Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Ternyata Dia Jaehyun


__ADS_3

Pagi harinya Kenzo serta Kaila melayat bapak supir taxi korban kecelakaan yang semalam ditolong Kenzo.


Keluarga dari supir tersebut sudah dihubungi Kenzo sejak tadi malam setelah dokter mengatakan bahwa nyawa pria yang berprofesi supir taxi itu tidak bisa diselamatkan.


Saat mendengar kabar dari Kenzo tentang kondisi supir, keluarga korban langsung mendatangi rumah sakit yang disebutkan oleh Kenzo lewat telepon.


Dan akhirnya pagi harinya keluarga memakamkan jenazah bapak supir yang diketahui Kenzo namanya adalah bapak Sadikin, beliau adalah tulang punggung keluarga. Kerabat yang ditinggalkan sedih atas kepergian beliau yang kondisinya sangat menyedihkan.


Kenzo dan Kaila ikut melayat dan mendoakan.


Karena pergi ke pemakaman jadi Kenzo tak mengizinkan istrinya membawa anaknya, Kenzo menyuruh Mariska menjaga Kenzie sementara ia dan istrinya pergi melayat.


Prosesi pemakaman selesai dengan lancar dan penuh tangis dari keluarga.


"Em Bu, saya turut berduka cita atas kepergian suami Ibu." Ucap Kenzo pada wanita setengah baya yang merupakan istri dari pria yang ditolongnya, dan ternyata pak Sadikin ini adalah supir taxi yang pernah mengantar Kenzo saat dirinya dan Kaila dari bandara.


(episode 18. mengikhlaskan)


"Terimakasih Mas atas bantuannya dan karena telah menolong suami saya." Walau sedih tapi istri dari bapak Sadikin tak lupa mengucapkan terimakasih pada Kenzo.


"Dulu saya pernah diantar oleh bapak Sadikin, tapi karena semalam keadaan jalanan gelap jadi saya tidak mengenali beliau." Tutur Kenzo.


"Untuk biaya rumah sakit saya minta waktunya Mas, nanti kalau saya sudah ada uang saya akan kembalikan." Ujar bu Sadikin.


Kenzo menatap Kaila untuk berbicara pada bu Sadikin.


"Tidak usah Bu, suami saya ikhlas membantu beliau. Sewaktu itu bapak Sadikin sudah memberikan nasihat yang sampai saat ini saya dan suami saya masih ingat." Kaila menggenggam tangan Bu Sadikin, memberi kekuatan karena kehilangan suaminya.


Bu Sadikin sangat berterimakasih atas kebaikan dua orang yang telah membantu membiayai rumah sakit.


"Terimakasih Mas terimakasih mba, terimakasih karena telah menolong suami saya." Bu Sadikin mencium telapak tangan Kaila berkali-kali.


"Eh jangan seperti ini bu. Ibu lebih tua dari saya. Tidak sepantasnya ibu begini pada saya yang lebih muda." Ujar Kaila tak enak.


Kenzo memandang kuburan yang masih baru itu dengan pandangan berduka.


Ada tiga anak muda di depan liang, ternyata bapak Sadikin mempunyai tiga anak. Satu laki-laki dan dua perempuan. Yang paling besar masih SMA kelas 3, anak tengah masih SMP kelas 1, sedangkan yang terakhir masih SD.


Kenzo juga sempat melihat kondisi rumah beliau. Rumah sederhana yang sudah sedikit rusak. Jika dibandingkan dengan dirinya jauh sangat berbeda. Kenzo malu pada dirinya yang kadang masih lupa untuk bersyukur.


Kenzo mendekati Kaila lalu berbisik pada istrinya setelah agak menjauh dari Bu Sadikin. Bu Sadikin heran melihatnya.


Kaila tampak mengangguk setelah Kenzo berbicara padanya. Mereka berdua kembali pada Bu Sadikin.


Kaila mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang ia bawa. "Ini Bu ada sedikit bantuan dari kami. Mohon diterima ya Bu." Kaila memberikannya pada Bu Sadikin.


Bu Sadikin menangis saat menerima amplop yang ternyata berisi uang yang sangat banyak menurut Bu Sadikin.


"Tidak perlu nak, saya sudah banyak merepotkan kalian. Ini tidak perlu." Bu Sadikin berucap dengan berderai air mata.


