
"Angkat tangan!!" teriak Matteo.
Andre dan Lexa yang mendengarnya takut, karena mengira telah tertangkap basah oleh polisi.
"Hahahah, beta akting bagus juga ternyata. Kalian berduo tertipu kah, hahahaha" tawa Matteo diikuti oleh Paiman dan Rijal serta Andi yang menyaksikan.
Andre menengok ke arah belakang. "Bodoh, ternyata kalian." Andre maju melangkah ke arah Matteo.
Hendak memukul Matteo, tapi Andi lebih dulu meninju Andre.
Bugh
"Kamu ini bagaimana sih. Bukannya melawan malah diam saja," geram Andi yang melihat Matteo hanya diam saat Andre akan memukulnya.
Dengan santainya Matteo membalas dengan polosnya. "beta tidak ada power buat lawan dia kakak, beta cuma manusia biasa beta bukan bathuman."
Rijal yang kesal dengan satu temannya itu lantas membisikkan sesuatu.
"Okeh"ucap Matteo setelah mendapat bisikan dari Rijal.
Matteo mendekat ke Lexa yang tengah menggendong Kenzie.
" Halllo, nona cantik." Matteo menaikan alisnya menggoda Lexa.
"Jauh-jauh kau buluk. Jangan sampai aku menendang mu." kesal Lexa pada Matteo yang kini sudah dihadapannya.
"Jahat kali nona cantik mengatai beta buluk. Kau lihat saja nona balasannya." Matteo tersenyum lalu memulai aksinya.
"Satu, dua, tiga." hitung Matteo membuat Lexa bingung.
"Kau mau apa!!" Lexa yang sedang tidak fokus membuat Kenzie yang digendong nya berpindah ke dekapan Matteo.
"Siall" umpat Lexa tak terima telah diperdaya.
"Hahah, rasakan eh." ejek Matteo pada Lexa.
"Dasar pecundang, sudah kuberi uang tapi ternyata berkhianat." Lexa hendak merebut Kenzie, tapi Paiman dan Rijal menahan kedua lengannya.
"Kapok, salahe sapa dadi wong jahatt, Rasakno kue wadon ayu tapi atine busuk." cerca Paiman menghina Lexa.
Mantan bos, sekarang mereka bebas atas perintah Andre dan Lexa.
Sementara Andre terus melawan Andi dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya.
"Kau tidak ada apa-apanya dibanding dengan ku dasarr bawahann." Andre berkelahi dngan Andi tapi karena Andi adalah orang terlatih, dirinya tak bisa dikalahkan oleh Andre.
"Dihh, manusia serakah." ujar Andi lalu meninju perut Andre dengan kuat.
Bughh
Andre terjatuh di lantai, dan pistol yang ditangannya ikut terjatuh.
Terlintas pikiran membuat tangan kanan Kenzo mati. Tapi seperti Andre kurang beruntung.
"Akhhh" rintih andry karena telapak tangannya diinjak oleh kaki Andi.
"Kau mau menembak diriku? oh tidak semudah itu Tuan Andre." Andi mengambil pistol yang dilihatnya ternyata pistol milik tuannya.
"Telepon polisi Andi, Cepatt!!" teriak Kaila pada asisten suaminya.
__ADS_1
Andi mengangguk dan mengubungi Mariska untuk meminta bantuan.
"Hiks... hiks.. sabar ya mast, aku mohon bertahan. Bertahan Mas, demi aku demi anak kita Kenzie." Kaila menangis melihat keadaan suaminya.
"Hahaha, laki-laki yang kau tangisi kupastikan mati. Hahahah." ujar Andre meski tangannya sudah dikunci oleh Andi.
Bughh
Andi menarik kerah baju Andre dan meninju rahangnya hingga Andre mengeluarkan darah.
Ada suatu beberapa langkah kaki memasuki gedung mereka berada.
"Ibu Kaila." seru Mariska masuk ke dalam ruangan bersama beberapa polisi.
"Tangkap semua yang disini, sisanya cari komplotan mereka!" seru salah satu polisi pada anggotanya.
Andre dan Lexa serta kaki tangan penculikan di tangkap polisi dan dibawa menuju mobil untuk ditahan.
"Makasih yah sayang udah dateng nyelamatin a'a Andi." Andi mendekat ke Mariska.
Pletakk
"Awhh sakit" adu Andi karena mendapat jitakan dari Mariska.
"Sayang-sayang pala lu peang, saya disini bukan mau menyelamatkan Anda Bapak Andi. Saya kesini karena ingin menyelamatkan bu Kaila dan pak Kenzo." Mariska berjalan meninggalkan Andi dan lebih memilih melihat keadaan bosnya.
"Malang niang nasibmu kakak Andi. hahah cinta ditolak dukun beranak." Matteo berbisik di telinga Andi.
Membuat Andi kesal dengan pemuda timur itu.
Rijal dan Paiman tertawa melihatnya.
"Hiks.. hiks.. makasih Mar, kamu sudah datang menyelamatkan kami. Terimakasih." Mariska tersenyum menanggapi istri atasannya.
"Sudah kewajiban seorang manusia untuk saling membantu Bu." ucapan Mariska membuat Paiman jatuh cinta pada Mariska.
