
Kenzo hanya mengangguk mendengar jawaban sang istri.
"Anak mamah udah tidur yahh, dengerin cerita makanya ngantuk yah nak." ternyata anaknya sudah terlelap.
Mendengar ibunya bercerita membuat Kenzie mengantuk.
"Belum berhenti nyusu?" Kenzo melihat anaknya yang masih setia menyusu pada Kaila.
"Belum, udah tidur tapi masih kuat nyusunya nih. Anak papah haus banget." ucap Kaila menirukan suara anak kecil.
"Haus banget yah Kenzie. Tidur aja masih mimik susu." ledek Kenzo.
Kenzo menole - noel pipi anaknya yang terlihat lucu.
"Mas ihhh, jangan di gituin nanti Kenzie bangun Mas." Kaila kesal melihat Kenzo menganggu anaknya yang sedang tidur.
"Tenang aja Ail, Kenzie nggak bakal keganggu kok. Kan udah pules tidur." dengan santainya Kenzo kembali menoel pipi anaknya.
"Mas berhenti dong. Jangan gangguin terus. Kasihan anaknya lagi tidur malahan diganggu. Nanti kebangun terus nangis." omel Kaila pada Kenzo.
Kenzo tidak mempedulikan ucapan Kaila, baginya bisa mengusili anak laki-laki ada kebahagiaan tersendiri. Mungkin karena Kenzo jarang bermain dengan anaknya.
"Astaghfirullah Mas, berhenti nanti Kenzie kebangun ini." Kaila jengah dengan suaminya yang menjauhkan Kenzie dari sumber airnya.
Oekk oekk oekk Huwaaaa..... huwaaaa...
Kan, baru dibilangin nangis beneran kan.
Kenzie menangis kencang karena mulut mungilnya terlepas dari sumber asi milik ibunya.
Kaila mendengus kesal menatap Kenzo yang hanya menampilkan deretan gigi putihnya.
"Apa lihat-lihat. Sana jauhan. Gara-gara kamu jadi nangis kebangun kan." Kaila memandang jengah ke arah suaminya.
"Maaf, kan aku cuma mau main sama Kenzie. Lagian aku jarang ada waktu." sesal Kenzo mendekati Kaila yang sudah berdiri.
"Jauh-jauh dari Kenzie deh. Sana pergi nggak usah deket-deket." Kaila berjalan ke arah ranjang.
"Yahh kok gitu sihh." ucap Kenzo melangkah mendekati Kaila yang tengah membaringkan anaknya di ranjang rumah sakit itu.
"Kamu udah bikin nangis anak aku loh Mas."
"Kenzie juga anak aku ail. Kenzie anak kita berdua." ujar Kenzo tak terima.
"Ya siapa juga yang bilang Kenzie anaknya Andi." Kaila naik keatas ranjang menenangkan anaknya yang masih menangis.
"Ya udah terserah lah. Aku minta maaf udah bikin Kenzie nangis." Kenzo berbalik.
"Mau kemana?" Kaila bingung dengan kelakuan suaminya yang menjadi agak lebay.
"Jika kehadiranku sudah tidak diinginkan lagi, lebih baik aku pergi saja." ucap Kenzo lirih namun masih bisa Kaila dengar.
"Nggak usah drama deh Mas. Udah sana duduk aja di sofa. Tubuh kamu belum pulih total kan." mendengar ucapan istrinya membuat Kenzo menuruti daripada kena amukan singa betina.
Oekk....Oekk...Oekk...
Kenzie masih menangis karena merasa haus.
"Sayang ini nen lagi. Jangan nangis lagi dong. Papah kamu nakal banget yahh." Kaila mendekatkan dadanya pada mulut anaknya.
"Eum.. " Kenzie langsung mengulum nya.
__ADS_1
"Nanti kalau Kenzie udah boleh pulang kita bales apa yang Papah kamu lakukan yah. Biar tau rasa." ucap Kaila pada anaknya yang tengah menyusu kembali.
Glek
Kenzo yang tengah membaca buku di sofa menelan ludah mendengar ucapan istrinya.
"Kok gitu?" tanya Kenzo dari sofa.
"Ya kamu usil sih." ucap Kaila cepat.
"Kenzie bilang ke Mamah suruh jangan hukum Papah dong. Nanti Papah nggak ganteng lagi." ujar Kenzo seakan meminta sanganak untuk membelanya.
Plop
Kenzie melepaskan kulumannya pada sumber airnya.
"Loh udahan mimik nya? ih Kenzie dukung Papah yah." Kaila heran anaknya berhenti menyusu hanya mendengar ucapan konyol suaminya.
Bayi itu menatap Kaila dengan tatapan polos.
"Udah miminya? kalau udah Mama mau ngancingin baju sayang." ujar Kaila lembut.
Mendengar ucapan ibunya Kenzie mendadak menangis kencang.
Huwaaa... huwa...
Melihat anaknya kembali menangis membuat Kenzo merinding akan kena marah istrinya.
Lebih baik dirinya kabur saja.
"Aku mau balik ke kamar ku yahh. Takut dokter nyariin pasiennya." setelah mengatakan itu Kenzo langsung keluar dan menutup pintu dengan pelan.
