Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Pria Kurang Ajar


__ADS_3

Sudah dua hari tapi Kenzo masih sakit dan hanya berbaring di ranjang. Bangun ketika ada perlu ke kamar mandi dan sholat. Soal makan Kenzo disuapin oleh sang istri.


Ughhhh, sungguh nikmat sekali hidupmu Kenzo. Seperti bayi saja. Tapi mau gimana lagi, kondisi Kenzo memang sangat lemah dan butuh diperhatikan.


Karena Kenzo sakit membuat Kaila urung menanyakan apa yang Kenzo sembunyikan darinya. Tidak mungkin juga harus meminta Kenzo untuk bicara masalah ini dengan kondisi Kenzo yang sedang sakit.


Maka dari itu Kaila siang ini berencana pergi ke perusahaan suaminya untuk mencari tau apa yang terjadi pada suaminya dan apa yang disembunyikan darinya.


"Mas aku pergi dulu ya, kamu aku tinggal di rumah nggak papakan?" Kaila berbicara tapi sibuk mencari baju di lemari.


Kenzo hanya memperhatikan dari atas kasur.


"Mau kemana?" Tanya Kenzo dengan nada lemah.


Kaila menghampiri Kenzo setelah mengambil baju gamisnya dan menutup lemari.


"Aku kangen Aliya, lagian udah lama juga nggak ketemu. Jadi aku mau ke kontrakannya buat nengok Aliya." Kata Kaila bohong.


Kenzo diam mengernyitkan alisnya. "Kenapa sekarang? nunggu aku sembuh aja terus kita ke sana bareng." Ujar Kenzo.


Kaila tersenyum pada Kenzo, sebenarnya untuk menyembunyikan kebohongannya.


"Kamu sembuh kapan juga nggak tau kapan mas. Lagian kamu sakit sudah dua hari lohh." Kata Kaila.


"Kalau nunggu kamu sembuh lama mas, mana badan kamu makin panas. Boleh ya aku pergi? besok kalau kamu udah sembuh kita sama-sama ke tempat Aliya, tapi sekarang aku dulu aja ya?" Imbuh Kaila disertai sentuhan di tangan Kenzo agar suaminya mengijinkan.


Kenzo menimbang ucapan istrinya.


"Ya mas, boleh kan?"


Akhirnya Kenzo mengangguk.


"Makasih mas. Tenang aja aku cuma sebentar kok. Lagian Mang Diman aku suruh jagain rumah ntar kalo kamu butuh sesuatu bisa panggil dia."


"Tapi aku lagi nggak bisa jagain Kenzie."


Kaila tersenyum pada Kenzo. "Aku bawa Kenzie ke tempat Mariska aja. Kata kamu Mariska juga kamu liburkan gara-gara kamu sakit?"


Kenzo mengangguk lemah, sudah tidak ada energi.


"Aku ganti baju dulu ya, jagain Kenzie bentar bisa kan."


"Iya nggak papa, lagian Kenzie juga lagi anteng jadi aku nggak cape-cape jagain."


Kaila berdiri lalu meninggalkan Kenzo untuk berganti pakaian.


Selang beberapa menit Kaila kembali dengan sudah berganti pakaian.


"Kenzie rewel nggak?" Tanya Kaila.


"Masih anteng tidur tuh, padahal udah jam 8 lohh." Ucap Kenzo melirik box bayi anaknya.


Kaila mengambil handphone dan tas lalu menghampiri Kenzie di box bayi yang masih anteng tidur.


"Ya sama kayak Papahnya masih di atas kasur, semoga Papah kamu cepat sembuh ya sayang biar bisa main bareng lagi." Kaila mengangkat bayi gempalnya dari dalam box yang ternyata sudah membuka mata karena mendengar suara mamanya.


"Sayang, hari ini kita ke rumah tante Riska ya." Kaila mengajak bicara Kenzie.


"Aku pergi dulu ya. Jangan makan sembarangan lohh ya mentang-mentang aku nggak di rumah."


"Iya, mau makan gimana lagian aku lagi nggak nafsu."


"Ya udah aku pergi ya nganter Kenzie ke rumah Mariska dulu."


"Kenapa nggak kamu bawa aja Kenzie daripada dititipin ke Mariska?"


Kaila yang tengah membenarkan gendongan Kenzie berhenti sejenak.


"Takut macet ntar lama kan kasihan Kenzie."


"Hemm."


"Aku pergi ya. Assalamu'alaikum." Setelah salim dengan Kenzo dan membawa tasnya Kaila pergi.


"Wa'alaikumussalam."