"Tidak apa-apa Bu Kami ikhlas memberikan bantuan pada keluarga ibu. Mohon diterima ya Bu, dan jangan berpikir tidak enak hati dengan kami." Pungkas Kenzo yang akhirnya membuat Bu Sadikin menerimanya.


Kaila melihat jam tangannya.


Pukul 09.30


"Anak saya ditinggal sama orang lain, takutnya rewel. Jadi saya sama suami pamit pulang ya Bu." Ucap Kaila mohon ijin.


"Silahkan nak, sekali lagi saya terimakasih banyak karena banyak membantu." Balas istri Pak Sadikin dengan tulus.


"Sekali lagi kami turut berduka atas kepergian bapak Sadikin ya Bu." Ucap Kenzo.


"Kalau begitu kami pamit Bu, assalamualaikum." Ucap Kenzo dan Kaila berbarengan.


"Waalaikumsalam." Balas ibu Sadikin.


Kenzo dan Kaila berjalan keluar dari area pemakaman.


Mereka berdua pergi meninggalkan area pemakaman. Tapi belum juga mobil berjalan Kenzo melihat istrinya yang nampak murung setelah kembali dari pemakaman.


Apa aku berbuat salah?


Daripada penasaran, Kenzo memberanikan diri bertanya pada Kaila.


"Sayang, apa ada sesuatu yang menggangu pikiran kamu?" Tanya Kenzo masih belum menjalankan mobil.


Kaila diam tak menjawab, matanya menatap ke depan.


Kenzo menyentuh tangan istrinya dengan penuh kelembutan.


"Kalau kamu ada sesuatu yang dipikirkan atau apa bilang ke aku, cerita ke aku. Aku ini suami kamu." Kenzo mengusap pipi Kaila.


Tidak ada jawaban. Sampai beberapa detik suara tangis Kaila terdengar menyayat hati Kenzo.


"Hiks... hiks...." Kaila memeluk Kenzo dan menumpahkan semua tangisannya di dada bidang suaminya.

__ADS_1


Melihat istrinya bersedih membuat Kenzo reflek membalas pelukan dan mengusap punggung Kaila guna menenangkan.


"Kamu kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang menyakiti kamu, apa aku berbuat salah?" Tanya Kenzo, tapi Kaila menggeleng disela tangisannya.


"Apa aku ada salah sama kamu?" Tanya Kenzo lagi dan dibalas gelengan dari Kaila.


"Terus apa dong yang buat kamu nangis begini. Bilang ke aku kalau ada sesuatu Ail, jangan bikin diri kamu memendam sendiri." Ucap Kenzo yang malah membuat Kaila semakin memeluknya erat sampai Kenzo susah bernafas.


Arghhh, bisa-bisa aku mati cepat kalau Kaila meluk kenceng banget.


"Aku rindu ibu sama mamah Mas, aku merindukan ibu dan mamah." Ucap Kaila masih memeluk Kenzo.


Kenzo akhirnya tau penyebab istrinya tadi malam menjadi agak aneh. Memang dari semalam saat di rumah sakit, Kenzo memperhatikan raut wajah istrinya yang sedikit berubah saat membawa dua orang ke rumah sakit.


Ternyata istrinya rindu ibu serta mertuanya toh, kirain sihhh istrinya itu kesal dengan dirinya.


"Kita ke makam ibu sama mamah ya. Tapi jangan nangis lagi." Ucapan Kenzo membuat Kaila mendongak menatap wajah Kenzo.


"Seriusan Ma?" Ekspresi Kaila membuat Kenzo makin gemas saja.


Kenzo mengangguk mengiyakan. "Iya dong, masa aku bohong."


Kaila kembali memeluk Kenzo. Sepertinya istrinya ini sedang kedinginan, makanya doyan banget ndusel.


"Ya udah kita berangkat ke makam ya." Ucap Kenzo yang diangguki Kaila.


"Tapi lepas dulu dong, ntar gimana aku mau nyetirnya kalau kamu peluk aku terus." Goda Kenzo reflek membuat Kaila melepaskan tangannya dari leher Kenzo.


Malu banget kepergok nempel sama suami.


"Udah ya jangan nangis lagi. Kita ke makam terus jemput Kenzie lalu ke rumah sakit."


