
"Jangan ndi, lo mau kita dimarahin bu Kaila gara-gara perbuatan lo?" Ucap Mariska menunjuk Andi yang akan menempelkan daun ke wajah Kenzie.
"Ya nggak papa asal sama lo mah gue siapp." Sahut Andi membuat Mariska mendengus kesal tapi sebenarnya juga tersipu malu.
Saat ini Andi dan Mariska tengah menjaga anak sang bos sesuai perintah.
Pukul 13.00
Matahari sedang terik-teriknya begini malah Andi mengajak Mariska pergi ke taman. Sejuk sih iya, tapi ya kalo di jam segini mah panas.
Dasar Andi emang gak mikir dulu, ngajak anak kecil jalan-jalan malah panasan. Bisa-bisa item kulit anak bosnya ini.
"Mar lo udah punya pacar atau kekasih belum atau tunangan mungkin?" Tanya Andi dengan sangat hati-hati.
Mariska menoleh pada pria di sampingnya.
"Ngapain lo nanya-nanya gitu?" Balas Mariska tanpa menatap Andi.
Jujur saja saat ini jantung Mariska sedang dag-dig-dug karena berdekatan dengan Andi.
Tapi, sebisa mungkin Mariska menutupi hal tersebut. Bisa ke GeEran kalau Andi tau dirinya gugup.
"Ya nggak papa kok, cuma nanya doang, hahahaha." Ucap Andi membuat Mariska mengumpat dalam hati.
"Emang lo berharap gue jawab apa pertanyaan lo yang tadi?" slSambung Andi penasaran.
Mariska menatap lurus ke depan.
Ah sial, malah dirinya disuguhi pemandangan orang sedang pacaran yang suap-suapan es krim.
"Mar, lo denger kan gue ngomong ke elu." Kata Andi membuyarkan pikiran Mariska.
"eh iya denger kok, denger. Em yang itu kan yang , yang maaf tadi lo ngomong apa?" Ucap Mariska dengan wajah polosnya.
Andi mencibir lirih.
"Gue ngomong emang lo ngarepin gue jawab apa?" Ucap Andi menekankan kalimatnya.
"Lah kan harusnya gue yang jawab, kok malah lo nanya gue ngarepin jawaban apa dari lo? gimana sihh." Kata Mariska yang berhasil membuat Andi ingin sekali memakan perempuan di depannya.
"Nggak jadilah, lupakan." Tukas Andi.
__ADS_1
Mariska menatap Andi bingung. Sebenarnya apa maksud dari perkataan Andi.
"Duh makin panas. Bisa-bisa dedek Kenzie jadi item nihh." Ucap Andi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya nih panas, balik kantor ajalah. Siapa tau Pak Kenzo dan Bu Kaila udah selesai sholat." Imbuh Mariska.
Andi mengangguk. "Bener juga, lagian kita kan belum sholat dzuhur juga." Kata Andi lantas mendorong stroller baby Kenzie yang ternyata tangan Mariska juga sedang memegangnya, alhasil tangan keduanya bersentuhan tanpa sengaja.
Dengan spontan keduanya cepat-cepat saling melepaskan tangan.
"Eh maaf maaf, gue gak tau ada tangan lo disitu." Ucap Andi dengan agak gugup.
"iya nggak papa, lagian gue juga gak alergi kok kena tangan lo." Ucap Mariska lalu mendorong stroller baby Kenzie dan meninggalkan Andi yang masih mencerna ucapnya wanita yang sudah jalan di depan.
"Lahh, dikira gue punya penyakit nular sampai bikin alergi."
"Woyy Mar, tunggu woy. Marmar tungguin." Teriak Andi lalu menyusul Mariska yang sudah di ujung taman.
Tanpa menoleh kebelakang Mariska melambaikan tangan kirinya menyuruh Andi menyusulnya.
Pengunjung taman melihat Andi yang berlari mengejar wanita yang tengah berjalan mendorong stroller anak.
"Lo jalannya cepetan amat sihh. Untung gue gak ada riwayat jantung." Dengus Andi saat sudah berhasil menyamai langkah Mariska.
"Masnya sama mbaknya nikah muda nih pasti." Celetuk seorang ibu menghampiri Andi dan Mariska.
"Ah enggak kok Bu, saya sama dia cuma temen kerja aja, dan ini anaknya bos kami. Kami di beri amanah untuk menjaga anaknya sebentar." Ungkap Andi dengan diselingi senyuman.
