Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Kecewa


__ADS_3

Sesuai kesepakatan dengan Tuan Boby, Kenzo menyuruh Mariska untuk menghubungi perusahaan Tuan Boby karena kerja sama keduanya sudah disepakati dan mulai di garap minggu depan.


Di Kantor, Kenzo sibuk dengan urusan Tuan Boby dan urusan klien dari luar negeri.


Ceklek


Mariska masuk ke dalam ruang Kenzo sang atasan.


"Bapak memanggil saya, ada apa Pak?" Mariska kesal karena Andi terus saja meledeknya.


"Kamu sudah menghubungi sekertaris Tuan Boby?" ucap Kenzo masih fokus dengan kertas-kertas di mejanya.


"Sudah Pak, dari pihak Tuan Boby sendiri yang akan ke sini."


"Bos, apa nggak sebaiknya Mariska aja yang datang ke perusahaan Tuan Boby." ucap Andi menyela.


Kenzo berhenti pada kertas-kertas nya dan beralih pada sang asisten.


"Iya ya."


Kenzo beralih menatap sekertaris nya.


"Apa tidak kamu saja yang menyerahkan dokumen perjanjian ke perusahaan Tuan Boby saja Mar." imbuh Kenzo.


Mariska menggigit bibirnya dan agak ragu mengatakannya.


"Maaf Pak, tapi sekertaris Tuan Boby sendiri yang bilang akan ke sini nanti siang untuk mengambil dokumennya."


Mendengar ucapan sang sekertaris membuat Kenzo menaikkan alisnya.


"Kenapa Bos?" ucap Andi saat melihat ekspresi bosnya.


"Apa kalian berdua tidak heran dan merasa aneh." ucap Kenzo.


"Dokumen ini kan di pihak saya. Kenapa mereka repot-repot datang ke perusahaan saya kalau Mariska saja bisa menyerahkan langsung ke Tuan Boby." Kenzo heran klien kali ini agak beda.


Bukan kliennya yang beda, tapi sekertaris nya.


Mariska membuka suaranya "Kalau menurut saya.... " Mariska menggantung kalimatnya.


"Apa Mar, katakan lah jangan menggantung kalimat dan membuat penasaran." ucap Kenzo penuh penekanan.


"Ini bukan atas perintah Tuan Boby melainkan sekertaris Tuan Boby sendiri yang berkeinginan datang ke perusahaan anda Pak."


"Kalau menurut saya sekertaris Tuan Boby tertarik dengan Anda Pak." imbuh Mariska.


Andi tertawa mendengar ucapan Mariska. Kenzo mengangguk paham setuju dengan ucapan sekertaris nya.


"Hahahah, bilang saja kamu kalah cantik dari siapa? si sekertaris Tuan Boby. Nggak usah berasumsi begitu." Andi tidak percaya ucapan Mariska.


"Dih ogah ngiri sama uler bulu gatel kayak Sasha, lagian wanita itu sepertinya memang tertarik dengan pak Kenzo." ujar Mariska yakin.


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu. Apa ada buktinya." tanya Kenzo.


"Saya juga perempuan Pak, saya juga pernah menyukai seseorang. Si Sasha ini memandang bapak beda saat menatap dengan yang lainnya."


Mariska tidak salah menduga, karena kemaren dia tidak sengaja melihat pandangan Sasha yang tidak lepas memandang Kenzo.

__ADS_1


"Coba bos tanya aja ke Bu Kaila, bagaimana kalau seorang wanita menyukai seseorang." usul Andi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kenzo.


"Kalau saya nanya ada seseorang yang suka saya, bisa-bisa istri saya marah dan kabur. Jangan sampai deh." Kenzo bergidik ngeri membayangkan jika istrinya cemburu.


Mariska dan Andi tertawa mendengar penuturan Kenzo.


"Kalian berdua awas aja yahhh kalau-"


Ucapan Kenzo terhenti karena mendengar sebuah panggilan telepon masuk.


"Iya halo ada apa?" ucap Kenzo setenang mungkin.


Kenzo menyuruh Andi dan Mariska untuk diam.


"....... "


"Hah, apah.!!" teriak Kenzo terkejut.


Kenzo bangkit dari duduknya.


Andi dan Mariska terlonjak kaget mendengar Kenzo berteriak.


"...... "


"Baik saya akan segera menemuinya, kamu suruh dia untuk menunggu sebentar saja." pungkas Kenzo dan panggilan diakhiri.


Kenzo kembali duduk.


"Siapa yang menelpon Bos?" Andi membuka suara karena tidak tahan dengan suasana ruangan saat ini.


