Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Aksi Heroik


__ADS_3

Kaila berdiri dan berjalan mendekati Kenzo yang tengah duduk di sofa.


"Pasti Kamu nggak akan menyangka banget deh orang yang menyelamatkan kita." ujar Kaila sudah duduk di hadapan Kenzo masih dengan menyusui bayinya.


Dari tadi Kenzie masih menyusu dan tidak mau lepas, sepertinya bayi imut itu benar-benar sangat rindu akan sumber makannya.


"Mas" panggil Kaila pada Kenzo, sejak tadi suaminya terus diam.


Kenzo sedang menahan gejolak dalam tubuhnya. Apalagi dihadapkan pemandangan begitu.


Walau Kaila menutupi dengan jilbabnya tapi tetap saja Kenzo panas. Dasar lelaki.


"Ah iya kenapa. Tadi kamu bicara apa, aku sedang tidak fokus. Coba ulang." bukan tidak fokus. Tapi sedang menahan sesuatu.


"Jadi dari tadi kamu nggak dengerin aku ngomong." Kaila kesal.


Kenzie masih menyusu dan bermain-main dengan jilbab ibunya, sontak saja sesuatu yang ditutupi Kaila terlihat oleh Kenzo.


Glek, Kenzo menelan air liur yang tersangkut di tenggorokannya.


"Mas"


"Eh enggak kok, aku denger cuma aku lagi banyak pikiran jadi nggak fokus." ujar Kenzo menutupi dirinya yang tengah menahan gejolak panas.


"Nakalnya anak Papah." Kenzo membenahi jilbab yang menutup dada Kaila yang tengah menyusui Kenzie.


"Eh" Kaila terkejut Kenzo membenarkan posisi jilbabnya yang, Kaila sama sekali tidak sadar jilbabnya yang menutupi bagian dadanya terbuka.


Huft, akhirnya. Kenzie sengaja yah mau ngerjain papah.


"Emang siapa yang nyelamatin kita waktu itu?" Kenzo bertanya pada Kaila tapi matanya fokus melihat Kenzie.


"Kamu bener-bener nggak ingat, oh kan kamu waktu itu pingsan, haha." mendengar ucapan istrinya Kenzo jadi sebal.


"Iya pingsan karena nyelamatin istrinya yang akan jadi sasaran tembak." Skakmat. Kaila diam mendengar ucapan Kenzo.


Kenzo yang melihat perubahan pada wajah istrinya langusung meminta maaf.


"Maaf sayang, aku nggak bermaksud. Aku rela dan ikhlas nyelamatin kamu. Kamu dan Kenzie adalah separuh nyawaku." ujar Kenzo yang berhasil membuat Kaila terharu.


"Udah yah jangan sedih lagi. Kasihan anak kita kalau mamanya sedih." Kenzo mengecup pelipis istrinya.


"Sekarang coba ceritain." titah Kenzo yang diangguki oleh Kaila.


Kaila mulai bercerita.


Flashback


"Saya akan membantu kalian." ucap Kaila.


"Tapi kalian juga harus membantu saya keluar dari sini." imbuh Kaila.


Ketiganya lalu berkumpul untuk berdiskusi atas ucapan wanita yang diikat dihadapannya.


"Bagaimana?" Kaila sebisa mungkin memastikan agar mereka mau membantunya keluar dari tempat tersebut.


Mereka nampak berpikir, Paiman memandang Rijal, Rijal memandang Matteo, Matteo bingung harus memandang siapa.


"Baik, kami akan membantu Nyonya. Tapi kami tidak bisa membantu kabur." ucap Rijal dengan yakin.


Kaila tersenyum mendengarnya.


Kaila menceritakan saat dirinya disiksa Andre. Kenzo yang mendengarnya sempat emosi.

__ADS_1


Kaila melanjutkan cerita.


Rijal, Matteo dan Paiman pergi mencari perusahaan yang Kaila perintahkan.


"Hoahhh, Gede temen kae gedong. Dhuwur tekan langet." ujar Paiman takjub dengan gedung yang dilihatnya.


(Hoahhh, besar sekali itu bangunan. Tinggi sampai langit)


Pletakk.


Matteo memukul kepala Paiman.


"Kau ni terlalu kudeta, beta punya pernah lihat gedung tinggi kat dekat rumah beta di kampung halaman." ujar Matteo dengan percaya diri.


(Kau ini terlalu kudet, saya pernah lihat gedung tinggi di dekat rumah saya di kampung halaman)


"Yang bener tuh kudet bukan kudeta. Pasti waktu pelajaran ips nggak denger guru nih waktu penjelasan materi." ucap Rijal menengahi perdebatan dua temen kucluknya.


"Hehe" tawa Matteo dan Paiman.


Tawa mereka terhenti karena seseorang mendekat ke arah mereka berdiri.


"Ngapain kalian disini? mau ngemis, maaf silakan pergi dari tempat ini segera." perintah dari seseorang yang tak lain adalah Andi.


Mereka bertiga tidak terima dibilang gembel. Mentang-mentang pakaian yang dikenakan sobek.


Yah, baju Matteo sobek gara-gara tersangkut ranting pohon. Dan bukannya di lepas malah ditarik kencang oleh Paiman.


"Enak saja ngemis, beta bukan gembel tau takk, kau yang gembell!!" dengus Matteo memandang Andi dengan sengit.


"Iya, dasar wong sugih bisane kur merendahkan rakyat jelata inyong arep nai pelaj-" sebelum lebih jauh lagi, Rijal membungkam mulut Paiman yang sudah dipastikan akan berkata tidak - tidak.


"Maaf Pak, kedua teman saya memang cerewet dan aktif banget." ujar Rijal dengan sopan.


"Hem" Andi sebenarnya ada urusan, tapi karena ada mereka bertiga Andi memilih menyelesaikan urusan di depan matanya dulu.


"Begini Pak, apa benar ini perusahaan Tuan Kenzo Wijaya. Istri dari ibu Kaila?" Rijal melepas tangan yang membekap mulut Paiman.


"Iyah benar." balas Andi.


"Kami disini menyampaikan pesan ibu Kaila untuk suaminya."


Andi terkejut, istri bosnya menyuruh orang hanya untuk menyampaikan pesan.


Sungguh romantis sekali pikir Andi.


"Pesan apa?"


"Culik, culik diculik." srobot Matteo berteriak.


"Hah diculik?" Andi masih bingung.


Paiman mengangguk begitu juga Rijal dan Matteo.


"Maksud kalian ini apa. Jangan main-main sama saya!!" geram Andi yang masih belum percaya.


"Bu Kaila dan anaknya diculik. Dan sekarang sedang disekap di suatu tempat." ucap Rijal menyakinkan Andi.


Sebelum Andi menjawab ada telepon masuk dari ponselnya.


"Iya Halo, ada apa?" ternyata Mariska yang menelpon.


"... "

__ADS_1


"Hah. Apahh"


"... "


"Oh oke, aku akan ke rumah bos Kenzo untuk memastikan." ucap Andi lalu mengakhiri panggilan.


"Ada apa pak." tanya Rijal.


"Beritahu saya tempat penyekapan itu, Cepattt!!!" punya Andi pada ketiganya.


Matteo dan Rijal serta Paiman mengangguk cepat.


Setelah menerima telpon dari Mariska tentang Kenzo yang membatalkan semua jadwal rapat. Andi yakin terjadi sesuatu pada bosnya.


Rijal, Matteo serta Paiman lantas menarik tangan Andi.


"ehhh mau kemana?" heran Andi pada ketiganya.


"Bapak kepriben sihh, nembe jare arep njaluk tudokna nggon penyekapan," ucap Paiman yang sama sekali tidak dimengerti oleh Andi.


"Maksudnya si Paiman itu bapak bagaimana sih, katanya tadi mau minta kasih tau tempat penyekapan. Nah itu pak." ujar Rijal menjelaskan bahasa Paiman, yang merupakan temannya.


Andi hanya ber'oh' saja.


"Naik mobil saya aja biar cepet. Ada mobil ngapain jalan kaki." dengus Andi melepas tangan Matteo yang menempel di tangannya.


"Ouhhhhh" ucap ketiganya lalu masuk ke mobil yang ditunjuk oleh Andi.


Andi mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal.


Mereka sampai tujuan setelah berdebat belok kanan dan kiri dengan Paiman dan Matteo.


Tidak lupa Andi menghubungi Mariska untuk meminta bantuan polisi saat urusan sudah beres.


"Ini tempatnya." Tunjuk Andi pada bangunan di hadapannya.


Ketiganya mengangguk dan melangkah maju.


Andi serta Matteo, Rijal tak lupa juga Paiman. Mereka tengah menguping di balik pintu.


Terdengar suara Andre dan Lexa yang membentak Kaila.


"Nanti dalam hitungan ketiga kita dobrak pintu terus serang mereka paham?. Kalian paham." interupsi Andi yang diangguki Matteo, Rijal dan Paiman. Entah si Paiman paham atau tidak dengan ucapan Andi.


"Satu, dua-"


Brakkkk


Andi belum selesai menghitung sampai angka tiga ternyata si Paiman sudah mendobrak pintu dulu.


"Lha kenapa sudah di dobrak, kan belum sampe hitungan tiga." heran Andi.


"Biasa pak, dia suka bolos kalo pelajaran mtk, jadi ya begitu." terang Rijal tergelak tawa melihat kelakuan temannya.


"Udah sekarang itu tidak penting lagi. Ayok serang." titah Andi pada Matteo dan Rijal.


Rijal, Matteo dan Andi menyusul Paiman yang sudah didepan.


"Lexa. Cepat pergi dari tempat ini jangan lupa bawa bayi itu!" Andre lantas menyiram minyak tanah ke sudut ruangan.


"Jangan bawa anakku hiks.. hiks.. aku mohon pada kalian." Kaila meninggalkan Kenzo untuk mengambil Kenzie. Tapi lexa menendangnya.


"ayo Lexa keluar! aku akan membakar tempat ini agar tidak ada jejak." Andre membuang botol minyak tanah dan membuka pintu.

__ADS_1


"Angkat tangan!!!" Isntrupsi seseorang mengejutkan Andre dan Lexa.


Siapa lagi kalau bukan Matteo.


__ADS_2