggorokan Kaila tercekak mengatakan bahwa anaknya hilang.


Orang-orang yang melihatnya ikut iba dan kasihan pada Kenzo dan Kaila.


"Lebih baik lapor polisi mas, biar anaknya bisa ketemu." saran salah satu orang yang melihat Kenzo.


Kaila tidak bisa membendung tangisannya lagi.


"Baik, saya akan segera lapor polisi. Terimakasih bapak ibu." Kenzo lantas menuntun Kaila dan meninggalkan tempat piknik.


Di dalam mobil hanya ada suara tangisan Kaila yang tidak. berhenti.


Sementara Kenzo diam dan menahan emosinya pada sang istri yang telah lalai menjaga sang anak.


Di rumah


"Udah nggak usah nangis lagi, tangisan kamu nggak akan membuat anak kita kembali saat ini." Kenzo berucap dengan nada dingin dan turun dari mobil meninggalkan Kaila.


Kaila kembali terisak lalu mengusap air matanya dan keluar mobil. Kaila menyusul sang suami.


Sesampainya di dalam rumah Kenzo tidak langsung duduk, melainkan berdiri membelakangi posisi Kaila yang baru masuk rumah.


"Jadi bagaimana Kenzie bisa hilang? hilang atau di culik kamu nggak tau." ucap Kenzo dengan menahan emosinya.


Kaila tidak bisa berkata-kata, ia juga menyesal. "Maaf mas." Kaila hanya menunduk tidak berani menatap suaminya saat ini.


"Maaf? kamu pikir dengan kamu meminta maaf bisa mengubah fakta bahwa Kenzie tidak di culik." Kenzo berbalik menatap Kaila.


"hiks... hiks... hiks" Kaila kembali menangis.


"Bisa-bisanya kamu ceroboh gini. sampai nggak tau bagaimana Kenzie bisa hilang!." maki Kenzo agak meninggikan nada bicaranya.


"Kalau saja kamu nggak minta beli es mungkin ini semua nggak akan terjadi." desis Kenzo menyalahkan Kaila.


Kaila hanya bisa menunduk dan menangis. Menyesal kenapa dia meminta suaminya membeli es dan malah meninggalkan Kenzie hanya karena bola.


Kenzo berjalan menjauh dari Kaila.


Menghubungi seseorang dari teleponnya.


"Saya nggak mau tau pokoknya anak saya harus ditemukan dengan cepat." pungkas Kenzo mengakhiri panggilannya.


Kaila menghampiri Kenzo.


"Mas" lirih Kaila.


"Aku tau aku salah, aku ceroboh dalam menjaga Kenzie aku aku hiks.. hiks, " Kaila tak kuat meneruskannya.


Kenzo sebenarnya emosi, marah, kecewa pada sang istri, tapi melihat wanita yang dicintainya menangis Kenzo juga tak tega.


Bagaimanapun Kaila juga seorang ibu, pasti juga merasa kehilangan atas anaknya.


"Sudah, kamu nggak usah sedih. Aku udah suruh orang untuk mencari Kenzie."


"Kita berdo'a semoga Kenzie bisa ditemukan." imbuh Kenzo dengan tak emosi lagi.


"Kamu bersihin tubuh dulu, mau masuk waktu dhuhur." titah Kenzo lalu pergi ke tempat kerja meninggalkan Kaila yang masih terisak kecil.


Di ruang kerjanya Kenzo mengusap kasar wajahnya.


Ingin marah tapi marah kepada siapa, Kaila sama sekali tidak bisa disalahkan dalam hal ini.

__ADS_1


Memang Kaila telah lalai dan ceroboh dalam menjaga anaknya, tapi ini juga karena Kenzo meninggalkan mereka.


Andai aja Kenzo tidak pergi menuruti keinginan istrinya. Mungkin saat ini Kenzie masih bermain dengan tawanya.


"Arghhhh," Kenzo mengacak rambutnya frustasi.


"Siapa yang berani menculik anakku. Akan aku temukan dan ku beri pelajaran karena telah bermain-main dengan Kenzo Wijaya."


Kenzo mengatur nafasnya dan menenangkan pikirannya.


Suara adzan dhuhur terdengar.


Kenzo bergegas membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat bersama sang istri.


Setelah selesai sholat tak lupa berdo'a untuk anaknya yang entah dimana, keduanya berdiam tanpa berbicara.


Berdiam dengan segala pikiran masing-masing. Kaila memikirkan bagaimana keadaan anaknya. Kenzo dengan pikirannya memikirkan siapa yang menculik anaknya.


Kenzo membalikkan tubuhnya menghadap Kaila.


"Kamu istirahat aja, aku usahain Kenzie ditemukan dan segera kembali dengan kita." ujar Kenzo menenangkan sang istri.


"Aku takut terjadi sesuatu dengan Kenzie Mas, aku nggak bisa hiks.. bayangin apa.. apa yang terjadi." Kaila kembali menangis.


Kenzo membawa tubuh Kaila kedalam dekapannya.


"Kita berdo'a semoga Kenzie baik-baik saja. Aku janji akan menemukan Kenzie." ucap Kenzo dengan sungguh-sungguh.


Kaila menangis dalam dekapan Kenzo hingga baju yang dipakai Kenzo terasa basah.


Kenzo mengelus lembut kepala Kaila.


Aku janji akan membawa Kenzie.


Sudah tidak terdengar lagi isakan Kaila, hanya deruan nafas yang teratur.


"Maafin aku aul sempat bentak kamu. Kamu juga sudah melakukan yang terbaik tapi mungkin ini sudah direncanakan."


