
Pagi ini Kaila sudah berkutat di dapur. Kenzie sedang tertidur. Maka dari itu dirinya bisa mengurus rumah.
Tiba-tiba Kaila dikejutkan dengan sebuah lengan yang melingkar di pinggangnya. Oh ternyata Kenzo.
"Ih Mas ngagetin, untung aja ikannya nggak loncat dari wajan."
"Hari ini ikut aku ke kantor yuk," bisik Kenzo tepat di telinga Kaila, sontak saja Kaila merinding.
"Nggak biasanya. Terus nanti Kenzie gimana Mas."
Kaila masih fokus menggoreng ikan dengan keadaan di peluk suaminya.
"Ya dibawa lah sayang, kamu tega ninggalin Yusuf di rumah sendirian?" kalimat Kenzo dibalas gelengan oleh Kaila.
Saking gemasnya Kenzo sampai ingin mencium pipi istrinya, namun saat bibir lembab Kenzo akan mendarat di pipi Kaila, istrinya justru menghindari dan memilih melepas lengan Kenzo.
Aku kira setelah adanya Kenzie kamu bakal menerima aku. Ternyata tidak, bahkan kucium saja kau menolak.
Kenzo mencoba bersabar atas kenyataan bahwa istrinya belum mencintainya. Sebisa mungkin Kenzo menyembunyikan kekecewaan yang di terima atas sikap istrinya.
Buat apa memaksakan kalau kita masih bisa bersabar, toh cinta bisa datang seiring berjalannya waktu dan kebersamaan.
"Ya udah Mas. Kamu bangunin Kenzie aja dulu. Aku siapin makanan yah buat makan di kantor kamu."
Kenzo tersadar atas lamunannya dan mencoba tetap tersenyum dikala hatinya sedikit kecewa.
"Ah,,,,,, iya Ail, lagian aku udah rapi. Tinggal nunggu kamu sama Yusuf." Kenzo beranjak ke kamar sang istri.
Kenapa bukan kamar utama? karena kamar utama tempat Kenzo tidur bukan tempat tidur Kaila.
Istrinya belum bisa tidur sekamar. Kaila tidur di kamar sebelah kamar Kenzo dan tentu dengan baby Kenzie.
"Huftt" helaan nafas Kenzo terdengar menyedihkan.
Helaan nafas saja sudah menyedihkan. Bagaimana tidak sedih, setiap di depan pintu kamar istrinya Kenzo merasa tidak dihargai sebagai seorang suami.
Tidur tidak satu ranjang, boro-boro satu ranjang. Kamar aja beda.
Tak jarang Kenzo selalu menangis.
Hah, seorang pria menangis?memang kenapa kalau pria menangis. Saat di dalam kamar mandi atau di ruang kerjanya.
Meratapi nasib dirinya. Kaya, tampan, mapan, istri soleha, cantik, plus baby Kenzie, mencintai istrinya. Tapi istrinya belum mencintai dirinya.
Antara belum mencintai atau malu mengungkapkan, atau memang tidak mencintainya itulah yang selalu dipikirkan Kenzo.
"Loh Mas, kok masih di depan pintu." suara Kaila mengagetkan Kenzo, ternyata Kaila sudah rapi dengan baju yang sudah ganti.
"Keburu siang ini, kamu malah masih diem aja. Nanti telat ke kantor loh. Mas ke bawah sarapan dulu. Biar Kenzie aku yang urus." Kaila melangkah masuk kamar dan meninggalkan Kenzo yang masih diam di tempat.
__ADS_1
Akhirnya setelah sadar atas kediamannya Kenzo memilih melangkah menuju bawah untuk mengisi perutnya.
Lebih mudah mengisi perut daripada mengisi hati.
Setelah urusan rumah beres, Kaila yang menggendong Kenzie ikut Kenzo ke kantor.
Saat sampai di depan lobi para karyawan membungkuk hormat dan tak jarang ada yang menyapanya dengan senyuman.
Kaila yang sadar akan tatapan para karyawan suaminya langsung menggandeng lengan Kenzo.
"Ayo Mas kita cepetan ke ruangan kamu biar gak pada liatin kamu teruss." ditariknya lengan Kenzo oh dan jangan lupakan baby Kenzie di gendongan Kaila.
Setelah kepergian pimpinan mereka sekaligus orang dengan kuasa tertinggi di perusahaan.
Para karyawan bergerombol membicarakan apa yang telah mereka lihat barusan.