"Si Sasha yah Pak?" duga Mariska.


"Iya. Dia datang dan ingin menemui saya. Heran saya dengan si Sasha ini."


"Heran kenapa Bos?" tanya Andi.


"Ya dia ngotot sekali ingin menemui saya sampai datang ke perusahaan." jelas Kenzo.


"Mau gimana Pak?" Mariska agak ragu menanyakannya.


Karena Wajah Kenzo terlihat marah.


"Ya mau gimana lagi. Saya harus menemui sekertaris Tuan Boby." ucap Kenzo dan berjalan keluar.


Mariska dan Andi mengikuti Kenzo sampai di lobby mereka melihat Sasha yang tengah duduk.


Mata Sasha berbinar melihat Kenzo yang akhirnya datang.


"Mau mengambil dokumen perjanjian?" Kenzo langsung pada intinya. Karena baginya tidak ada hal yang perlu dibicarakan selain pekerjaan.


"Iya Tuan Kenzo." ucap Sasha dengan nada dibuat manja.


Mariska yang melihatnya ingin menonjok wajah perempuan di hadapan bosnya.


"Noh, perempuan yang Anda bilang bikin saya iri. Saya nggak iri tapi jijik." bisik Mariska pada Andi yang berada disampingnya.


Andi tidak berkedip melihat penampilan perempuan yang bernama Sasha.

__ADS_1


Belahan dada yang terbuka lebar, lekuk tubuhnya yang tercetak jelas, polesan lipstik yang merah tebal.


Bukannya tertarik Andi bergidik ngeri melihatnya.


"Mariska, mana dokumennya?" tanya Kenzo.


Mariska langsung menyerahkan map dokumen berisi perjanjian kerja pada Kenzo.


"Ini dokumen yang Anda butuhkan. Apa masih ada hal lain." secara tak sengaja Kenzo mengusir Sasha. Tak ingin berlama-lama wanita gatal ini di perusahaannya.


Sasha tersenyum menggoda Kenzo. Tentu saja Kenzo mencoba biasa saja.


"Tentu Tuan Kenzo, saya ke sini hanya karena dokumen perjanjian ini." ucapnya penuh sensual.


Kenzo menyerahkan dokumen itu, Sasha menerimanya dengan sengaja ia memegang tangan Kenzo yang menyerahkan dokumen.


Kenzo langsung menariknya.


"Maaf Tuan , barusan saya tidak sengaja." Sasha tersenyum pada Kenzo yang hanya dibalas deheman oleh Kenzo.


"Kalau begitu saya permisi Tuan, terimakasih untuk dokumennya." Sasha membungkuk agar Kenzo melihat belahan dadanya.


Kenzo jengah melihatnya, ingin sekali mendepak agar segera keluar dari perusahaannya.


Sasha berbalik tapi belum selangkah berjalan dirinya sengaja terpleset dan menjatuhkan tubuhnya ke dekapan Kenzo.


Brukkk


Tangan Kenzo reflek melingkar di pinggang Sasha karena terkejut. Mereka berdua seperti sedang berciuman.


Tepat saat itu juga Kaila yang menggendong Kenzie melihat pemandangan yang menyakitkan.


Betapa kecewanya Kaila melihat suaminya tengah berpelukan mesra dan berciuman di tempat kerja.


Bahkan suaminya melingkarkan tangan di pinggang wanita itu.


Istri mana yang tidak kecewa melihat hal tersebut.


"Bu Kaila." seru Mariska dan Andi saat melihat Kaila berlari dari pintu perusahaan.


"Oh siall." umpat Kenzo melepaskan Sasha secara kasar.


Kenzo berlari mengejar istrinya.


Sasha tersenyum menyaksikan rencananya berhasil.


Tanpa berdosa dirinya berjalan meninggalkan perusahaan Wijaya group.


Senyum merekah tercetak jelas di wajahnya.


Sebentar lagi rencananya akan tercapai, pria yang diinginkannya sebentar lagi akan menjadi miliknya. Miliknya satu-satunya.


Anggap saja Sasha perusak rumah tangga, tapi inilah obsesi nya, obsesi memiliki laki-laki yang telah berkeluarga.


Karena Sasha beranggapan bahwa cinta itu buta, maka tidak ada salahnya mencintai seseorang yang sudah berkeluarga bukan. Kan cinta itu buta. Tidak memandang latar belakang seseorang yang dicintainya.


Tapi Sasha lupa, lupa jika cinta dan obsesi itu beda, mungkin dirinya belum sadar jika dirinya hanya terobsesi pada Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2