Kenzo melepaskan mukenah yang masih menempel di tubuh sang istri.


Digendongnya tubuh Kaila yang tertidur dan dibawanya menuju ranjang.


Kenzo merebahkan tubuh sang istri yang terlihat rapuh.


Mata sembab karena menangis. Bekas air mata yang masih menempel di kedua pipi mulusnya.


Kenzo mengusap pipi Kaila dengan lembut takut membangunkan sang empu.


"Aku nggak akan membiarkan kamu menangis. Aku pasti akan menemukan anak kita. Aku janji." dikecupnya kening Kaila yang terlelap.


Kenzo meninggalkan Kaila dan keluar kamar.


Kenzo sibuk menelepon Andi untuk meminta bantuan.


Karena sampai sekarang belum ada tanda-tanda siapa yang telah menculik anaknya.


Kenzo yakin anaknya bukan hilang, melainkan ada seseorang yang sengaja menculiknya.


Tapi apa alasan menculik anaknya. Apa ingin tebusan atau apa. Kenzo benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang.


Sementara dilain tempat, seseorang tengah menunggu kedatangan orang suruhannya.


Dua orang yang menculik Kenzie membuka pintu rumah kosong dan tersenyum melihat sosok bosnya.


"Kerja bagus. Ini bayaran akhir untuk kalian karena berhasil menculik anak ini." menyodorkan amplop coklat berusia uang yang entah berapa nilainya.


"Terimakasih Bos." ucapnya serempak.


"Anaknya sudah saya bius obat yang tidak berbahaya jadi masih amanlah" ucap salah satu dari keduanya.

__ADS_1


Wanita tersebut mengangguk paham lalu mengambil alih Kenzie dari tangan orang suruhannya.


"Bagus bagus."


"Ini anak siapa bos? , sepertinya kelihatan dari keluarga kaya kalau dilihat dari wajah dan pakaiannya." tanyanya penasaran.


"Ini anak Kenzo Wijaya." jawabnya memperhatikan wajah bayi ditangannya.


"Hah, Kenzo Wijaya pebisnis besar yang sukses dan punya perusahaan ternama itu?" tanyanya memastikan.


Si wanita mengangguk.


"Kita tidak mau terjadi sesuatu pada hidup kita, jadi kerja sama ini sampai disini." Ucapnya takut setelah mendengar nama Kenzo Wijaya.


"Ya tidak masalah, saya sudah mendapatkan anak ini dan kalian. mendapatkan uang bayarannya. Impas kan." jawabannya enteng.


"Kalau begitu kita cabut duluan bos."


"kalau ada apa-apa jangan libatkan kami, karena kami tidak berani melawan Kenzo Wijaya." imbuhnya takut terseret masuk masalah dengan seorang Kenzo Wijaya.


"Sudah sana pergi, kalian menggangu kesenangan ku saja." usir wanita itu.


Kedua orang tersebut pergi.


Tersisa Kenzie dan wanita itu di dalam rumah kosong.


"Setelah ini pasti Kenzo akan menjadi milikku seutuhnya. Hahaha."


"Dengan bayi ini pasti rencana ku akan berjalan mulus." imbuhnya dengan yakin.


Kenzie tiba-tiba terbangun dan menangis.


"Huwaa yaaa hik hik haa oa oeoa." tangisan Kenzie mengagetkan Sasha.


Iya Sasha, ternyata Sasha ingin memiliki Kenzo dengan cara menculik anaknya.


Sasha berpikir jika dia menculik anaknya dan menyiksanya pasti Kenzo akan menuruti keinginan dan ucapannya karena untuk menyelamatkan anak satu-satunya yang ada ditangannya.


"BERISIKK!" bentak Sasha pada Kenzie.


Bukannya diam Kenzie menangis makin kencang.


"Sudah kubilang diam diam diam, jangan membuat marah!" bentaknya lagi tepat di wajah bayi mungil 5 bulan.


"Kalau saja bukan karena ayahmu mungkin aku sudah membunuhmu dari awal." seringainya licik muncul memikirkan ide yang terlintas di benaknya.


Kenzie masih menangis tapi tidak sekencang saat terbangun tadi.


Mungkin Kenzie tau sedang tidak dengan orangtuanya, tempat yang didepan matanya juga bukan rumah atau tempat yang biasanya.


Kenzie haus. Bayi gembul itu sesenggukan karena lelah menangis dan membuatnya haus.


"Oh kau haus. Sayang sekali ibumu tidak bisa menyusui mu."


Sasha meletakkan tubuh Kenzie di atas meja dan mulai menanggali pakaian yang dikenakan Kenzie.


"Menangis lah nak, menangis lah sekeras mungkin agar ayahmu datang."


Senyum licik tercetak jelas di bibir Sasha. Melihat tubuh polos bayi didepannya, membuat ide muncul.


"Ini karena kau merepotkan dan menjadi penghalang aku mendapatkan ayahmu." Sasha mencubit pipi serta kaki Kenzie. Membuat bayi 5 bulan itu menangis kesakitan.


Kegiatan tersebut tak luput dari handphone yang sedari tadi mulai merekam.


Tangis Kenzie menggema di seluruh ruangan. Tubuhnya merah kebiruan karena ulah Sasha.


"Sekarang mari kirim hadiah kepada ayahmu itu dan ibumu pasti akan syok." Sasha mulai mengetikkan sesuatu di layar handphone dan mengirimkan ke Kenzo.


"Beres. Kita lihat apa ayahmu akan datang menyelamatkan mu atau tida. Tapi tenang saja, aku pastikan ayahmu akan datang dan menuruti ucapanku dan menjadi milikku."

__ADS_1


__ADS_2