Kenzo sama sekali tidak tau bahwa istrinya bukan pergi mengunjungi sang adik melainkan pergi ke perusahaan.


J****am 11.00 Siang


Kaila baru saja sampai di rumah Mariska. Jarak dari rumahnya menuju rumah sekertaris suaminya memakan waktu berjam-jam.


"Mar saya sudah di depan rumah kamu nih." Kata Kaila menelpon Mariska.


Beberapa saat Mariska keluar membukakan pintu untuk istri atasannya.

__ADS_1


"Masuk Bu masuk saya lagi masak jadi lama bukain pintunya."


"Nggak papa malah saya yang ngerepotin kamu."


"Ah Ibu nggak kok. Saya malah seneng bisa main sama dedek Kenzie."


Keduanya duduk di sofa.


"Memangnya kalau boleh saya tau Ibu mau pergi kemana?"


Kaila mengeluarkan Kenzie dari gendongan.


"Mau ke perusahaan." Jawab Kaila.


"Perusahaan siapa?" Tanya Mariska saking keponya.


"Perusahaan bos kamu." Balas Kaila.


"Bos saya kan Pak Kenzo, suami ibu." Ucap Mariska polos.


"Ya saya memang mau ke perusahaan suami saya." Ucap Kaila gemas dengan Mariska yang loading.


"Mau ngapain Bu?"


"Ada barang suami saya yang ketinggalan di ruang kerja. Berhubung bos kamu lagi sakit sampe kamu juga jadi gak ada kerjaan makanya saya mau ambil barang itu."


Kaila sengaja bohong agar Mariska tidak memberi tau pada Kenzo.


Keduanya tidak lagi bicara dan hanya ada keheningan. Kenzie masih tertidur karena perjalanan yang jauh.


"Em Ris. Saya pergi jam satuan, jadi boleh saya disini dulu kan?" Celetuk Kaila memecah keheningan.


"Ya boleh lah Bu. Saya jadi ada temennya." Ya sebenarnya Mariska juga tidak enak kalau menolak ucapan istri bosnya.


Jam 01.00 Siang


Berhubung Kaila sudah janji akan pergi setelah dzuhur dan juga dirinya sudah sholat bersama Mariska, maka sekarang waktunya menyelesaikan urusannya.


"Saya pergi ya Ris, nitip Kenzie dulu nggak papakan."


"Iya Bu nggak papa, aman mah kalau sama saya. Jangan khawatir."


"Saya percaya sama kamu. Ya udah saya pamit ya."


Kaila mengendarai mobil menuju perusahaan Kenzo.


Sampai di perusahaan Kaila langsung memarkirkan mobil dan masuk ke tempat suaminya mencari pundi-pundi uang.


Kebetulan sekali waktu istirahat sudah selesai, jadi para pekerja sudah kembali ke tempat masing-masing. Pasti Andi juga ada di ruangannya.


Pertama Kaila akan mencari asisten suaminya dulu baru mulai menanyai apa yang terjadi dua hari lalu sampai suaminya terlihat sangat berantakan.


"Eh Ibu, bukannya Bos lagi sakit ya Bu? ngapain Ibu kesini?" Pas banget yang lagi ditunggu Kaila datang juga.


"Saya ada urusan sama kamu."


"loh urusan sama saya? urusan apa Bu?" Andi rada merinding.


"Kemaren siapa yang datang ke perusahaan?"


Andi berpikir sejenak. "Kemaren? yang datang ke sini banyak Bu. Bos, saya, Mariska, karyawan pegawai." Kata Andi.


"Bukan, maksud saya orang luar yang datang menemui suami saya waktu itu." Tanya Kaila.


"Ouhhh. Kalau itu ya klien eh bukan klien tapi calon klien, cuma orang itu sudah jadi investor di perusahaan ini." Kata Andi.


Kaila mengangguk mendengar nya.


"Tapi nggak jadi." ujar Andi.


"Nggak jadi? maksudnya?" Heran Kaila dengan ucapan asisten suaminya.


"Cuma gara-gara nunggu bos kelamaan orangnya marah terus ngomong kasar, ngehina bos juga bilang gak profesional, gak becus. Dih sombong banget tau Bu, segala apa-apa uang, waktu adalah uang katanya." ujar Andi sedikit emosi.


"Dari perusahaan mana?" Kaila penasaran.


Andi memberikan nama perusahaan orang itu pada istri bosnya. Setelah mendapat info mengenai orang yang dicari Kaila memutuskan untuk pergi dari kantor suaminya.


Perusahaan Xgroup


Kaila sampai ditempat tujuan. Sebuah gedung tinggi di tengah bangun kecil lainnya.


