
Hari ini Kenzo berencana mengajak anak serta istrinya piknik di luar kota.
"Sudah beres semua yang akan dibawa piknik?" tanya Kenzo ketika melihat istrinya menutup tas kecil.
"Sudah, makanan minuman, keperluan Kenzie, popok, cemilan, tikar, semuanya udah aku masukin tas."
Kenzo mengangguk.
"Kamu gendong Kenzie yah Mas sampe depan ntar kalo mau ngemudi aku yang gendong Kenzie lagi."
"Okey" balas Kenzo menggendong anaknya.
Mereka masuk mobil dan berangkat menuju tempat piknik.
Sepanjang perjalanan Kenzie berceloteh tak jelas membuat kedua orangtuanya tertawa menimpali dan kadang menyahut setiap kata yang keluar dari bayi 5 bulan itu walau hanya teriakan atau kekehan.
Setelah menempuh jarak cukup jauh dan memakan waktu sekitar setengah jam akhirnya sampai di tempat piknik yang Kenzo sebut.
"Nah ini tempatnya Mah, pilihan Papah bagus kan?"
"Iya, adem. Ya udah turun yok Pah. Nih liat anaknya udah minta keluar."
"Hem udaranya seger banget yah. Pemandangan juga indah, ada area bermainnya juga." ucap Kaila saat sudah keluar dari mobil yang diikuti Kenzo.
"Iya seger banget, pilihannya nggak salah pokoknya."
Tanpa disadari Kaila dan Kenzo dari kejauhan seseorang bermasker di dalam mobil tengah mengintai.
Kaila menggelar tikar yang sudah dibawanya. Kenzo menggendong Kenzie sembari menunggu istrinya selesai menata barang bawaannya di atas tikar.
"Sudah Papah, duduk sini dong kita santai sambil duduk."
Kenzo mendudukkan diri dan memangku Kenzie.
"Aaa ha ha a." Kenzie tertawa dan menepuk-nepuk tangannya heboh melihat anak usia 5 tahun bermain bola.
"Kenzie seneng banget ya liat kakak-kakak itu main. Kalau Kenzie besar bisa main bola kaya mereka." Kaila mengelus pipi lembut anaknya dengan sayang.
Kenzie yang tak mengerti hanya memandang sang ibu dengan tatapan polos.
"Jagoan Papah kalau udah besar harus jadi anak pinter dan baik ya." tutur Kenzo.
"Tapi aku nggak mau kalau Kenzie cepat besar Pah. Rasanya aku masih pingin Kenzie yang masih bayi, yang imut dan masih gemesin." ucap Kaila tak rela jika anaknya cepat besar.
Diambil alih tubuh sang anak dari pangkuan suaminya.
Kenzo tersenyum menanggapi ucapan sang istri. Mungkin perasaan seorang ibu lebih besar dari yang dimiliki sang ayah.
"Aku tau perasaan kamu, tapi pasti Kenzie juga akan tumbuh seperti anak lain ail."
"Iya aku juga tau, tapi rasanya aku pingin Kenzie kecil terus. Masih pingin main sama Kenzie."
"Ya a a a aaaa" sahut bayi gembul yang sedang dibicarakan.
Kenzo tertawa melihat anaknya yang terus saja bergerak di pangkuan Kaila.
"Emang Kenzie tau Mamah Papah lagi bahas apa." goda Kenzo pada sang anak yang hanya direspon kedipan mata.
"Kenzie mana ngerti ya, Papah kamu ada-ada aja yahh." sahut Kaila.
Keduanya melanjutkan berbincang sedangkan sang anak terus saja bergerak dan rewel.
"Kenzie kenapa heum? mau turun mau main kayak mereka yaa." tunjuk Kaila pada sekumpulan anak yang nampak tertawa ditengah permainan petak umpet.
Kenzie tak menjawab tapi terus saja merengek ingin turun dan menyentuh rumput langsung.
"Turunin aja Mah gak papalah, nanti sampai rumah langsung mandiin." saran Kenzo yang melihat anaknya sangat ingin bebas.
Kaila enggan menurunkan anaknya karena takut terjadi sesuatu, tapi Kenzo mencoba meyakinkan istrinya.
"Nggak papa Mah, turunin aja biar Kenzie mengenal dunia luar dan biar aktif. Kita tetep bisa ngawasin kok. Atau nggak cuma di sini aja nggak usah jauh-jauh yang penting Kenzie kenal dunia luar."
Kaila awalnya ragu tapi mendengar ucapan sang suami yang meyakinkannya akhirnya Kaila menurunkan Kenzie.