"Ckkk. Main kabur aja." Kaila beralih ke anaknya yang masih setia menangis.
"Iya deh Kenzie boleh nen sepuasnya. Mamah barusan becanda sayang."
Kaila kembali memasukkan pucuk sumber makan ke mulut bayinya.
"Udah yah jangan nangis lagi anak Mamah. Bobok yah bobok lagi." Kaila menepuk-nepuk pantat sang anak agar kembali tertidur.
Kaila ikut tertidur dengan Kenzie masih menyusu padanya.
Tapi baru saja matanya menutup, dirinya dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka.
Ceklek
Kaila otomatis menengok ke arah pintu.
"Astaghfirullah Bu mata suci saya ternodai pemandangan yang tidak senonoh dan tidak pantas buat saya." teriak orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Andi. Si asisten geblek yang kebangetan banget.
"Harusnya saya lohh yang kaget. Lagian salah sendiri main masuk tanpa ketuk pintu." omel Kaila.
Andi hanya cengengesan mendengarnya.
"Ada apa?" Kaila menyudahi menyusui Kenzie karena anaknya sudah tertidur.
Sebelum beranjak dari ranjang pasien , Kaila membenarkan kancing bajunya.
"Lhoh ada kamu juga Mar." Kaila menatap Mariska yang ternyata juga ikut masuk.
"Iya Bu. Si Andi udah dibilang jangan masuk masih maksa terus ngajak saya pula, maaf yah Bu mengganggu waktu Ibu." Mariska sebenarnya ditarik Andi agar ikut.
__ADS_1
"Begini Bu, saya sudah nyari si Matteo dan dua temannya. Tapi... " Andi menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Mereka hilang." seru Andi.
"Apa benar yang dibilang Andi barusan Mariska?" Kaila beralih menatap Mariska.
"Iya Bu."
"Bagaimana bisa hilang, mereka kan bukan anak kecil kenapa bisa?" heran Kaila.
"Tadi saya dan Mariska sudah bersama mereka bertiga Bu, tapi saya ada telpon dari klien pak kenzo dan Mariska pergi ke toilet. Eh saya sama Mariska balik ke meja mereka sudah nggak ada." jelas Andi mengingat.
"Padahal saya belum mengucapkan terimakasih pada mereka bertiga." ucap Kaila agak sedih.
"Apa mungkin mereka tersesat, secara kan mereka orang pedalaman dan hidup di desa." sanggah Mariska.
"Tapi Rijal orang jakarta. Jadi nggak mungkin tersesat atau hilang jika ada Rijal." Kaila yakin ketiganya tidak mungkin pergi begitu saja.
Mereka dikejutkan oleh suara ramai-ramai dari luar kamar rawat.
"Itu apa ribut-ribut?"
"Kita lihat aja Bu." saran Mariska yang diangguki Kaila dan Andi.
Betapa terkejutnya Kaila, Andi dan juga Mariska saat keluar dari ruang rawat Kenzie.
Terlihat Matteo sedang di atas brankar berdebat dengan Suster. Paiman yang terkagum-kagum dengan semua yang dilihatnya. Rijal yang pusing menghadapi kelakuan dua temannya.
"Kakak suster, beta sudah bilang beta tidak sakit, ngapain beta suruh masuk gdgd." ucap Matteo membela diri.
"UGD mas, bukan gdgd." sela suster yang akan mendorong brankar Matteo.
"Beta tak peduli mau gd ig ud, apa lah beta tak peduli. Yang beta mau beta jangan suntik suntik, Beta tidak sakit." kekeh Matteo memohon pada suster.
"Tidak sakit bagaimana? kamu itu sudah berbaring di atas sini." suster mendorong brankar dengan Matteo yang terus melawan.
"Rijallllll bantu beta." teriak Matteo meminta bantuan Rijal.
"Sus, temen saya tidak sakit jadi nggak perlu dibawa ke UGD." ucap Rijal memberi pembelaan pada temannya.
"Masnya nggak usah menghalangi tugas perawat dong mas." suster tetap tidak mendengar perkataan Rijal.
Rijal hendak menyela ucapan suster di hadapannya, tapi Kaila dengan cepat menghentikannya.
"Sus, ini karyawan suami saya. Mereka mau menjenguk suami saya , suster salah paham." ucap Kaila dengan lembut.
"Tapi laki-laki ini berbaring di atas brankar Bu." ucap sang suster.
"Tidak semua orang yang berbaring di atas brankar itu sakit sus." ucap Kaila.
"Jadi lepasin dia sus." imbuh Kaila.
Dengan berat hati para suster melepaskan Matteo dan membiarkannya.
"Huu, beta tidak sakit dikiranya sakit. Aduh mamae beta untung saja tidak marah." Matteo berdiri dan menjauh dari para suster.
"Permisi Bu." suster akhirnya pergi Matteo lega tidak disuntik.
"Akhirnya beta tidak jadi suntik eohh." Matteo mengelus dadanya lega.
__ADS_1
Semua yang melihatnya tertawa melihat kelakuan si timur ini.
"Kalian bertiga dari mana saja. Saya nunggu kalian lohhh." Kaila menghampiri ketiganya.