Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Sakit


__ADS_3

Sesampainya di pekarangan rumah Kaila langsung menyuruh mang Diman untuk memarkirkan mobil Kenzo. Tapi matanya sempat melihat mobil yang di bawa suaminya sudah ada di garasi.


"Mang, tadi sebelum ke rumah sakit ada yang aneh nggak sama suami saya?" Tanyanya pada sang supir.


"Sepertinya nggak ada Bu, Bapak kayak biasanya kok nggak ada yang aneh."


"Ohh gitu. Ya udah makasih mang."


Kaila masuk rumah menggendong Kenzie yang masih terlelap di gendongan.


Rumah terlihat sepi saat Kaila masuk.


Kaila berjalan menyalakan lampu dan menemukan Kenzo tengah tertidur di sofa.



"Katanya ada urusan penting. Ternyata malah tidur. Bohong banget jadi orang." Walau masih kesal tapi Kaila tetap membangunkan Kenzo.


"Mas bangun mas, pindah ke kamar aja mas tidurnya, jangan disini." Lirih Kaila.


Tidak ada respon dari suaminya.


"Mas bangun ya ampun dibangunin susah banget." Kaila menggoyangkan lengan Kenzo pelan tapi tak ada pergerakan.


Karena masih belum ada tanda-tanda Kenzo akan bangun akhirnya Kaila masuk kamar terlebih dahulu untuk menidurkan Kenzie.


Kaila kembali ke ruang tengah setelah menidurkan Kenzie di box kamar.


Di sentuhnya kening Kenzo dengan lembut. Hingga Kaila memekik karena mendapati dahi suaminya panas.


"Ya Allah mas badan kamu panas banget, pantes di bangunin susah."


Antara sakit dan emang udah tidur jadi Kenzo susah dibangunin.


"Kamu capek banget ya mas, sampai sakit begini." Lirih Kaila mengusap pipi Kenzo.


Merasa ada sentuhan membuat sang empu perlahan membuka matanya walau berat.


"Ail maaf ya tadi aku langsung pulang. Aku minta maaf ya nggak jelasin apa-apa ke kamu." Kenzo berusaha membenarkan duduknya.


"Nggak usah dipikirkan mas. Kalau kamu belum siap cerita sekarang nggak papa kok. Aku siap denger cerita kamu kapanpun kamu mau."


Kenzo hanya mengangguk lemah.


"Pindah ke kamar ya mas, aku kompres kamu."


Kenzo menggeleng pelan. "Nggak usah Ail. Aku nggak papa kok. Cuma demam nanti juga sembuh sendiri."


Kaila tidak setuju dengan ucapan laki-laki di sampingnya.


"Kamu sakit masih aja sok kuat mas. Apa jangan-jangan kamu jijik ya aku sentuh?" Tebak Kaila yang membuat Kenzo menggeleng cepat.


"Nggak lah, jijik apanya sih. Masa sama istri secantik kamu aku jijik. Nih buktinya." Kenzo memeluk Kaila.


"Lagi sakit masih aja suka gombal. Udah, kali ini nurut sama aku."

__ADS_1


Akhirnya Kenzo hanya menurut saja dengan apa yang akan istrinya lakukan. Karena tubuh Kenzo juga lemas dan kepalanya begitu pening.


Kaila memapah Kenzo menuju kamar.


"Aku nggak papa Ail, aku-"


"Shtttttt diem mas, nggak usah banyak alasan. Lagian cuma nurut aja apa susahnya sih."


"Tapi-"


"Tapi apa? mau kerja, mau balik kantor? nggak ada ya mas. Pokoknya istirahat sampai kamu bener-bener sembuh." Pungkas Kaila.


Akhirnya Kenzo diam menurut saja. Sementara Kaila beranjak pergi mengambil kompresan.


"Mau kemana?" Tanya Kenzo saat melihat istrinya sudah di ambang pintu.


Kaila menoleh, "Ambil kompresan di dapur sekalian bikin teh hangat." Kata Kaila lalu meninggalkan Kenzo.


Kenzo tersenyum mendengarnya. "Aku bersyukur punya istri kamu." Kenzo tersenyum sendiri hingga tidak menyadari bahwa Kaila sudah kembali dengan membawa baskom berisi air dan segelas teh hangat.


Kaila buru-buru mendekati Kenzo dan meletakkan baskom serta gelas di meja.


Kaila menyentuh dahi Kenzo berulang kali. "Demam kamu makin naik atau gimana mas?" Ucap Kaila khawatir.


"Kayaknya enggak deh, emangnya kenapa?" Tanya Kenzo bingung.


"Kamu senyum sendiri mas, takutnya kamu kemasukan dedemit." Ucap Kaila merinding.


Kenzo melongo mendengarnya. "Kerasukan, maksud kamu?" Kenzo menunjuk dirinya sendiri.


Kaila mengangguk.


"Sombong sombong." Ejek Kaila.


"Kalau punya istri seperti kamu sombong sih nggak papa awww." Kenzo mengaduh sakit karena mendapat cubitan di perut.


"Nggak boleh sombong, nanti Kenzie jadi anak sombong loh Papah. Nggak boleh ajarin begituan."


"Iya iya nggak sombong." Balas Kenzo.


"Tapi sekali-kali boleh lah hahahaha." Lanjut Kenzo disertai candaan.


"Terserah kamulah. Nih minum dulu teh hangat nya habis itu aku kompres."


Kenzo meminum teh hangat sampai tandas.


Kaila menyuruh Kenzo berbaring dan mengompres dengan telaten dan penuh kelembutan.


"Aku beruntung banget punya istri seperti kamu. Sama sekali nggak ada penyesalan dalam diri aku." Ucap Kenzo sembari Kaila mengompres keningnya.


Kenzo memandang wajah wanita yang tengah merawatnya dengan telaten dan penuh perhatian.


"Perasaan kamu ke aku bagaimana Ail? Aku mau kamu jujur baik jawaban kamu sesuai harapan aku atau tidak sama sekali." Ucap Kenzo serius.


Kaila menghentikan kegiatannya dan menatap Kenzo intens.

__ADS_1


"Perasaan aku ke kamu masih sama seperti dulu mas." Jawaban yang membuat Kenzo tidak paham.


"Seperti dulu maksud kamu dulu yang kapan ya?" Kenzo tidak ingin kalimat yang menyakitkan keluar dari bibir istrinya.


Tau sendiri kan bagaimana biasanya Kaila berbicara menyakitkan hati orang lain. Dan Kenzo tidak ingin istrinya membuat hatinya patah.


Kaila diam sejenak lalu menyentuh pipi Kenzo.


"Perasaan aku ke kamu tidak pernah berubah mas, dan akan selamanya seperti itu." Kaila menjeda kalimatnya.


Pikiran Kenzo sudah kemana-mana mendengar kalimat tersebut. Sedih tentu iya , bingung karena detik berikutnya tawa Kaila pecah.


"Hahahhaha. Muka kamu sedih banget mas. Hahahha kena juga kamu mas." Tawa Kaila yang keras sampai membuat makhluk kecil di dalam box menangis terbangun dari tidurnya.


Kaila menghampiri box dan mengangkat Kenzie lalu membawanya menuju Kenzo.


"Maksud ucapan kamu apa ya aku nggak paham?" Tanya Kenzo saat Kaila sudah duduk di dekatnya.


Kaila masih tertawa, "Kamu ditipu mau aja mas. Aku tadi bercanda mas ngomong gitu." Kekeh Kaila.


"Jadi kalau nggak bercanda jawaban kamu." Kenzo menebak dan Kaila mengangguk meyakinkan suaminya.


"Beneran?" Tanya Kenzo mengoreksi.


"Iya mas, aku udah nggak ragu lagi sama kamu. Aku udah sayang kamu, sayang Kenzie. I love you my husband." Ucap Kaila di akhir kalimatnya.


Kenzo tersenyum mendengarnya. "I love you too my beautiful wife." Balas Kenzo berhasil membuat Kaila merona.


"Makasih yah mas sudah menjadi suami yang perhatian, baik, penyayang, kerja keras, bertanggung jawab, dan selalu sabar sama sikap aku. Aku banyak kekurangan, kedepannya mohon bimbing aku agar menjadi istri yang baik seperti yang kamu inginkan ya mas."


"Pasti sayang, pasti aku akan selalu membimbing kamu, mendampingi kamu. Karena seorang suami memang semestinya membimbing istrinya ke jalan yang lurus."


Keduanya berpelukan sampai makhluk kecil di tengah bergerak menyadarkan orang tuanya.


"Kenapa Kenzie? pengap yaa. Papah lagi panas makanya kita nggak usah deket-deket Papah dulu ya." Ucap Kaila pada sang anak.


"Aku nggak sakit kok, aku udah sembuh." Balas Kenzo cepat.


"Udah kamu istirahat aja, nanti kalau udah adzan dhuhur aku bangunin." Kaila meninggalkan Kenzo di kamar.


Pukul 13.00


Ceklek


Kaila masuk kamar dan mendapati suaminya tertidur.


Karena takut suaminya tidak mendengar adzan Kaila memutuskan membangunkan Kenzo setelah mendengar adzan.


Kaila mendekati ranjang dan duduk di sisi kanan Kenzo.


"Mas bangun, sholat dhuhur dulu terus makan siang." Lirih Kaila tepat di telinga Kenzo.


"Eunghhhh bentar lagi sayang." Kenzo masih menutup matanya walau sudah terbangun.


"Sekarang mas jangan ntar nanti malah kelewatan sampai Ashar lohhh. Udah sekarang bangun terus ambil wudhu aku tunggu di mushola ya." Kaila beranjak.

__ADS_1


Sebelum keluar kamar Kaila mengatakan sesuatu. "Aku sampai mushola kamu harus udah siap-siap lohh mas." Ucapnya serius lalu meninggalkan Kenzo yang sudah terduduk setelah mendengar istrinya berkata begitu.


Jadi di rumah Kenzo ini ada ruangan seperti mushola berukuran lumayan besar bisa menampung dua puluh orang secara bersamaan.


__ADS_2