"Ya udah deh." Kaila menurunkan Kenzie di atas tikar piknik yang digelar.
"A wa owaaawoaaaoa." oceh Kenzie mulai merangkak dengan lincah.
Kaila tak pernah luput mengawasi pergerakan sang anak yang sudah aktif.
"Tenang aja Mah, Kenzie nggak akan kenapa-kenapa kok." Kaila hanya mengangguk karena matanya tidak lepas dari sang anak.
__ADS_1
Kenzie yang berusia 5 bulan itu belum bisa merangkak tapi sudah bisa melakukan gerakan kecil, bahkan sudah bisa duduk tapi masih harus ditopang di bagian punggung karena untuk mencegah sesuatu.
Kaila tersenyum melihat anaknya yang ceria, liburan kecil tapi bagi Kaila ini sangat bermakna. Bisa melihat kemajuan pertumbuhan sang anak, serta sang suami bisa meluangkan waktu di samping banyaknya urusan kerjaan yang ada.
"Baby mainnya udah dulu yahh, istirahat dulu nak." dihampiri sang anak yang tengah duduk di atas rumput.
"Mam dulu yah." diangkatnya tubuh gempal sang anak.
Kaila menggendong Kenzie dan berjalan menghampiri suaminya.
"Kenzie sudah capek mainnya apa belum puas?" tanya Kenzo yang melihat sang anak tertawa dan bertepuk tangan melihat anak-anak lain bermain.
"Capek dong Papah, kan Kenzie udah pinter main bolanya." ucap Kaila dengan nada dibuat seperti anak kecil. Membuat Kenzo tertawa mendengarnya.
Dari kejauhan seseorang meremas kemudi mobilnya menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil Kenzo.
Sebentar lagi kebahagiaan mu akan hancur Kaila.
"Lakukan sesuai yang saya katakan, jangan ada kata gagal." perintahnya pada dua orang di belakang kemudi.
"Siap, kita jamin nggak akan gagal, karena kita propecional." ucap pria berpakaian hitam.
"Profesional cok." sahut pria satunya.
"Sudah tidak usah ribut, kerjakan sekarang juga."
"siap bos." jawab keduanya lalu keluar dari mobil.
"Sebentar lagi Kenzo akan menceraikan istrinya dan aku bisa bersama Kenzo Wijaya, hahaha. Eh bauyah mulut ku , lupa sikat gigi nih gara-gara nguntit mereka."
Sementara Kaila dan Kenzo nampak asik tertawa menikmati momen kebersamaan bersama si kecil Kenzie.
Tanpa mereka sadari tengah di awasi oleh seseorang dari jauh. Menunggu moment yang pas untuk menjalankan rencana.
"Kapan nih bawa tuh bocil buat di culik?" si pria berbadan kekar nampak tak sabar untuk segera menjalankan misinya.
"Sabar dong, kalau sabar pasti hasil tidak mengecewakan." dercak temannya.
"Itu cantik banget perempuannya, apa nggak itu aja yang kita culik. mayan cantik loh." ucapnya melihat ke arah Kaila yang tengah tersenyum pada Kenzo.
Pletak
"Makanya kalo kerja tuh fokus dong. Kan udah dibayar di suruh nyulik anaknya bukan emaknya, ogeb banget sih." makinya tak terima usul temannya.
"Lo harus profesional dong, kalau di kasih amanah apa ya jalaninnya itu jangan di suruh ini malah ngelakuinnya itu." imbuhnya.
"Iya iya crewet lo kayak Ustad mau ceramah." makinya tak terima.
"Sudah fokus, tuh target masih sulit dicapai, kita tunggu situasi agak senggang." sarannya ketika melihat Kenzo dan Kaila masih di dekat Kenzie.
Dari kejauhan terlihat Kenzo dan Kaila yang masih berbincang dan bersenda gurau dengan Kenzie di tengah-tengah.
"Kamu haus nggak Pah, aku pingin minum es campur yang di sana." tunjuk Kaila pada tempat es pinggir jalan yang ramai pembeli.
Kenzo melihat arah yang ditunjuk istrinya.
"Ya udah aku beliin yah, kamu jagain Kenzie di sini." Kaila mengangguk.
Kenzo berdiri dan berjalan meninggalkan keduanya menuju tempat penjual es.
"Kita tunggu Papah yah sayang, Mamah haus banget dan minuman kita habis." ucap Kaila pada sang anak yang anteng bermain.
"Hem enaknya kita ngapain yah sambil nunggu Papah balik."