"Eh itu tadi anak bu Kaila sama pak Kenzo, atau...?"
"Ya anak mereka lah, masa anak tetangga di bawa-bawa." sahut yang lain.
"Eh bener juga yah, kan pak Kenzo sama bu Kaila satu tahunan di Singapore pasti sekalian bulan madu." yang lain mengangguk setuju.
"Wah mereka pasti ber cinta tiap hari nih makanya langsung jadi." mereka terkejut karena yang berbicara barusan suara seorang pria, sedangkan yang berkumpul para karyawan wanita. Aneh.
"Bentar, suara wanita kok kayak gini serak sera basah gimana."
"Kira-kira gaya apa yah yang bisa menghasilkan anak dengan cepat." nah kan suara laki-laki.
"Kenapa suara saya? keren kan udah kayak Ariel NOAH ya nggak ya nggak?" mulai deh kebiasaan menggoda.
"Udah nggak usah pada rebutin saya, bubar kembali kerja kerja kerja." nah ini nih baru sikap Andi sang asisten bos yang patut di contoh. Pekerja keras dan hemat waktu.
Sementara Kenzo dan Kaila sedang duduk di sofa ruang kerja Kenzo.
Tok Tok Tok
Belum juga di persilahkan masuk, orang tersebut langsung membuka pintu dengan keras.
"Bos pulang dari Singapore mana oleh-oleh buat saya bos." Andi langsung duduk di hadapan Kenzo dan Kaila, dirinya belum sadar dengan bayi yang di gendongan istri bosnya.
Hingga suatu tangisan menghentikan ocehannya.
oekk... oek... oekk...
Kaila langsung berdiri untuk menenangkan Kenzie yang terbangun karena suara Andi.
"Sayang sayang kebangun yah, cup cup cup udah udah sekarang tidur lagi yah. Ada mama disini sayang cup cup cup." Kaila menimang bayi yang di gendongan nya agar tenang dan tertidur kembali.
Sedangkan Andi membuka mulutnya lebar karena melihat kejadian yang menurutnya luar biasa.
__ADS_1
"Tutup mulut kamu kalau kamu tidak ingin lalat atau benda masuk ke mulut kamu Andi." Sontak saja Andi langsung kicep.
"Hehe maaf bos, saya masih tidak percaya loh. Jadi yang di bilang para karyawan itu anda bos, saya kira siapa?"
"Loh kamu sekarang ikutan grup ngerumpi para karyawan. Oh saya tahu pasti akal-akalan kamu kan biar bisa godain mereka."
"Eh enggak yah bos, mana nih bos oleh-oleh buat saya, masa saya sudah menggantikan bos selama bos pergi ke Singapore tapi saya gak dapet oleh-oleh." Andi memasang wajah sedih membuat Kenzo tersenyum akan ide yang terlintas di otaknya.
"Ada kok, bentar yah saya ambil di tas dulu. Saya simpan di tas biar yang lain gak iri sama kamu."
wah oleh-oleh nya pasti mahal nih, si bos aja gak mau yang lain iri. Aduh beruntung nya diriku ini.
Andi didalam hati sudah bersorak ria membayangkan barang yang akan diberikan, namun kenyataan tidak selalu sesuai dengan ekspetasi.
"Hah ngapain di kasih saya. Buat apa sama saya boss?" Kaila yang masih menimang anaknya terkekeh melihat ekspresi asisten suaminya.
"Ya kamu pajang aja di rumah kamu atau di ruang kerja kamu." saran Kenzo hanya mendapat respon lirikan tajam dari Andi.
"Nggak bisa lah Bos, ya kalii saya majang tapi bukan saya, dikira saya penggemar anda bos, nggak guna banget ini buat saya bos."
"Buat kamu ini nggak berguna tapi buat saya ini berguna banget. Sini biar saya taruh di meja kerja saya." Diambilnya kotak persegi dari tangan Andi dengan kasar.
Kenzo melangkah dan menaruh kotak persegi tersebut di atas meja kerjanya.
"Nah kan bagus, bagus kan?"
"Enggak tuh, biasa aja."
"Saya nggak nanya kamu Andi!! saya nanya istri saya, bagus nggak ail?"
Kaila menghampiri Kenzo karena Kenzie sudah tidur di gendongannya.
"Bagus mas, ini yang di acara Mr. Alex kan yang waktu di Singapore?"
"iya"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen