
Semua orang yang Kenzo hubungi terkejut. Selama ini Bu Aisyah tidak ada riwayat penyakit.
Kaila sedang membersihkan darah pada tubuh ibunya. Kaila tak henti-hentinya menangis.
Semua keluarga Kenzo berdatangan, orang terdekat dari almarhumah Bu Aisyah juga berdatangan.
Andi membantu orang di depan, sedangkan Kenzo dan Kaila berada di kamar , berganti pakaian. Barang Kaila di kamar Kenzo sejak ibunya datang pagi hari.
Kaila masih sedih. Matanya sembab akibat menangisi ibunya, Kenzo mendekati istrinya. di peluk hangat Kaila, di elus lembut punggung sang istri, di kecup nya pucuk kepala sang istri.
Kaila menangis kembali di dalam pelukan Kenzo. Baju koko yang di kenakan Kenzo sudah basah karena air mata Kaila.
"Ikhlas kan kepergian ibu ail. Agar jalan terakhir ibu lancar," ucap Kenzo lembut dengan mengelus punggung sang istri.
"hiks.. tapi kenapa ibu pergi begitu cepat. Aku aku mas, ba.. ba.. bahkan aku belum..... bisa bahagiain ibu mas." Kaila kembali menangis setelah berkata demikian.
"iya ail. Aku tau kamu ingin bahagiain ibu. Tapi semua ini sudah takdir ail, kamu harus ikhlas dengan semua ini."
"Ibu di panggil karena Allah sayang dengan ibu. Makanya ibu di panggil cepat oleh Allah, bukankah kamu sayang pada ibu?" Kaila mendongak melihat wajah teduh sang suami.
Kaila hanya mengangguk menjawab perkataan Kenzo.
"Kalau kamu sayang ibu. Harus ikhlasin ibu yah, janji sama aku. Ikhlasin ibu biar ibu tenang ail."
"Iya mas, aku akan mencoba untuk ikhlas dengan semua ini."
"Ya sudah kita keluar yah, ibu harus segera dimakamkan." ucap Kenzo melepas pelukan nya yang ternyata di balas oleh Kaila.
"Aku harus tegar agar bisa menjadi tempat kesedihan mu ail." batin Kenzo melihat sang istri berjalan keluar kamar.
Kaila terlihat lemas, bahkan sampai terhuyung. Namun Kaila tetep memaksakan melangkah ke lantai bawah.
Kenzo menyusul nya, di gandeng nya tangan sang istri untuk memberikan kekuatan.
Baru beberapa langkah, tubuh Kaila langsung ambruk jatuh, dengan cepat Kenzo menangkap tubuh lemah sang istri.
Para tamu yang melayat ikut sedih melihat Kaila yang pingsan.
Mama Kenzo menghampiri anak lelakinya.
"Ken, kayaknya Kaila masih sedih atas kepergian Bu Aisyah." ucap mama Kenzo mengelus kepala Kaila.
"Iya mah."
"Mah, Kenzo minta tolong mama temenin para tamu yah. Kenzo mau bawa Kaila ke kamar dulu."
"Iya Ken. Tak apa, biar mama yang urus tamu, kamu bawa Kaila ke kamar aja."
Kenzo membawa Kaila ke kamar. Dibaringkan tubuh rapuh sang istri di atas ranjang.
Di usapnya air mata yang jatuh dari pelupuk mata sang istri.
Bahkan dalam keadaan pingsan, air mata Kaila masih saja keluar.
"Aku janji ail, aku janji bakal bahagiain kamu. Selalu di sisi kamu." Kenzo mencium lembut kening Kaila yang masih pingsan.
Mata sembab dan bengkak, wajahnya pucat, tubuhnya lemas karena belum makan, bahkan tidak minum, hanya menangis .
Kaila sedikit mengigau memanggil ibunya, nama ibunya terus saja keluar dari bibir pucat nya.
Kenzo berusaha membangunkan Kaila, karena tadi mamanya berkata jenazah mertuanya akan di sholat kan.
Saat Kaila memandikan jenazah. Kaila tak sanggup memandikan jenazah ibunya, dan akhirnya mama Kenzo yang memandikan.
Sebenarnya Kenzo tak tega membangunkan. Tapi Kaila harus menyolatkan dan mengantarkan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir.