Mariska tampak tak puas dengan jawaban Andi. Ia padahal sudah berharap bahwa Andi akan seperti di novel-novel yang ia baca. Dimana laki-laki terpaksa berbohong pada orang lain dan mengakui si wanita sebagai istrinya.
Sungguh sayang itu hanya di dalam cerita novel yang ia baca, tidak ada dalam dunia kenyataan.
"Ouhh begitu yaa. Padahal saya kira kalian menikah muda dan ini anak kalian. Ternyata bukan yaa. Maaf yaa saya sudah salah paham." Ucap si ibu meminta maaf pada Andi dan Mariska.
Hanya Andi yang membalasnya dengan senyuman, sedangkan Mariska tampak lemas dan tak berminat lagi dengan pembicaraannya.
"Ndi, gue duluan yaa soalnya takut Bu Kaila nyariin anaknya." Ucap Mariska pamit lalu pergi tak lupa mendorong stroller Kenzie.
Andi melongo menatap kepergian Mariska.
"Heheheh, biasa Bu itu temen saya emang patuh aturan. Jadi takut dimarahi atasan." Ucap Andi dengan menutupi sikap Mariska yang berubah.
__ADS_1
"Kayaknya si mbaknya tadi suka sama masnya deh." Ujar si ibu dengan nada menggoda Andi.
"Ahahaha, nggak mungkin Bu dia suka sama saya. Lagian saya kalau sama dia tuh bawaannya berantem mulu." Terang Andi mencoba menepis dugaan si ibu yang tak pergi juga dari hadapan Andi.
"Justru itu mas. Biasanya di sinetron yang saya tonton itu cinta kadang datang diawali dengan berantem dan permusuhan." Jelas si ibu malah membuat Andi tertawa terbahak.
Semua menatap Andi aneh, panas-panas gini ketawa kenceng di taman.
"Eh maaf maaf. Lagian ibu nih kebanyakan nonton sinetron Bu. Ini tuh realita bu, bukan kehidupan drama yang ibu tonton." Ucap Andi masih tertawa walau tidak sekencang tadi.
Andi melihat jam di tangannya.
"Ya udah Bu saya belum sholat dzuhur, kalau begitu saya pergi ya bu." pamit Andi lalu melengos pergi dari taman.
"Si ibu itu ada - ada aja. Masa Mariska suka sama gue? Ya nggak mungkin lahh." Ucap Andi pada dirinya sendiri.
"Gue emang suka sama Mariska, tapi gak mungkin lah Mariska juga suka gue. Lagian juga percuma kalau dia suka gue. Gue udah punya seseorang dan nggak mau berkhianat." Ucap Andi lalu melangkah masuk ke perusahaan.
Dirinya tak sengaja berpapasan dengan Mariska yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya.
"Eh Mar, lo udah balikin anaknya bos?." Tanya Andi yang hanya dijawab deheman oleh Mariska.
Saat Mariska ingin melanjutkan langkahnya, Andi mencekal tangannya membuat langkahnya terhenti.
"Mar lo kenapa sih?" Tanya Andi penasaran.
"Nggak papa kok." Balas Mariska dengan malas.
"Terus kenapa tadi ninggalin gue di taman. mana lo ninggalin gue sama ibu kepo itu lagi." Ungkap Andi mengingat si ibu yang ditemuinya di taman.
"Maaf yah bapak Andi yang terhormat. Memangnya kemana saya pergi harus selalu bilang dan ngajak Anda!!" Balas Mariska lalu melepaskan tangan Andi dan berjalan menjauh.
"Mar Mar!!" Panggil Andi tapi percuma, Mariska tak menanggapi dan sudah pergi.
"Yahh padahal kan mau ngajakin sholat barengan, malah melengos gitu aja." Ucap Andi geleng-geleng kepala.
Andi memilih pergi ke mushola kantor.
Dilain tempat Mariska tengah merobek kertas karena kesal.
"Dasar dasar dasar, DASAR COWOK NGGAK PEKAAA." Teriak Mariska di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Dulu aja dia ngejar-ngejar, sekarang giliran gue udah sedikit terbuka dia malah nggak peka." Dengus Mariska penuh emosi sampai-sampai tak sadar tangannya meremas kertas sampai gepeng.