"Ibu bos, kita kerumah sakit yah, Sekarang kita bawa bos Kenzo ke mobil dulu." ujar Andi yang diangguki Kaila.
Mereka membawa Kenzo yang sudah pingsan menuju mobil Andi.
Andi menyetir dengan kecepatan penuh, takut bosnya meninggal.
Selang 20 menit mereka sampai di rumah sakit.
Segera mereka membaringkan tubuh lemah Kenzo di atas brankar dan mendorongnya menuju ruang operasi.
"Saya mohon selamatkan suami saya dok. Saya mohon, berapapun biayanya akan saya bayar saya mohon." Kaila menangis meminta dokter menyelamatkan Kenzo.
"Ibu tenang saja, sudah kewajiban seorang dokter untuk menyelamatkan pasiennya." ujar dokter pada Kaila.
"Ibu juga terluka, lebih baik ibu obati dulu luka ibu. Nanti saat suami ibu sadar, ibu sudah bersih dari luka." imbuh dokter bernama Rendi.
Setelah itu dokter masuk ke ruang operasi untuk mengoperasi Kenzo.
Kaila terduduk di lantai depan ruang operasi.
Andi memberi kode pada Mariska untuk berbicara dengan Kaila.
Mariska mengangguk dan mendekati Kaila yang tengah menangis di lantai.
__ADS_1
"Bu, yang dikatakan dokter bener Bu. Ibu lebih baik diperiksa dulu takut ada sesuatu yang parah." Mariska berujar dengan hati-hati.
"Ta.. ta... tapi.. " Kaila tidak ingin meninggalkan Kenzo, tapi ia juga terluka di tubuhnya walau tidak separah yang Kenzo terima.
"Saya yang akan menjaga bos Kenzo, jadi ibu bisa tenang dengan keadaan bos Kenzo." ujar Andi.
Kaila mengangguk, Mariska membantu Kaila berdiri dan memapahnya menuju ruang rawat.
Setelah diperiksa Kaila kembali ke ruang tunggu operasi.
Karena Kaila tidak mendapatkan luka serius, dirinya tidak perlu dirawat intensif.
"Bagaimana keadaan Kenzo?" ujar Kaila pada Andi.
"Dokter belum keluar, mungkin masih mengoperasi bos Kenzo." jelas Andi yang sudah berdiri.
"Anak saya. Anak saya di mana? bagaimana dengan Kenzie?" khawatir itu yang dirasakan Kaila saat ini.
Tidak melihat anaknya, suaminya belum selesai dioperasi. Benar-benar membuat dirinya khawatir.
"Anak ibu sedang dirawat, takut terjadi sesuatu dan juga untuk mencegah terjadinya trauma." Kaila hanya terduduk lemas mendengarnya.
"Kamu bersihkan diri dan ajaklah Mariska, Matteo, Rijal dan Paiman untuk pergi makan. Kalian sudah bekerja kerasa menyelamatkan Kenzo." Kaila menyuruh Andi untuk pergi makan.
Sebenarnya Andi tidak ingin meninggalkan bosnya dalam keadaan seperti ini. Tapi perutnya juga perlu diisi setelah tenaganya terkuras.
"Tidak papa Andi." Kaila menyakinkan Andi untuk pergi.
"Baiklah, Saya pergi dulu. Apa ibu ada yang mau dibeli. Ibu juga belum makan. Saya belikan yah buat ibu." ujar Andi.
Kaila tersenyum.
"Tidak usah Ndi. Saya bisa kami kantin rumah sakit. Kamu ajaklah mereka makan. Sampaikan terimakasih saya pada mereka bertiga." Yang dimaksud mereka bertiga oleh Kaila adalah Matteo, Rijal dan Paiman.
"Baiklah Bu, kalau begitu saya cari mereka bertiga dulu lalu nanti saya kembali kesini lagi." Andi pergi dari rumah sakit dan mencari Matteo Cs yang entah kemana.
Setelah kepergian Andi, dokter keluar dari ruang operasi.
Kaila bangkit mendekati dokter yang telah keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana kondisi suami saya dok? apa operasi berhasil." ucap Kaila khawatir.
"Alhamdulillah operasi suami ibu berjalan dengan lancar. Sekarang suami ibu akan dipindahkan ke ruang rawat karena belum sadar dan masih dalam tahap pengobatan karena luka tembaknya." jelas dokter Rendi pada Kaila.
"Baiklah dok." setelah itu brankar Kenzo didorong untuk dipindahkan ke ruang rawat.
Kaila mengikuti brankar Kenzo sampai ruang rawat.
"Kalau begitu saya pergi dulu bu, ada pasien lain." ucap dokter Rendi.
"Makasih dokter." ucap Kaila.
Dokter dan suster meninggalkan ruang rawat Kenzo.
"Mas, bangun Mas. Aku minta maaf. Maaf karena aku." tangis Kaila pecah sampai tertidur karena lelah.
Flashback off
"Lalu dimana mereka bertiga?" setelah mendengar cerita istrinya, Kenzo penasaran dengan 3 pemuda yang menolong istri dan anaknya.
__ADS_1
"Andi sedang mencari mereka." ujar Kaila.