"Kaila bangun sayang. Ibu sudah akan di sholat kan, kamu ingin mengantar kepergian ibu ke tempat terakhir." Kenzo membangunkan Kaila dengan perlahan.
Kaila membuka matanya lalu duduk dibantu Kenzo untuk bersandar di ranjang.
"Hiks.hikss.. ibu mas.. " Kaila kembali menangis. Kenzo langsung membawa Kaila ke pelukannya.
__ADS_1
Kenzo ikut sedih melihat istrinya terus menangis.
Di usap nya lembut punggung sang istri, di dekap nya sang istri untuk menenangkan.
"Semua yang hidup tidak kekal ail. Semua pasti akan kembali pada Sang Pencipta. Kamu harus ikhlas yah." Hanya kalimat penenang yang bisa Kenzo berikan.
Kenzo mencoba menenangkan Kaila. Namun Kaila masih saja menangis di dada bidang Kenzo.
Kenzo menghembuskan nafas nya sebentar sebelum melanjutkan nya.
"Sayang dengerin aku." ucap Kenzo mengangkat kepala Kaila agar melihat nya.
"Hey sayang. Dengerin aku yah. Aku bakal selalu di samping kamu, aku akan menjaga kamu, membahagiakan kamu, kamu bisa mengandalkan aku. Aku janji akan selalu ada untuk kamu."
"Sebelum meninggal. Ibu berpesan sama aku, supaya kamu bahagia." Kenzo bukan sengaja atau terpaksa memanggil Kaila dengan kalimat 'sayang'.
Kenzo berjanji akan membahagiakan Kaila dengan atau tidak adanya kejadian ini Kenzo memang sudah mulai mencintai Kaila.
Kaila mendongak melihat wajah teduh sang suami.
"Beneran mas?"
"Iya ail. Mana ada seorang ibu yang tidak ingin melihat anak satu-satunya bahagia. Semua ibu pasti menginginkan anaknya hidup bahagia." Kenzo mengusap sisa air mata Kaila yang menempel di pipi mulusnya.
Kaila mendengarkan semua ucapan suaminya. Kalau dipikirkan memang benar. Orang yang sudah meninggal harus di ikhlaskan agar tenang.
Memang dipikir juga kata-kata Kenzo ada benarnya, selama ini ibunya hanya ingin dirinya bahagia.
Tapi jika dirinya bersedih, ibunya pasti juga ikut bersedih melihatnya begini.
"Makanya. Kamu harus kuat yah. Ikhlasin ibu. Sekarang kita ke bawah, sholatin jenazah ibu. Mau kan?"
"Iya mas, aku mau do'ain ibu."
"Ya audah ayok, duh cantiknya hilang nih gara-gara nangis terus." gurau Kenzo.
Kaila hanya diam, tapi Kenzo sudah lega istrinya mau menerima semua ini.
Kenzo satu mobil dengan Kaila, Kenzo tidak ingin jika istrinya pingsan lagi.
Kenzo fokus menyetir, tapi matanya terus saja melihat Kaila di sampingnya. stri cantiknya menjadi diam, murung, dan sedih.
"Ayo turun, sudah sampai." ucap Kenzo menyadarkan Kaila.
"Iya mas. "
Kenzo membantu Kaila keluar dari mobil, di papahnya sang istri menuju pemakaman.
Kaila pingsan lagi saat jenazah ibunya akan di masukan ke dalam kuburan, Kenzo langsung membawa Kaila ke dekapannya.
"Maaf yah bapak-bapak ibu-ibu, silahkan dilanjut saja." ucap Kenzo memberi pengertian pada pelayat.
"Tidak papa mas Kenzo. Kami semua paham sekali kalau istri mas sedih." ucap sang Ustadz menepuk pelan pundak Kenzo.
"Mas harus kuat agar bisa menjadi penopang istri. " ucap salah satu bapak penggali kubur.
Kenzo bersyukur masih ada orang yang peduli terhadap istrinya.
"Ken. Mending kamu bawa Kaila ke mobil atau pulang, Mama tak tega melihat mantu mama begini." saran sang mama melihat kondisi Kaila.
Belum sempat Kenzo menjawab Kaila sudah sadar.
"Sayang kamu udah sadar?"
"Mas, ibu mas."
"Ibu sudah tenang di sana ail. Kamu harus do'ain ibu yah, ikhlasin, kamu sudah janji sama aku."
"iya mas." lemas Kaila.
Acara pemakaman usai, beberapa pelayat sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Kenzo dan Kaila serta mamanya masih berada di pemakaman, karena Kaila masih mendoakan sang ibu.
Kaila sudah ikhlas , ia beranjak berdiri di bantu Kenzo, Kaila heran kenapa Alya tidak ikut bersama mama mertuanya.
"Mah, Alya ke mana? "
"Alya harus ke luar negeri , soalnya ada urusan dengan sekolah." ucap mama.
"Kamu kangen dengan Alya ail?" tanya Kenzo pada istrinya.
"Iya mas," jawab Kaila tersenyum.
"Ya sudah, kalau Alya sudah pulang kita main ke rumah mama." Kenzo menggandeng tangan sang istri.
"Kalian jarang sekali ke rumah mama setelah menikah."
"Maaf mah, Kenzo sibuk kerja akhir-akhir ini, dan tidak mungkin juga kalau Kaila pergi tanpa Kenzo."
"Jangan mementingkan kerjaan terus, istri juga butuh diperhatikan Ken." ucap mama pada Kenzo, tiba-tiba Kaila mendadak pingsan lagi.
"loh Ken, Kaila pingsan lagi? "
"Iya mah, sudah seharian pingsan terus,"
"Apa jangan-jangan istri kamu hamil Ken, makanya pingsan terus karena syok."
"Masa sih mah." Kenzo tak percaya perkataan sang mama. Bagaimana mau hamil, orang tidur sekamar saja baru kemaren, itu pun tidak terjadi apapun.
Tapi Kenzo mencoba menutupi itu semua.
"Loh bisa jadi, kamu sama Kaila kan udah 3 bulan menikah, bisa jadi audah ada janin dalam rahim Kaila. "
"Kamu harus jaga istri kamu Ken, apalagi istrimu sedang mengandung,"
Kenzo ingin berkata kalau Kaila belum hamil, tapi keburu mamanya bahagia.
"Berbohong sedikit tidak papa kan, keadaan nya sedang tidak memungkinkan." batin Kenzo
"Ya sudah mama pulang du.. " ucapan mama Kenzo terpotong saat melihat Kaila sadar.
" Kaila, alhamdulillah nak kamu audah sadar, mama cemas sama kamu sama keadaan calon cucu mama juga, "
Kaila masih lemah tapi bisa mendengar kalimat mertuanya. Bbingung mendengar kalimat 'cucu' keluar dari mulut mama mertuanya.
Tapi, karena masih lemas Kaila tidak berterus terang, lebih baik besok dia menjelaskan pada mertuanya agar tidak ada salah paham.
"Kaila, kamu harus jaga kesehatan. Jangan capek dan jangan larut dalam kesedihan terus, ibu kamu sudah bahagia melihat keluarga kamu, apalagi kamu sedang mengandung calon cucunya."
"Mah tapi Kaila.. " kalimat Kaila langsung di potong oleh mama Kenzo.
"Aduh mama pulang dulu yah, kalian baik-baik. Kenzo kamu harus jagain Kaila, ada anak kalian di sini. "ucap mama mengelus perut rata Kaila. Kaila di buat bingung atas tindakan mertuanya.
"Mas, ini sebenarnya kenapa sih, kok mama bilang begitu." bisik Kaila pada Kenzo.
"Besok aku jelasin. Sekarang biar mama pulang dulu yah." bisik Kenzo mengecup kepala Kaila.
"Mama pamit pulang dulu Kaila Kenzo, baik-baik yah, jangan lupa jaga kesehatan. Ken jangan buat Kaila sedih nanti bisa mempengaruhi bayi kalian di kandungan Kaila, ya audah mama pulang dulu." pamit nya pada menantu dan anaknya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsallam. Hati-hati mah. "
Kenzo dan Kaila pun pulang setelah mobil sang mama pergi meninggalkan area pemakaman.
Sampai di rumah Kaila ingin menayangkan apa maksud ucapan mama Kenzo, namun di urungkan saat melihat Kenzo tertidur di sofa ruang tamu.
"Kamu pasti capek mas ngurusin pemakaman sama ngurusin aku seharian." di belainya rambut sang suami.
Wajah lelah Kenzo yang tertidur terlihat lebih tampan..
"Dari pagi sampai sore kamu sudah ngurus semua nya mas, makasih mas." di kecup nya kening sang suami yang tak terganggu dengan kegiatan sang istri.
__ADS_1