Kaila turun dari mobil dan masuk ke perusahaan tersebut.


Langkahnya menunjukkan bahwa dirinya sedang emosi.

__ADS_1


Semua orang melihat Kaila dengan tatapan heran. Baru kali ini melihat seorang wanita dengan pakaian tertutup lengkap dengan kepala masuk ke perusahaan.


Dilihat-lihat seisi karyawan perusahaan mengenakan pakaian ketat dan pendek untuk wanita, sedangkan laki-laki seperti biasa kantoran.


"Bisa bertemu dengan atasan Anda?" ucap Kaila saat pertama sampai di resepsionis.


Resepsionis dengan pakaian putih, bibir dipoles merah itu menatap Kaila dari atas Kepala sampai ujung kaki.


"Anda siapa ya? ada urusan apa ingin menemui atasan saya?" tanyanya tak ramah seakan mengejek tampilan Kaila.


"Saya ada urusan dan ini sangat penting. Jadi bisa tolong beri tau atasan kamu bahwa saya ingin menemui nya." kata Kaila menegaskan setiap kalimatnya.


"Maaf kami tidak menerima tamu tak jelas di perusahaan." kata si resepsionis penuh keangkuhan.


"Telpon bos kamu sekarang juga." kata Kaila dengan nada yang membuat siapa saja yang mendengar nya akan takut.


Resepsionis itu langsung menelpon dengan gemetar.


"Mari ikuti saya." ucapnya setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon.


Kaila mengikuti dari belakang. Dirinya di bawa ke sebuah ruangan bertuliskan CEO.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." ucap seseorang dari dalam.


Kaila masuk dengan si resepsionis di depan.


"Kamu boleh pergi." ucap seseorang dari balik kursi kerjanya kepada resepsionis.


"Permisi Pak." ucapan undur diri meninggalkan Kaila dalam ruangan.


"Bisa kita bicara." ucap Kaila.


Kursi kerja tersebut berputar dan seorang laki-laki yang nampak tua terlihat tersenyum dari tempat duduknya.


"Mau bicara apa cantik." ucapnya genit pada Kaila.


"Saya kesini untuk menanyakan kenapa anda membatalkan kerja sama dengan perusahaan suami saya?" tanya Kaila.


Pria itu mengernyitkan alisnya mendengar Kaila mengatakan 'suami'.


Dia berdiri dan berjalan menuju Kaila. Kaila tampak tak nyaman dengan tatapan pria didepannya ini.


"Suami? maksudnya siapa ya?"


"Kenzo, Kenzo Wijaya." sahut Kaila.


"Ouh ternyata kamu istrinya Kenzo. Kamu kok mau jadi istri seorang pecundang." kata pria itu membuat Kaila naik darah.


"Pecundang? suami saya bukan pecundang."


Pria itu terbahak mendengar nya. Dia melangkah maju sampai di depan Kaila hingga jarak hanya tersisa beberapa centi.


Kaila mundur beberapa langkah.


"Daripada sama Kenzo mending sama saya aja. Uang saya lebih banyak dari punya suami kamu yang kamu banggakan itu."


"Nggak sudi saya."


"Nggak sudi? gimana kalau kita buktikan di ranjang biar kamu tau kalau saya lebih baik daripada suami kamu itu."


Plakkkk


Kaila langsung menampar pria didepannya dengan sangat kencang.


"Beraninya kamu nampar saya!" katanya marah pada Kaila.


"Saya tidak akan takut pada orang macam anda. Sudah tua tapi jelalatan. Anda kira saya perempuan murahan yang tergiur dengan uang? anda salah. Tidak semua perempuan menggilai uang." ujar Kaila emosi.


"Halahh kamu mau dibayar berapa sihh untuk buka ************ kamu itu." hinanya dengan menyentuh paha Kaila yang terbungkus gamis.


Sontak hal tersebut membuat Kaila emosi dan langsung menjauh dari laki-laki tersebut.


"KURANG AJARRR!" ucap Kaila marah karena dengan tidak sopan dan kurang ajarnya pria itu menyentuhnya.


Melihat penolakan Kaila bukannya membuat takut malah membuat dirinya semakin tertarik akan Kaila.


"Menarik. Saya semakin tertarik dengan kamu dan ingin segera mencicipi tubuh kamu." Uvapnya dengan melangkah mendekati Kaila.


"JANGAN MENDEKAT!" teriak Kaila karena dirinya sudah mentok di dinding sementara pria di depannya terus maju dan membuat Kaila terhimpit.

__ADS_1


__ADS_2