Rencana Kenzo hari ini mengajak Kaila ke tempat pemakaman ibu mertuanya yang juga satu tempat dengan makam mamahnya. Setelah itu Kenzo akan mengunjungi pemuda yang koma di rumah sakit. Oh jangan lupakan untuk menjemput Kenzie yang dititipkan pada Mariska.


Di Tempat Pemakaman Umum


Begitu sampai di pintu masuk TPU, Kaila dan Kenzo langsung menuju tempat istirahat kedua orang yang sangat dirindukan.


Assalamualaikum Bu, ini Kaila. Maaf karena Kaila baru datang menemui ibu. Kaila kangen sama ibu, sangat-sangat rindu ibu. Semoga ibu ditempatkan di tempat ternyaman di sana. Kaila udah bahagia Bu jadi ibu harus tenang di sana.


Kenzo melihat istrinya yang memejamkan mata seraya mengangkat kedua telapak tangannya.


Ada cairan bening keluar dari sudut mata istrinya. Begitu rindunya dengan sosok ibu Aisyah. Kenzo juga merindukan mamah serta mertuanya.


Setelah meluapkan isi hati masing-masing dan mendoakan orangtuanya. Kaila menabur bunga pada makam ibu dan mertuanya yang bersebelahan.


Dirasa sudah selesai Kenzo dan Kaila meninggalkan TPU.


Diperjalanan menjemput Kenzie.


"Kamu sudah menemukan informasi mengenai laki-laki yang koma itu belum Mas?" Tanya Kaila dengan menatap Kenzo yang sedang menyetir.


"Belum, aku lupa nyari dompet pria itu karena dokter tak mengizinkan siapapun masuk ruang rawat." Jelas Kenzo.


"Kasihan ya Mas, pasti keluarganya menunggu kabar dari dia. Bagaimana perasaan keluarganya kalau tau pria itu sendang koma." Kaila memandang keluar jendela merasakan hembusan angin.


"Kita berdoa yang terbaik saja untuk pria itu, semoga segera sadar." Sahut Kenzo masih fokus menyetir.


Sampailah mereka berdua di rumah kost Mariska.


Baru beberapa jam saja Kaila sudah sangat merindukan anaknya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk aja Bu, nggak dikunci kok pintunya!!!" teriak Mariska dari dalam rumah.


Mendengar suara tuan rumah mempersilahkan masuk membuat Kaila dan Kenzo membuka pintu dan masuk ke dalam.


Mariska keluar dari dapur. Karena hari libur jadi wanita yang merupakan sekertaris Kenzo ini hanya berpakaian baju rumahan.


"Kenzie di mana Mar? " Kalimat pertama yang Kaila ucapkan adalah keberadaan anaknya.


"Di kamar Bu, tadi agak ngantuk jadi saya taruh di kamar. Maaf yah Bu." Mariska masih takut kalau mengurus anak orang lain. Apalagi itu anak atasannya.


Kaila tersenyum lantas menepuk pundak Mariska.


"Tidak papa kok, saya malah sangat berterimakasih karena kamu mau menjaga anak saya." Setelah mengatakan itu Kaila membuka pintu yang ada di depannya.


Sementara Kenzo sedang menerima panggilan dari seseorang.


Ceklek

__ADS_1


Kaila tersenyum melihat anaknya di atas kasur.


"Assalamualaikum Kenzie, Mamah mau jemput kamu sayang. Seneng ya dijagain sama aunty Riska." Kaila memang biasanya memanggil Mariska dengan nama Riska untuk Kenzie.



Diangkatnya tubuh gempal Kenzie ke dalam gendongan.


Mengerti bahwa itu adalah ibunya membuat bayi yang berumur 7 bulan itu membuka matanya lalu tersenyum dan meraih wajah ibunya dengan tangan mungilnya.


Kenzo masuk menghampiri Kaila dengan terburu-buru.


"Ail kita harus segera ke rumah sakit. Kata Susternya laki-laki itu mendadak kritis." Kenzo panik bukan main setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit.


"Ayo Mas." Kaila langsung menyuruh Kenzo pamit pada Mariska.


Mereka menuju rumah sakit, Kenzo menyetir dengan kecepatan penuh dan untung keadaan jalanan sedang sepi.


Rumah sakit


Kenzo berlari ke ruang UGD tanpa menunggu Kaila yang masih di belakang.


"Mas! Ya ampun Kenzie lihat tuh Papah ninggalin kita." Ucap Kaila pada sang anak yang hanya diam memainkan bebek karet di tangannya.