"Gimana kalau kita main, tapi main apa eh." Kaila menoleh pada bola yang mengenai pinggangnya.
"Tante maapin aku yaa, bolanya kena tante cakit enggak." ucap anak kecil menghampiri Kaila dengan menunduk merasa bersalah.
Kaila menghampirinya dan tersenyum pada anak tersebut. Diambilnya bola tersebut.
"Tante nggak papa kok sayang, ini bola kamu." Kaila mengelus surai hitam milik anak itu.
Anak itu tersenyum mendengar Kaila dan tidak dimarahi karena bolanya. Diambilnya bola dari tangan Kaila.
Dibalik punggung Kaila dua orang berbaju hitam membawa Kenzie dan pergi tanpa Kaila ketahui.
"Terimakasih tante." ucap anak tersebut dengan imutnya, Kaila tersenyum mendengarnya.
"Sama-sama sayang." setelah mendapat bolanya anak tersebut pergi ke ibunya.
Kaila ikut tersenyum melihat keluarga orang lain.
__ADS_1
"Kenzie tadi lihat kakak tadi eng- loh Kenzie dimana?" ucap Kaila saat berbalik dan tidak menemukan sosok anaknya.
Kaila panik tidak melihat anaknya di atas tikar. Kaila mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok mungil sang anak. Tapi tidak ada.
Kenzo belum kembali, Kaila takut anaknya kenapa-napa.
"Kenzie sayang, jangan bercanda nak. Kamu dimana sayang." Kaila berjalan mencari anaknya.
Bertanya pada pengunjung taman siapa yang melihat anaknya, tapi tidak ada yang tahu.
"Pak apa benar tidak melihat anak saya, dia bayi 5bulan pake baju putih sepatunya biru dan-"
"Sudah saya bilang saya tidak melihat anak ibu." potong laki-laki yang ditanya Kaila tersebut dengan agak membentak Kaila.
"Lagian ibu punya anak kok bisa lalai, bayi 5 bulan bisa ilang kalau bukan salah orangtuanya sih mungkin tidak akan kejadian. Nggak becus jadi orang tua." maki laki-laki tersebut.
Kaila mulai menangis mendengarnya. Benar yang dikatakan bapak ini, bahwa dirinya ceroboh sebagai orang tua sampai anak sendiri bisa hilang.
Melihat Kaila menangis membuat perhatian pengunjung taman mendekat.
"Ada apa?" tanya salah satu pengunjung.
"Ini si ibu nanya anaknya ke saya, ya saya nggak taulah, anaknya sendiri kok nanya ke orang lain." cibir bapak berkumis itu.
Orang-orang merasa iba pada Kaila.
Kenzo selesai membeli es, ia heran kenapa sepi dan terlihat orang-orang mengelilingi sesuatu tak jauh dari tempatnya menggelar tikar.
Melihat ada kerumunan Kenzo yang sudah kembali dengan membawa es pesanan Kaila pun penasaran.
"Maaf ini ada apa yah mba kumpul gini rame-rame?" tanya Kenzo belum mengetahui bahwa istrinya tengah menangisi anaknya.
"Ini Pak ada ibu yang kehilangan anak laki-laki nya."
Kenzo mengangguk mengerti. Kenzo tak bisa membayangkan jika itu menimpanya.
Lamunan Kenzo buyar ketika mendengar suara yang sangat familiar baginya.
"Hiks.. apa tidak ada yang melihat anak saya, atau melihat seseorang yang mencurigakan." tangis Kaila mulai pecah ketika semua orang tidak ada yang menjawab.
Sementara Kenzo kenal suara ini. Pikirannya mulai kacau membayangkan apa yang sangat Kenzo tidak harapkan.
Kenzo menerobos kedalam kerumunan dan mendekati wanita yang tadi berbicara tentang anaknya yang hilang.
Kaila
Benar dugaannya, itu istrinya. Kaila tengah menangis di tengah kerumunan pengunjung taman yang mengelilingi.
Istrinya terduduk dengan tangisannya.
Kenzo berjalan mendekat untuk memastikan bahwa yang dipikirkan saat ini salah.
Kenzo menyentuh pundak wanita tersebut, membuat sang empu menoleh.
"Ma.. ma.. Mas."
Kenzo mematung. Jadi benar yang didengarnya. melihat ekspresi suaminya membuat Kaila kembali menangis dan merasa bersalah.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
Happy mother's day
Selamat hari ibu untuk para ibu Baik ibu muda ataupun yang udah berusia, karena semua wanita pasti adalah calon ibu.
__ADS_1