
Sementara Kenzo dan dokter Clarisa.
"Ngapain masuk lagi Tuan Kenzo Wijaya yang terhormat." ucap Clarisa menekankan kalimatnya.
"Hehehe."
"Hahahehe, gue tabok lu ya."
"Eits, main tabok aja lu ya. Lupa lu sama kawan sendiri." belum di suruh duduk Kenzo langsung duduk di kursi pasien.
"Eh. Belum gw suruh duduk main duduk aja. Tamu gada akhlak ya."
"Terserah gw lah, lu lupa kalau tamu adalah raja."
"Yaya, terserah lu lah, mau apa lo kesini? ganggu aja." ketus Clarisa.
"Konsultasi lah sama lu, yakali gw mau minta makan ama lu." balas Kenzo membuat Clarisa kesal.
"Ehh tapi beneran yang sama lu tadi anak sama istri lu?"
"Yaiyalah. Yakali bini orang gw bawa, sorry nih ye gw bukan pebinor aww." Kenzo ditabok oleh Clarisa.
"Bukan gitu!! heran aja gw. Bisa-bisa nya istri lu mbrojol di rumah, sedangkan lu sendiri pemilik rumah sakit ini."
"Ya bisa lah, kan gw udah bilang kalau gw lagi ada rapat, nah pulang-pulang istri gw udah ngelahirin bayi, paham gak sih dijelasin, dokter sableng." ejek Kenzo pada Clarisa yang langsung mendapatkan pelototan.
Bohong sedikit nggak papa kan ya, demi kebaikan, demi kebaikan - Batin Kenzo.
"Bukan gak paham, heran aja gw sama lu. Orang kayak lu bisa punya bini cakep kayak istri lu."
"Ya bisalah, gw ganteng gini ya istrinya cantik lahh, gak kayak lu yang jomblo."
"enak aja ya ngatain gw jomblo, emang Andi udah ada pacar. Eh gimana tuh kabar sepupu gw si Andi."
"Dia mah baik-baik aja, cuma ya gitu Playboy akut banget."
"hahah." mereka berdua tertawa.
"Lagian nikah gak ngundang, mana udah ada anak juga, udah nikah lama dong?"
"Ya gitulah, sorry lah gw gak ngundang, kan gw takut lu lagi sibuk ngurus pasien lu disini, ya gw gak kabarin lah."
"Eh cepetan mau konsultasi apa, udah malem banget ini gw mau rebahan." lanjut Clarisa.
"Gw kan mau pulang ke Indonesia , sedangkan anak gw baru aja mbrojol tuh. Jadi gw mau tau apa bayi gw bisa naik pesawat. Sedangkan umur bayi gw aja belum sebulan bahkan setahun?"
"Bayi lu lahir normal kan?" Clarisa memastikan.
Pletakk.
"Aww, sakit anjirr, lu mah katanya kawan malah kekerasan mulu." Clarisa mengusap kepalanya yang di sentil Kenzo.
"Ya elu sih, kan gw udah bilang kalau istri gw tuh lahiran di rumah langsung brojol, apa nggak normal itu, udah sembilan bulan nah mbrojol akhirnya kan."
__ADS_1
"Iye iye, ya kan siapa tau prematur atau cecar lahirnya bukan normal."
"Enak aja! normal ya."
"Iya iya, gw kan cuma mastiin doang. Apa salahnya gw nanya sih."
"Udah ah cepet, kasihan istri sama anak gw nungguin."
"iye, dengerin nih ye, buka hidung lu lebar-lebar."
"Somplak lu, gw denger lewat telinga ya bukan idung,"
"Bodo amat. Bila bayi dalam kondisi sehat, maka perjalanan udara aman baginya.
Namun perlu diingat, daya tahan bayi masih rentan terhadap berbagai kuman yang terdapat di dalam pesawat, apalagi pada bulan-bulan pertamanya.
Oleh karena itu, apabila memungkinkan, sebaiknya tunda perjalanan hingga bayi berusia beberapa bulan sehingga ia sudah cukup kuat menangkal berbagai kuman dan terhindar dari infeksi."
"Yah gak bisa dalam minggu ini apa, istri gw udah pingin balik ke indo."
"Gak bisa , bayi lu aja masih merah, kasihan kalau dibawa naik pesawat."
"Tapi gw pernah baca tuh, kalau udah umur seminggu atau dua minggu bayi bisa di bawa naik pesawat."
"Tapi lebih baik jangan deh Ken, lu gak kasihan ama bayi lu." saran Clarisa.
