
Kaila melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah Kenzo.
"Aku sedih kamu ingin pisah dari aku Mas." jujur Kaila sangat sedih ketika Kenzo meminta cerai.
"Maaf yah Ail. Aku cuma ngerjain kamu biar suprise doang." Kenzo sudah siap akan menerima hukuman dari istrinya.
Bugh
Kaila memukul bahu Kenzo setelah mendengar Kenzo hanya bercanda.
"Awww, sakit." ringis Kenzo mengusap bahunya.
Kaila panik melihat Kenzo memegang bahunya. "Maaf Mas." sesal Kaila karena telah membuat Kenzo sakit.
Kenzo tidak tega melihat istrinya sedih. Dipeluknya kembali Kaila yang tengah menunduk.
"Enggak sayang. Aku yang minta maaf udah bikin kamu nangis beberapa hari ini. Maafin aku yah." Kenzo mengelus punggung istrinya yang bergetar.
"Hiks... hiks... " Kaila menangis kembali.
"Sayang dengerin aku. Aku nggak akan meminta berpisah kecuali kamu yang memintanya." ucap Kenzo.
"Aku tidak akan meminta hal seperti itu Mas, aku akan bersama kamu dan tidak akan meninggalkan Mas kecuali maut yang memisahkan kita." ucap Kaila disela tangisnya.
Kenzo memeluk erat Kaila, membawa ke dekapannya untuk menyalurkan rasa rindunya.
"Kenzie dimana ail? Aku kangen banget dengan Kenzie. Beberapa hari nggak ketemu bayi gembul itu jadi rindu." Kenzo teringat akan anaknya yang beberapa hari ini tidak dilihatnya.
"Kenzie di rawat Mas." balas Kaila serak menahan tangis.
"Kenapa sampai di rawat? Kenzie tidak terluka kan atau... " Kenzo menunggu respon dari Kaila yang tak kunjung berbicara.
Kaila menuntun Kenzo untuk melangkah ke sebuah ruangan tak jauh dari mereka berdiri.
Saat membuka pintu ruangan bernomer 245 itu Kenzo dibuat terkejut atas apa yang dilihatnya saat ini. Anaknya terbaring di atas ranjang dengan infus menancap di tangannya.
Kenzo melangkah mendekat ke arah bayinya. Kaila mengikuti langkah Kenzo menuju ranjang anaknya.
"Kenapa sampai begini Ail?" Kenzo tak tega melihat anaknya yang masih mungil itu harus mengalami sesuatu yang seharusnya tidak pernah dialaminya.
"Akibat kejadian itu Kenzie mengalami dehidrasi. Anak kita juga mendapat luka memar karena cubitan yang keras dan kata dokter harus di rawat untuk mencegah adanya trauma pada anak kita." sekarang Kaila sudah tenang dan tidak menangis ketika membicarakan kondisi anaknya.
Kenzo mengangguk mendengar penuturan sang istri.
Pintu ruang rawat Kenzie terbuka, dokter masuk untuk memeriksa Kenzie.
"Permisi Pak, Bu. Saya dokter yang menangani anak kalian." ucap dokter bernama Denis dengan ramah.
Kaila dan Kenzo menjauh dari ranjang Kenzie agar dokter Denis lebih leluasa memeriksa Kenzie.
__ADS_1
Dokter Denis tersenyum saat selesai memeriksa baby Kenzie.
"Dok, bagaimana kondisi anak kami?" ujar Kenzo saat Dokter sudah selesai memeriksa.
"Kondisi anak kalian sudah mulai membaik, Babynya sempat mengalami dehidrasi.Untung saja cepat dibawa ke rumah sakit sehingga bisa cepat ditangani. Mungkin terlambat sedikit saja kalian bisa kehilangan anak kalian." ujar Dokter Denis.
Kaila kembali menangis mendengar semua penjelasan dokter Denis. Anaknya masih bayi tapi sudah mengalami semua ini.
"Apa ditubuh anak saya ada luka yang serius Dok?" ujar Kaila khawatir.
"Nyonya tenang saja, memar akibat luka cubitan di tubuh anak Anda akan segera sembuh seiring berjalannya perawatan yang diterima di rumah sakit ini." ujar Dokter Denis.
"Kalau begitu saya pamit Nyonya Tuan. Kalau ada sesuatu bisa pencet tombol darurat. Permisi." pamit dokter Denis.
"Terimakasih Dok." ucap Kenzo dan Kaila yang dibalas senyuman oleh dokter Denis sebelum keluar dari ruang rawat Kenzie.
"Baby, buka mata nya sayang. Kenzie tidak ingin mimi susu. Kenzie tidak haus. Bangun sayang?" Kaila mencium tangan mungil Kenzie yang tidak dipasangi infus. Kemudian dengan lembut dia membelai rambut bayi mungilnya.
Kenzo mendekat ke sisi lain ranjang anaknya. Tangannya mengusap pipi tembem bayinya yang masih saja terlelap.
"Sayang bangun. Papa janji kalau Kenzie cepat bangun Papa akan sering main sama Kenzie. Bangun jagoan Papa." Kenzo mengecup kening anaknya.
Walau Kenzie bukan anak kandung mereka. Kenzo dan Kaila menyayangi Kenzie lebih dari apapun. Tidak pernah terpikir di pikiran mereka bahwa bayinya bukan anak kandungnya. Karena Kenzie adalah anak mereka.
"Mas, kenapa baby kita terus menutup mata Mas hiks.. hiks.." Kaila mulai menangis.
Kenzo berpindah ke sisi ranjang dimana Kaila duduk di samping anaknya. Dipeluknya istrinya yang tengah sedih.
Mereka dikagetkan oleh suara sosok mungil dari ranjang sebelah mereka duduk.
"Eung.. huwaa... " Tangis Kenzie pecah karena merasakan infus ditangannya.
Kaila dan Kenzo terkejut karena anaknya sudah sadar.
"Sayang kmu sudah sadar nak. Kenzie jangan nangis sayang ini Mamah." Kaila mencoba menenangkan bayinya.
Kenzo yang tak tega melihat anaknya terus menangis langsung memencet tombol darurat.
Tak selang beberapa lama dokter Denis datang dengan dua perawat.
"Ada apa Tuan Nyonya? apa terjadi sesuatu dengan baby nya?"Denis tak kalah khawatir.
"Anak saya sudah sadar. Tapi terus menangis, tolong dokter periksa anak saya." ucap Kenzo.
Dokter Denis mulai memeriksa Kenzie yang masih menangis kencang.
"Gimana dok?" ujar Kaila khawatir.
"Syukurlah anak kalian kondisinya sudah membaik. Tapi masih belum bisa dibawa pulang." ucap dokter Denis.
__ADS_1
Kaila dan Kenzo mengangguk paham.
"Tapi, kenapa anak saya menangis dokter?apa terjadi sesuatu." Kenzo tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada anaknya.
"Itu wajar Tuan. Karena infus ditangannya menancap dan bayi kalian masih rentan akan benda asing yang menempel pada tubuhnya sehingga menangis." ujar dokter Denis.
"Apa infusnya tidak bisa dilepas saja dok, saya tidak tega melihat anak saya menangis begitu." ucap Kenzo.
Kaila kembali memeluk Kenzie setelah dokter denis selesai memeriksa tubuh anaknya.
"Karena kondisi anak Anda sudah membaik infusnya sudah bisa dilepas. Saya lepas dulu infusnya Nyonya." dokter Denis melepas infus yang tertancap di tangan Kenzie.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit dokter Denis setelah selesai melepas selang infus pada Kenzie diikuti dua perawat.
"Sayang tenang sayang. Kenzie aman sama Mamah sama Papah." Kaila menggendong Kenzie dari atas ranjang.
"Coba kamu susuin Ail. Kasihan lihat Kenzie nangis begitu." ujar Kenzo pergi duduk di sofa yang berada di kamar Kenzie. Sebenarnya badannya belum pulih benar, tapi untuk anak dan istrinya itulah yang paling utama.
Kaila mulai duduk di ranjang Kenzie dan mulai menyusui bayinya.
Kenzie langsung menghisapnya dengan kuat sampai Kaila meringis.
"Shh... pelan-pelan sayang. shh.. Kenzie kuat banget miminya, pasti baby haus banget yahh." meski Kaila agak sakit karena hisapan kuat dari Kenzie, tapi Kaila senang karena anaknya sudah sadar.
Kenzo tersenyum melihat dua orang yang amat disayanginya.
Kaila yang sadar dipandang oleh suaminya mendadak malu.
"Kamu jangan liatin aku dong Mas. Jauh-jauh gih sana." ucap Kaila menutupi rasa malunya.
"Kenapa? malu yah. Hahaa, nggak usah malu sih sayang. Aku bukan orang lain ngapain harus malu." Kenzo tertawa meledek istrinya yang tengah malu.
"Apaan sih Mas." Kaila mencoba menutupi dirinya yang tengah merona.
"Loh kok Mas? kan ada Kenzie. Manggilnya Papah dong kalau ada Kenzie. Paham kan Mamah." Kenzo sengaja menggoda istrinya.
Kaila hanya mengangguk.
"Mas.eh maksudnya Papah. Papah kok bisa buat kejutan kayak tadi. Kan Papah masih sakit." ucap Kaila penasaran.
"Hehe, Papah tuh sebenarnya minta bantuan Andi Mah. Tapi itu ide Papah yang merencanakan. Jadi Andi cuma bantu nyiapin doang." ujar Kenzo.
"Andi." mendengar nama Andi disebut Kaila jadi teringat yang dilakukan Andi
"Mas, eh Pah. Papah maksudnya. Papah tau nggak yang membantu kita dari penculikan itu siapa?" ucap Kaila masih fokus menyusui Kenzie yang mulai terlelap.
"Siapa Mah?" Kenzo penasaran.
Kaila tersenyum mengingat kejadian sebelum mereka di bawa di rumah sakit.
__ADS_1
Kenzo sangat penasaran siapa yang telah membantunya lepas dari Andre dan membawanya ke rumah sakit. Tidak mungkin istrinya kan. Apalagi anaknya, sungguh tidak mungkin.