Kaila menyusul Kenzo yang sudah di depan ruang UGD. "Kamu khawatir banget ya sama keadaan laki-laki itu." Kaila ikut Kenzo melihat dari balik kaca.


Kenzo tak menjawab pertanyaan istrinya tapi malah fokus menatap laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa dokter yang sibuk menanganinya.


Seandainya aku yang diposisi dia pasti istri dan anakku juga sangat sedih. Lantas aku harus mencari keluarganya bagaimana? aku sendiri tidak tahu tentang pemuda itu.


Pintu UGD dibuka dan seorang suster mendatangi Kaila dan Kenzo. "Maaf ini dompet dari pasien, saya lupa memberi tahu pada Anda Tuan." si suster memberikan dompet pada Kenzo lantas masuk kembali ke ruang UGD.


Dompet berwarna hitam itu dipandangi Kenzo dan beralih menatap Kaila. "Buka aja dompetnya siapa tau ada informasi mengenai dia dan keluarganya." Ujar Kaila menyarankan Kenzo membuka dompet.


Kenzo lantas membuka perlahan dompet laki-laki itu ada sebuah foto kecil perempuan didalamnya. Di dalam bagian kedua ada KTP, beberapa kartu penting, dan uang.


Oh iya Kenzo lupa menayangkan tentang ponsel.


Benar juga, setelah Kenzo memikirkannya suster tadi datang lagi dan memberikan ponsel pada Kenzo lantas kembali masuk lagi.


"Siapa nama laki-laki itu Mas? apa kita sudah bisa menghubungi keluarganya?" Tanya Kaila menatap Kenzo.


Kenzo memandang Kaila ragu.


"Dia bernama Jaehyun. Jaehyun Alexander. Anaknya Tuan Suho Alexander dengan istrinya Irene. Keturunan Indo-korea." Kenzo menjelaskan pada Kaila dengan sangat detail.


"Kamu tau banyak tentang dia? apa kamu kenal keluarganya atau ayahnya?"


Kaila menunggu jawaban dari Kenzo.


"Kamu ingat yang acara pernikahan Mr. Alex di Singapore? hari itu mr. Alex mengundang Tuan Suho tapi, entahlah aku tidak melihat Tuan Suho pada malam itu."


Memang benar kalau Kenzo sedikit tau dan mengenal Tuan Alexander, tapi tidak tau menahu tentang anaknya.


"Jadi laki-laki itu bernama Jaehyun. Anak dari rekan bisnis kamu?" Sahut Kaila.


"Lohh enggak juga." Balas Kenzo membuat Kaila bingung.


"Maksud aku ayahnya Jaehyun ini belum pernah jadi rekam bisnis sama aku." Jelas Kenzo dibalas 'ouh' oleh Kaila.


Karena Kenzie sudah tertidur jadi Kaila hanya sedikit berbicara. Takut anaknya terganggu dan menangis.


Keheningan keduanya dikejutkan oleh dokter yang keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana dok keadaan adik saya. Apa ada masalah?" Kata Kenzo menghampiri dokter.


Adik? Kaila terkejut karena suaminya mengatakan pada dokter kalau laki-laki bernama Jaehyun itu adalah adiknya.


Dokter terlihat sayu dan menggeleng. Kenzo lemas dibuatnya.


"Pasien sempat mengalami kritis ditengah komanya, tapi beruntung masa kritisnya sudah berhasil dilewati oleh pasien." Terang dokter yang bernama Arifin.


Kenzo dan Kaila dibuat panik tapi bersyukur karena Jaehyun berhasil melewati masa kritisnya.


"Lantas apa ada tanda-tanda sadarnya dokter?" Kali ini Kaila yang bertanya.


"Pasien saat ini sangat lemah dan butuh semangat untuk kembali dari komanya. Walau pasien sedang tidak sadar namun hal yang sangat berarti dalam kehidupannya juga sangat berpengaruh untuk kesadarannya." Tutur dokter lantas pergi setelah pamit pada Kenzo dan Kaila.


Kenzo bingung harus melakukan apa.


"Hubungi keluarganya Mas, siapa tau dengan kehadiran keluarganya akan membantu dia sada dengan cepat." Ucap Kaila.


Kenzo menelpon tapi bukan menelpon keluarga Jaehyun.


Kenzo segera menghubungi Andi meminta untuk menemuinya di perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2