"iya juga sih, entar deh gw bicara sama istri gw dulu."
"Udah sono pergi lu." usir Clarisa.
"Gw capek Ken, mau istirahat."
"Iye iye." Tanpa pamit atau berjabat tangan Kenzo langsung pergi dan menutup pintu ruangan dokter yang merupakan teman sekaligus sepupu Andi, asistennya.
"Dasar lu, udah ganggu waktu gue, main masuk, keluar gak pamit, datang tanpa di undang, pergi tanpa salaman, jaelangkung lu. Untung Rumah sakit ini punya lu." kesal Clarisa setelah Kenzo benar-benar pergi.
Rumah sakit tersebut memang milik Kenzo, hanya saja tidak ada yang mengetahui siapa pemilik rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Hanya Clarisa dan Andi yang mengetahui.
Pasalnya Kenzo tidak pernah menunjukkan dirinya, kalau ada hal mendesak pun selalu meminta diwakilkan oleh Clarisa.
Clarisa adalah temen Kenzo karena Andi yang memperkenalkan mereka saat Clarisa butuh pekerjaan.
Lalu Kenzo mengangkat Clarisa sebagai direktur utama di rumah sakit miliknya.
Clarisa adalah lulusan sarjana kedokteran fakultas anak. Makanya Kenzo langsung menghubungi Clarisa saat dia membantu si wanita yang bunuh diri melahirkan.
Mengenai perempuan yang merupakan ibu kandung Khenzie, dia sudah tewas hangus.
Bahkan polisi tidak menemukan sisa tubuhnya, karena sudah lenyap.
Kenzo tidak menceritakan kejadian sebenarnya, pasalnya Khenzie sudah menjadi anaknya.
Masalah satpam, Kenzo sudah menanyakan kejadian tersebut, tapi memang satpam tersebut tidak tahu menahu. Bahkan CCTV belum terpasang.
__ADS_1
Hal ini bukan dimanfaatkan oleh Kenzo, hanya saja Kenzo tidak ingin ada yang mengetahui kebenarannya bahwa Khenzie bukan darah dagingnya.
Akan sangat berbahaya bila ada yang mengetahui hal tersebut. Jangan sampai pemegang saham di perusahaan nya mengetahui hal ini. Karena Kenzo hanya mempercayai orang kepercayaan, seperti Andi, Clarisa, istrinya, dan adiknya.
Namun Kenzo tak mau ada yang tahu, mungkin Andi saja yang akan dia beri tahu.
Ah, tapi mengingat sifat asistennya itu Kenzo urung memberi kebenarannya.
Kenzo menaiki mobil dan ternyata istrinya sudah tertidur dengan memeluk bayinya.
Dijalankannya mobil menuju sebuah toko perlengkapan bayi.
Tanpa membangunkan istrinya, Kenzo melangkah ke toko bayi untuk mencari baju dan perlengkapan bayi lainnya.
Dirinya juga menuju ke tempat pencucian baju. Mengapa masih ada toko yang buka? tentu saja masih ada, karena di daerah tersebut selalu ramai pengunjung.
Setelah semua nya selesai, Kenzo membuka pintu mobil.
Di ambilnya bayi dari dekapan sang istri. Karena terlalu lelah, Kaila tidak merasakan gerakan Kenzo.
"Khenzie pakai baju dulu ya, biar gak kedinginan." Kenzo memakaikan baju yang tadi dibelinya sekaligus sudah dicuci.
Dengan hati-hati Kenzo memakaikan baju di tubuh mungil anaknya.
Sedikit merengek, namun dengan sabar Kenzo mencoba menenangkan baby Khenzie.
"Sayang sayang, bentar lagi yaa, cup cup cup cup, jangan nangis ya. Nanti mama kebangun kalau Khenzie nangis."
Selesai memakaikan pakaian, Kenzo menaruh kembali bayi Khenzie di dekapan sang istri.
"Alhamdulillah, udah ganteng."
"Hehe, ganteng dong ya, papanya aja ganteng, apalagi anaknya."
Kenzo lalu mengecup kening Kaila dan pipi anaknya.
Anaknya? tentu saja. Karena mulai saat ini Khenzie adalah anaknya.
"Selamat tidur bidadari ku cup. Selamat tidur anak ku sayang cup." lalu Kenzo keluar dan kembali ke kursi depan.
Dijalankan mobilnya menuju hotel. Tempat tinggal mereka selama di Singapura.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen