Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Kisah 3 Pemuda


__ADS_3

Kaila terbangun dari pingsannya. Dilihatnya tempat sekitar. Tempat apa ini. Kaila tidak pernah kesini. Tempat asing yang bahkan ia tak tahu kenapa ia dibawa ke tempat tersebut.


Khenzie


Kaila teringat akan anaknya. Bagaimana nasib anaknya. Kemana Khenzie.


"Tolongggggggggggg." teriak Kaila mencoba meminta bantuan. Tapi sepertinya tempat itu tempat sepi dan jauh dari pemukiman.


Tiba-tiba ada suara beberapa langkah kaki mendekati tempat Kaila disekap. Trap trap trap. Derap langkah kaki semakin mendekat. Kaila semakin was-was.


"Siapa kalian?" ucap Kaila saat ada 3 orang yang masuk. Mereka memaki topeng dan semuanya adalah laki-laki. Padahal sebelum Kaila pingsan dia sempat mendegar samar-samar suara wanita. Siapa wanita itu. Dimana dia. Kenapa dirinya diculik.


Kaila mencoba melepas ikatan pada tangannya. Tapi tak bisa.


"Wooooh, sabar Nyonya Wijaya. Percuma saja anda melepas tali itu." ucap salah satu pemuda dari ketiganya. Dia berbaju biru. Yang lain berbaju oblong dan yang satu berpakaian baju merah bertuliskan Indonesia maju.


"Siapa kalian? kenapa menyekapku? jawwabb siapa yang menyuruh kalian!!!" Kaila mulai mencemaskan Khenzie, bayi imutnya itu tidak disampingnya. Kaila mulai khawatir dengan anaknya.


"Kami hanya sebagai pekerja Nyonya, kami tak berhak menjawab." masih pemuda yang sama. Yang dua masih diam saja. Hingga ada seseorang yang masuk ke tempat itu.


"Siang Bos." ucap si baju merah


"Kalian jangan sampai wanita ini lolos, Kalau sampai kabur. Awasss kalian akan tau akibatnya. Dan jangan membantunya atau nyawa kalian gantinya." ancam si wanita pada ketiga pemuda bertopeng.


"Dimana anakku." ucap Kaila.


"Anak? hanya anak pungut." ucap si wanita dengan entengnya.


"Siapa kamu, apa salahku. Kenapa melakukan ini padaku?" Kaila sudah menangis.


"Nikmati penderitaan mu wanita sialllan. Salahkan suamimu atas apa yang menimpa. Jangan salahkan aku." Si wanita tersebut membuka topengnya.


Kaila tidak kenal dia, baru pertama kali ia melihat wajah wanita yang baru saja melepas topeng itu.


Plak


Pipi Kaila ditampar oleh wanita itu.


"Itu untuk mu karena berisik." dia lalu pergi meninggalkan Kaila yang terkulai lemas.


"Eh bos, kami orang boleh buka topeng tidak bos? " tanya si pemuda baju merah kepada wanita tersebut sebelum dia pergi.

__ADS_1


"Silahkan." ucapnya lalu berlalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Kaila bersama ketiga pemuda.


"Aku mohon pada kalian. Dimana anakku? Aku ingin melihatnya." Kaila terus mengeluarkan air matanya.


"Bentar Nyonya, kami buka topeng dahulu. Ini panas sekali." ucap si pemuda berbaju biru.


"Hahh, akhirnya." ucap ketiganya setelah melepas topeng hitam yang menutup wajah mereka.


Kaial melihat wajah-wajah mereka. Yang sebelah kiri berperawakan pendek akan gemuk, berambut keriting, berkulit hitam coklat, sepertinya orang papua. Yang tengah berwajah mulus, kulit sawo matang, tinggi sedang, sepertinya orang Jawa. Yang sebelah kanan wajahnya lebih baik dari kedua temannya, agak putih dan tinggi. Lokal ini mah, orang jakarta kayaknya.


"Haloo Nyonya." ucap pemuda berkulit hitam menyapa Kaila.


"Eh, bolehkah kita menyapa wanita ini. Kita kan penculik." ucap si baju biru alias pemuda berwajah lokal.


"Ulihlah, omonge emak inyong nek durung kenal kue kudu kenalan." ucap pemuda yang dari tadi diam. Dia berlogat Jawa sedikit ngapak.


(Bolehlah,kata mama aku kalau belum kenal itu harus kenalan)


"Gw kagak paham lo ngomong apa barusan nyet." ucap si pemuda wajah lokal.


"Eh sama kaka, saya pun tak paham. " ucap si hitam.


"Mari kita kenalan, kau duluan." tunjuk si baju biru pada si kulit hitam.


"Halo, kaka. Sa Pu nama Matteo. Sa lahir di Papua. Sa Pu hobi berenang, memancing, memanah, mem.. " Ucapnya terhenti saat si baju biru membekap mulutnya.


(Halo, kaka. Saya punya nama Matteo. Saya lahir di Papua. Saya punya hobi berenang, memancing, memanah, mem..)


"Bacottt, kauu, Gantian sekarang giliran aku yang memperkenalkan diri." ucap si pemuda baju biru.


"Perkenalkan Nyonya. Nama saya Rijal. Asli jakarta. " ucap pemuda yang berbatasan Rijal itu.


"Nek inyong jenenge Paiman Buk. Eh Ibuk apa mbak ye mbelukke. Kayane aseh enom. Inyong mbelukke Ibuk bae ra papa mbok Bu." ucap pemuda terakhir yang ternyata bernama Paiman.


(Kalau saya namanya Paiman Bu. Eh Ibu atau mba yah manggilnya. Sepertinya masih muda. Saya manggilnya Ibu saja tidak papa kan)


Kini Kaila mengetahui nama ketiga pemuda tersebut. Rijal si anak jakarta, Matteo anak papua, dan Paiman anak Jawa ngapak campuran.


"Ehm, saya Kaila." Kaila tersenyum melihat 3 pemuda yang seperti nya baik.


"Ohhhh, Ko Pu nama Kakak Kaila toh." ucap si Matteo mengangguk.

__ADS_1


(ouhh, Kau punya nama Kakak Kaila ya)


"Ibuk Kaila nangapa bisa nang kene sih kepriwe ceritane?" tanya si Paiman yang langsung ditonyor kepalanya oleh Rijal.


(Ibu Kaila kenapa bisa disini bagaimana ceritanya)


"Kan di culikkk Paimannn." ucap Rijal agak kesal.


"Saya lihat kalian bertiga orang baik. Kenapa bisa menjadi penjahat?" Kaila mencoba mengetahui tentang mereka. Siapa tau mereka berbaik hati mau melepaskannya.


"Kami bertiga butuh uang. Saat ada yang menawari kami uang kami mengikuti mereka tapi kami tidak tahu kalau kami harus bekerja seperti ini." ungkap si Rijal.


"Kenapa kalian tidak berhenti saja dan mencari pekerjaan yang halal." usul Kaila mulai dekat dengan mereka.


"Kita orang pernah coba kakak, tapi sa pu keluarga di ancam. Saya tidak jadi kabur."


"Inyong mbiyen rep kabur Buk, tapi adik inyong nang desa arep di pateni nek inyong kabur." Paiman mulai bercerita.


(Saya dulu mau kabur Bu, tapi adik saya di desa akan dibunh jika saya kabur)


Mereka bertiga mulai bercerita tentang kisah kehidupan mereka dan keluarga mereka di kampung halaman.


Yang Kaila ketahui adalah mereka terpaksa bekerja untuk seseorang yang menculiknya agar keluarga mereka aman. Rijal pemuda jakarta tinggal bersama neneknya. Paiman tinggal bersama adiknya begitupun Matteo.


Tidak semua orang yang berbuat jahat adalah orang jahat. Kadang ada faktor yang membuat seseorang itu terpaksa melakukannya. Seperti ketiga pemuda ini.


Kaila yakin Matteo, Rijal dan paiman mau membantunya lepas dari tempat itu. Kaila sudah sangat rindu dengan anaknya dan terutama suaminya, Kenzo.


"Saya akan membantu kalian." ucap Kaila.


"Tapi kalian juga harus membantu saya keluar dari sini." imbuh Kaila.


Ketiganya lalu berkumpul untuk berdiskusi atas ucapan wanita yang diikat dihadapannya.


"Bagaimana?" Kaila sebisa mungkin memastikan agar mereka mau membantunya keluar dari tempat tersebut.


Mereka nampak berpikir, Paiman memandang Rijal, Rijal memandang Matteo, Matteo bingung harus memandang siapa.


Kaila menahan tawanya melihat sikap ketiga pemuda yang sudah cukup akrab dengannya.


Semoga berhasil , Kenzie tunggu mama nak.

__ADS_1


__ADS_2